
Keesokan harinya..
Freya, mama grea, papa Hunter, fern bahkan Andra dan delard sudah siap di halaman mansion baru purnama.
Freya terlihat anggun dengan perut buncit dan ponsel yang ia pegang, ia memegang ponsel takut kalau temannya itu tersesat.
“Excuse-moi.”
(permisi.)
Freya menerbitkan senyum manisnya ketika ia melihat temannya.
“Wow vandra tu es enfin arrivé toi aussi!” ujar Freya menghampiri teman lelakinya.
(Wow vandra akhirnya kau sampai juga!.)
“Hehehe, désolé je suis un peu en retard” balas vandra, si penghulu.
(Hehehe, maaf aku sedikit terlambat.)
“pas de problème, entrez, nous attendons tous” sahut Freya menyeret varen ke dalam.
(Bukan masalah, ayo segera masuk kami semua sudah menunggu.)
“Allez” ucap vandra tersenyum lalu membiarkan Freya menyeret dirinya.
(Ayo.)
Kemudian vandra melepasnya sebab ia merasakan hawa dingin ketika Freya berada di dekatnya, vandra pun menoleh dan mendapati dua lelaki yang menatapnya tajam.
Vandra hanya tersenyum tertekan.
“mom, ini dia sudah sampai” ujar Freya menghampiri mommy lalu melirik ke pandu dan dr Anisa yang sama-sama canggung bahkan mereka terkesan bermusuhan satu sama lain.
“bien, présentez-moi pour être les parents adoptifs du marié” ucap mommy memperkenalkan diri.
(Baguslah, perkenalkan saya lestari orang tua angkat dari mempelai pria.)
“Santai saja Tante, saya juga bisa berbahasa indonesia” balas vandra terkekeh.
Mommy lestari pun mengangguk sedangkan Freya menatap tajam ke arah varen.
“Kenapa kau tidak memberitahuku tentang ini hah?, Kalau begini kan aku tidak perlu susah-susah menggunakan bahasa itu!” Freya bertanya dengan nada agak tinggi.
“Karena kau tidak bertanya” jawab vandra jahil.
Freya akhirnya mendengus kesal lalu merengut, vandra pun terkekeh pelan.
“Baiklah, dimana wali kedua mempelai?” tanya vandra menatap ke arah pandu dan dr Anisa.
“Saya wali nikah mempelai pria” jawab seorang lelaki, Freya menoleh dan mengernyit.
Siapa lelaki itu?.
Seolah mengerti gerak-gerik Freya Revan pun menjawab, “Dia itu saudara lelaki pandu berhubung hanya dia yang ada di negara ini, jadi dia yang akan menjadi wali nikahnya.”
Freya pun akhirnya mengangguk lagi.
“Saya wali nikah mempelai wanita” ucap papa lyan, papa kandung dr Anisa.
Puas sudah dr Anisa membujuk sang papa dan mama, dr Anisa itu anak tunggal jadi biasanya semua keinginannya akan diwujudkan.
Namun tidak kali ini!.
“Ma, pa...” dokter Anisa melirik papa dan mamanya sendu berharap agar mereka mau mendengarnya sekali saja.
Ini kesalah fahaman! Ia tak mau menikah dengan pria yang dibencinya hanya karena hal konyol seperti ini.
“Iya sayang, bersabarlah kamu akan segera menikah” balas papa lyan.
JDAR
Dokter Anisa pun tersengat listrik, bukan! Bukan begini weh.
“Tapi pa bukan—” ucapan pembelaan dokter Anisa terpotong karena ucapan vandra.
“Bersabarlah nona, saya akan segera memulai akad nikahnya” potong vandra.
“Ayo pan! Sambut tangannya vandra” suruh mommy, namun pandu hanya menggeleng lemah.
__ADS_1
Tak larat sudah pandu melawan, yang ia lawan kini adalah keluarga purnama yang sulit dibantah.
Karena sudah tak sabaran mommy pun menyambar tangan pandu dan menggabungnya ke tangan vandra.
Dokter Anisa pun melirik tajam ke arah pandu, “Psst kenapa kau tidak melawan?.”
Dokter Anisa berbisik tepat di telinga pandu yang disalah artikan oleh Freya dan yang lainnya.
“Aduh, mereka sudah tidak sabar sekali!” komentar mama grea yang mana malah membuat yang lainnya mengangguk setuju.
