
Kinen memeluk tubuhnya gemetaran, disaat beribu-ribu peristiwa terjadi dalam detik yang sama kenapa dia harus melihat kejadian itu?.
“Tidak aku pasti bermimpi” kinen terlihat menggumamkan sesuatu di area perusahaannya, para karyawan pun hanya menatap kinen bingung.
BRUK
Tanpa sadar, kinen menabrak seseorang sontak kinen mendongak dan menatap mata orang yang ia tabrak.
“Pagi nona, maafkan saya yang menghalangi jalan nona.”
Di detik yang sama kinen membulatkan matanya dengan spontan, “C—candra?.”
***
TAP TAP TAP
Mama grea dan papa Hunter datang ke rumah sakit, mendatangi fern untuk kabar yang baru mereka terima.
Dua pasangan paruh baya itu sebenarnya sudah terbang ke negara I tadi pagi pukul 1 dini hari, ini disebabkan karena mereka yang ingin bertemu dengan Freya.
Eh malah rencana mereka kebalik sebalik-baliknya karena kabar dari fern yang nyatanya membuat papa Hunter dan mama grea tergesa-gesa.
“Halo Miss?” seorang resepsionis yang melihat mama grea dan papa Hunter kebingungan pun menyapa.
(Halo nyonya.)
Melihat dari perawakan tuan dan nyonya Arron tersebut si resepsionis mengira bahwa mereka itu tak bisa berbahasa negara I makanya ia berbicara menggunakan bahasa Inggris.
“Yes?.”
Mama grea menyahut ketika otaknya ingin meminta tolong pada si resepsionis.
“I think you have a problem Miss, can i help you?.”
(Saya berfikir anda memiliki masalah nyonya, dapatkah saya membantu anda?.)
“You right, of course you can help we.. where dr. Abigail room? We need meet with he.”
(Anda benar, tentu saja anda bisa membantu kami.. dimana ruangan dr. Abigail? Kami ingin bertemu dengan dia.)
“Ahh, dr Abigail room in floor five.. in here you can see the big text with name dr. Abigail.”
(Ahh, ruangan dr. Abigail di lantai lima.. di sana Anda dapat melihat tulisan besar dengan menggunakan nama dr. Abigail.)
__ADS_1
Mendengar balasan dari sang resepsionis tuan dan nyonya Arron pun saling bertatapan.
“Thank you.”
(Terima kasih.)
“My pleasure miss.”
(Dengan senang hati nyonya.)
Mama grea sejenak menggamit lengan papa Hunter dengan anggun, “Pa.. sepertinya fern berada di sana.”
Papa Hunter pun hanya membalas dengan anggukan kepala.
Tak menunggu banyak waktu mama grea langsung menyeret papa Hunter menuju lift, segera mama grea menekan nomor 5.
TING
Bunyi itu dibarengi dengan suara kaki pasangan paruh baya tersebut, mata papa Hunter mengawasi dengan tajam ke area sekitar mencari tulisan besar yang dimaksud resepsionis tersebut.
DR. ABIGAIL.
Ketika mendapati tulisan dan ruangan yang dimaksud mama grea segera mengedarkan pandangannya menatap ke arah seorang wanita yang duduk sendirian dengan memegang erat jari-jarinya.
Seketika senyum mama grea tersibak, sepertinya calon menantunya yang ini tak ingin harta sama sekali.
“Halo Miss, can you speaking with I**** language?” mama grea bertanya sambil mendekat ke arah wanita tersebut sedangkan papa Hunter hanya diam melihat interaksi keduanya.
(Halo nyonya/nona, dapatkah anda berbicara dengan bahasa i****?.)
“Yes i can, why Miss?” mama grea semakin melebarkan senyumannya ketika si calon mantu alias ayura bisa berbahasa Inggris dengan lugas.
(Ya saya bisa, kenapa nyonya?.)
