
Lagipula siapa yang menjamin jika adiknya akan selamat jika berada di tangan musuhnya?.
Pasti hanya namanya saja yang sama ! Namanya sama bukan berarti mereka orang yang sama juga , namun.. sepertinya fern seringkali lupa jika di dunia yang naif ini tidak ada kebetulan yang ada hanya kemungkinan , bukankah begitu ?
'Terutama Revan itu musuhnya bagaimana mungkin adiknya bisa bertahan hidup disana ? Ya ! Mungkin hanya KEBETULAN' batin fern.
"Memangnya kenapa tuan ?" Tanya asisten fern lagi , rupanya jiwa kepo maksimalnya itu tidak turun turun.
"... Namanya mirip dengan dia" jawab fern dengan dingin lalu menutup matanya.
"Apa lagi hasil penyelidikanmu ?" Tanya fern lagi , ia tak percaya jika asistennya hanya menemukan satu informasi saja.
" Sepertinya rumor yang di bicarakan oleh para Mafioso benar adanya , Puteri keluarga purnama , kinen purnama masuk rumah sakit hari ini dan sepertinya musuh tuan menyukai gadis yang bernama Freya ini" terang sang asisten.
" Kenapa kau mengambil kesimpulan kalau Revan menyukainya ?" Tanya fern serius , yah Revan ini musuhnya penting untuk mengetahui segala sesuatu tentang musuh!.
"Ada dua alasan tuan , yang pertama tadi musuh anda sempat memeluk sang gadis , anda tahu bukan kalau musuh anda itu anti gadis ?" Jawabnya.
"Hm" dehem fern , mungkin ia sekarang memiliki mainan baru.
"Yang kedua , seperti yang saya ceritakan tadi , ketika saya menyebut nama Freya , musuh anda langsung lengah seolah gadis itu titik kelemahannya" lanjut sang asisten ketika mendengar deheman tuannya.
"Dia memiliki kelemahan" ujar fern sambil tersenyum tipis .
Bukankah ini menarik ? Jika kalian tahu musuh kalian memiliki kelemahan apa yang akan kalian lakukan ? Sudah jelas !.
"Selidiki gadis itu" satu perintah dari fern meluncur dengan mulus , setelah mengucapkan perintahnya fern kembali pulang ke mansion momnya , momnya itu pasti sudah merindukan dirinya , namun mungkin ia akan ke sebuah restoran dulu untuk membeli makanan kesukaan dirinya meski restoran itu cukup jauh ?.
Sejenak ia menatap senja , yah langit biru sudah menjadi senja saat ini
' lagi lagi hari berlalu kapan aku menemukanmu ?' batin fern.
________________________
Tak terasa hari sudah malam , Freya pun menegur mommy lagi.
"Nyonya anda harus makan " ujar Freya lagi dan lagi.
"Nyonya muda benar , nyonya besar harus makan" ujar Lusi mendukung nyonya mudanya , mau bagaimanapun Lusi masih tetap memiliki jiwa kemanusiaan , apalagi wanita di depannya juga Freya ini seorang ibu.
"Kenapa kalian memaksa sekali ?" Tanya mommy dengan nada menusuk , ia sedang tidak ingin makan saat ini.
"Nyonya.. apa fungsinya anda menyiksa diri sendiri seperti ini ? Apa dengan begini kinen akan bangun ? Bagaimana jika saat kinen bangun ia melihat anda yang pucat seperti ini ?" Tanya Freya beruntutan karena wajah mommy memang terlihat pucat saat ini.
"Kenapa kau..." Ujar mommy terpotong.
' sangat bijaksana ? Aku jadi ragu jika kau tidak berpendidikan' batin mommy meneruskan ucapannya.
"A-aku tidak .. menyukai makanan rumahan" ujar mommy lirih , ini kenyataannya , ia tidak terbiasa dengan makanan rumahan sejak kejadian beberapa puluh tahun yang lalu... Jika ia memakan makanan rumahan ia akan mengingat kejadian buruk di hari itu.
"Baiklah , nyonya menyukai makanan dari mana ? Biar saya belikan" tawar Freya.
"Spaghetti dari Restoran **** di dekat jalan ** no **" ujar mommy ,makanan juga restoran itu adalah restoran yang disukai dirinya juga sahabat baiknya 'dulu' , yah semuanya sudah bercetak dengan kata 'dulu'.
" Baik , saya pergi dulu , Lusi jaga nyonya disini" ujar Freya tersenyum lembut pada Lusi yang terlihat tidak terima.
__ADS_1
Nyonya nya dijadikan pembantu seperti ini ? Akankah dia terima ? Oh tentu saja tidak !.
"Nyonya biar saya saja yang membelikan makanan itu" tawar Lusi .
"Tidak papa Lusi , temani saja nyonya disini aku akan segera kembali" sahut Freya kembali tersenyum lalu keluar.
Jika kalian bertanya bagaimana bisa Freya mendapat uang ? Yah dia memiliki uang dan black card pemberian Revan.
Lagipula ia tidak memiliki banyak waktu di luar ruangan , jadi setidaknya ia akan merasa sedikit bebas sekarang.
Jika ia mau ia akan lari ke rumahnya sendiri sekarang , namun.. mommy dari kinen juga Revan membutuhkan dirinya saat ini.
Ia pun segera menghentikan taksi lalu pergi menuju restoran yang disebutkan oleh sang mommy.
Sedangkan itu..
"Hei apa mereka akan bertemu ?" Tanya adinda yang sebenarnya hanya untuk memberi topik pembicaraan , karena mereka dari tadi diam hening.
"Jika takdir mengizinkan" jawab electro singkat.
