
Revan, fern, Andra, delard bahkan mama grea dan papa Hunter hanya bisa melihat horor ke arah Freya yang sibuk membuat makanannya.
Tak apa jika itu makanan biasa! Freya tadinya memasak mie goreng yang dibelikan Revan, yah Revan fikir wanitanya itu akan menggoreng telurnya lalu baru meletakkannya di mie.
Namun ternyata dugaannya salah! Wanitanya itu langsung mencampur mie yang sudah matang dengan telur mentah, Freya kini sedang mengaduk-aduk mencampur telur dan mie itu.
Setelahnya Freya menoleh ke Revan, “Rev ayo makan ini!.”
Revan pun mendelik mendengar ucapan Freya, memakan? Hey!.
“Kamu tidak mau memakan ini? Yasudah Frey sendiri saja yang makan” hal ini sukses membuat Revan langsung menarik piring berisi mie dan telur mentah itu lalu duduk di depan Freya.
(Posisinya mereka lagi ada di meja makan alias ruang makan.)
Daripada Freya yang mengalami gangguan pencernaan lebih baik dirinya kan? Revan hanya berfikir demikian.
Ia pun mulai memakan mie itu, mama grea dan papa Hunter pun memandang kasihan pada Revan sedangkan fern? Fern hanya berwajah datar, entah apa yang difikirkan Abang Freya itu.
Padahal kemarin-kemarin Revan dengan angkuhnya meletakkan hadiah di depannya sambil berucap, “Aku membawakan oleh-oleh untukmu.”
“Kau fikir aku akan termakan sogokan? Ini tentang kehidupan adik tersayang ku!.”
“Dia juga berharga bagiku, karena itulah aku membawakanmu ini. Yah.. anggap saja itu sogokan agar aku bisa bersama Freya lagi.”
“*Kau fikir semudah itu? C*h*.”
“Aku tahu, tidak mudah bagimu untuk memaafkanku tapi beri aku kesempatan satu kali saja, aku akan membahagiakan dia.”
Nb: kata-kata bercetak miring itu ucapan Revan sedangkan yang tebal plus miring itu ucapan fern.
“Dia benar-benar...?” gumam fern padahal kini Revan berada di hadapan keluarga Arron yang notabenenya tahu bahwa Revan itu orang yang berkedudukan tinggi.
Bukankah ini akan membuat imagenya hancur?.
Tapi.. pria itu tetap melaksanakan permintaan adiknya tanpa mengelak maupun membantahnya.
Benarkah yang ada di hadapannya ini? Revan.. orang yang ia klaim sebagai pria b******k menuruti perkataan adiknya yang sungguh ngadi-ngadi?.
Atau.. ia yang selama ini salah menilai karakter Revan?.
“Kamu lihat sendiri son? Menurutmu keputusan siapa yang salah? Mama dan papa atau dirimu?” bisik papa Hunter tepat di telinga fern.
Saat Revan muncul dan diberi izin oleh papa dan mamanya fern sempat protes pada sang papa bahwa keputusan dirinya salah padahal tidak demikian.
“Ini hanya satu kali pa, dia dulu sudah membuat Frey menangis. Satu tetes air matanya bagai seribu cambuk bagiku, aku tidak akan mudah percaya padanya pa” balas fern agak berbisik.
Ia jelas tidak mau mengganggu kesenangan Freya, adik yang dijaganya bak berlian.
“Terserahmu son, kamu lihat saja papa yakin dengan keputusan papa begitu pula dengan mama” sahut papa Hunter lirih, ia menoleh ke mama grea yang terlihat penasaran akan pembicaraan antara dirinya dan fern.
Namun papa Hunter hanya menggeleng pada sang mama, tidak membiarkan mama grea mengetahui ucapan fern.
Jika mama grea sampai mengetahui ini, wanita paruh baya itu pasti sangat sakit hati, anak dan suami yang ia banggakan sedang berseteru karena perbedaan pendapat.
