My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.126. Back to dr juju


__ADS_3

Setelah Revan pergi fern mendekati varen, fern tahu bahwa adiknya itu mengejar Revan namun ia membiarkannya dan memilih untuk berjalan mendekat pada varen.


Berhubung varen sudah berdiri ia hanya memajukan kepalanya lalu berbisik dengan menyeramkannya tepat di telinga varen.


“Jika kau berani mendekati adikku dalam keadaan lemah dimana kau tidak bisa melindunginya maka kau akan menerima sesuatu yang lebih ekstrim dari pertempuranmu tadi” varen yang mendengar tentu saja bergidik ngeri namun ia tetap memberanikan untuk membalas bisikan fern.


“Meskipun aku lemah tapi kau tidak akan bisa membantah permintaan adikmu kan? Kalau aku bisa mendapatkan hatinya aku yakin kau pasti akan mengizinkan kami.”


Fern menggertakkan giginya pelan, “Bocah ingusan sepertimu tak akan bisa melindungi atau bahkan mendapatkan adikku.”


Setelahnya fern pun pergi ke luar mansion, ia sudah berpamitan pada mommy bahwa ia akan pergi ke perusahaan sebab ada meeting pagi hari ini.


Delard juga ikut dengan sang tuan.


“Mama, papa kesini bentar dong!” mama grea dan papa Hunter menoleh ketika mendengar suara anak perempuan mereka.


“Baik, mama dan papa akan kesana” balas mama grea dan papa Hunter serempak, mereka pun meminta izin untuk pergi lalu menuju sumber suara teriakan tadi.


“Ada apa Frey? Loh ada Revan juga?” tanya mama grea heran, mama grea mulai bertanya saat ia sudah menemukan plus mendekat ke arah Freya.


“Bukan Frey ma, ini loh Revan mau bicara sama mama papa” jawab Freya melirik ke arah Revan yang biasa-biasa saja saat namanya disebut.


“Baiklah, kamu pergi saja ke dr Anisa biar aku, mama dan papa berbicara enam mata saja” balas Revan datar.


“Kok gitu? Emangnya Frey ngga boleh dengar?” tanya Freya menatap pada Revan.


Sejenak Revan diam namun di detik berikutnya kepalanya menggeleng pertanda jika Freya harus segera pergi.


Dengan lesu Freya pun pergi dari ruangan itu membiarkan mama grea, papa Hunter dan Revan disana.


Freya akhirnya menurut dan pergi ke ruangan dimana kelurga anfadil berkumpul, “Eh nyonya? Kenapa anda kemari?.”


Pertanyaan dari dr Anisa membuat Freya menatap langsung ke dokter muda itu, “Oh tidak apa-apa dok.”


“Ah iya dok, saya mau tanya” Freya berucap lalu berjalan mendekat ke arah dokter Anisa dan keluarganya.


“Eh iya nyonya mau bertanya tentang apa?” tanya dokter Anisa mengernyitkan keningnya bingung, untuk apa isteri sah tuannya bertanya padanya? Jangan bilang kalau pertanyaannya sama seperti pertanyaan mama papanya?.


Rip sudah ia kalau begitu.


“Apa dokter Juju berada di negara ini juga? Sebab aku ingin berkonsultasi padanya, soalnya dokter yang biasanya memeriksaku di temukan tewas beberapa hari yang lalu” jawab Freya sekaligus melontarkan pertanyaannya.


“Ah, dokter Juju juga berada disini nyonya sebab saya, dr juju dan kepala direktur neon harus berada disini untuk melaksanakan suatu program. Saya turut berduka untuk itu” balas dr Anisa yang di angguki oleh mama Dewi dan papa lyan pertanda bahwa mereka juga turut berduka untuk meninggalnya dr pribadi Freya.

__ADS_1


“Baiklah, apa anda bisa mengatur pertemuan kami di mansion Arron dok?” tanya Freya ragu-ragu sebab dr Anisa itu pengantin baru kan? Takutnya mereka melakukan itu dan ia mengganggu waktu atau bahkan mengundur waktu.


‘Apa sebaiknya aku saja ya yang ke dr juju bersama abang atau Revan? Kan dr Anisa ditemukan di kamar hotel bersama pandu sedang dalam posisi begitu, pastinya mereka sudah tak sabar kan?’ Freya pun membatin untuk memperhitungkan segalanya, ia tak mau mengganggu waktu antara pengantin baru.


tapi Freya itu harus pintar menjaga waktu, itu kata-kata mutiara dari dosennya.


“Oh baik-baik nyonya! Saya akan—” ucapan dr Anisa terpotong karena ucapan orang lain.


“Kenapa harus begitu hm? Biar aku yang mengantarmu ke dr juju, cukup beritahu aku dimana lokasi dr juju saat ini” ucapan dengan suara bariton nan nada datar itu keluar dari sang calon Daddy, Revan.


Freya pun menoleh pada Revan, “Katanya punya urusan sama mama papa sampai-sampai aku dilarang mendengar! Lalu kenapa sekarang disini? Hush sana pergi.”


Freya yang masih agak dendam pun menatap sinis pada Revan sedangkan Revan sendiri hanya menatap kagum pada Freya, walau sudah tahu bahwa dia itu bos mafia tapi dia masih berani bertingkah demikian padanya?.


Sejak kapan wanitanya jadi lebih berani begini? Mungkin ia terlalu banyak ketinggalan tentang kehidupan Freya saat ini.


