
Freya memberikan ponsel yang baru saja ia gunakan ke Andra, Andra menerimanya dengan memelas, pasti delard akan memarahinya nanti.
Flashback on
Saat Andra sudah selesai menyajikan seblak yang susah payah ia buat..
“Siniin ponselmu!” perintah Freya dengan menengadahkan tangannya.
Andra pun mengernyit heran, “Untuk apa nona?” Andra yakin jika Freya sudah memiliki ponsel sendiri.
“Udah siniin!” perintah Freya lagi dengan mata tajamnya yang menghunus tepat ke mata Andra.
Dengan terpaksa Andra menyerahkan ponselnya.
DRRT DRRT DRRT
Meski hanya melihat sekilas Andra yakin bahwa yang di telefon nonanya itu delard, nah ini yang membuatnya khawatir, bagaimana jika delard tak sengaja membocorkan informasi tentang pembalasan yang dilakukan fern?.
Kan yang digunakan Freya untuk menelefon itu ponsel Andra yang tak lain ialah seorang yang tahu kondisi disana.
“Ada apa?.”
“Delard! Berikan ponselnya ke abang.”
“Memangnya kenapa nona?”.
“Ish, aku rindu dengan Abang, aku ingin Abang cepat kemari.”
“Ah, tuan sedang.. sedang.. sedang meeting!.”
“Baiklah.. tapi katakan pada Abang biar dia cepat menyusul!.”
Andra akhirnya dapat mendengar sedikit perkataan delard, meeting?.
‘Hah, tuan delard ternyata pandai berbohong, tapi memang benar tuan fern meeting tapi meeting dengan nyawa!’ batin Andra.
Flashback off.
“Seblaknya kepedasan!” celotehan Freya membuat lamunan Andra buyar.
“Ada apa nona?” tanya Andra yang tak begitu mendengar celotehan Freya.
“Kau tidak mendengarkan ya? Seblaknya kepedasan! Tapi..” jawaban Freya gantung Freya membuat Andra cetar-cetir sendiri.
Jika Freya tak puas maka ia yang akan kena getahnya.
“Seblaknya enak” jawaban lanjutan dari Freya membuat Andra gemas ingin mencekik si bumil.
Namun tak jadi, ia benar-benar takut untuk m*ti, kalau m*ti di Medan pertempuran mah tak masalah setidaknya ia tak disiksa tapi kalau m*ti ditangan fern karena Freya.. pasti ia akan di siksa habis-habisan.
“Syukurlah kalau nona suka” akhirnya hanya itu balasan yang keluar dari mulut Andra.
Andra benci tidak keberdayaannya untuk memarahi dan mencekik sang nona.
Andai saja ia punya kekuasaan untuk mencekik sang nona namun lagi-lagi ia tak berdaya!.
Freya vs Andra dengan kata lain tak terhingga vs tak berdaya.
Mafioso kuat Sepertinya harus selalu kalah pada ocehan sang nona kesayangan tuan mudanya itu.
Beh, sudahlah makin dibahas yang ada Andra tambah ngenes!.
“Mana jus jeruknya?” pertanyaan Freya membuat Andra menepuk jidatnya, ia lupa.
“Ah, ada di dapur nona.. saya ambilkan terlebih dahulu” Andra langsung berlalu pergi.
Sesampainya di dapur secepat kilat ia langsung membuat jus jeruk pesanan nonanya.
Andra terpaksa berbohong lagi bahwa jusnya ada di dapur padahal kenyataannya ia lupa untuk membuatnya.
Sepuluh detik, dua puluh detik, dua puluh lima detik..
__ADS_1
TRING
Andra baru saja selesai membuat jus itu, ia langsung membawanya dan keluar.
Ia harap nonanya tak curiga, namun ketika sampai di meja makan dimana ia meninggalkan sang nona, Andra hanya mampu mendelik seraya melongo.
Ia benar-benar perlu tenaga ekstra untuk mengurus si bumil!.
***
Delard menggigit bibir bawahnya cemas, tak biasanya delard begitu cemas akan seseorang.
