
Saat ini sudah siang hari, di kamar mewah itu terdapat seorang wanita sedang sibuk membaca buku-bukunya sambil menggamit camilan yang dibawakan oleh para pelayan disana.
“Hih! Kan aku juga bilang apa, dibilangi jangan Nerima kok ya di terima lagi! Kan di khianati lagi, mana dulu nyakitin nya parah lagi! Udah tiga kali loh, makanya jadi orang tuh jangan b*doh” omel wanita itu dengan memukul ranjangnya karena kesal.
“Aku aja yang baru di sakiti satu kali susah Nerima, ya walau sekarang udah sih” gumam wanita itu, Freya.
Iya dia sekarang sedang membaca novel berbentuk fisik, dan bumil itu kesal pada si protagonis wanita yang entah mengapa masih menerima pasangannya yang dulu.
Padahal ia sudah disakiti sebanyak tiga kali, ah empat kali yang ini.
Ini yang memotivasi Freya, ia yang baru sekali saja sudah agak-agak sulit sedangkan cewek ini? Walaupun fiksi tapi mampu memotivasi, dan itu merupakan hal yang baik.
Novel ini belum pernah dibaca Freya, Freya hanya melihat sinopsisnya saja.
“Ada apa Frey? Mama tadi denger kamu ngomel-ngomel” ujar mama grea menghampiri Freya.
“Ini loh ma, kok tokoh cowoknya ngeselin ya? Emosinya Frey jadi makin tinggi!” balas Freya menunjukkan buku novelnya.
“Bagaimana ya.. kan itu hanya cerita sayang” sahut mama grea duduk di samping ranjang setelah membaca sedikit bagian di novel Freya.
“But ma, Frey bener terbawa suasana” Freya berucap dengan sungguh-sungguh.
“Iya, itu artinya mc ceweknya tangguh, tapi ya bukan berarti dia tidak bisa mencari kehidupannya sendiri karena sudah diberi kesempatan sampai tiga kali lebih maka harusnya si mc cewek akan segera pergi.”
Mama grea pun menduga-duga.
Freya mengangguk mendengar dugaan sang mama, “Kayaknya mama bener deh. Soalnya sebelum membaca awalannya Frey membaca epilognya dulu, dan akhirnya happy ending si mc cewek bahagia dengan cowok lain tentunya.”
“Tuh kan, lebih baik kamu baca sampai akhir biar ngga kepikiran terus” balas mama grea mengecup kening Freya pelan.
Freya pun mengangguk (lagi) membenarkan ucapan sang mama yang ada benarnya juga.
“Frey, mama sama papa pergi sebentar ya ada urusan di luar, kamu mau ikut ngga?” tanya mama grea mengutarakan tujuannya datang kemari.
“Emm, Frey masih mau membaca buku ini ma. Frey nunggu di mansion aja deh” jawab Freya tersenyum pada mama grea.
“Baiklah, tetap di sini sampai mama dan papa kembali ya, jangan kemana-mana” sahut mama grea.
“Okey ma, mama sama papa hati-hati ya jangan ngebut” balas Freya hangat.
Mama grea pun mengangguk lalu keluar dari kamar sang Puteri, setelahnya Freya kembali menikmati buku yang ia beli tadi oh bukan, ini buku yang dibelikan Revan.
CENGKLING
Terdengar bunyi notifikasi dari handphone Freya, Freya pun melirik kesal pada benda pipih itu. Siapa sih yang mengganggunya saat ini? Orang itu tidak ada kerjakan kah?.
Freya pun meraih handphone-nya melihat siapa yang mengiriminya pesan dari w*.
“Loh siapa ini?” gumam Freya melihat nomor yang tidak dikenal.
Beberapa bulan lalu fern menyuruh Freya untuk mengganti nomornya.
“Apa kinen ya?” sambung Freya yang malah semakin bingung, jika itu kinen maka bagaimana bisa gadis itu mendapatkan nomornya? Freya rasa kinen itu bukan stalker.
Mau tak mau Freya pun membalas pesan itu.
“Siapa ya?” -freya.
Freya pun menekan tombol ‘send’ setelahnya Freya ingin meletakkan ponsel itu kembali namun orang itu sudah menjawab pesannya.
S*alan sekali, seolah-olah orang ini sudah menunggu pesannya sedari tadi.
“Orang yang kau rindukan”-Tidak dikenal.
Da*n it!.
__ADS_1
Freya menggerutu tak jelas di dalam gumamannya, apa sih maksud ni orang?.
“Wah orang ini tidak beres! Mau merasakan tinju jurus sapi terbang milikku ternyata!” geram Freya yang akhirnya memilih untuk tidak menjawab pesan orang itu dan melanjutkan bacaannya.
CENGKLING CENGKLING CENGKLING
Suara itu lagi-lagi muncul dari ponselnya, geram Freya meraih ponsel itu lagi, masih orang yang sama.
Orang itu me-spam dirinya.
“Cari masalah ni anak orang” emosi Freya sedari tadi sudah tak beraturan eh malah ini orang menambah kekesalannya saja.
Sebenarnya dia siapa?.
Agar tak khilaf untuk membanting hanponnya ia pun menaruhnya lagi.
Sayangnya..
DRRT DRRT DRRT
Orang itu malah menelefon dirinya, kesal level tinggi Freya langsung mematikan hanpon itu dan menaruhnya di sofa sedikit jauh dengan ranjangnya.
“Kan jadi tambah bad mood!” ujar Freya membanting bukunya.
“Tau deh” kemudian Freya pun memilih untuk menidurkan diri di ranjangnya, melepas lelah dengan tidur siang.
Hari yang sangat melelahkan, karena merasakan lelah yang teramat Freya pun ingin tertidur pulas, ingat masih ada kata ingin.
