My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.106. Tumbang juga akhirnya


__ADS_3

Freya tetap memandang penuh curiga pada andra, “Kau tidak berbohong kan Andra?.”


Andra menggeleng dengan cepat, sudahlah ia pasrah! Entah berapa kebohongan yang akan ia buat hari ini hanya karena nonanya ini.


“Yasudahlah aku percaya” Andra menghela nafas lega ketika mendengar suara nonanya.


Namun Andra kembali panik ketika sang nona mengelus-elus perutnya.


“Apa perut nona sakit?” tanya Andra khawatir, bagaimana tidak? Kalau Freya kenapa-kenapa yang terkena hukuman jelas Andra.


Lagipula Andra bukan Mafioso biasa yang hanya datar, Andra itu periang tetapi Andra juga tak bisa di remehkan.


Kalian ingat kan? Andra itu Mafioso kepercayaan fern dan delard.


Yah delard itu asisten kepercayaan fern sedangkan Andra itu Mafioso kepercayaan fern plus delard.


Secara singkatnya, Andra itu bawahan delard dan fern, walaupun andra lebih ke bawahannya fern.


“Uh tidak, tapi aku lapar dan bayiku juga lapar” ucapan Freya membuat mata Andra membola.


Bayi? Andra belum tahu apa-apa tentang hal seperti ini.


“Anda.. mengandung, nona? Tanya Andra memastikan dugaan miringnya.


“Iya, apa kau memiliki masalah tentang ini?” tanya Freya datar.


Andra lagi-lagi menggeleng cepat, datarnya sang nona ini seperti gradasi.


Ekspresi datarnya setengah mirip fern tak heran kan Freya itu adik kandungnya sang tuan? Lalu.. setengahnya milik siapa?.


Ekspresi yang cukup familiar sayangnya Andra tak mengingat apapun.


“Baiklah, nona ingin ke restoran mana? Restoran makanan China, makanan Jepang atau makanan daerah negara ini?” tanya Andra lalu membuka pintu mobil agar sang nona masuk ke dalam.


BRAK


Pintu mobil di tutup Andra, Andra pun masuk di bagian kemudi.


“Apa tidak ada seblak disini?” setelah berfikir sedikit lama Freya pun bertanya.


JDUAR


Bagai tersambar petir Andra memaku, mana ada seblak disini?.


‘Tapi kalau aku tidak mengikuti keinginan nona.. tuan pasti akan memarahiku’ batin Andra dilema.


“Ada apa dengan ekspresi anehmu itu?, Apa kau tidak mau mengantarku?” tanya Freya mulai murung.


‘Lah tadi datar sekarang manja gini, sebenarnya sifatnya yang asli itu apa?’ batin Andra bersuara kembali.


“Emm bukan begitu nona, hanya saja di negara ini tak ada makanan seperti itu” jawab Andra, ia memilih jujur.


Lagipula tadi Andra sudah berbohong begitu banyak.


“Kalau begitu kau harus membuatkan seblak, yang pedas ya!.”


Haduh! Bumil itu memang meresahkan.


Mau tak mau Andra harus menambah bumil ke daftar blacklist orang yang ingin ia hindari.


Freya mendapat kehormatan untuk menempati nomor 2 dalam daftar blacklist Andra, siapa yang pertama? Jelas fern.


Sesungguhnya ekspresi dingin fern membuat Andra enggan bertemu dengannya, namun ia malah menjadi Mafioso kepercayaannya.


Andra juga tak bisa menolak untuk diperintah atau bertemu fern tentu saja karena ia takut m*ti! Ia tak ingin m*ti muda, lagipula ia juga belum menikah! Yah hal yang sama juga berlaku pada Andra saat ini.


Mana mungkin Andra bisa menolak ucapan sang nona yang notabenenya adalah adik kesayangan sang tuan? Apalagi nonanya ini sedang mengandung calon ponakan tuannya.


***


DOR


DOR

__ADS_1


DOR


Tembakan nyaring begitu terdengar, bahkan tembakan itu sampai menggema.


Fern kini mengambil posisi jongkok dan mengayunkan kakinya, yang ia incar adalah kaki Revan.


Jika ia berhasil menyerang kakinya maka sang lawan pasti tumbang.


Nyatanya walau tiga peluru sudah mendarat di tubuh fern dan Revan mereka sama sekali tak seperti orang sekarat!.


Malah mereka bergerak lebih lincah daripada semua bawahan mereka.


Saat kaki jenjang fern hampir mengenai kaki Revan, Revan langsung melompat membuat kaki fern hanya menemui udara.


Fern pun bangkit lalu memutar tubuhnya ke belakang, lantaran Revan mengarahkan tendangan ke samping kepala fern.


Semenit kemudian revan membekuk fern dengan memegang kedua tangan fern.


Tubuh fern membungkuk dan tangannya di tarik ke belakang oleh Revan.


“Ck, kenapa kau malah menyambut ku tadi?” tanya Revan yang merasa di tantang sedari ia menapak ke sekitar mansion arron puncaknya saat ia bertemu fern.


“Bukankah aku sudah bilang? Kau sudah mencampakkan adik kesayanganku! Kau seenaknya melakukan itu, br*ngsek” jawab fern mengangkat kedua tangannya yang tengah dipegang Revan lalu memutarnya ke atas.


BRUK


Lalu ia jatuhkan ke tanah hal itu membuat Revan terbanting.


“Lalu kau ingin balas dendam?” itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan.


Hanya senyum sinis yang membalas pernyataan tepat Revan.


“Benar.. kurasa delard sudah menyampaikan ini padamu, biar aku sampaikan kembali ‘Adikku terlalu berharga dan tak pantas untuk kau miliki, sebab dia adalah tuan Puteri di keluarga Arron, dia harus memiliki pendamping yang pantas untuk dirinya’.”