Makin melongo saja dokter Anisa.
“Baiklah baiklah, saya mulai......”
“Sah?!“ ujar vandra menatap ke semua orang.
“Sah!.”
“Sah!.”
“Sah!.”
Pandu dan dokter Anisa sekarang sudah menjadi suami isteri yang sah secara agama maupun negara.
Dokter Anisa dan pandu akhirnya tak bisa membantah, mereka sama-sama tidak bisa menyakiti dan menolak permintaan orang-orang terdekatnya.
“Selamat sayang, akhirnya kamu menikah juga” ujar mama Dewi memeluk erat dokter Anisa yang sudah menangis histeris.
“Sudah nak, jangan menangis semuanya sudah berakhir bahagia” ucapan papa lyan malah membuat air mata dr anisa makin ambyar.
“Selamat pandu, dokter Anisa kalian sudah resmi menjadi suami isteri” ujar Freya serempak dengan keluarga Arron yang lainnya.
Selain fern tentu saja, mana mau pria dingin itu mengucapkan hal-hal seperti ini selain pada Freya dan mamanya?.
“Selamat” ujar Revan datar sambil menjabat tangan pandu yang terlihat sangat lemas.
Seolah-olah pria kekar yang tengah menjadi asistennya baik di dunia bawah maupun atas itu sudah tidak punya tenaga sama sekali.
“Selamat untuk kedua mempelai, jangan lupa nanti di pesta resepsinya undang saya” ujar vandra menunjuk dirinya dengan bangga.
Dokter Anisa dan pandu pun melayangkan tatapan tajam pada vandra, resepsi katanya?.
“Eh ngga perlu mom! Dia itu agak miring otaknya ngga usah di undang!” canda Freya menggoda vandra.
Yang mana malah membuat fern dan Revan makin geram saja.
Fern mengira bahwa vandra itu belum di periksa perilakunya jika ingin bersanding dengan sang adik sementara Revan memandang vandra sebagai saingannya.
TAK TAK TAK
“Hah hah, maaf aku terlambat” kinen menghela nafas dengan tersenggal-senggal.
“Nona hati-hati” ujar Candra yang menyusul di belakangnya, kinen pun mengangguk pelan.
“Maaf pan, dok aku terlambat” ucap kinen menatap ke arah semua orang termasuk kak freyanya.
“Kinen, kamu dari mana saja? Kemarin kakak kemari kamu juga tidak ada” Freya bertanya sambil mendekat ke arah kinen seraya sedikit menunduk pada pria di samping kinen.
“Aku punya banyak kerjaan kak! Aku tidak menyangka bahwa menjadi ceo itu sesusah ini” balas kinen memeluk kakak tersayangnya.
Vandra hanya menggaruk kepalanya bingung sebab ia tidak mengenal kinen maupun pria di belakangnya.
“Emm, dia siapa?” bisik Freya pelan pada kinen, Candra yang pendengarannya tajam pun mendengarnya.
“Ah, perkenalkan nona. Saya Candra asisten dari nona muda kinen” Candra memilih untuk memperkenalkan dirinya sendiri.
“Oh baik, perkenalkan juga saya kakak ipar kinen, nama saya freya” balas Freya.
Freya lalu melirik ke Revan yang terlihat sedikit dongkol, biasanya jika pria itu tidak menyukai seseorang maka ia akan diam saja tetapi ini sampai ketara, itu berarti Revan benar-benar sangat dongkol saat ini.
Wkwkwk, Freya hanya bisa tertawa di dalam hati. Rasanya bumil itu ingin membuat Revan lebih dongkol lagi.
“Wah adik ipar ku sudah besar ya! Sekarang sudah menjadi ceo!” goda Freya saat mengingat kata-kata kinen bahwa ‘menjadi ceo sesusah itu’.
Berarti kinen sudah menjadi seorang ceo kan?.
“Ih, kakak!” balas kinen yang tak mau di goda oleh kakak perempuan tersayangnya itu.
“Aduh-aduh, walau sudah dewasa tapi sifat kekanakanmu masih ada ya? Lucu sekali adikku ini” sahut Freya mencubit pipi kinen.
__ADS_1
Yang mana malah membuat kinen makin cemberut.
“Hey! Kau tidak akan memperkenalkan padaku siapa dia?” tanya vandra menunjuk dirinya sendiri.