Mata Freya pun sudah berkedip-kedip lalu nyaris tertutup sempurna, sayangnya..
“Nona saya—.”
CEP
Baru saja Andra ingin bertanya bagaimana Freya mendapatkan judul novel ini? Eh malah nonanya itu sudah tertidur.
“Andra!.”
GLEK
Andra menelan ludahnya susah, pria itu membalikkan badannya dan mendapati Freya yang menghunus tatapan tajamnya.
“N—nona?” Andra pun merinding ketika membayangkan bahwa ia akan terkena Omelan serta hukuman dari sang tuan.
Fern itu psikopat, Andra jelas tak mau kalau ia akan menjadi salah satu mainan baru sang tuan, sangat-sangat tidak mau!.
“A—anda sudah bangun?” tanya Andra berusaha menghindar dari Omelan freya.
“Menurutmu bagaimana? Lalu kau fikir aku akan melupakan topik yang kita bicarakan jika kau menanyakan hal lain hah?” balas Freya yang mana membuat Andra makin nelangsa saja.
Bisa di pastikan bahwa dirinya akan terkena Omelan dari sang nona, dan parahnya ini hanya gara-gara novel semata.
“Kemari kau Andra!.”
***
“Jeng, bagaimana dengan anakmu? Pandu sudah setuju loh” mom tari sedang berbicara pada jeng dewi mamanya dokter Anisa.
“Dia juga sudah setuju kok jeng, kemarin aku mengancamnya dan dia setuju” balas jeng dewi bangga.
Mom tari pun tersenyum hangat, “Kapan kita akan mempertemukan mereka berdua jeng?.”
“Bagaimana kalau sekarang saja? Puteri ku sedang berada di hotel xxx untuk mengobati pasiennya” jawab mamanya dr Anisa dengan semangat.
“Yasudah, ayo kita kesana” balas mommy meraih hanponnya untuk menelefon pandu bertanya dimana pria itu sekarang? Namun pandu tidak mengangkat teleponnya.
__ADS_1
“Kenapa jeng?” tanya mama Dewi yang memperhatikan perubahan mimik wajah dari mom tari.
“Dia tidak mengangkatnya jeng, tapi tidak papa aku akan menelepon putera kandungku untuk menanyakannya” jawab mom tari, mama Dewi yang sudah tahu kondisi dan hubungan antara pandu keluarga purnama pun mengangguk.
TUT TU-
“Kenapa mom?.”
Jeng dewi bergidik sendiri ketika mendengar suara beku dari Revan.
“Apa pandu berada di sana Rev?.”
“Tidak, dia ada di hotel xxx.”
“Loh kenapa dia berada di sa—.”
TUT TUT TUT
Panggilan di tutup secara sepihak oleh Revan, mommy menghela nafas kesal ketika ia belum sempat mengutarakan pertanyaannya.
“Bagaimana jeng?” tanya mamanya dr Anisa.
“Pandu sekarang sedang berada di hotel xxx” jawab mommy.
Seketika mom tari dan mama Dewi terhening, “Mereka berada di lokasi yang sama!” heboh mommy.
“Hahaha, mungkin mereka sudah jodoh” balas mama dewi tertawa ringan.
“Maka dari itu kita harus cepat memperkenalkan mereka berdua, ayo jeng kita kesana!” sahut mommy, mama Dewi pun mengangguk mengiyakan.
Akhirnya mereka berdua pun pergi ke hotel xxx bersama-sama tempat dimana dr Anisa dan pandu berada.
Setelahnya saat mereka berdua telah sampai di hotel xxx.
“Apa yang sedang nyonya-nyonya cari?” tanya resepsionis dari hotel tersebut dengan ramah.
“Ah iya, maaf dimana kamar atas nama pandu regatha almanov dan dokter Helena Anisa anfadil” jawab mommy bertanya pada resepsionis itu.
“Oh nyonya ibunya ya? Mereka itu sepertinya pasangan suami isteri mereka sangat cocok dan serasi, astaga! Aku berbicara hal yang tidak perlu. Saat ini mereka berada di kamar 103, ini kunci cadangannya” jawab sang resepsionis, sejujurnya ia baru bekerja.
Selain itu ia fikir bahwa keluarga boleh untuk masuk.
Jawaban itu membuat mommy dan mama Dewi melongo seketika, satu ruangan? Seorang gadis dan pria berada di satu ruangan? Untuk apa?.
Mommy pun mengambil kunci itu, “Baik terima kasih ya.”
Mommy tari pun menarik lengan mama Dewi, “Jeng mereka se-ruangan.”
“Iya, padahal Anisa bilang kalau dia akan mengobati pasiennya, apa dia berbohong padaku?” balas mama Dewi agak kecewa.
“Pasti dia punya alasan jika memang dia berbohong, lebih baik sekarang kita mencari ruangan 103 untuk mengetahui segalanya” sahut mommy.
Ketika mama Dewi dan mom tari membuka kamar itu dengan kunci cadangan, alangkah terkejutnya mereka.
“Anisa, pandu!.”
Mama Dewi tercekat ketika ia melihat sang Puteri yang berada di bawah kukungan pandu, melalang buana sudah fikiran ini.
Dr Anisa melihat ke arah pintu dan mendapati mama dan nyonyanya.
“Mama!” dr Anisa segera mendorong pandu lalu mencoba menjelaskan semuanya pada sang mama.
“Ma ini ngga seperti yang mama lihat! Itu hanya salah faham” ujar dr Anisa menghampiri mama Dewi.
“Itu benar nyonya, saya dan dia tidak terlibat apapun” balas pandu meyakinkan kedua wanita paruh baya itu.
__ADS_1
^^^(Mampus tuh pan! Auto langsung nikah.)^^^
_______________________________