My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.131. Mereka kembali


__ADS_3

“Bagaimana? Kau sanggup tidak?” tanya fern saat Revan sudah selesai membaca satu persatu syarat.


Yang paling terngiang-ngiang di telinga Revan itu syarat yang ke 43 ‘Apabila kamu menyakiti Freya lagi maka kau harus menceraikan Freya dan membiarkan aku menjodohkannya dengan lelaki lain.’


Kan agak.. bgst!.


Tapi itu tak akan terjadi, sebab ia tak akan melakukan kesalahan yang sama.


“Aku sanggup” jawab Revan singkat, ia terlalu mantap untuk kesepakatan ini.


Seperti yang kalian duga, syarat-syarat itu dibuat untuk kebahagiaan Freya jadi revan jelas tak masalah.


“Bagus, berarti kau harus menunggu ia melahirkan minimal anakmu berusia setahun lalu baru bisa terbang ke negara I lagi” balas fern berdiri dari duduknya.


Setelah melihat anggukan Revan ia pun langsung pergi ke luar.


CKLEK


Baru saja fern membuka pintu dengan mimik datar, ia langsung membulatkan bola matanya saat melihat Freya tengah berada di depan.


“Frey?” suara fern membuat Revan yang awalnya sibuk melipat dan memasukkan kertas itu ke sakunya pun menoleh.


“Apa yang Abang dan Revan lakukan di dalam hingga selama itu?” tanya Freya memandang curiga pada fern dan suaminya secara bergantian.


“Abang hanya memiliki sesuatu yang harus di bicarakan bersamanya” jawab fern dengan hangat seolah-olah orang yang berbicara dengan dingin pada Revan tadi bukan dirinya.


Revan sendiri sebenarnya agak kagum dengan kemampuan fern yang bisa merubah mimik wajah dengan cepat, ia saja tak bisa.


Yah bukannya tak bisa namun ia yang tidak pernah mencobanya! Lagipula... Bukankah Freya sudah bilang kalau Revan pasti menderita kelumpuhan wajah?.


“Apa itu? Frey boleh tau kan?” tanya Freya lagi, wanita itu melirik curiga pada kertas yang baru saja dimasukkan Revan.


“Secret darling” jawab fern jahil, pria itu menyeringai tipis melihat kekesalan sang adik.


Setidaknya fern harus menggoda sang adik sebelum dia pergi bersama Revan, sebab fern yakin jika Revan membawa adiknya pergi maka kesempatannya bertemu Freya akan bertambah mengerucut.


Ada banyak faktor yang mempengaruhi ini, yang pertama fern sibuk dengan urusan dunia atas dan bawah, yang kedua ia harus tinggal bersama mama dan papanya.


Dan yang ketiga, ia jelas tak bisa senantiasa berada di samping adiknya lagi, tak seperti sekarang Freya dan dirinya masih se-mansion.


Tau dah.


“Kok Abang main rahasia-rahasiaan sih sama Frey?” balas freya kesal, bumil itu pun bersedekap di depan fern.


Jelas sekali, bumil itu merajuk.


Lagi-lagi temperatur Freya benar-benar tidak teratur.


“Rev! Kamu juga diam aja, jawab dong apa yang Abang katakan padamu?” sejujurnya Freya hanya takut kalau sang Abang memarahi dan mengusir Revan.


Bayangan buruk itu selalu menghantuinya, namun ia juga percaya bahwa abangnya tak akan berbuat hal yang bisa membuat dirinya sedih.


“Dia..” baru saja Revan ingin menjawab agar Freya tak semakin kesal suara bariton memotong ucapannya.


“Kalian berbicaralah, aku akan kebawah bertemu mama dan papa” potong fern, Freya pun mengangguk mengiyakan.


Setelahnya fern langsung bergegas turun menuju mama grea dan papa Hunter.


“Jadi Rev? Apa yang abangku bicarakan padamu?” tanya Freya seraya melangkah masuk mendekati Revan.


“Dia mengizinkanku untuk bersamamu” bisik Revan sedu*tif di telinga Freya.


