My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.117. Pertemuan kembali


__ADS_3

Kinen dan mommy mondar-mandir di halaman depan mansion baru mereka, mereka tahu segala yang terjadi sebab mereka meletakkan mata-mata untuk mengawasi Freya agar tak hilang jejak lagi.


Namun percuma juga, bumil itu bisa menipu dan memperdaya mata-mata yang ia tepatkan.


Revan sekarang sudah bersama pandu menyusul Freya ditempat dimana sang mata-mata kehilangan jejak Freya.


“Ma, kak Freya kenapa ya kok sukanya ngilang?” tanya kinen heran, enam bulan lalu kak freyanya juga menghilang kan? Sekarang hilang lagi?.


“Ngga tahu sayang, mungkin itu bawaan bayinya dulu saat mom mu mengandungmu dia suka makan makanan pedas dan untuk itu dia selalu menghilang, bahkan dia bisa menghilang dua puluh kali dalam sebulan” jawab mommy mengingat moment itu.


Kinen pun melongo tak karuan, pantas saja momnya begitu sebab ia dari dulu sampai sekarang sangat suka makanan pedas.


“Tapi terkadang sifat kak Freya dingin kayak es” balas kinen terheran-heran.


“Lah kan cucu mommy kembar sayang” sahut mommy mengelus lembut rambut pirang kinen.


“Iya juga ya mom” ujar kinen terkekeh pelan sebab ia menanyakan hal yang teramat b*doh.


Sedangkan itu...


“Eh Sammy! Mau kemana?” suara itu berasal dari seorang bumil yang tengah berlari mengikuti singa si raja rimba.


ROAR


Auman itu menjawab teriakan si bumil, Freya.


Benar.. Freya mengejar Sammy yang tak sengaja kabur karena ulahnya sampai ke hutan belantara.


Sebenarnya hutan ini berada di 100 meter dari mansion arron namun Freya juga tak terlihat lelah.


Akan tetapi beberapa menit berlalu dan Freya benar-benar kehilangan jejak dari singa itu, Sammy.


Freya mengejar singa itu sebab kan Sammy hewan kesayangan fern, ia tak mau fern sedih.


Padahal fern lebih sayang pada Freya daripada Sammy, kalau Freya diam dan meminta maaf pun pasti akan fern maafkan dengan senang hati.


Duh! Dasar bumil.


“Yah hilang” ujar Freya murung, ia pun menghela nafasnya kasar lalu berbalik seketika Freya mengerutkan keningnya bingung.


“Ke arah mana ya?” tanya Freya bingung, ia tak mengingat darimana ia datang tadi.


“Freya!.”


Mendengar teriakan ini Freya mengernyit, ada seseorang yang mengetahui keberadaannya?.


Syukurlah!.


“Tolong! Aku disini” Freya balas berteriak juga.


DUG


Freya sedikit menunduk seraya mengelus pelan Perutnya, anaknya pasti lelah.


SRAK


Mendengar suara ini Freya menoleh, matanya melebar saat ia melihat dangerous animal.

__ADS_1


Alias hewan yang berbahaya.


“Woah serigala!” bukannya lari Freya malah merasa antusias, ia bahkan mendekati serigala itu.


Sementara Revan dan pandu baru sampai di tempat Freya berada, mereka pun memandang waspada pada serigala itu.


Sikap yang berbanding terbalik dengan Freya.


“Freya! Menjauh dari sana!” Revan berteriak histeris namun tak dihiraukan oleh Freya bahkan kesannya bumil itu tidak mendengarnya.


“Nyonya muda!” pandu pun ikut berteriak namun Freya sama saja tidak mendengar teriakannya.


“Wah lucu sekali!” Freya malah semakin antusias pada serigala itu.


Secepat kilat Revan berlari lalu menarik tubuh wanitanya dan memeluknya.


“Dasar! Kau fikir dia kelinci? Dia serigala frey” Revan mengomel dengan wajah datar.


Freya sejenak terpaku, sebab ia sama sekali tidak mendengar suara langkah kaki (padahal Revan sampai berteriak).


‘Revan ada disini? Jangan bilang yang berteriak memanggil ku lalu aku balas berteriak itu Revan? Kupikir itu abang’ batin Freya bersuara.


AUUUU


Serigala itu mengaum, seketika Freya menatap serigala yang masih terlihat imut di matanya.


“Ish lepasin, aku mau kesana serigalanya imut!” seru Freya membuat pandu dan Revan mendelik tajam ke arahnya.


Imut? Imut darimana?.


Revan menggendong Freya lalu melompat menjauh dari serigala itu tanpa memperdulikan Omelan Freya yang sangat ingin mendekat pada serigala itu.


