
Kinen yang sudah sangat bersemangat langsung berlari masuk ke mansion Arron, para pengawal yang berjaga di depan jelas membiarkan kinen masuk tanpa perlawanan.
Sebab mereka tahu siapa saja yang mengenal, menyayangi dan peduli pada si nona (Freya.)
“Ah, permisi Tante.. paman” mama grea menyibak senyumnya ketika melihat kinen.
“Wah kalian datang ya? Ayo masuk” ujar mama grea mempersilahkan kinen dan Candra masuk.
Kinen dan Candra pun menunduk sopan, mama grea yang agak tak suka perilaku formal pun menyeret kinen dan Candra agar segera duduk.
“Tante ngga suka diperlakukan formal seperti itu, kalian itu sudah bagian dari keluarga ini sekarang” omel mama grea, fern dan papa Hunter hanya melihat mama grea yang memarahi kinen plus candra.
“Hehehe, maaf Tan.. emm Tan kak Freya mana ya? Aku sangat rindu pada kakak” ucap kinen yang bertanya pada mama grea yang nyatanya dibalas gelengan pelan oleh mama grea.
“Dia dari tadi belum turun, Revan juga begitu.. kata lainnya satu pasangan itu belum turun dari tadi” terang mama grea memijat kepalanya pusing dengan tingkah mantu dan puterinya itu.
Bukannya apa namun Freya itu sedang mengandung! Tidak baik kalau melakukan ‘hal itu’ terus menerus.
Sayangnya, mama grea pun memiliki suami yang sama me*umnya dengan suami puterinya, ia jadi jelas mengetahui bahwa pria tipikal seperti papa Hunter dan revan itu tak bisa menahan hasratnya.
Menyebalkan sekali! Para pria ini tak pernah membiarkan wanitanya istirahat sekalipun saat malam, yah kecuali kalau sedang bocor.
“Loh kinen? Kamu disini?” kinen, dan seluruh orang yang dibawah pun mendongak menatap Freya yang mengelus perutnya pelan.
Senyum kinen merekah saat Freya sudah turun dari tangga, kinen lalu memeluk erat kakak iparnya. “Jangan memeluknya terlalu erat, aku tidak ingin anakku terhimpit olehmu.”
__ADS_1
Kinen memandang sengit pada si Abang yang tak pernah berubah, tetap beku. “Aku harap ponakanku meniru sikap kakak ipar semua, akan sangat merepotkan jika salah satu atau bahkan semua keponakanku memiliki sikap seperti abang.”
Walau sejujurnya, kinen tak mempermasalahkan jika keponakannya meniru sikap abangnya mau bagaimanapun Revan itu dadnya. Tak mustahil jika anak-anaknya meniru revan kan?, Yah kinen hanya ingin membuat Revan kesal.
Tetapi, wajah datar bin ubin milik Revan tak berubah juga, kinen menghela nafasnya kesal saat abangnya ini tetap tak bisa tersentuh seperti biasanya.
“Apa sih Rev? Sensi banget sama kinen, orang kinen cuman memelukku kok” kinen menjulurkan lidahnya pada Revan ketika ia di bela oleh si kakak ipar.
Revan pun hanya memandang malas ke arah Freya dan kinen, sungguh bukannya apa! Namun percuma jika ia membela diri. Klise, peraturan yang selalu di tetapkan Freya, ‘Perempuan itu selalu benar, dan malangnya Revan tak bisa mengganggu gugat.’
Yah, terserah saja. Sebab sesungguhnya Revan juga tak pernah mempermasalahkan hal tersebut.
Candra, mama grea, papa Hunter dan fern hanya menyimak perdebatan tiga orang ah lebih tepatnya dua orang sebab (Revan hampir tak pernah membela diri) yang terikat hubungan tersebut tanpa berniat menyela maupun ikut campur sebab perdebatan keduanya sudah cukup menarik untuk di simak.
Freya hanya tertawa singkat mendengar ucapan kinen yang terkesan mengejek abangnya, “Entahlah kin. Kakak juga tidak tahu kemungkinan abangmu itu menggunakan sesuatu agar kakak selalu klepek-klepek setiap waktu padanya.”
Revan mendelik tajam pada Freya, maksudnya Freya menuduhnya melakukan ilmu hitam? Sejenis pel*t begitu? Hey! Jangan sembarangan.
“Wahh bang, dukun mana yang Abang gunakan?” kinen pun terhanyut dalam candaan Freya, mendengar ini Revan hanya memutar matanya malas.
Namun seolah tak pernah kapok, Freya dan kinen terus mengganggu Revan hingga akhirnya pria itu harus merelakan suara dinginnya keluar.
“Berhenti menggodaku.”
“Hahaha, liat tuh kin! Dia sepertinya agak kesal pada kita” ujar Freya diselingi canda tawa sambil menunjuk ke arah Revan yang wajahnya sudah memerah pertanda kesal.
__ADS_1
“Hahahah, Abang tambah jelek ya kak kalau marah gini?” ujar kinen terkekeh geli melihat sang Abang.
“Haha, asal kau tau dia— argh!” Revan yang awalnya memalingkan wajahnya kini kembali menatap Freya hanya karena suara pekikan tersebut.
“Nona, Frey, nyonya, kakak?!.”
Suara teriakan berbeda panggilan itu menyatu, membuat sebuah paduan suara yang tak terkira besarnya.
Mama grea makin panik ketika ia melihat air ketuban Freya sudah pecah, Revan, fern, papa Hunter, kinen dan para asisten yang benar-benar tak tahu tentang melahirkan tentu saja tak tahu.
“Astaga! Frey kamu ngompol?” tanya fern dengan alis mengerut.
“Argh, abanggg jangan bercanda! Ini sakit” air mata sudah meluncur bebas dari bulu mata lentik Freya.
Revan lalu menyangga wanitanya ketika Freya hampir ambruk, wanita itu masih tetap kesakitan ia bahkan sampai mencakar Revan untuk melampiaskan rasa sakitnya, “Ma kenapa ini?.”
Tak dapat dipungkiri bahwa Revan sangat khawatir terutama saat ia mendengar suara pekikan Freya yang menyakitkan bagi hatinya, serasa tergores.
Ia membiarkan Freya menggigit tangannya, bahkan wanitanya itu sampai mencakari tangannya, namun ia masih tak bergeming sakit.
“Dia akan segera melahirkan!.”
“Apaa?!.”
_________________________________
__ADS_1