
Akhirnya para asisten hanya memandang penuh belas kasih pada varen, meskipun pandu masih agak lemas namun ia sedikit terhibur dengan begini ia tak akan terlalu memikirkan kata ‘Sah’.
“Dia bukan manusia! Dia i**is!” seru varen ketika ia lagi-lagi berusaha untuk menghindar dari serangan Revan.
Fern pun terkekeh di depan umum untuk pertama kalinya, bagaimana tidak? Varen kesulitan menghadapi Revan, i**is katanya? Ya tentu! Orang Revan sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
Lagipula jika di pandang dari pemikiran fern, varen itu termasuk golongan orang yang lemah.
Namun teriakan varen sama sekali tak digubris oleh si pewaris purnama, kinen dan mommy hanya terkekeh pelan melihat pertempuran yang jelas tidak adil.
Revan vs varen dengan kata lain berpengalaman vs tak begitu berpengalaman.
Freya sendiri masih sibuk menenangkan hatinya sebab daritadi ia melihat Revan vs varen itu bagaikan senam jantung.
Ia takut kalau salah satunya terluka, tunggu varen juga? Yah benar sih tapi bukan perhatian khusus ini hanya karena varen itu temannya apalagi Freya itu orang yang sangat berperikemanusiaan, kalau Revan? Yah kalian pasti tahu mengapa Freya mengkhawatirkannya.
Dr Anisa? Dia masih di dalam bersama mama Dewi dan papa lyan yang berusaha untuk menenangkan dr Anisa, kebanyakan dari mereka mengira bahwa dr Anisa terharu karena sudah menikah.
Padahal kenyataannya lain! Kenapa hanya kebanyakan? Sebab pandu tahu alasan mengapa dr muda itu menangis.
“Hey!” varen tercekat ketika Revan berhasil menodongkan samurainya tepat di leher varen.
Satu hentakan saja pasti kepala varen lepas dari badannya.
Akhirnya Revan menyudahi pertempurannya, ia menarik samurainya dan berjalan menuju varen tepat di telinganya Revan berbisik.
“Jangan mendekati wanitaku, kau sudah tahu akibatnya kan?.”
Revan lalu pergi ke dalam mansion meninggalkan varen, keluarga Arron dan purnama di luar.
Freya yang tahu kalau Revan marah pun mengejarnya, ia masuk ke mansion. Freya takut kalau Revan akan berbuat hal yang tidak baik.
“Lah woy!” Freya terpekik secara tidak elitnya karena Revan tiba-tiba menarik tubuhnya.
“Kenapa kau mengikuti ku?” tanya Revan singkat, nadanya terdengar datar namun ia menatap teduh pada Freya.
“S—siapa bilang huh? Aku hanya ingin melihat dokter anisa” Freya pun mencari alasan.
“Lalu kenapa kau ke arah tangga? Dokter itu berada di Utara bukan di selatan tempat dimana tangga berada” Revan tersenyum smirk ala bos mafia, yang mana malah membuat Freya merinding.
“Aku.. aku...” Freya akhirnya tak memiliki alasan untuk menolak, ia menatap Revan yang tengah menaikkan alisnya ke atas seolah-olah pria itu menggodanya.
“Hih! Iya! Aku mengikutimu karena aku khawatir padamu, iya! Aku memang masih mencintai mu, aku tau kau begitu karena Rina kan?, Aku juga tahu bagaimana posisimu, karena itu aku memaafkanmu! Aku memberimu kesempatan, tapi jika kau mengulanginya lagi maka tidak ada kesempatan lagi.”
Freya akhirnya berucap panjang lebar karena sudah kehabisan alasan yang bisa ia pakai.
Revan yang sejak tadi mendengar hanya terdiam memaku, di detik kemudian pria itu tersenyum manis menatap Freya, senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun bahkan kepada mommy dan kinen selama beberapa tahun yang lalu.
Senyuman itu hanya untuk Freya, hanya Freya.
__ADS_1
“Jadi tidak sia-siakan aku sampai melawan abangmu itu? Tidak sia-sia aku jadi penguntit dan tidak sia-sia pula aku memanjat dinding mansion arron?” Revan berucap namun ia menghilangkan senyuman manisnya.
Senyuman yang mampu membuat Freya terpaku kagum, hingga Freya ingin melihatnya berkali-kali tapi tak mungkin sebab pria itu terlalu beku untuk melakukannya lagi.
“Mmm...” Freya hanya menunduk malu, entahlah ia bagai anak abg yang sedang jatuh cinta padahal ia akan menjadi seorang mommy.
Akhirnya Revan mengangkat dagu Freya pelan lalu menatap dalam bola matanya, bola mata yang ia rindukan berbulan-bulan lamanya.
“Jadi.. kau mau ikut denganku kan?” tanya Revan dingin dan ttp (to the point) sejak awal Revan tak sabaran jika menyangkut wanitanya.
“Kau harus mendapatkan restu dari mama grea, papa Hunter dan Abang!” jawab Freya, pertanda bahwa ia menyetujui pertanyaan Revan, bagaimana tidak? Sudah seharusnya kan kalau seorang isteri mengikuti kemana suaminya pergi?.
“Kalau tentang mama dan papa aku sudah mendapatkannya, untuk abangmu.. aku pastikan aku akan mendapatkannya juga” balas Revan datar namun raut wajahnya terlihat senang.
Ada untungnya si varen itu datang jadi Freya mengikutinya lalu berakhir dengan penyelesaian yang sangat melegakan.
“Kau yakin? Abangku terlihat sangat benci padamu? Apalagi kalian musuh kan?” tanya Freya ragu.
Namun Revan lagi-lagi terpaku, “Darimana kamu mengetahui itu?.”