Mata Revan menajam, artinya ia tak berharga dan tidak pantas begitu?.


Setiap wanita yang memandang Revan itu menginginkan dirinya dan fern bilang..?


Delard yang tak sengaja mendengar ucapan fern tersenyum tipis, Revan mungkin pantas secara standar namun ia tak pantas jika di pandang di sudut kebahagiaan Freya.


Di seberang lain..


“Mom, kak Freya ngga ada dimanapun” ujar kinen setelah menelusuri semua kamar.


“Iya, di gudang juga tidak ada” balas mommy menghela nafasnya.


“Lalu kemana kita harus mencari kak Freya?” tanya kinen.


Mommy menggeleng pertanda ia tak tahu, lalu..


BRAK


“Apa yang kalian lakukan?!” suara itu muncul dari seorang lelaki.


Mommy dan kinen menoleh dan mendapati tatapan permusuhan dari lelaki itu.


Tanpa berfikir pun mommy dan kinen tahu bahwa lelaki itu adalah bawahan fern.


Mau tak mau sang mantan princess T dan Puteri mahkota berzeliuz harus bertanding hari ini.


Beberapa saat berlalu...


Lengkap sudah enam jam Revan dan fern sama-sama bertarung dengan tangan kosong dan dengan darah milik mereka masing-masing yang berceceran dimana-mana.


“Tuan sudah!” pandu sudah tak tahan rasanya, enam jam sang tuan menahan tiga peluru sekaligus!.


Delard yang tak kalah khawatir pun mengangguk, “Tuan..” nadanya juga terdengar memohon.


Sayang sekali keduanya tak menghiraukan, hingga..


BRUK


Tubuh keduanya jatuh secara bersamaan, akhirnya semuanya menjadi panik sendiri.

__ADS_1


Pandu, kinen, mommy dan Mafioso bawahan Revan membawa revan pergi, begitu pula dengan delard juga para Mafioso bawahan fern.


Delard menghela nafasnya susah, tak heran jika tubuh keduanya tumbang secara bersamaan, enam jam loh enam jam!.


Darah mereka terus mengucur selama enam jam.


Pada akhirnya pertandingan duel antara Revan dan fern berakhir seri, sedangkan pertandingan delard dan pandu? Ia tak tahu hasilnya sebab dirinya dan pandu lebih fokus ke tuan mereka masing-masing bukan duel yang tengah mereka lakukan.


Sesampainya di rumah sakit baik Revan maupun fern langsung di bawa ke ruang UGD dengan brankar.


Yah walau fern dan Revan di tempatkan di rumah sakit yang berbeda namun penanganannya jelas sama.


“Tuan, pasien kehabisan darah terlalu banyak, dan tiga peluru yang ada di tubuhnya sangat berpengaruh, langkah yang bisa dilakukan saat ini adalah melaksanakan operasi besar-besaran.”


Para suster dan dokter di rumah sakit tak bertanya tentang bagaimana fern terluka atau apa delard adalah keluarganya.


Sebab semua orang di rumah sakit itu tahu siapa fern, tak heran sebab ini adalah rumah sakit yang didirikan bebuyutan angkat fern.


“Lakukan yang terbaik dok!” sahut delard mengangguk memberi persetujuan.


Ia tentu peka, mengapa dokter itu menjelaskan padanya sebab operasi itu tetap memerlukan persetujuan.


“Baik tuan.”


Beberapa saat setelahnya para suster terlihat mondar-mandir dari UGD ke tempat lain, ada yang kembali ke UGD dengan membawa stok darah, ada yang kembali dengan membawa kapas.


Delard hanya memandang suster-suster itu dan tak mencegat tenaga medis yang lewat sama sekali, delard tetap menunggu dengan patuh di depan ruang operasi agar operasinya tak terganggu.


DRRT DRRT DRRT


Ponsel delard bergetar pelan, diraihnya ponsel yang berada di sakunya.


Andra.


Andra menelefon delard, tak berlangsung lama delard mengangkatnya.


“Ada apa?.”


“Delard! Berikan ponselnya ke abang.”


DEG


Jantung delard berpacu dengan cepat, tuannya sedang di operasi lalu bagaimana dengan telefon Freya ini?.


“Memangnya kenapa nona?” delard mencoba untuk menyembunyikan kekhawatirannya.


Delard sudah khawatir sekali dengan fern eh malah Freya menelepon dengan ponsel andra dan menambah kekhawatirannya saja.


“Ish, aku rindu dengan Abang, aku ingin Abang cepat kemari.”


“Ah, tuan sedang.. sedang.. sedang meeting!.”


Akhirnya delard menemukan alasan yang dirasa cukup masuk akal.


“Baiklah.. tapi katakan pada Abang biar dia cepat menyusul!.”


TUT TUT TUT


Panggilan ditutup sepihak oleh Freya di seberang sana, delard pun memijit pelipisnya pusing.


Bagaimana cara dirinya agar bisa membuat tuannya sembuh dengan cepat dan menyusul Freya ke negara C?.


Jika fern pergi dengan keadaan belum sembuh total maka Freya pasti mengetahuinya.


Delard baru tahu saat ia menelusuri rekam jejak nona kinen, kinen pernah terluka dan pertolongan pertama Freya yang memberikannya.


Jadi jelas ini adalah masalah yang cukup besar!.


_______________________________


Hello readers, tak bisan-bosan author mengucapkan makasih banget buat yang udah ndukung novel author ini.


Oh ya tetap jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.

__ADS_1


Thank u~


-Nadira


__ADS_2