My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.115. Berkhayal padahal nyata


__ADS_3

Freya melirik penasaran pada mommy dan kinen, “Kenapa kalian bisa sampai ada disini?.”


“Memangnya kenapa? Kakak tidak suka ya kalau kami ada disini?” tanya kinen agak murung.


Mama grea pun tertawa ringan, sementara Freya kelabakan sendiri menghadapi kemurungan mendadak dari kinen.


“Aduh bukan berarti begitu kin! Kakak hanya penasaran bagaimana bisa kalian bisa kemari” jawab Freya mengelus lembut kepala kinen.


“Mereka sudah mencari mu selama enam bulan lebih sayang” ujar mama grea tiba-tiba.


“Apa?! Benarkah itu? Kalian mencariku hingga enam bulan tidak berhenti? Aku kira kalian akan ada putus asanya?” Freya pun berteriak kaget.


Saat Freya berteriak senyuman tipis terbit di bibir lelaki yang sedari tadi mengawasi interaksi para wanita itu.


“Finally hm? Aku menemukanmu” bisik lelaki itu lirih.


“Jangan berharap kau bisa mendekatinya!” ujar pria lainnya yang berada di belakang lelaki tersebut.


Tanpa menoleh pun lelaki itu, Revan tahu siapa yang berbicara dengan nada sedingin ini padanya.


“Kau sudah membuatnya menangis hari itu” meskipun sudah berbulan-bulan kejadian itu berlalu tetapi fern tak bisa melupakannya.


“Aku tahu, aku tidak akan mendapatkan izin darimu dengan mudah” balas Revan sama dinginnya.


Meskipun Revan berbicara pada pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah fern, mata Revan tetap terarah ke Freya yang terlihat agak dewasa dari enam bulan yang lalu.


Mata Revan juga mengamati perut Freya yang mulai besar begitu pula dengan tas yang di tenteng Freya, terlihat sekali jika wanitanya itu baru selesai melakukan pendidikan.


Revan senang setidaknya keinginan Freya untuk meraih pendidikan dikabulkan oleh fern.


“Jika tahu begitu kenapa kau tetap nekat untuk mencarinya?” tanya fern dingin seraya melihat ke arah yang sama dengan Revan.


Freya, pusat dunia fern, satu-satunya keluarga yang fern sayangi, oleh karena itu fern tak akan membiarkan lelaki sembarangan seperti Revan membawa adiknya.


Walau fern tahu jika Revan hanya terbawa perasaan saat menyakiti adiknya, tapi yang namanya menyakiti tetap menyakiti kan?.


Meskipun Revan meminta maaf seribu kali pun yang namanya menyakiti itu pasti akan membekas di ingatan Freya.


Jika di ingatan Freya Saja membekas apalagi di ingatan fern yang lebih mementingkan adiknya daripada nyawanya sendiri huh?.


“Karena aku menyayanginya” jawaban yang sangat simpel keluar dari Revan.


Fern pun memandang sengit ke arah punggung Revan sebab Revan Sama sekali tidak membalikkan badan ke arahnya.


“Jika kau menyayanginya maka harusnya kau bisa membedakan antara dirinya dan Rina!” ujar fern sengit namun ia tak berteriak sebab fern tidak ingin merusak moment bahagia adiknya.


Terlihat sekali bahwa Freya sangat bahagia bertemu kinen dan mommy.

__ADS_1


Sekali lagi fern sangat-sangat dan sangat menyayangi adiknya, titik tidak bisa dikurang maupun di diskon sama sekali.


“Aku tahu” jawaban Revan membuat fern menggertakkan giginya kesal.


Dia bilang dia tahu tetapi mengapa ia malah melakukan itu pada adik kesayangannya? Apa sih sebenarnya masalah orang itu?.


Di belakang fern dan Revan terdapat papa Hunter, ada alasan mengapa papa Hunter membiarkan Revan berusaha.


Sebab papa Hunter melihat kesungguhan dari mata Revan selaku pria yang pernah jatuh cinta papa hunter tentu mengenal tatapan mata Revan.


Tatapan mata yang sama saat ia mengenang isterinya di masa muda sampai sekarang.


Tetapi sayangnya fern tak bisa mengenali tatapan mata yang seperti itu sebab anak tertuanya tak pernah merasakan apa yang namanya cinta.


Dramatis sekali, fern yang berusia lebih tua dari Freya belum menikah sedangkan Freya sendiri sudah mengandung selama enam bulan! Tinggal tiga bulan lagi Freya akan menjadi mommy.