“Hey pan jangan diam saja!” teriakan sang tuan membuyarkan lamunan pandu.


Segera pandu membantu tuannya untuk menghindar dan menghalang serigala itu.


Beberapa saat kemudian...


Mereka semua sudah berada di mobil, nafas Revan dan pandu terlihat sangat tidak teratur terutama Revan sendiri.


Bagaimana tidak? Ia harus membawa Freya yang kini tengah berbadan dua ah bukan berbadan tiga sambil berlari, melompat dan menghindar dari serangan serigala itu.


Freya sendiri hanya terdiam, sejenak ia berfikir kenapa Revan menyelamatkan dirinya? Bukankah Revan dulu terlihat membencinya?.


“Maaf” mendengar suara ini Freya menoleh ke Revan yang ternyata juga menatapnya.


Pandu bahkan berusaha menulikan pendengarannya, ia juga berusaha agar tidak melihat melalui kaca. Sekedar menjaga hati sendiri.


“Maaf untuk apa?” meskipun Freya bertanya begitu tetapi luka di hatinya masih membekas.


Ingatannya menerawang ke kejadian di enam bulan lalu.


“Enam bulan lalu.. kejadian itu..” Revan terlihat menarik nafas dalam-dalam sebelum menceritakan segalanya dari sisi pandangnya.


***


“Huaa sayang!” teriak mama grea saat Freya sudah sampai di mansion Arron.

__ADS_1


Papa Hunter hanya melirik lega pada Freya lalu menatap pada pria yang membawa Freya kemari.


Tetapi beberapa detik setelahnya baik mama grea maupun papa Hunter melirik heran pada Freya, mengapa bumil itu tidak menjawab sapaan bahkan pelukan mamanya?.


“Freya?” panggil mama grea melepaskan pelukannya dan menatap ke mata sang Puteri.


“Frey mau masuk ma, Abang mana?” tanya Freya mengalihkan pembicaraan.


“Entahlah, tadi abangmu berkata ingin ke mansion belakang bersama Andra dan delard, dia juga melarang mama dan papa untuk ikut bersamanya” jelas mama grea.


Freya mengangguk singkat lalu langsung masuk ke dalam mansion.


Tanpa disadari nyonya dan tuan Arron sama-sama menoleh ke arah Revan yang diam sedari tadi.


“Apa kamu melakukan sesuatu?” tanya mama grea serius menatap ke arah Revan yang sama datarnya dengan putera tertua Arron.


“Tidak, aku hanya— ah tidak apa-apa” Revan yang awalnya ingin menceritakannya pun tak jadi sebab ia tak menemukan kata-kata yang pas.


Mama grea dan papa Hunter pun saling bertatapan.


“Aku pamit ma, pa” ujar Revan lalu diangguki oleh mama dan papa Arron.


“Hati-hati” ujar mama grea, Revan pun mengangguk lalu masuk ke mobil dan pergi bersama pandu.


“Ma, sepertinya ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua” ujar papa Hunter menduga-duga.


“Biarkan pa, mereka harus menyelesaikan masalahnya. Memang benar Revan menyakiti Freya namun yah.. papa tahu sendiri kan? Nyatanya Revan lebih terluka dari Freya” balas mama grea, papa Hunter pun hanya menganggukkan kepalanya setuju.


“Mama benar.”


Di sisi lain..


Freya yang sudah berada di kamarnya pun mendudukkan dirinya di samping ranjang dan merenung sendiri.


“Aku minta maaf, aku melakukan itu karena aku memandangmu sebagai orang yang disayangi dan seperti Rina, seharusnya aku bisa membedakan antara dirimu dan Rina.”


“Aku melakukan itu karena rina. Mantan isteriku sudah lalai menjaga adinda yang membuat puteriku m*ti, saat itu tiba-tiba mom juga sakit sehingga aku yang masih terpuruk harus memimpin perusahaan sehingga aku memupuk dendam.”


Freya menutup telinganya rapat-rapat ketika suara itu berdengung di telinganya.


Suatu kejadian yang tidak dituliskan di buku purnama, namun Freya sudah menduganya bahwa Revan pasti sangat sedih saat dia kehilangan sekaligus harus memimpin langsung perusahaan.


“Apa aku memang harus memaafkannya? Atau aku membiarkannya saja?” bukannya Freya tak mengerti namun sama seperti yang dikatakan fern.


Luka itu masih membekas jelas di hati Freya.


_______________________________


Huaa akhirnya setelah berbulan-bulan Revan dan Freya bertemu lagi.


Jika dulu Revan yang bimbang kini Freya yang tengah bimbang!.


Hahaha, giliran tuh jodoh kali yaa.


Wkwkwk, seperti biasanya jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.


Thank u readers~

__ADS_1


-Nadira


__ADS_2