
Dr Anisa menoyor kepala suaminya itu, “Nyebelin!.”
Pandu hanya terkekeh, tak mengaduh tak juga merasa sakit, ya tak heran sih kan yang dihadapi pandu setiap hari itu pedang, pistol bakan samurai.
Jadi pukulan kecil dari isterinya tak akan berdampak apa-apa padanya.
“Nyonya muda pasti sangat marah saat mas tidak menjawab telefonnya” dr Anisa sempat melihat ponsel pandu.
Dan betapa terperangahnya ia, di ponsel pandu sama sekali tak ada kontak perempuan, hanya tuannya saja oh ya dan dr Anisa.
Udah itu aja! Nyonya mudanya disimpan sih namun namanya itu loh agak aneh-aneh seolah-olah pandu mesave nomor Freya hanya untuk gurauan semata.
Ah sudahlah, kalo ngga gesrek bukan pandu namanya!.
“Tidak peduli, bukankah nyonya yang salah? Dia datang di waktu yang tidak tepat!” gerutu pandu menghela nafasnya pelan.
Yah, sudah dapat dipastikan olehnya bahwa saat ia masuk kerja pasti tuannya akan memasang wajah dingin yang lebih datar nantinya.
Dahlah pandu agak ngga peduli yang penting dirinya senang!.
“Oh bukankah kita besok masih libur?” tanya pandu menaikkan sebelah alisnya.
“Iya, memangnya kenapa mas?” tanya balik dr Anisa memandang pandu waspada.
Awas saja, berani ngulang padahal masih sakit, dr Anisa suntik m*ti tu orang.
“Kenapa pandanganmu aneh begitu? Hayoo mikir apa?” pandu sengaja mendekatkan wajahnya dan tersenyum tipis melihat dr Anisa.
Sesak, dr Anisa langsung mendorong wajah pandu membuat pandu terjungkal dan akhirnya mereka kembali ke dalam posisi saat mereka ditemukan di hotel xxx.
Hanya saja posisinya kebalik, dr Anisa yang di atas pandu yang dibawah.
“Wow? Mau melakukannya lagi?” pandu menggoda dr Anisa membuat dr Anisa menggeleng dan turun dari tubuh pandu yang masih polos, sama seperti dirinya.
Sebenarnya dr Anisa sendiri bingung bukankah harusnya pandu sudah bisa menahan serangan beban mendadak begitu?.
Kan pandu itu asisten yang dipercayai Revan, pastinya kekuatannya ngga main-main dong? Lah ini kok baru ditimpa dr Anisa yang sebatang lidi saja tumbang?.
Dr Anisa mendelik ke arah pandu, “Mas mempermainkan aku ya?!.”
Dr Anisa berteriak dengan sedikit keras, telunjuknya ia arahkan kepada pandu. Yeah dr Anisa rasa pandu menyebalkan.
Ia mungkin harus membuat perkumpulan untuk menggibahi pandu, rasanya tak lengkap jika nggibah tak ada temannya.
“Apa maksudmu?” tanya pandu dengan menyebalkan.
“Huh?! Aku aduin ke mama biar kapok kamu mas!” balas dr Anisa dengan tatapan tajamnya.
“Lalu apa yang akan kau jelaskan pada mereka? Kita sudah olahraga lalu aku menggodamu dengan berpura-pura jatuh dan tubuhmu ada di atasku tanpa sehelai benang? Begitu?” tanya pandu dengan seringai tipisnya.
“Mass— huft mas sangat menyebalkan” jawab dr Anisa yang hanya bisa mengerucutkan bibirnya, perdebatan sepele ini membuat dr Anisa kesal bukan main. Sejujurnya dr Anisa tak pernah kalah dari perdebatan seperti ini dan itu membuatnya sedikit nyelekit.
Biasanya papa dan mamanya juga mengalah, ‘Kamu deh yang menang soalnya papa dan mama sangat menyayangimu’.
Lah ini apa pandu tidak....?
“Oh my baby! Kau itu lucu sekali, hahaha oke-oke aku mengalah, kamu yang menang” pandu mencubit pipi dr Anisa, dr Anisa yang sudah mendengar ucapan pandu pun tersenyum riang.