Yah bukan perseteruan yang biasa sebab fern maupun papa Hunter hanya melihat, apa Revan itu sudah pantas bagi Freya?.
“Gimana enak ngga?” tanya Freya dengan melihat ke arah Revan yang terlihat lahap agar makanannya cepat habis.
Tanpa di duga, Revan juga suka makanan ini.
Padahal.. fern, tuan dan nyonya Arron sendiri bergidik ketika membayangkan bahwa makanan seperti itu masuk ke dalam mulut, kerongkongan bahkan lambung mereka.
Hadah! Sudahlah.
Yah sebenarnya.. bagi Revan makanannya agak tak enak namun karena ini dimasak oleh Freya sendiri jadinya ya..
Dahlah, Daddy Revan emang bucin akut!.
TRING
Secepat kilat piring itu pun bersih sempurna, “Wahh gini dong tidak memboroskan makanan! Iya ga?” tanya Freya sedangkan Revan hanya mengangguk saja.
Saat Freya ingin membawa piring itu, seorang maid mendatanginya. “Biar saya saja non, nona duduk saja.”
Freya pun mengangguk dan membiarkan piring itu dibawa si maid alias pelayan, ia lalu menatap Revan yang juga tengah menatapnya.
Terjadilah adegan tatap menatap bak sinetr*n.
“Ekhem!” mama grea, papa Hunter, Andra dan delard pun berdehem pelan abaikan fern yang hanya memandang sulit ke arah Freya dan Revan.
“Apa sih?!” ujar Freya tiba-tiba merasa kesal ia pun memonyongkan bibirnya dan bersedekap.
Keluarga Arron hanya terkekeh melihat tingkah Freya yang amat menggemaskan, lalu..
DRRT DRRT DRRT
Hanpon Revan berdering pelan membuat pria itu berdecak kesal, siapa sih yang berani mengganggunya?.
“Angkat dulu teleponnya sana!” suruh freya membuat Revan akhirnya menghela nafas.
“Ma, pa aku mengangkat telefon dulu” tak biasa bagi Revan untuk berpamitan namun ini keluarga angkat isterinya.
“Iya, sana” sahut mama dan papa secara bersamaan.
Revan pun berjalan menjauh dan mulai menatap layar ponselnya, momnya menelepon. Tapi untuk apa? Bukannya ia sudah bilang kalau dirinya akan berada di mansion Arron?.
“Halo.”
“Kenapa mom menelepon ku?.”
“Itu pandu biarin libur dua hari ya? Ini permintaan mom dan jeng dewi.”
“Tidak bisa begitu mom, dia harus membantuku mengurus perusahaan.”
“Libur dua hari aja apa salahnya? Lagian kan pandu bisa bekerja lewat rumah.”
__ADS_1
“Tapi mom..”
“Tolong nak.”
“Huh, kalau begitu hari ini pandu harus datang, aku akan membicarakan apa saja yang harus dia kerjakan nanti saat dia libur.”
Akhirnya Revan menyetujuinya sebab sang mommy terlihat sangat ingin agar pandu libur selama dua hari.
“Baguslah! Terima kasih Rev. Pandu juga sedang perjalanan kesana!.”
“Oke mom.”
TUT TUT TUT
Revan pun menutup telefonnya sepihak, ia menghela nafas kasar bisa-bisanya momnya itu meminta pandu libur saat ia sibuk meluluhkan si beku fern?.
Kemarin-kemarinnya ia sudah membelikan beberapa hadiah namun si fern tidak terpengaruh, lalu apa yang harus ia lakukan?.
Diam-diam Revan mengetik di Mbah goo*lenya ‘Bagaimana cara meluluhkan kakak ipar es’ cukup konyol untuk ukuran mafia sepertinya namun.. ia sekarang bertindak sebagai suami.
Hmm.. setelah lama menggeser layar ponselnya ia berhenti ketika melihat sesuatu yang menarik sepertinya cara yang ini bisa ia coba.
Tetapi tiba-tiba..