“Dimana lokasi dr juju saat ini?” tanya Revan pada dr Anisa tanpa memperdulikan raut wajah Freya yang amat menggemaskan di matanya.


Bagaimana tidak? Freya memonyongkan bibirnya seolah-olah berucap padahal ia tak mendengar suara apapun selain itu mata Freya bergerak kesana-kemari seperti sedang mengejek Revan.


“Lokasi dr juju saat ini berada di jalan F gang nomor U itu adalah apartemennya dr juju tuan” dr Anisa pun memberikan informasi.


Tanpa banyak bicara Revan langsung menarik Freya menuju mobilnya, ia tak memanggil pandu sebab ia hanya ingin menghabiskan waktu bertiga.


Dan pentingnya lagi, ini hari pertama dimana ia bisa menemani Freya berkonsultasi setelah berbulan-bulan lamanya.


Terbesit rasa bersalah di dalam hatinya namun ia mengabaikannya sebab saat ini ia sangat bahagia.


Walau wajahnya tetap datar sih ya, kita doakan saja agar Revan tidak mengalami kelumpuhan ekspresi!.


“Huh, memangnya kau sudah dapat izin dari keluarga ku?” tanya Freya saat ia dan Revan sudah sampai di mobil, tanpa pandu.


“Sudah, lagipula aku memang berniat mengantarmu kesana” jawab Revan dingin, Freya menggerutu di dalam hatinya saat sifat dan sikap beku Revan tak berubah juga.


Tanpa sepatah katapun Revan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, biasanya jika ia yang menyetir maka pandu akan jantungan sebab kecepatannya tak perlu diragukan lagi.


Terkadang Revan akan terkena pelanggaran dari bapak polisi, tak terhitung sudah berapa mobil yang di tilang oleh mereka, namun Revan tidak perduli tilang ya beli yang baru!.


Tetapi sepertinya.. ini berubah sejak Freya ada sebab sekarang Revan mulai mematuhi aturan lalu lintas karena apa? Karena saat ia masih tinggal bersama dengan Freya wanitanya itu pernah bertanya.


“Kemana mobil yang kita naiki Minggu lalu? Aku menyukainya loh padahal!.”


Nah! Makanya tuh langsung ditebus lalu ia mulai mematuhi aturan yang ada.

__ADS_1


Terkadang cinta membawa aura positif seperti Revan ini namun tak jarang pula cinta membawa aura negatif contohnya.. sesuatu kegiatan yang melawan moral masyarakat, saat yang melakukan ditanya katanya dia cinta.


Yah itu semua tergantung bagaimana orang yang mengalaminya menanggapi cinta itu sendiri.


“Apa sekarang kita sudah sampai?” tanya Freya saat Revan sudah menghentikan laju mobilnya secara perlahan tidak mendadak.


“Sudah, ayo turun” jawab Revan singkat lalu membuka pintu untuk Freya, Freya pun keluar dengan anggunnya dan mereka berdua berdiri di depan pagar.


Tak takut mobil hilang? Ya untuk apa? Lagipula banyak satpam yang berjaga-jaga disini.


TING TONG TING TONG


Bunyi bel saat bel itu di tekan oleh Freya, ketika tak ada balasan Freya pun memencet bel itu lagi, maksimal tiga kali yang harus dilakukan jika bertamu (Pelajaran tata Krama yang diberitahukan oleh dosen di kampus Freya.)


“Iya, siapa ya?” pertanyaan itu di iringi oleh terbukanya pagar dan terdapat dokter Juju disana, dr juju memandang sepasang suami isteri yang berada di depan apartemen miliknya.


“Eh tuan nyonya muda? Ah mari masuk” ujar dokter Juju mempersilahkan Freya dan Revan untuk memasuki area apartemennya.


Freya sendiri sedikit kagum ketika melihat apartemen tempat dimana dokter Juju tinggal, apa dr Anisa tidak salah menyebut ini apartemen? Pertanyaan itu terukir di kepala Freya.


Sebab terdapat taman disertai air mancur di depannya, ini lebih pantas disebut mansion daripada apartemen kan?.


Setelah mereka berada di dalam dr juju mempersilahkan Freya dan Revan untuk duduk.


“Kenapa tuan dan nyonya kemari? Apa ada sesuatu yang khusus?” tanya dokter Juju setelah menyiapkan camilan dan minuman.


“To the point saja, saya mau anda memeriksa isteri dan calon anak saya” setelah Revan selesai berucap ia mendapat cubitan kecil di pinggangnya.


Namun raut wajahnya tidak terlihat sakit sama sekali, yah cubitan Freya tidak ada apa-apanya dengan semua luka yang ia dapat selama ini.


“Shht! Tidak sopan” bisik Freya yang masih bisa di dengar oleh dokter Juju, dr juju pun terkekeh pelan namun ia tak berani tertawa keras sebab ia masih mau hidup dengan aman.


“Ah, tidak apa-apa nyonya, nyonya muda mari ke kamar saya biar saya memeriksa anda” balas dr juju seraya tersenyum manis bak bunga matahari.


_______________________________


Aaaaa, maaf author ngga up kemarin 🙏🥺.


Nah disini author bakal publish sedikit tentang kehidupannya pandu sama dr Anisa setelah menikah lohh, mari kita lihat apa mereka langsung akur atau perlu bapak pe**nor sama Mak pela*or dulu?.


And seperti biasanya jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.


Thank u~

__ADS_1


-Nadira


__ADS_2