Sontak Freya langsung menarik kepala Revan dan memaksa manik biru itu menatapnya, “Benarkah?! Abang mengizinkanmu? Kamu tidak berbohong kan?! Astaga aku sangat bahagia.”


Freya dengan hebohnya berbicara, Revan pun menatap lembut pada sang isteri, “Memangnya aku pernah berbohong padamu hm?.”


Freya pun terdiam beberapa detik, wanitanya itu sedang berfikir “Pernah! Kau membohongiku selama kita menikah bahwa kamu seorang bos mafia.”


Skak mat.


Revan tak bisa membalas ucapan Freya, padahal ia hanya ingin bergaya di hadapan Freya tapi mengapa malah terbalik seperti ini?.


“Kamu masih mengingatnya?” tanya Revan dengan dingin, ia seolah ingin memesan tukang jagal untuk mengeksekusi otak si Freya yang digunakan untuk menyimpan memori.


Bagai kartu sd saja! Selalu bisa menyimpan apapun tanpa dihapus.


“Yaiyalah, aku itu masih muda yakali kamu udah tua” jawab Freya ringan, akhirnya Revan hanya bisa menghela nafasnya agar diberi kesabaran lebih.


Ia jelas tak mau bahwa ia akan kehilangan kontrol lagi.


***


“Bun, aku sudah benar-benar tidak sabar! Dia enak-enaknya jadi isterinya Revan sedangkan kita susah begini.”


Ujar seorang wanita, Revan dan keluarga purnama sepertinya lupa karena terlalu fokus pada Freya. Dan ini adalah kabar baik untuk mereka.

__ADS_1


“Itu sendiri salahmu! Kenapa kau membuat anakmu m*ti?” si bunda membalas dengan kesal.


Hal ini di ikuti oleh anggukan si papa, andai saja kejadian itu tidak terjadi pasti mereka masih bisa bersuka ria dengan harta!.


Matre? Benar sekali.


“Itu bukan salahku juga! Anak itu yang tiba-tiba berlari ke jalanan” anaknya mencoba membela diri.


“Dan kamu membiarkannya, membuat nama kita tercoreng di dunia nyata” si papa akhirnya menyahut ucapan anak perempuannya.


“Tapi kan..”


“Tapi apa? Seharusnya kamu bisa mengawasi satu anak kecil!” bundanya pun mengomel pada si anak.


“Udah deh Bun, aku capek bunda terus-menerus berbicara tentang ini sejak dulu ngga ada topik lain?” balas anaknya bertambah kesal.


“Sudah-sudah, jangan bertengkar! Lebih baik kita berfikir bagaimana caranya agar kita bisa merebut Freya (untuk menjadi tahanan) dan membuat Revan menyerahkan seluruh kekuasaannya.”


Licik? Bukan hanya licik tapi tidak berhati.


Mereka bahkan tega menghancurkan hidup anak dan saudara kandungnya, g*la? Mereka memang g*la itu sudah teruji secara klinis.


Tanpa author kasih tahu pun kalian pasti tau kan siapa mereka?.


Benar, mereka adalah keluarga Graham keluarga dimana fern dan Freya terlahir namun tak di anggap, keluarga yang anak kesayangannya.. Rina berhasil membuat masa lalu yang kelam untuk Revan.


Keluarga yang tega membuang fern dan Freya saat masih kecil, orang yang memb*nuh mommy quqi, Daddy Joni dan Daddy Rafa.


Orang yang menyebabkan terjadinya banyak konflik di kehidupan Freya, fern, kinen, Revan dan mommy.


Mereka telah kembali.


“Sepertinya tak akan semudah itu pa, papa tahu kan? Freya jelas di jaga ketat terutama kinen sudah mendapatkan identitas aslinya! Dan tari pasti sadar siapa kita sebenarnya” balas bunda wilsa.


Papa ragya pun mengangguk mengiyakan, ia jelas tahu bahwa tari, kinen dan Revan pasti menyimpan dendam karena kejadian itu.


Tapi.. yang namanya keluarga Graham pasti memiliki seribu satu cara untuk menghadapi mereka.