GREP
Seseorang memeluknya dari belakang, Revan reflek memegang tangan itu bersiap untuk membantingnya namun.. pergerakannya terhenti di saat ia memegang tangannya.
Tangan berwarna putih yang mulus, Revan mengenalnya.
“Kenapa kau tidak kembali-kembali? Siapa yang menelefonmu? Jangan-jangan kamu punya seli**kuhan ya? Makanya lama banget angkat teleponnya.”
Da*n it!.
Revan itu mencari cara meluluhkan fern dan dikira berseli**kuh?.
Secepat kilat Revan lalu melepas tangan itu dari tubuhnya, dan menariknya agar masuk ke d**a bidangnya.
Di angkatnya dagu wanitanya itu, Freya membuat mata coklat milik Freya bertubrukan dengan mata biru memukau milik Revan.
Revan menatap teduh pada Freya yang kini terlihat terbakar amarah, “Siapa yang bilang begitu hm?.”
“Abang yang bilang! Katanya kamu lama banget angkat telefon, jadi.. beneran punya seli**kuhan?” tanya Freya lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
Ini aneh, wanitanya tadi sangat pemberani bahkan dia berani kabur dulu kan? Tapi sekarang mengapa begini?.
Ah, iya juga anaknya kembar jadi hormon Freya juga berubah-ubah.
“Tidak begitu, tadi mom menelefon ingin meminta liburan untuk pandu jadi ya.. agak lama” Revan berusaha memberi pengertian dengan perlahan dan lembut.
Jika pandu sampai melihat ini maka asistennya itu pasti akan menangis terharu mendengar nada lembut si tuan yang sudah lama tidak terdengar.
Namun Freya tetap mengerucutkan bibir mungilnya, tak kuat Revan me***** dan me****t bibir Freya, toh sudah sah kan?.
Tetapi ia melakukannya dengan lembut, tidak kasar seperti biasanya, setelah lima menit barulah Revan melepaskannya.
“Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu untuk membelamu?” tanya Freya yang berharap satu kata muncul.
“Aku bukan pria romantis seperti itu, jika kamu berharap begitu maka kamu salah orang. Aku tidak akan mengucapkan kata itu setiap hari jadi nikmatilah saat aku mengucapkannya.”
Jawaban itu muncul dari si pria, Revan.
“Hmm, kalau aku meninggalkan m—” ucapan Freya terpotong karena Revan terburu-buru menutup bibirnya dengan tangan kekar pria itu.
“Maka aku akan menyiksamu, kamu tidak bisa meninggalkanku lagi walau alasannya karena sikapku sekalipun” balas Revan dingin, nada bicaranya yang tadinya hangat menjadi datar tiba-tiba.
Freya lalu melepaskan tangan Revan dari bibirnya, ia menatap mata Revan dan menge**p bibir pria itu singkat.
Entahlah, darimana Freya mendapatkan keberanian ini? Tadi kan cengeng?.
Tau dah.
“Aku tahu lagipula aku tidak berniat meninggalkan suami tersayang ku ini” sahut Freya tersenyum riang.
^^^(Mamakk author mau jodoh :D.)^^^
***
Pandu mengumpat kasar saat ia terhenti di tengah jalan hanya karena bannya yang bocor.
Padahal tadi sebelum berangkat ia sudah memastikan semuanya, jangan-jangan ada yang mengerjainya? Pandu menoleh kesana-kemari dan mendapati sang mama mertua yang memandang jahil ke arahnya.
Lagi-lagi pandu hanya bisa menghela nafas tanpa bisa bertindak apapun.
BRUM BRUM
CKLEK
Suatu mobil mendarat di samping mobil pandu, dr Anisa keluar dari sana “Ck ck ck kasihannya tuan millionaire terdampar di jalanan seperti ini? Ahaha” dr Anisa berbicara cukup keras hingga pandu menutup mulut dr Anisa menggunakan tangannya.
Terlihat romantis namun... Faktanya tidak begitu.
“Mmhh apwa-aphgaan ccwi” dr Anisa menajamkan matanya pada pandu.
(apa-apaan si.)
