
Fern memijat pelipisnya pusing, delard yang sedari tadi hanya melihat pun akhirnya angkat bicara.
“Apa tuan memerlukan bantuan?” tanya delard sehalus mungkin agar singa itu tak menyemburnya dengan kata-kata bak pisau.
“Tidak, aku sudah menemukan para hackers hebat itu walau hampir seharian penuh padahal kita sudah terbiasa dengan hal seperti ini.”
^^^Author bi lek: jika tidak dikasih petunjuk dari duo A mah mungkin ketemunya ‘sedikit’ susah 🤣.^^^
“Kita akan mengunjungi mereka besok pagi. Namun, apa kau bisa mencari informasi tentang Jessi tujuh tahun yang lalu? Aku merasa dia ada kaitannya dengan hilangnya wanitaku.”
Delard mengangguk mengerti mendengar ucapan fern, sebab kalau Jessi langsung dituduh tanpa bukti pastinya model itu mengelak dengan sekeras yang ia bisa bukan? Mungkin.
Tapi jika dugaan fern memang benar lalu fern dan delard berhasil mengumpulkan bukti.. maka Jessi tak ada pilihan lain selain jujur bukan? Sebab jika hal tersebut terjadi maka hanya ada dua jalur.. mengatakan hal yang sebenarnya atau terjerat hukum.
“Baik tuan.”
“Apa tuan tidak akan mengabari tuan Revan? Bukankah dia juga menunggu kabar dari tuan?” tanya delard mengingatkan tuannya.
“Hm” delard akhirnya menghela nafasnya kasar lantaran fern sudah kembali ke kebiasaannya dahulu, bagai keyboard (datar) dan hanya memiliki dua huruf yaitu ‘h’ dan ‘m.’
Enggan mengganggu fern lebih banyak delard segera undur diri dari ruangan tersebut, membiarkan fern terselimuti oleh keheningan.
Jujur, tak ada yang bisa mengerti perasaan fern saat ini. Mereka mengira bahwa fern ingin waktu sendirian namun nyatanya jika fern sendiri saja maka ia pasti akan mengingat segala rintihan wanitanya beberapa tahun yang lalu.
Akan tetapi fern membuat pengecualian untuk si mama dan adiknya, karena hanya mereka berdua yang benar-benar mengerti fern. Delard? Pria yang menjadi asistennya itu hanya memiliki nilai setengah bila berhadapan dengan hal ini.
Mengapa? Sebab delard itu kadang peka kadang tidak.
Keesokan harinya..
“Aura, Arfi.. ayo kalian harus bangun! Jangan biarkan miss yuita menunggu!” teriak mama ayura dari bawah sana.
“Uh iya ma! Aura udah bangun” balas aura dengan berteriak juga, gadis kecil itu kini mengusap lembut matanya, suara super sonik dari sang mama berhasil membuat gadis ini bangun.
__ADS_1
“Bagus! Cepat bangunkan abang mu Ra!” aura mengelus telinganya dengan sayang, sang mama sungguh berteriak dengan keras.
Setelah aura sedikit sadar ia langsung mengguncangkan tubuh Abangnya, Arfi.
“Bang ayo bangun nanti mama marah loh, jangan lupa kita juga harus menyelidiki papa. Jadi kita harus bisa menjalani hari dengan cepat” ujar aura.
“Emmh, lima menit.. lima menit lagi.”
“Mana bisa seperti itu bang? Ayo bangun mama nanti marah loh” balas aura tetap mengganggu abangnya.
Tanpa menjawab Arfi dengan tenangnya mengucek-ucek matanya dan menatap santai pada aura. Adiknya itu bahkan sesekali masih memejamkan matanya lalu membukanya kembali.
“Aura, kalau Arfi sudah bangun suruh mandi!.”
Note: di kamar aura dan Arfi ada dua kamar mandi, jadi mereka bisa mandi bersamaan di kamar mandi yang berbeda.
“Iya ma! Arfi sama aura mandi sekarang.”
Duo A pun Mandi dengan segera, mereka jelas tak mau sang mama mengomel kepada mereka. Ah ya mereka juga tak sabar untuk bertemu fern, orang yang aura dan Arfi curigai sebagai papa mereka.
