My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.130. Hukuman + syarat


__ADS_3

Pandu akhirnya datang ke mansion Arron dengan pipi yang masih merona, kedatangan pandu disambut oleh wajah datar Revan yang sedang menunggunya di depan mansion dengan posisi bersedekap menunjuk ke jam tangannya.


Pandu tahu, ia terlambat!.


“Maaf tuan, tadi di jalan bannya bocor” ujar pandu menunduk pelan.


“Itu salahmu karena kau tidak memeriksanya sebelum menggunakan mobil itu” balas Revan dingin.


‘Tapi kan..!’ batin pandu berteriak miris namun ia tak berani mengutarakannya.


“Maaf tuan, saya teledor” sahut pandu memejamkan matanya nelangsa, ia pasti akan mendapatkan hukuman dari si tuan.


“Karena suasana hatiku sedang bagus, maka aku akan memberimu hukuman yang ringan saja” pandu menghela nafasnya lega mendengar ucapan sang tuan.


“Terima ka—” ucapan pandu terpotong karena suara bariton Revan.


“Lari mengelilingi mansion arron seribu kali putaran!.”


DOENG


Pandu mendelik mendengar hukuman yang akan ia jalani, berlari? Mengelilingi mansion? Heh!.


Memang bukan hukuman yang sulit seperti biasanya namun rasanya ini sangat mengesalkan.


Mansion arron itu berbentuk persegi panjang, pandu yang berkali-kali datang pun menduga-duga bahwa panjang mansion arron sekitar 62 m sedangkan lebarnya 60 m.


Dengan kata lain keliling mansion arron itu 244 meter alias 24.400 cm per satu putaran, kalau seribu.. 24.400 × 1.000 \= 24.400.000 cm.


Maraton kah?.


Nanti setelah lari ia pasti di suruh untuk mengurusi berkas-berkas, menemani si tuan rapat dan belum keinginan mama mertuanya pasti tuh! Pasti mama Dewi berbicara tentang ini pada si nyonya besar.


Lalu nyonya besarnya itu pasti sudah menelfon si tuan, dah! Makin berjibun lah tugasnya.


“Tapi tuan..” pandu pun terlihat ingin membantah keras perkataan tuannya namun nyalinya menciut ketika melihat tatapan tajam si tuan.


“KERJAKAN!” ujar Revan datar dengan menekan setiap kata yang ia ucapkan membuat pandu terdiam dan hanya bisa menggerutu di dalam hati.


“B—baik tuan” akhirnya pandu pun melaksanakan hukumannya, berlari maraton dengan jarak 24.400.000 cm.


Gila!.


Sementara pandu berlari Freya mendatangi Revan, bumil itu juga melihat ke arah pandu yang sedang berlarian.


“Kamu menghukumnya lagi Rev?” tanya Freya agak kasihan pada pandu.


“Dia salah frey” jawab Revan singkat, matanya tetap mengawasi pergerakan pandu agar asistennya itu tidak bisa berkelit dengan alasan apapun.


“Tapi ngga gini juga” balas Freya memutar matanya malas, setelahnya ia pun menatap tajam pada Revan, kalau pandu diginiin terus lalu kapan istirahat nya?.


“Gini deh kita tukar posisi kalau kamu yang lari gimana? Kan capek!” sambung freya.


Revan pun menggelengkan kepalanya, “Untuk apa aku berlari? Lagipula aku tidak salah dan memang ada yang mau menghukum ku? Aku tidak akan berlari tanpa alasan.”


Freya akhirnya menghela nafas kesal saat pemikiran Revan tak dapat diubah, haruskah Freya menggetok kepala prianya ini?.


Dih, sudahlah.


“Terserah, aku mau masuk saja!” balas Freya kesal lalu melangkahkan kakinya masuk ke mansion Arron.


Berjam-jam kemudian..


Pandu baru selesai mengerjakan hukuman sang tuan, ngga dulu ngga sekarang sama saja! Hukumannya sungguh keterlaluan.


“Cepat Carikan alat make up!” perintah tuannya membuat pandu melongo, make up?.


Namun pandu tak punya tenaga untuk bertanya jadinya ia hanya mengangguk mengiyakan saja.


“Untuk tugasmu saat libur akan aku berikan setelah kau membawakan alat make upnya” titah revan dingin, pria itu langsung memberikan blackcardnya ke pandu dan masuk ke mansion menyusul si isteri yang sudah sedari tadi masuk ke dalam.


“Astagaa! Apa salahku hingga mengalami kejadian ini? Sudah dihukum langsung di suruh pula, lengkapnya hidup ini” gumam pandu kesal.


***


Kini pandu sudah berada di toko kosmetik, ia langsung ke bagian kasir.


“Mbak, dimana letak alat kosmetik yang lengkap?” tanya pandu datar pada si mbak.

__ADS_1


Mbaknya pun tersenyum hangat meski nada bicara pandu sangat datar padanya, biasalah yang namanya kasir harus selalu tersenyum hangat.