“Untuk apa?” melihat sikap jahil Freya Revan pun makin dongkol.
“Tentu agar aku semakin dekat denganmu” balas vandra mengedipkan sebelah matanya.
“Sh*t! Apa kau mengode ku bahwa kau ingin berduel denganku?” muak sudah Revan, amarahnya sudah berada di ubun-ubun.
Tubuh vandra menegang mendengarnya, berduel?.
Ia pun berbalik dan menatap ke seorang lelaki yang memang sedari tadi mengeluarkan hawa dingin, jika pria yang lain ia tahu bahwa dia adalah Abang Freya.
Tak heran jika si Abang sangat posesif pada Freya kan? Tetapi lelaki yang ini? Ia tak mengenalnya.
Sedangkan itu fern hanya diam menikmati tontonan di depannya, ia tahu Revan masih terpikat pada sang adik, begitu pula dengan yang lainnya.
“Memangnya apa hak mu atas Freya?” balas varen seolah-olah ia memang sengaja untuk memancing kemarahan Revan.
Freya pun melotot mendengar perkataan varen, siapa yang mau bertanggung jawab jika Revan benar-benar mencincang varen?.
“Oh, kau benar-benar menantang ku ya?” tanya Revan geram, aura dinginnya keluar seketika.
Bocah ingusan seperti varen berani menantang Revan yang notabenenya adalah king mafia no 1?.
Mau cari mati kah?.
“Memangnya kau siapa? Saudara? Bukan kan! Suami? Jelas bukan kan” balas varen menatap Revan.
Da*n it!.
“V—var, lebih baik kau mundur sebelum menyesal. Dia lebih berhak atas ku dari pada kau” Freya berusaha menenangkan ketegangan.
Ini itu hari baik! Hari dimana dr Anisa dan pandu menikah, lalu mengapa malah ada drama khas sapi terbang disini?.
“Dia siapamu hingga dia lebih berhak atasmu?” tanya varen melirik remeh pada Revan.
S*alan!.
“Dia juga bukan keturunan keluarga terkaya nomor satu kan?” sambung varen semakin meremehkan Revan.
Padahal Revan memang keturunan bahkan pewaris keluarga purnama (keluarga terkaya no 1), ia juga king of mafia.
“Tuan, lebih baik anda mundur” ujar pandu, Andra, delard dan Candra bersamaan.
Mereka itu sama-sama asisten orgil (Candra pernah menjadi asisten Leo yang juga masuk golongan orgil), jadi mereka jelas tahu apa yang akan terjadi jika ada situasi seperti ini.
“Kita lihat, apa kau bisa mempertahankan dirimu secara fisik dan mental” Revan berjalan mendekat seraya berucap dengan dingin.
Varen seketika bergidik ngeri, “Hanya karena kau adalah tuan muda keluarga grins bukan berarti kau bisa meremehkan ku.”
Varen seolah mematung ketika orang itu berani menantangnya walau sudah tahu tentang identitasnya.
Pria itu, varen adalah satu-satunya lelaki yang menjadi teman terdekat Freya enam bulan ini.
Tentu saja sebuah perasaan muncul padanya tetapi tidak pada Freya.
Jika dilihat Freya terjebak di cinta segi empat, Revan, Freya, varen dan pandu (jika pandu memang akan terus jatuh ke asmara karena Freya kan dia lagi berusaha mup on.)
Varen meneguk ludahnya kasar ketika pria di depannya menganggap bahwa ucapannya serius padahal ia hanya ingin bercanda, apakah aktingnya sebagus itu?.
‘Loh! Dia menanggapi dengan serius? Kan aku hanya bercanda’ batin varen menglelah.
_______________________________
Waduh-waduh, varen tuh muncul malah buat masalah sama Revan!.
Elah belum tahu aje kalau Revan tuh orang yang sangat berhak atas perasaan bahkan tubuh Freya (yaiyalah kan dia suaminya.)
Habis tu anak (varen) kali ini! Wkwkwk dr Anisa dari tadi diam soalnya dia masih lemas akan pernyataan ‘sah’.
Coba dah author tanya, “siapa sih yang mau menikah dengan pria yang dia benci hanya karena kesalahfahaman yang konyol?.”
Jelas tidak lah ya, itulah yang dirasakan dr Anisa saat ini 🤣.
Oke-oke seperti biasanya jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.
Thank u~
__ADS_1
-Nadira