Yah, kita lihat saja.. bagaimana cara mereka menculik Freya yang notabenenya adalah nyonya muda keluarga purnama, nona bungsu keluarga Arron dan kakak kesayangan dari si pewaris nona kinen.


Parah dah, parah! Jabatan Freya banyak.


Pastinya.. mereka tak bisa menculik Freya dong? Atau.. ada sesuatu yang sudah mereka rencanakan sejak awal?.


“Kau? Bukannya kau harusnya bekerja?” dr Anisa menuding sang suami yang baru sampai di apartemennya.


“Seharusnya aku yang bertanya padamu, lagipula bukankah mama Dewi bilang kalau dia akan membuat nyonya besar meminta tolong pada tuan?” balas pandu datar.


Elah, baru aja romantis-romantisan! Tapi kok suasananya kembali kek gini lagi, aelah.


“Mama juga membuat ku libur sementara” sahut dr Anisa, beberapa detik kemudian wajah dr Anisa agak merona.


Bagaimanapun ia ingat kalau mamanya meminta mereka libur karena suatu alasan, ‘cucu’.


“Apa kita harus membuatkan mama? Agar mama tenang dan tidak memaksa kita libur? Bagaimanapun kau dan aku sama-sama tak suka libur kan?” pandu bertanya dengan mimik datar.


Sontak dr Anisa pun melempar bantal yang berada di sofa kepada kepala somplak pandu, “Dasar pria g*la! Kalau begitu nantinya aku ngga bakal pe****n lagi dong!, Lagian ini pernikahan cuma tiga bulan!.”


Ini kan hanya pernikahan kontrak? Mana mau dr Anisa membuatkan hal semacam itu! Lagian.. hanya dua hari kan? Walau sekarang sedetik berada seabad.


“Lalu bagaimana kalau mama meminta kita untuk libur lagi? Kau tahu kan? Tuan muda pasti menuruti perkataan nyonya besar” pandu sendiri sangat tahu bagaimana tuannya bertindak.


Tanpa bertanya bahkan pandu tahu bahwa dr Anisa pun dibuat libur oleh Revan, dr Anisa kan berkerja di rumah sakit keluarga purnama jadi ya...


Sejujurnya keluarga purnama memiliki dua rumah sakit, satu rumah sakit umum dan satunya rumah sakit pribadi (khusus untuk keluarga purnama termasuk pandu, dan semua orang yang memiliki hubungan khusus seperti keluarga Arron dan berzeliuz.)


Dr Anisa bekerja di dua-duanya, ia terpilih menjadi dr pribadi keluarga purnama juga karena kinerjanya di rumah sakit umum.


“Kita memikirkan itu nanti saja! Atau.. kita bilang ke mama bahwa kita sudah melakukannya?” tanya dr Anisa yang agak malu ketika mengatakan hal ini.


“Kamu fikir mama Dewi akan percaya begitu saja? Dia pasti mengecek seluruh bagian tubuhmu” jawab pandu yang ada benarnya juga.


Pria itu pun memijat pelipisnya pusing, ia benar-benar munyet! Ia sekarang juga masih bertanya-tanya kenapa jantungnya berdebar ketika bersama dr Anisa?.


Eh sekarang ditambah masalah macam gini.


“Yasudah tinggal beri Ki** ma** di tubuhku!” pandu seketika melotot ketika mendengarnya.


“Heh, kau benar-benar tidak tahu soal bercinta?” tanya pandu meragukan pola fikir dr anisa.


Yang namanya bercinta pasti di seluruh tubuh terutama bagian atas yang biasanya selalu membuat para lelaki tergoda, memangnya dr itu mau memperlihatkannya?.


B*ngs*t! Memikirkannya membuat junior pandu menegang.


Ia jelas pria impeden dan dewasa! Mana bisa ia berbicara secara gamblang tanpa membangkitkan si adik kecilnya itu?.

__ADS_1


“Apaan sih maksudmu? Terus kenapa gelagatmu aneh begitu?” tanya dr Anisa yang tak mengerti.


Sudah pandu duga! Dr Anisa tak berpengalaman dalam hal seperti ini itu berarti dr Anisa masih tidak terjamah oleh siapapun.