“Ah, sebenarnya aku sedikit bosan disini semuanya mengira bahwa aku dan suamiku adalah bule yang tidak mengerti bahasa di sini, padahal aku dan suamiku lahir disini. Aku jadi mengira bahwa mereka tak bisa bahasa negaranya sendiri.”
Mama grea asal menuduh untuk menjadi topik pembicaraannya dengan ayura, meneliti apakah ayura pantas bagi fern atau tidak?.
Jika tak pantas maka hal ini akan disambung dengan perebutan hak asuh anak, jika pantas maka nona keluarga Arron akan segera di terbitkan namun tentunya tidak akan dipublikasikan seperti freya.
“Mungkin.. itu karena paras nyonya dan tuan memang sangat rupawan seperti orang bule” ayura tak melebih-lebihkan, itu adalah kenyataan.
Mama grea sedikit mengerut ketika mendengar bahasa formal dari ayura, “Ekhem.. siapa namamu nak?.”
__ADS_1
“Nama saya ayura, ayura nazika Olivia. Salam kenal nyonya” ayura memperkenalkan diri dengan bahasa yang sopan, baku dan formal.
“Nak, jangan formal begitu.. lagipula kamu akan menjadi bagian dari keluarga Arron setelah ini” mama grea malah menyebutkan rahasia yang fern jaga beberapa waktu lalu.
Tak urung fern juga tidak mau kalau ayura harus menjalani pernikahan paksa, alhasil ia memutuskan untuk membiarkan ayura memilih namun dirinya akan berusaha dahulu.
Terutama saat dirinya melihat sendiri hasil testnya kali ini (saat ini di dalam ruangan dr abigail, padahal saat itu fern ingin keluar dengan duo A namun dr Abigail mencegahnya), sama seperti keluarga purnama. Rumah sakit ini memiliki mesin pengetes DNA yang super duper hebat
Akan tetapi sayangnya kalau mesinnya rusak maka kita tak akan bisa melakukan apapun dan menunggu selama itu untuk mendapatkan mesin itu kembali.
Nah tak hanya itu, kita juga harus bersabar sebab setelah menunggu selama itu masih harus dilakukan percobaan selama beberapa hari bahwa hasilnya akurat.
Ah, bagian mana yang hebat? Tentu saja saat mesin ini sudah digunakan dalam kurun waktu yang cukup lama maka mesin ini akan bekerja dengan optimal.
Inilah yang fern suka dari peralatan medis jaman sekarang.
CKLEK
Fern menggendong duo A sambil keluar dari ruangan dr. Abigail, fern memandang heran pada mama, papa dan si calon istrinya.
“Arfi, aura” ayura langsung menurunkan anaknya satu-persatu setelahnya bekas single mom itu memeluk mereka dengan erat tak ada yang kendor.
“Kenapa ma?” Arfi dan aura tetaplah anak kecil, mereka masih penasaran kenapa mamanya menangis? Bukannya mama mereka akan lebih bahagia jika sudah tak perlu bekerja lagi?.
Nyatanya, fikiran duo A berbeda dengan ayura yang lebih memilih merawat duo A sendirian. Sungguh berbeda.
Setelahnya dr Abigail keluar atas perintah fern, fern langsung menyahut dokumen tes tersebut dan menunjukkannya pada ayura.
“Sekarang bagaimana caramu menolak hm?.”
TBC
-
Maaf nih, author tidak bisa menepati janji untuk up Kemarin.. pasalnya paketan author habiss dan parahnya author baru tahu nah saat mau mencari paketan eh malah tutup semua.
Baik, untuk mengganti kemarin-kemarin yang author ngga update author akan double or triple chapter.
Yah, semampu author lah intinya.
Note: keterangan dokter, serta dna-dna itu hanya karangan author semata. Ingat hanya karangan.
Baik, mari kita bertemu di chapter selanjutnya. Seperti biasanya jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.
__ADS_1
*Thank u~
- Nadira*