“Ini kerjaan mama Dewi b*doh! Jangan berteriak keras-keras” mendengar mamanya disebut dr anisa menoleh kesana-kemari dan benar saja ia juga menemukan sang mama.
“Lalu bagaimana?” bisik dr Anisa setelah bibirnya dilepaskan oleh pandu.
“Akting!” jawaban singkat membuat dr Anisa makin munyet.
Pandu lalu membukakan pintu mobilnya dr Anisa seraya menampilkan tangannya, membuat dr Anisa turun dan menggamit tangan pandu.
“Kenapa dengan mobilmu sayang?” sebenarnya dr Anisa agak jijik namun.. mau bagaimana lagi?.
__ADS_1
“Entahlah, tiba-tiba mobilnya bocor honey” mau tak mau pandu menyebutnya walau mulutnya sedikit kelu ketika mengatakannya.
Dr Anisa tak menjawab ia langsung memeriksa bagian ban mobil, “Ah aku membawa ban cadangan, akan aku bawakan kemari.”
Pandu hanya mengangguk mengiyakan, dr Anisa pun mengambil ban cadangannya dari belakang mobilnya.
Ia menggelindingkan ban itu, hingga tangan pandu memegang ban itu juga.
Tanpa di duga tangan mereka saling bersentuhan, ini tidak ada di dalam rencana!.
DEG
Jantung keduanya berdegup dengan sedikit kencang, membuat mama Dewi yang sedari tadi melihat menjadi cetar-cetir sendiri.
‘Apa-apaan ini?’ batin dr Anisa dan pandu bersamaan ketika mereka merasakan bahwa jantungnya berdegup kencang.
Tak mungkin hanya karena insiden malam saat mereka ditemukan dan di fitnah, pandu yang disuruh Revan menemani dr Anisa dan mereka yang mencari Freya bersama-sama menciptakan sesuatu kan?.
Apa.. pandu yang salah mengartikan jika ia bertemu si nyonya ia akan berdegup kencang karena cinta? Apakah sebenarnya bukan begitu? Lalu.. yang membuatnya berdegup kencang adalah memori untuk menemukan si nyonya?.
“Sayang” panggilan itu membuat pandu dan dr Anisa menoleh, ini bukan suara mama Dewi!.
Terlihat seorang wanita memakai pakaian sexy mendatangi pandu.
(Aelah, ganggu aje ya? Orang lagi musim semi juga!.)
Dr Anisa pun menatap pandu yang ternyata juga menatapnya, “Siapa dia?.”
Dr Anisa bertanya dengan sedikit datar, entahlah moodnya tiba-tiba memburuk saat ini.
“Aku tidak tahu, lagian aku sama sekali tidak mengenalnya” jawab pandu sama datarnya.
Beruntung mama Dewi sudah pergi setelah mereka berdua berpegangan tangan, jadinya mama mertuanya itu tak akan melihat wanita j*lang ini.
“Aduh sayang, ngapain sih kamu berpura-pura?” tanya wanita itu sok sedih dengan mengibaskan rambutnya.
Membuat bagian belakangnya terlihat sebab dia memang memakai pakaian kurang bahan, dan so simple saja pandu tak suka wanita seperti ini!.
Seleranya itu seperti... Sekilas pandu melirik ke dr Anisa entah maksudnya apa.
“Siapa kau?” tanya pandu to the points tanpa bertele-tele.
“Masih pura-pura? Namaku itu Meisya soraya pandrea” jawab wanita itu.
Wanita malam kah?.
“Siapa wanita itu?” tanya Meisya dengan gaya tak sukanya pada dr Anisa yang dibalas sinis oleh si dokter muda.
“Helena Anisa anfadil, Puteri tunggal keluarga anfadil oh ya seharusnya kau memanggilku gadis bukan wanita!” dr Anisa menjawab lalu menyeringai ketika melihat wajah ketakutan dari Meisya.
Bagaimana tidak? Anfadil itu keluarga terkaya urutan ke 4 setelah keluarga berzeliuz di urutan ke 3.