Hanya pada fern seorang.
Yah hanya pada fern seorang.. delard bahkan sampai menggigit bibirnya saking cemasnya pada tuan bekunya itu.
Tentu saja delard cemas tak urung jika tuannya tak menolongnya di hari itu, ia pasti tak akan berada di sini.
Melainkan..
BRUSH
Dia akan menghilang dari dunia ini, delard mulai menatap langit-langit rumah sakit yang berwarna putih.
Ia memejamkan matanya, kemudian sebulir hangat mengalir dari balik matanya yang lentik.
Ingatannya menerawang di kejadian masa lalu..
Tepat saat itu, delard yang berusia lima belas tahun hanyalah remaja biasa, tak bisa bela diri, tanpa bakat.
Sungguh berbeda dengan dirinya yang saat ini.
Ia ingat, sangat ingat kejadian dimana ia dan si beku itu bertemu untuk pertama kalinya.
Saat itu tengah hujan lebat, dirinya tak punya tujuan pasalnya ibu tirinya mengusirnya setelah ia dipaksa untuk menandatangani surat pengalihan hak waris mendiang ayahnya.
Di saat itu pula ia terduduk lemas di tengah jalan, matanya berkaca-kaca.
Ia ingin menangis namun air mata itu sudah lama habis karena tangisan lebatnya tadi.
Seolah-olah pria itu merasakan apa yang ia rasakan, akan tetapi delard langsung menolak fikirannya, mana mungkin pria dingin seperti pria itu bisa bersimpati pada orang lain?.
“Jadi.. kau di telantarkan juga ya? Dunia memanglah kejam hal ini karena banyak manusia yang rusak, maka dari itu kau harus membalas mereka” ucapan panjang pria itu membuat delard balik menatap mata pria itu.
“Ayo kita bersama-sama membasmi manusia tak berakhlak seperti itu, perkenalkan aku fern, orang yang memiliki takdir hampir mirip sepertimu” sambung pria itu namun dengan nada dingin.
Delard langsung menyambar uluran tangan pria muda yang kelihatannya berusia 14 tahun, satu tahun lebih muda dari dirinya.
Delard saat itu menjabat kuat tangan fern, “Ajari aku agar aku bisa membalas perbuatan mereka.”
Suatu tekad yang kuat menjadi pondasi agar ia bisa menggapai cita-cita barunya ini.
“Tentu saja, ayo ikut denganku.. delard” kata akhir yang diucapkan fern-fern itu membuat delard mematung seketika.
“Bagaimana kau..?” delard ingin bertanya namun tak kuat sebab energinya habis tak tersisa.
“Jangan heran, lihat.. kondisimu masih lemah, ayo ku antar ke mansion milik keluarga angkatku” fern langsung menepuk kedua tangannya.
Beberapa pria bertubuh kekar sudah berada di belakang fern setelah fern menepuk tangannya, “Bantu delard.”
Setelah saat itu, fern sendiri yang melatih delard, delard juga terlihat sangat bersemangat saat itu juga ia begitu ingin untuk melindungi fern.
TAP TAP TAP
Suara langkah kaki yang terkesan pelan itu membuyarkan lamunan delard, ia membuka matanya dan mengusap ujung mata miliknya dengan pelan.
“Bagaimana keadaan tuan saya dok?” tanya delard menatap penuh harapan pada dokter yang menangani tuan bekunya itu.
“Syukurlah anda membawa tuan fern kemari dengan cepat, darahnya sudah hampir habis jika terlambat sedikit saja maka tuan tak akan tertolong” sontak senyum tipis delard terbit.
Dokter itu memberinya jawaban yang efisien dan sangat melegakan.
__ADS_1
“Untuk kondisi detilnya mari ikut saya, tuan” ujar dokter itu, delard pun mengikuti dengan patuh.
Sebelum pergi delard melirik singkat pada mafioso-mafioso yang tengah menunggu fern di operasi bersama dirinya.