Papa Hunter menggelengkan kepalanya pelan ketika ia mengetahui jika fern benar-benar jomblo akut sama seperti perkataan Freya dulu.


“Hahaha bisa saja kamu kin” mendengar suara tawa itu papa Hunter kembali melihat ke arah Freya dan wanita lainnya.


“Ya emang begitu kak! Masa ya ujian ipanya kinen ketukar sama pelajaran SMP kelas tujuh pula, kinen kan lupa kak jadi ya.. gitu deh” balas kinen yang mana membuat tawa kembali menyembur lagi dari Freya.


“Tentang apa? Yang semester satu kelas tujuh kah?” tanya Freya penasaran.


“Tidak kak, itu yang semester dua kelas tujuh” jawab kinen menyengir kuda.


“Loh kok kakak tahu?” tanya kinen sedangkan Freya dan mama grea hanya terkekeh.


“Rahasia deh, kamu ngga bisa yang mana?” tanya Freya lagi.


“Yang tentang sel-sel lupa tuh aku, yang tentang lisosom!” jawab kinen mengetuk dagunya berfikir.


“Oh yang itu, lisosom itu untuk mencerna sel-sel yang rusak dan zat asing yang masuk kedalam sel, Juga untuk menyimpan dan menghasilkan enzim pencernaan seluler” balas Freya lancar.


Nah makin melongo saja kinen dan mommy.


“Loh kok?” kinen menunjuk kakak iparnya dengan sangat kaget.


“Hahaha, ingat secret okay?” balas Freya dengan senyuman jahilnya.


“Astaga sayang jahil sekali kamu tuh!” sahut mama grea memukul pelan lengan milik Freya.


Freya pun menoleh ke mamanya dengan terkekeh pelan, “Tak masalah kan ma? Mereka itu lucu kalau di jahili!.”


Mama grea pun hanya menggelengkan kepalanya, mungkin benar puterinya saat ini memiliki kepribadian ganda.


Freya melirik delard dan Andra yang sedari tadi diam di belakang mamanya.

__ADS_1


“Oh ya mom, kin perkenalkan ini delard asistennya Abang dan ini Andra pengawal pribadiku” ujar Freya memperkenalkan Andra dan delard.


“Kami sudah tahu kok kak” balas kinen tersenyum namun lirikan matanya ke Andra dan delard sangat tajam.


“Darimana kamu tahu kin?” tanya Freya yang benar-benar penasaran.


“Secret juga dong~” jawab kinen yang balas menjahili kakak iparnya.


Freya hanya tersenyum terpaksa sedangkan mommy tari dan mama grea hanya tertawa kecil melihat tingkah laku kinen dan Freya.


“Makanya kak jangan main rahasia-rahasiaan” ledek kinen sambil menjulurkan lidahnya.


Freya hanya mendelik tajam mendengar ucapan kinen.


“Hahahaha” akhirnya tawa mereka pun pecah secara bersamaan, kini mansion arron benar-benar ramai.


Beberapa saat kemudian..


Sudah lama Freya mengobrol dan tertawa bersama keluarga purnama dan mama grea ia baru merasakan bahwa ada orang yang mengawasinya.


Freya pun menoleh kesana-kemari, dan tepat saat ia menoleh ke arah tenggara..


DEG


Nafas Freya tercekat plus detakan jantungnya seketika berpacu dengan cepat.


Revan, mereka bertatapan beberapa lama hingga..


“Kenapa sayang?” pertanyaan yang diajukan mama grea membuat Freya mengalihkan pandangannya.


“Eh iya ma? Mama bilang apa tadi?” tanya balik Freya sebab ia tak begitu mendengar pertanyaan mamanya itu.


“Mama tanya, kamu itu kenapa? Kok melamun hm?” mama grea mengulang pertanyaannya lagi.


Mommy dan kinen ikut-ikutan memandang Freya dengan penasaran.


“Memangnya Frey melamun ya?” Freya pun bertanya lagi seolah-olah ia tak sadar.


“Ya iyalah kak! Kalau kakak ngga melamun kami ngga akan tanya” kinen pun sewot pada Freya.


“Hahaha, iya maaf kakak tadi cuma mikirin tentang mata kuliah” Freya pun beralasan namun matanya melirik dimana tempat Revan berdiri tadi.


Dan.. amazing! Tidak ada siapapun disana.


‘Apa aku yang berkhayal?’ batin Freya bingung, dibilang berkhayal tadi seperti nyata dibilang nyata tapi nyatanya dia sudah tidak ada disana.


_______________________________

__ADS_1


__ADS_2