“Aku tahu, aku juga tahu kalau kau seorang mafia kan? Huft kau tidak menceritakannya karena takut kalau aku kabur lagi kan? Namun aku sudah tahu semuanya” jawab Freya enteng.
Revan menatap intens pada Freya, “Lalu.. kamu tidak takut padaku?.”
“Untuk apa? Kau tidak akan menghukum orang tanpa sebab lagian kau tidak akan bisa melukaiku!” balas Freya dengan ringannya.
“Good girl” sahut Revan singkat lalu mengelus lembut rambut Freya.
Revan hanya menggelengkan kepalanya pelan namun ia tak menyesal untuk memuji Freya sebab wanitanya itu terlihat senang dan jika wanitanya itu senang maka ia juga ikut senang.
“Sepertinya aku harus berbicara dengan mama dan papa, aku punya rencana untuk mendekati abangmu” ucap Revan melepaskan elusannya.
***
Dokter Anisa, mama dewi dan papa lyan yang sedari tadi melihat interaksi keduanya pun memilih diam sebab ekor mata Revan sudah mengisyaratkannya.
Bukan berarti dokter Anisa dan keluarganya melihat senyuman Revan, sebab ruang dimana tangga berada dan area dimana dokter Anisa plus pandu menikah dibatasi dengan dinding dan pintu.
Keluarga anfadil (keluarganya dokter Anisa) baru datang saat Revan mengelus lembut kepala Revan, mereka pun memutuskan untuk kembali ke ruangan semula.
Niatnya dokter Anisa masih mau menangis namun mama, papanya membuatnya menjadi lebih tenang, saat ia ingin menyusul ke area belakang eh malah ketemu yang begituan.
Setelah keluarga anfadil berada di area semula mama Dewi berbisik, “Pasti Anisa dan menantuku akan lebih romantis, iya kan pa?.”
Dokter Anisa pun melotot, romantis katanya? Dr Anisa saja berniat pisah kamar dengan pandu! Lalu katanya romantis?.
“Pastinya ma, sayang papa mau cucu minimal dua ya” belum apa-apa papa lyan membicarakan tentang cucu.
Jangan lupa ada kata minimal!.
__ADS_1
“Jangan terlalu berharap pa, ma” dr Anisa tak dapat membantah lagi namun ia memperingatkan mama papanya.
‘Sebab aku dan dia itu saling membenci, adanya anak di dalam kehidupan kami itu agak mustahil, dan lagi.. aku menebak bahwa kami akan bercerai setelah tiga bulan menikah, karena jika kami bercerai sekarang maka kalian akan terluka’ batin dr Anisa meneruskan ucapannya di dalam hati.
“Justru kami harus berharap agar kamu cepat membuatnya!” balas mama Dewi membuat dr Anisa meneguk ludahnya kasar.
Membuat? Kata itu agak..
“Tapi ma ngga begitu juga kan?” tanya dokter Anisa menatap dengan mata memelas ke mamanya.
“Papa setuju dengan ucapan mama mu” ujar papa lyan yang setuju pada sang isteri.
“Pa, jangan ikut-ikutan!” balas dr Anisa makin munyet memikirkan masalahnya.
“Kenapa sih Anisa? Kan kami berhak mendapat cucu lagipula mama lihat kemarin kamu dan menantu begitu tidak sabaran dalam hal itu kan?” tanya mama menggoda anak gadisnya.
Dokter anisa pun mengerucutkan bibirnya, itulah kesalahfahaman yang menyebabkan ia harus menikah dengan si asisten yang ia benci!.
“Aduh ma, udah dong jangan di goda terus kasihan tuh anak kita” balas papa lyan terkekeh pelan agar tak mengganggu interaksi antara Freya dan Revan di ruang sebelah.
Dokter Anisa pun menggeleng pelan, ia tidak malu namun ia serasa ingin pingsan!.
“Pa..” dokter Anisa memandang memelas ke arah papa lyan.
“Ahahah, Iya pa mama ngga menggoda Anisa untuk hari ini namun tidak untuk besok” dr Anisa menghela nafasnya pelan saat mendengar ucapan mama tersayangnya.
Untung sayang kalau tidak mama Dewi pasti sudah disuntik mati oleh dr Anisa, sekali lagi.. sungguh! Jika dr Anisa tak menyayangi kedua orang tuanya maka ia tak akan mau untuk menikah dengan orang yang paling ia benci.
Mulai hari ini, dr Anisa pasti akan sangat tersiksa saat ia ditempatkan dalam satu atap dengan pandu yang sekarang merupakan suami sahnya.
Duh, mendengar kata sah saja dr Anisa sudah mengernyit nelangsa. Ia sepertinya masih tak terima kalau pandu sudah menjadi suaminya.
Hancur sudah angan-angannya untuk bermesra-mesraan dengan suami sahnya, pergi ke luar negeri saat honeymoon dan memiliki anak-anak yang lucu.
Dr Anisa menghela nafasnya lelah saat ia memikirkannya, angan-angannya akan hancur tak bersisa bahkan sejengkal saja.
Dr Anisa pun hanya bisa menangis di dalam hatinya.
_______________________________
Aduh, apaan tuh rencananya Revan? Kok melibatkan mama grea dan papa Hunter segala? Apa ya..?
Wkwkwk namun pembicaraan Revan dan Freya itu membuktikan bahwa peluluhan antara Revan dan fern akan segera terjadi, Revan and fern dengan kata lain kutub vs beku
But sepertinya novel ini tak akan mudah dalam mencapai ending sebab keluarga Graham belum menampakkan batang hidungnya dari dulu sampai sekarang.
Ahahah, oke-oke seperti biasanya jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.
Thank u~
__ADS_1
-Nadira