Akhirnya pasangan baru itu tertawa bersama-sama.
__ADS_1
***
“Freya bilang kalau dia akan kuliah secara daring, jadi aku menduganya.. apakah mereka sudah muncul?” Revan bertanya pada fern yang kini tengah meminum wine di ruangannya.
Yah ruangan pria ini rapi namun mengerikan! Disini juga banyak wine, r*kok, soju yah dan banyak yang lain.
Revan berani menebak bahwa wanitanya itu tak tahu kalau di ruangan fern ada yang seperti ini. Pasti pria itu menyembunyikan peralatan alkohol dari Freya.
“Aku tidak sengaja melihat mereka di kampus Freya saat aku ingin menjemputnya, kau tahu kan ada dua opsi untuk ini?” fern melirik singkat pada Revan.
Fern lebih banyak melihat foto yang sudah ia pajang rapi di mejanya, disana terpampang jelas wajah wanita muda yang sangat riang dan fern tidak ingin ‘mereka’ merusak kesenangan Freya.
“Mereka tak sengaja lewat, namun bagi orang seperti mereka kemungkinan tidak begitu dan kita bisa menyingkirkannya. Kemungkinan kedua... Mereka mengikuti freya” jawab Revan semakin datar.
Mereka ingin merusak kesenangan Freya saat wanita itu akan melahirkan sebentar lagi!.
G*la kah?.
“Kamu benar, aku yakin sekarang batinmu meruntuki bahwa mereka g*la sama sepertiku yang memikirkan itu juga. Dan yeah kau benar mereka memang g*la” balas fern memejamkan matanya pusing.
Revan hanya melihat semuanya, ia tahu bahwa fern sangat kesal akan hal ini sebab tangan Abangnya Freya mencengkram gelas yang ia pegang, kalau gelas itu terbuat dari kaca pasti sudah pecah namun fern pintar ia menggunakan gelas plastik.
Revan berani menduga bahwa fern tak ingin adiknya kaget kalau ia terlanjur mencengkeram gelas dan pecah, makanya ia menggunakan gelas plastik.
“Aku akan mengawasi Freya sendiri, aku tahu bahwa wanitaku itu sangat suka kabur dari pengawalan” Revan tahu mereka harus membagi tugas.
“Dan aku akan mencari lokasi mereka, mereka pasti menduga bahwa kau yang akan mencari tapi ini aku, jadi.. mereka harusnya tak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.”
Fern berucap sambil menggoyangkan gelasnya, jika dilihat pria ini seperti sugar Daddy.
Freya kan berusia 24 tahun sedangkan fern berusia 27 tahun.
Hmm 🤔.
“Aku punya petunjuk tentang itu, sepertinya mereka masih ada di sekitar mansion?” Revan jelas mengingat asumsi mommy yang benar-benar masuk akal.
“Kau benar, mereka ada di sekitar mansion itu. Terakhir kali bawahanku mengikuti mereka namun mereka hilang di jalan itu. Jalan dimana mansion Graham berada” fern jelas tak ingin beramah-ramah kalau menyangkut tentang keluarga Graham.
GLEK
Fern meneguk gelas berisi wine tersebut kemudian ia membuangnya, Revan sendiri tak perlu bertanya sebab ia tahu Freya baru saja mengintip mereka.
Percakapan mereka tak akan terdengar oleh Freya namun perilaku mereka masih dapat terlihat oleh bumil itu.
Terkadang fern dan Revan bingung, kenapa bumil itu suka menguntit plus mengintip?.
“Baik, sebuah tempat berisi penderitaan jalan yang memilukan, langit dan bumi akan bertemu disana” fern berucap Revan pun mengangguk lalu pergi dari ruangan fern.
Ia jelas tidak perlu bertanya, dimana tempat itu berada.
Orang tersayang Revan dan fern itu sama, penderitaan Freya penderitaan mereka juga. Revan tersenyum samar saat ia melihat bahwa isterinya itu kelabakan dan langsung pergi dari depan sana.
“Frey” panggilan diajukan Revan saat ia melihat bumilnya itu ingin masuk ke kamar.