Benar, mereka melihat saat delard menangis namun mafioso-mafioso itu membiarkan delard setidaknya menangis bisa meringankan beban delard.
Mafioso itu mengangguk mengerti, lewat lirikan matanya, delard menyuruh mereka untuk berjaga-jaga dan tidak membiarkan siapapun bahkan tenaga medis sekalipun jika tak ada persetujuan dari delard sendiri.
***
Tak kalah cemas dari delard.. pandu, kinen dan mommy senantiasa melihat ke ruang UGD dimana Revan di operasi.
“Hiks Abang akan baik-baik hiks saja kan mom?” pertanyaan nona mudanya itu menggema di gendang telinga pandu.
Sungguh, ia juga begitu berhutang Budi pada tuannya karena itu meskipun ia disuruh push up beribu-ribu kali ia tak memiliki pemikiran untuk membalas.
Begitu halnya dengan delard.
Walau batinnya sangat mengeluh lelah namun mereka tak pernah berani untuk membantah.
“Dia pasti hiks baik-baik saja kin hiks abangmu bukan orang lemah” jawaban pun keluar dari mulut nyonya besarnya.
Jawaban yang begitu melegakan jika hal itu benar-benar terjadi.
KRIET
Dokter Anisa selaku dokter pribadi keluarga purnama langsung mendatangi kinen, mommy dan pandu dengan perlahan.
“Dok, bagaimana dengan hiks Abang?” tanya kinen langsung menghampiri dr Anisa dan meraih tangannya.
“Tuan baik-baik saja nona, tuan memiliki kemauan yang kuat sehingga jika perkiraan saya benar maka tuan akan bangun dalam jangka waktu 24 atau 25 jam” jawaban dokter Anisa membuat pandu menghela nafas lega.
“Salah satu diantara kalian harus ikut bersama saya, saya akan menjelaskannya di ruangan saya, tak enak jika bicara di depan sini lagipula tuan akan segera dipindahkan” sambung dr Anisa.
“Biar saya yang Ikut dok! Agar nyonya dan nona bisa menemani tuan” pandu memilih untuk mengambil alih.
Dokter Anisa pun mengangguk, ia pergi diikuti pandu di belakangnya.
Sejenak pandu menatap sendu pada pintu ruangan UGD, ucapan delard terngiang-ngiang di telinganya.
“Jika kau bisa melindungi nona muda, tuan pasti tak akan semarah ini, dan tak perlu ada pertumpahan darah sekarang.”
Dalam diam pandu menyetujui ucapan delard, jika saja ia bisa mencegah sang nyonya muda untuk kabur mungkin Freya tak akan bertemu king f itu.
Dengan kata lain, Revan tak perlu bertarung dan tuannya itu tak akan terluka.
“Mari duduk tuan” ujar dokter Anisa mempersilahkan.
Pandu pun mengangguk dan menatap intens pada dr Anisa.
“Tuan ini adalah resep obat yang perlu Anda tebus, tuan Revan bisa dijenguk namun hanya satu orang yang bisa menemui tuan dengan jangka waktu maksimal sepuluh menit” terang dokter Anisa dengan menyerahkan daftar resep obat.
“Baiklah” balas pandu meraih resep obat tersebut.
“Tapi.. kondisi tuan tidak kritis kan?” tanya pandu memastikan keadaan tuannya.
“Untuk sekarang tidak namun saya harus tetap memantau kondisi tuan agar saya bisa memastikan bahwa kondisi tuan tak akan drop lagi” jawab dokter Anisa.
Pandu pun mengangguk mengerti tanpa membalas sama sekali.
_______________________________
Author memutuskan untuk update sekitar 1500an kata per-bab, sebab author juga tidak selalu bisa up rutin.
Terkadang pasti ada halangannya seperti kehidupan nyata, kuota dan lain sebagainya.
Jadi yah saat author bisa up, akan author buat 1500+ kata.
Karena biasanya author hanya up 600+ kata per-bab maka dari itu babnya sangat pendek.
Begitulah, jadi.. jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.
__ADS_1
Thank u~
-Nadira