“Untuk isterinya ya mas? Biar saya ambilkan” balas si kasir bergegas berlari untuk membawakan pesanan pandu.


Pandu tak menyahut ucapan si mbak kasir, memangnya ia mau bilang kalau ini untuk isteri tuannya? Nanti dikira Seli**kuh repot!.


“Ini mas” ujar kasir tersebut membawakan beberapa alat kosmetik lengkap.


“Masnya mau yang mana?” tanya kasir tersebut, pandu yang tak mengerti tentang kosmetik pun memijat pelipisnya pusing.


“Pilihkan yang kualitas terbaik” jawab pandu yang tak mau ambil pusing.


Mbak itu pun membungkus satu alat kosmetik dan menyerahkannya pada pandu, “Ini mas harganya Rp.*******.”


Pandu pun menyerahkan blackcard milik si tuan yang sudah diberikan tuannya tadi.


SREK


SREK


Blackcard itu digesek oleh si kasir, setelahnya kasir itu mengembalikan blackcard ke tangan pandu seraya memberikan sekantung alat kosmetik.


Pandu pun langsung pergi tanpa mendengarkan si kasir yang berucap ‘terima kasih tuan.’


Setelahnya ketika pandu sudah sampai di mansion arron...


“Ini tuan” ujar pandu menyerahkan alat kosmetik itu dan blackcard pada tuannya.


“Bagus, tugasmu ketika libur itu mengurus presentasi tiga pertemuan meeting di hari setelah kamu libur, atur jadwal dengan para kolega untuk mengundur meeting sebab kita berdua sama-sama sibuk. Untuk perencanaan perusahaan serahkan padaku” jelas Revan panjang bak kereta api.


Pandu lagi-lagi hanya bisa menggerutu di dalam hati, tugasnya banyak! Lebih banyak dari saat ia masuk, tetapi masih banyakan tugas tuannya.


Perencanaan itu.. mencangkup perencanaan pengeluaran perusahaan, keuntungan perusahaan, data-data karyawan, promosi karyawan, naik jabatannya para karyawan, masalah divisi utama perusahaan (bertugas untuk mempromosikan) juga perlu di rencanakan agar tidak bentrok dengan pengeluaran perusahaan.


Duh! Ribet.


“Baik tuan” balas pandu patuh.


“Pergilah” sahut Revan datar, pandu pun langsung bergegas pergi, ia tak mau bertemu sang nyonya muda takut menjadi sasaran sesad berkedok ngidam seperti tuannya.


Revan menatap tentengan kosmetik di tangannya, ia pun pergi menuju si kapar (kakak ipar) yang tengah berada di ruang tamu bersama Freya, nyonya Arron, dan tuan besar arron.


“F— ah maksudku bang fern ini alat kosmetik untuk isterimu” lucu sekali! Si bos mafia macam Revan bisa agak gesrek hanya karena ingin mendapatkan Freya lagi.


“Isteri?” ulang fern, mama grea dan papa Hunter serentak. Keluarga Arron itu agak ngga mudeng sama Revan.


“Iya, ini untuk isterimu oh ya anak Abang pasti lucu-lucu” hal ini mengundang tawa dari mama grea dan papa Hunter.


Sedangkan fern hanya memandang datar ke Revan, ia tahu Revan tak berniat menyindirnya hanya saja pria itu agak b*doh dalam urusan hati.


Fern tersenyum tipis tiba-tiba, ah ia sepertinya sudah memutuskan sesuatu.


TAK


TAK


TAK


Terdengar suara hak tinggi dari atas sana, Freya yang mendengar suara tawa mama dan papanya memutuskan untuk turun bersama Andra di belakangnya.


“Kenapa mama dan papa tertawa?” tanya Freya bukannya menjawab mama dan papa Arron malah terkikik mendengar pertanyaan Freya.


Freya lalu menoleh ke Abang dan suaminya bergantian, “Bang Rev mama sama papa kenapa kok ketawa begitu? Apa yang lucu?.”


“Aku tidak tahu” balas Revan datar.


Jika kalian bertanya, ‘apakah tadi Revan berbicara dengan nada datar pada fern?’ maka jawabannya adalah.. iya!.


Inilah salah satu faktor yang makin membuat mama dan papa tertawa keras tak berhenti.


“Memangnya tadi ada apa?” tanya Freya yang curiga, ia seperti menghirup suatu hal yang agak janggal.


“Aku hanya memberikan make up untuk isteri bang fern dan memuji anaknya” Revan pun menjawab dengan dingin.


Sesungguhnya jika yang bertanya bukan isteri tersayangnya maka Revan tak akan mau menjawabnya.


“Anak? Isteri? Pfftt” Freya pun hampir menyemburkan tawanya namun ia melihat ekspresi kebingungan Revan.

__ADS_1


Ekspresi itu tak terlalu kentara namun ia pernah tinggal dengan revan berbulan-bulan lamanya jadi ia mengetahui ekspresi itu.