Arfi menatap bosan pada pelajaran matematika yang berada di depannya, hari ini Arfi resmi menjabat menjadi siswa kelas 6.
Arfi kira pelajaran disini pasti akan sangat menantang, namun nyatanya b saja. Arfi yang sedari tadi mengawasi gurunya pun jadi bosan sebab yang diterangkan oleh guru tersebut sudah ia ketahui semuanya.
Pada akhirnya mata elang Arfi melirik ke arah lain, alisnya mengkerut saat mendapati bahwa para gadis di kelas ini begitu mendambakan dirinya yang nyatanya lebih muda tujuh tahun dari mereka.
Enggan melirik lebih lama, Arfi segera memalingkan wajahnya ke arah luar hingga sebuah suara mengalihkan perhatiannya.
“Bu! Lihat anak baru itu tidak mendengarkan ibu sama sekali.”
Mendengar ucapan tak berbobot tentang dirinya, Arfi segera menatap tajam pada seorang bocah lelaki yang meneriakinya.
Si guru matematika kelas enam alias guru baru yang sama sekali belum mengerti tentang kegeniusan duo A pun menatap marah pada Arfi.
__ADS_1
Sedangkan guru-guru yang lain? Biasanya para guru itu akan memberi Arfi dan aura belajar tentang topik pelajaran kelas XII dan seterusnya tentu saja pada waktu saat para siswa yang lain mengerjakan soal.
“Apa itu benar? Mengapa kamu tidak mendengarkan ibu?” tanya guru tersebut. Arfi pun dengan tenangnya mengangguk membenarkan ucapan ibu gurunya ini.
“Bu meetha, maaf tapi saya sudah faham tentang materi ini alhasil saya jadi bosan” jawab Arfi yang tidak ada takut-takutnya.
“Kamu yakin?.”
Mendengar pertanyaan yang menyinggung kemampuannya Arfi pun mengangguk secepat yang ia bisa, sedangkan kedua tangannya yang berada di bawah meja saat ini mengepal tak karuan. Arfi sungguh tak suka apabila ada seseorang yang menyinggung kemampuannya.
Percaya atau tidak, Arfi dan aura nyatanya memang sangat percaya diri dengan kemampuan mereka masing-masing.
Berbekal perpustakaan khusus di rumahnya yang dibuat oleh sang mama duo A berhasil membawa banyak piala, sertifikat dan beberapa penghargaan lainnya setelah mengikuti beberapa lomba.
“Baik kalau begitu coba selesaikan soal ini” guru tersebut terlihat mencorat-coret papan tulis.
Seketika senyum manis tersungging di bibir Arfi, wajah polosnya mampu membuat siapapun memandang Arfi dengan menggemaskan padahal bocah usia lima tahun ini berbahaya.
Keturunan fern, si psycopath g*la nan edan!. Dan sialnya lagi, sepertinya duo A ini lebih mendominasi ke arah fern daripada ayura.
TAP TAP TAP
Langkah kaki milik Arfi yang tengah mendekat ke arah Bu meetha itu membuat kelas yang sudah sunyi menjadi horor, pasalnya semua orang di kelas itu kini ingin menyaksikan sendiri sepintar apa bocah yang baru naik kelas ini?.
Namun beberapa detik setelahnya, Bu meetha serasa mengalami sesuatu yang Dejavu bahkan guru yang berusia 30 tahun lebih itu kini mengusap matanya dengan pandangan terkejut.
Begitu pula dengan anak-anak sekelas lainnya, terlebih bocah lelaki yang tadi meneriaki Arfi. Wajah bocah itu bahkan kini memucat saat melihat kemampuan Arfi yang saat ini ia saksikan secara live alias langsung!.
Bocah yang selama ini selalu di remehkan oleh seluruh siswa laki-laki di sekolah itu terlihat sangat mudah mengerjakan soal yang diberikan oleh Bu meetha.
Sudah dibilangi bukan? gen keturunan fern si tuan muda arron itu sungguh g*la!.
“HAH KOK BISA?!.”
__ADS_1
TBC