Seketika pandu menggeleng keras ketika otaknya berfikir dengan g*la, nafsu benar-benar menutupinya.


Tak ingin berbuat sesuatu yang tak seharusnya pandu langsung naik ke atas tanpa memperdulikan pertanyaan dr Anisa.


Pandu mungkin agak sadar kalau ia merasakan sesuatu yang bergejolak ketika ia bertemu dr Anisa, ia bukan seperti sang tuan yang tak sadar-sadar akan perasaannya.


Oleh karenanya, pandu harus memastikan perasaannya lalu baru melakukannya, tidak sekarang dimana dr Anisa masih menganggapnya sebagai musuh.


Tapi.. bagaimana dengan perjanjian kontrak tiga bulan itu?.


Hadah!.


Tinggal si robek aje kali ya? Hanya sebatas perjanjian juga! Itupun kalau pandu sudah memastikan nan merebut hati dr Anisa, kalau tidak ya sudah! Perjanjian itu akan berlaku.


“Heh pandu! Hey!” panggil dr Anisa ketika pandu berlari ke lantai atas dimana kamarnya berada.


“Aneh banget, kadang aku bisa heran bagaimana bisa bos dan asistennya sama saja? (Yang di


dr Anisa bicarakan itu pandu dan Revan), sama-sama aneh! Bagaimana bisa nyonya muda bertahan ya?” gumam dr Anisa lirih, ia perlahan menggelengkan kepalanya lalu naik ke atas dimana kamarnya berada.


DRRT DRRT DRRT


Dr Anisa menerima panggilan, ia pun mengangkatnya.


“Halo.”


“Nis! Kenapa kamu ngga masuk nis? Para pelangganmu komplain tuh ngga mau sama dokter dan perawat lain.”


“Ya mau gimana lagi? Ini permintaan mama jadi aku tidak mungkin menarik ucapanku kalau aku bakalan libur buat dua hari.”


“Aduh nis jangan main-main deh, Ini belum sehari aja pelangganmu bilang kalau mereka ingin kamu saja yang memeriksa mereka ngga mau di periksa dokter lainnya.”


Dr Anisa pun meneguk ludahnya kasar, ia hanya mampu menggigit jari saat nyatanya ia tidak pernah bisa melawan keputusan dan permintaan mama dewinya.


“Maaf na, tapi ini beneran!.”


“Lalu bagaimana dengan nasib pasien langgananmu? Kau tahu? Mereka sangat keras kepala.”


“Aku tahu, lodespeakers suaranya! Aku akan bicara pada mereka.”


“Sudah.”


Dr Anisa pun mengumpulkan suaranya agar dapat di dengar oleh seluruh paisennya.


“Hai semuanya, maaf ya saya tidak bisa hadir untuk dua hari ini sebab mama saya tidak mengizinkannya, untuk saat ini kalian bisa diperiksa oleh dokter lain ya! Lalu saat saya sudah masuk saya akan memeriksa anda semua seperti biasanya.”


“Baik dok!.”


Huft, dr Anisa menghela nafas lega saat para pasiennya itu menjawab perkataannya.


“Halo nis?.”


“Iya na, udah selesai kan? Gitu aja kamu ngga bisa.”


“Yaelah, mereka cuma nurut sama kamu! Udah deh makasih buat bantuannya, aku lanjut kerja dulu.”


“Iya.”


TUT TUT TUT


Telepon tertutup, dr Anisa memejamkan matanya pelan, seluruh teman kantornya tak tahu kalau ia sudah menikah.


Walau sudah di adakan resepsi, sebab saat resepsi dr Anisa menutupi seluruh wajahnya dengan cadar selain itu di undangannya tak ada nama sang pengantin.


Dan.. ini menguntungkan.


_______________________________


Aaaa, akhir-akhir ini updatean author agak tidak lancar ya ;).


Duh, maaf untuk hal itu 🙏.


Ah, keluarga Graham kembali tuh! Padahal Freya masih baru balikan sama Revan, anaknya Freya aja belum lahir.


Waduhh!.


Hahah, oke-oke kita akan menjadi lebih serius seperti biasanya jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.


Thank u~


-Nadira

__ADS_1


__ADS_2