Sedangkan Andra yang berada di belakang Freya pun menaruh tangannya di bagian mulut lalu tertawa kecil membuat tangannya bergetar pelan.


“Ya ampun rev-rev! Pantes mama sama papa ketawa Abang itu jomkut! Alias jomblo akut mana punya anak jangankan anak, isteri atau bahkan calon pacar aja ngga ada!” ujar Freya tertawa terbahak-bahak.


Hal ini membuat Revan agak melongo, jangan bilang fern akan tambah benci padanya nih?.


Da*n it!.


“Ikut aku” di tengah-tengah keributan di antara mama, papa dan freya. Fern berucap sambil melirik ke Revan.


Papa Hunter yang melihatnya pun tersenyum damai, sepertinya ia bisa membaca fikiran putera yang sudah ia besarkan belasan tahun lamanya.


Akhirnya mau tak mau Revan pun mengikuti fern, Freya yang semula tertawa pun menjadi khawatir.


Namun mama grea mengelus pundak Freya pelan, “Bumil itu ngga boleh banyak fikiran. Percaya aja deh sama mama fern ngga akan salah langkah kalau tentangmu sayang.”


Freya pun menarik nafas panjang sebab yang dikatakan mamanya itu benar, abangnya terlalu protektif dan akan memastikan bahwa dia tak salah langkah jika berkaitan dengan dirinya.


“Mama benar.”


Sedangkan itu..


Revan sendiri tengah tegang, padahal fern tak berbuat apapun, Abang Freya itu hanya menyuruh Revan duduk di hadapannya tentunya dengan nada dingin yang tak pernah fern tunjukkan di depan sang adik.


Ini lucu, lucu sekali! Revan tak akan pernah peduli pada siapapun, dan ia jelas tak pernah membelikan hadiah sejak kejadian adinda dulu, namun sekarang? Ia bahkan sampai bertingkah sebegini konyolnya.


Dan lebih parahnya lagi, di medan perang Revan tak akan pernah gentar ataupun tegang tetapi sekarang? Kenapa setegang ini?.


Wah fix! Fern and Revan alias jomblo akut and bucin akut.


Dua pria dewasa itu benar-benar berbeda.


“Kau tahu? Kau sampai sebegitu konyolnya untuk mendapatkan restuku, kalau kau memang suka pada Freya lalu mengapa kau menyakitinya dulu? Lalu.. sekarang kenapa kau tidak langsung membawanya?” fern bertanya dengan mimik datar.


“Aku tahu, tapi tak masalah sebab aku melakukannya untuk Freya, saat itu.. aku sedang bimbang dan tiba-tiba wanita itu sudah ada di sana lalu langsung duduk di p*ha ku, aku tidak tahu bagaimana dia masuk, lagipula memangnya kamu akan membiarkanku membawa Freya begitu saja?.”


Fern menarik smirk tipis ketika mendengar ucapan Revan yang panjang nan dingin.


“Sesuai perkiraan ku, kali ini aku sudah memutuskannya kalau kamu.. tidak boleh membiarkan Freya terluka lagi, cukup sekali saja” mendengar ucapan fern membuat Revan mendelik terkejut.


“Benarkah?!” meski tak tersenyum fern tahu bahwa Revan sangat antusias akan hal ini, terbukti dari nada suara Revan yang tiba-tiba riang.


Yah hal ini sangat tak sinkron dengan mimik wajahnya.


“Aku tidak akan mengulang perkataanku dan menarik keputusan yang sudah ku buat. Aku setuju kalau kau membawa freya dengan syarat bahwa kau akan membahagiakan dia, tidak membiarkan dia menangis sekalipun.”


“Itu syarat utamanya, masih ada syarat tambahannya” ucapan fern membuat Revan langsung menatap mata fern.


“Apa syaratnya?” tanya Revan.


Fern merogoh saku jasnya dan mengeluarkan secarik kertas, sejujurnya ia sudah bersiap-siap jika Revan memang terbukti bisa menjaga dan membahagiakan freya.


Revan pun menerima secarik kertas itu, ia fikir ada lima atau enam syarat namun..


SRRAAA


Kertas itu ternyata sudah dilipat rapi oleh fern, dan saat Revan hanya memegang satu lipat kertas itu terbentang panjang.


Sontak Revan langsung melihat ke bagian bawah, ada 50 syarat!.


G*ndeng!.


_______________________________


Wkwkwk, lima puluh syarat tuh dad! Kuat ngga? Hahahah.


Dasar babang fern, niat ngga sih ngebiarin Revan membawa Freya dan calon ponakannya?.


Kok segitu amatnya ya.


Sabar ya Daddy Revan, ini semua demi anak dan isteri tersayangmu loh! Jadi harus ekstra sabar dalam menghadapi babang fern ya dad.


Wkwkwk, seperti biasanya jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.


Thank u~

__ADS_1


-Nadira


__ADS_2