(Pandu dan delard berusaha untuk namanya sendiri bukan keluarganya sebab mereka sama-sama dicampakkan oleh keluarganya.)
“Keluarga anfadil? Aku tidak percaya! Mana mungkin Puteri tunggal anfadil bekerja sebagai dokter? Harusnya dia sebagai CEO kan! Apalagi dia itu anak tunggal” balas Meisya sengit.
Pandu yang awalnya ingin mencekik Meisya pun di cegah oleh dr Anisa, “Hmm oke! Tapi..”
Dr Anisa menunjukkan cincin mewah yang ada di jari manisnya, benar! Itu cincin pernikahannya dengan pandu (mama Dewi memaksanya untuk memakai cincin itu setiap hari.)
“Apa maksudmu?” Meisya bertanya namun dr Anisa tak menjawabnya, dokter itu menunjukkan jari manis pandu yang memiliki cincin sama persis!.
“Tapi bagaimana kalau aku mengaku sebagai isteri pandu regatha almanov?” tanya dr Anisa dengan tersenyum miring, pandu sendiri sedikit terkejut ketika mendengar kata ‘Isteri’.
Ketika ini Meisya diam tidak bisa menjawab, “Tidak mungkin! Dia sudah menghabiskan malam bersamaku.”
Dr Anisa menatap tajam pada pandu yang berada di sampingnya, setahu dirinya pandu mungkin menyebalkan namun.. ia tak akan berbuat se-b******k itu.
“Aku tidak pernah tidur dengan wanita apalagi j*lang manapun! Aku hanya akan tidur dengan isteriku yang merupakan gadis bukan sepertimu yang berlabel wanita” entahlah tiba-tiba pandu terdorong untuk membalas ucapan Meisya.
Apakah itu hatinya yang berbicara?.
Perkataan pandu membuat Meisya melirik ke dr Anisa yang sama-sama memasang wajah datarnya dengan pandu.
“Apa lihat-lihat? Iri? Ngga level mbak, masa sampah sepertimu iri sama nyonya muda?” sindir dr Anisa berkacak pinggang.
“S*alan!” umpat Meisya yang benar-benar tak bisa membalas sindiran si dokter muda, Anisa.
Karena tak ingin terlalu Malu Meisya pun meninggalkan dr Anisa dan pandu yang tiba-tiba menjadi canggung.
Seakan-akan mereka sedikit tahu tentang perasaan masing-masing.
Dr Anisa pun meruntuk saat ia menyadari bahwa ia merasakan suatu perasaan, sepertinya waktu antara berbulan-bulan itu menimbulkan bekas yang amat-amat terasa sekarang.
“Baik, terima kasih atas bantuanmu aku akan memasang ban ini sendiri” ujar pandu dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia terlalu malu untuk menatap dr Anisa secara langsung.
Dr Anisa pun hanya mengangguk, sepertinya untuk kali ini ia senang j*lang seperti Meisya muncul dengan begitu ia sedikit tahu tentang..
Ah sudahlah! Yang penting sekarang.. sepertinya pandu juga merasakan hal yang sama.
_______________________________
Hahaha, kasian tuh Daddy Revan kena abu hangat dari babang fern, dasar kakak ipar kok mitnah adik iparnya sendiri?.
Duh, ngga baik buat dicontoh tub readers!.
Nah loh ketahuan kan mas pandu, makanya jangan suudzon kalau kamu sukanya ma mommy Freya! Dikira waktu berbulan-bulan ngga ninggalin bekas kali ya, jangan kan berbulan-bulan! Kadang seminggu juga ada sedikit-sedikit.
Ayo kita kasih jempol buat mama Dewi! Kerja kerasnya patut di puji, si Meisya itu juga. Jasanya patut untuk di puji walau kemunculannya agak ngga pas! Masa lagi tanda-tanda musim semi eh malah muncul?.
Ngerusak suasana kan?.
Wkwkwk, seperti biasanya jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.
*Thank u~
__ADS_1
-Nadira*