Lihat bagaimana electro bisa dingin seperti ini ? Siapa sih yang ngajarin anak kecil sepertinya jadi kutub ?.
"Jika mommy tahu ... Bagaimana jadinya ?" Tanya adinda yang cukup khawatir , ia tidak mau daddynya kehilangan mom Freya ! Cukup satu kali Daddynya kehilangan harapan..
"Yang pasti pilihan ada di tangan mommymu" sahut electro .
yah yang dikatakan electro benar adanya , semua pilihan ada di tangan Freya , jika Freya memilih meninggalkan , maka akan ada yang tersakiti , jika Freya memilih bertahan maka Freya hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
"Tapi kedua jalan itu akan... Sama sama menyakitkan bagi mommy" ujar adinda sendu , sejak awal gadis ini sudah bisa menebak kedua jalan yang dimaksud oleh electro.
"Semua akan baik baik saja , doakan saja akan ada jalan ketiga yang lebih baik" ujar electro berusaha menenangkan adinda.
Walau ia tahu itu tidak akan berhasil karena gadis ini cukup keras kepala apalagi jika urusannya tentang Freya juga Revan yang notabenenya mommy dan daddynya!.
"Bagaimana kau bisa bilang kalau ini baik baik saja electro ? Mommy akan ada di dalam dilema nanti.." sahut adinda.
"Lalu , apa jika kau bersedih itu akan mengubah sesuatu ?" Tanya electro.
Sejenak adinda menghela nafasnya lalu mendongak ke arah electro , ini kenyataannya electro agak tinggi dari adinda !.
"Tidak" jawab adinda menggelengkan kepalanya.
"Maka dari itu biarkan semuanya berjalan" balas electro.
________________________
Freya , gadis itu sudah turun dari taksi dan tiba di sebuah restoran yang cukup sederhana , ini membingungkan bagaimana mommy bisa mengenal tempat ini ?.
Lalu Freya pun masuk ke dalam restoran itu ,Saat ia ingin memesan ia mendengar keributan dari luar.
"Wahh cogan !"
"Bisa ganteng seperti itu ya !"
"Kira kira udah ada istri belum ya ?"
__ADS_1
"Siapa dia kiranya ? Sepertinya dia anak orang kaya"
Setelahnya Freya pun menghela nafas beginilah orang orang , Hanya melihat dari fisik juga harta saja ! Maka dari itu kita harus benar benar bisa memilah manusia !.
"Nona , anda memesan apa ?" Tanya salah satu pelayan disana.
"Ah ya saya memesan satu spaghetti , di bungkus ya kak !" Jawab Freya semangat lalu tersenyum.
"Baik nona , saya siapkan dulu duduk dulu non " sahut pelayan itu lalu pergi.
Freya lalu duduk di salah satu tempat duduk disana.
"Kau ! Dimana pelayan disini ?" Suara dingin menembus pendengaran Freya , itu menyebabkan ia menoleh secara reflek.
Yang ia lihat saat ini adalah seorang lelaki yang memiliki rambut hitam dan mata coklat seperti dirinya , entah kenapa ia seperti melihat versi dirinya dalam bentuk laki laki?.
Dan ... Lelaki yang ini cukup tampan !.
"Tadi salah satu dari mereka menyiapkan pesanan saya tuan" sahut Freya atas pertanyaan yang diajukan oleh sang cogan.
Fern pun mengernyit , ya lelaki itu fern yang bertanya pada Freya tadi , fern melihat Freya dari atas ke bawah , entah kenapa ia merasa sedikit mengenal dengan freya.
Apalagi Freya juga bisa dikatakan mirip dengannya.
Tanpa basa-basi fern langsung duduk berhadapan dengan freya , "siapa namamu ?" Tanya fern , entahlah ia mungkin tertarik dengan Freya.
Pasalnya gadis di depannya ini terasa familiar dan.. pertama kalinya ada seorang gadis yang tidak memperhatikan dirinya.
"Freya" jawab Freya menjulurkan tangannya , ia tahu tata cara berkenalan itu biasanya dengan menjabat tangan.
Sejenak fern tercekat , ah kenapa banyak sekali orang dengan nama 'freya' di sekitarnya akhir akhir ini ?.
"Fern" ujar fern membalas tangan Freya , lalu Freya dan fern kompak melepaskan jabatannya.
"Apa kau suka buku? Misalnya bergenre misteri dan petualangan ?" Tanya fern begitu saja , perasaannya ingin mengenali Freya secara dekat.
"Ah ya aku menyukainya bagaimana dengan mu ?" Ujar Freya , yah ia tertarik dengan buku bergenre misteri dan petualangan sejak ia menemukan buku bergenre seperti itu di lokasi perpustakaan di rumah revan.
"Aku juga menyukainya , kenapa kebetulan sekali?" Sahut fern.
Akhirnya obrolan mereka terjadi cukup panjang , yah fern tak bisa dingin jika bersama gadis ini ! , sampai ..
"Nona pesanan anda sudah siap" ujar pelayan yang melayani Freya tadi , Freya lalu menatap fern lalu sedikit menundukkan kepala nya sebagai bentuk permintaan maaf.
"Maaf fern , aku harus pergi " ujar Freya lalu kembali menatap fern.
"Hm , no telepon mu berapa ?" Tanya fern sedari tadi ia ingin menanyakan hal ini.
" Oh no telepon ku 08**********" jawab Freya sambil meraih pesanannya lalu membayar.
"Ini kembaliannya non , terima kasih" ujarnya.
Freya hanya tersenyum pada pelayan itu dan fern secara bergantian lalu pergi dari sana tanpa menyadari jika fern tengah membawa sesuatu yang tipis di tangannya , apakah itu gerangan ?.
________________________
__ADS_1