“Eh Revan, udah selesai urusanmu ama abang?” Revan sedikit terkekeh ketika wanitanya itu berpura-pura bertanya.
“Sudah” Revan yang tak berniat mencari keributan pun akhirnya menjawab dengan kata yang relatif singkat.
“Apa saja yang kamu bicarakan sama Abang?” kali ini Revan tahu bahwa wanitanya itu bertanya dengan serius.
__ADS_1
“Itu rahasia lelaki sayang” jawab Revan dengan dingin, ia melangkahkan kakinya menuju Freya.
“Ayo Frey, masuk kamar. Kamu perlu menyesuaikan diri dengan layar hanpon sebab sebentar lagi kamu daring kan?” tanya Revan datar, pria itu langsung merangkul bahu si isteri.
Mereka pun masuk bersama-sama, namun lagi-lagi Freya tak pernah sadar bahwa mata tajam Revan mengarah ke arah jendela.
Tentu saja itu dengan diam-diam ia jelas tak ingin bahwa musuh mereka ini mengetahui rencananya dan fern.
‘Kau mau bermain-main hm? Oke! Aku akan membalasmu dengan lebih cantik lagi. Let's play the game b*jingan’ batin Revan mengalihkan pandangannya dari jendela ke arah si isteri.
***
“Ma, liat tuh! Freya hidup nyaman di mansion sedangkan kita?” cibir Rina sambil melihat ke arah Freya dan Revan.
“Mana dia ngerebut suami aku lagi, dasar pel*kor!” sambung Rina, mama dan papanya mengangguk setuju.
Dasar! Anak salah bukannya di didik malah di dukung!.
“Benar, fern juga begitu dia sudah mewarisi perusahaan Arron! Tapi dia tidak memperdulikan kita, memang anak tak tau di untung!” balas bunda wilsa.
“Tapi kita harus tetap pada rencana, aku yakin fern belum memaafkan Revan secara ia kan sangat sayang sama Freya, jelas Revan tak akan dimaafkan dengan mudah. Dan ini memudahkan kita untuk mencul1k freya.”
“Tapi pa, Freya sudah mulai bersekolah! Memangnya dia bisa di tipu semudah itu?” Rina membalas ucapan sang papa.
“Heh dia sekolah bukan berarti dia pintar! Aku yakin dia masih tetap b*doh!” sahut bundanya.
“Itu benar sayang, kita harus benar-benar menyandra Freya apalagi dia sedang mengandung anak mantan suamimu, takutnya Revan tak akan mau melepaskannya” balas papanya.
“Papa tidak usah khawatir mau dengan janin atau tanpa janin aku yakin dia hanya terpaksa menikahi Freya agar punya keturunan! Dan aku juga yakin bahwa dia masih mencintaiku” ujar Rina dengan pedenya.
Padahal.. yah oke benar kalau Revan pertamanya terpaksa menikahi Freya namun sekarang tidak kan? Justru Revan malah tidak mencintai Rina bahkan Revan kini membencinya.
Iya bukan? Wahh sekali-kali Rina harus digepuk (di pukul) Ama batu bata biar sadar! Mimpinya ketinggian.
Biarin dah, nanti jatuh juga sakit sendiri.
“Mama dan papa juga berharap begitu sayang.”
“Memang harus begitu, kan aku anak mama papa!” balas Rina tersenyum miring melihat wajah bahagia Freya.
‘Lihat saja! Aku akan menghancurkan senyum yang kau banggakan itu! Aku akan merebut mantan suami dan abangku lagi’ batin Rina.
Huh? Memangnya sejak kapan kau menganggap fern sebagai abangmu? Lagian.. Revan dan fern tidak akan menggubrismu.
Pfftt takdir ah maksudnya karmamu sedang menunggu.
_________________________________
Begini kakak readers semua, seharusnya kalau kita sudah diberi keturunan lebih dari satu maka harusnya kalian tidak pilih kasih.
Nanti bisa-bisa anak yang dimanja jadi kepedean kek Rina, lalu anak yang di abaikan jadi broken home.
Eps selanjutnya : 4 April pukul 09.00 wib.
Oke, seperti biasanya jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.
Thank u~
-Nadira
__ADS_1