
Freya yang tahu bahwa abangnya mengetahui makna ucapannya pun diam-diam tersenyum smirk, “Ihh masa Abang ngga ada waktu? Terus Frey kesana gimana? Masa Frey kesana sendirian sih?.”
“Biar aku yang mengantarmu” alhasil Revan pun memilih untuk mengantar sang pujaan hati, ia berfikir daripada Freya dilirik oleh tukang taksi? Kan ngga lucu!.
Ia jelas tidak akan membiarkan Freya menyetir sendirian tanpa pengawasan, ia tentu masih takut terjadi apa-apa dengan isterinya.
“Bener nih? Tapi.. kan kamunya sibuk?” Freya masih saja tetap berakting, entahlah sifat bayi yang mana ini? Si cewek atau si cowok?.
“Aku masih bisa menemanimu frey” balas Revan datar, diam-diam Freya tersenyum tipis.
“Tapi aku tidak mengganggu pekerjaanmu kan?” tanya Freya lagi.
‘Ini namanya teknik tarik ulur untuk menarik pasangan agar segera peka hahaha’ batin Freya tertawa terbahak-bahak namun wajahnya seperti sedang sendu.
“Tidak” jawaban singkat muncul dari Revan, Freya pun mengembangkan senyumannya dengan lebar.
“Yeah! Baguslah jadi sekalian aku bisa berbincang-bincang bersama pandu dan dr Anisa” inilah perkataan Freya yang membuat Revan melotot.
“Tidak perlu bicara pada pandu! Tak ada pentingnya, bicara saja dengan si dokter itu” balas Revan sengit, nadanya menjadi dingin dan ekspresinya menjadi datar.
“Kamu itu kok kayak marah gitu?” sahut Freya mengernyit ketika melihat wajah garang Revan yang sudah lama tidak Freya lihat berbulan-bulan lamanya.
“Sejak kapan? Aku tidak marah, aku hanya mengusulkan” Revan pun terlihay berkelit, namun nadanya tetap dingin nan datar tak kurang apapun.
Terkadang Freya sampai berfikir, bagaimana bisa Revan berbicara tanpa cengkok? Apa dia belajar melalui seorang guru?. Eh tapi memangnya ada ya guru yang mengajar kayak gitu? Tidak salah nih?.
“Aduh sayang, mama tuh ngga kuat loh kalau jadi nyamuk! Mama yang udah punya papamu aja nelangsa apalagi abangmu tuh calon aja ngga punya, mesranya di kondisikan dong sayang~” mama grea menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Revan dan Freya.
“Jadi nyamuk apanya sih ma? Orang kami ngga ngapa-ngapain” balas Freya menuju ke tempat dimana mama grea berada, mama grea pun menyambut Freya dengan senyuman lebar di wajahnya.
“Kamu aja ngga nyadar! Cocok dah pasangan yang sifatnya bertolak belakang tapi pemikiran dan tingkat ketidak pekaannya tinggi bener-bener pasangan yang cucok deh!” sahut mama grea mengelus sayang rambut Freya.
Membuat freya bingung sendiri, maksud mamanya tuh apaan?. Freya pun menaikkan bahunya mulai pusing memikirkan perkataan si mama.
“Frey, terkadang tuh ya mama heran sama kamu, katanya di internet ibu hamil tuh sering ngidam dan muntah alias morning sickness, kalau kamu ngidamnya dapet tapi kenapa ngga ngalamin morning sickness?” tanya mama grea mengernyit heran.
“Mana Frey tau ma? Tapi kan malah enak kalau Frey ngga ngalamin morning sickness” jawab Freya singkat, bumil itu sendiri juga bertanya-tanya, bagaimana bisa ia tak mengalami morning sickness?.
Saat Freya dan mama grea berfikir, papa Hunter dan fern malah tertawa cekikikan sedangkan revan hanya memandang Freya datar.
Seketika dua wanita berbeda usia itu menoleh ke fern dan papa Hunter, “Pa, bang kalian itu kenapa sih emang ada sesuatu yang lucu?.”
“Nah itu dia, kayaknya mereka udah agak miring otaknya frey” timpal mama grea memandang horor ke suami dan anak sulungnya itu.
“Apa sih ma? Siapa coba yang g*la?” sahut fern yang diangguki oleh papa Hunter namun tawa mereka tetap tidak mereda.
Freya lalu menoleh ke Andra yang ternyata juga tertawa kecil.
“Ni Andra juga! Kalian itu kenapa sih? Kalau emang miring buat Frey telpon pihak rsj untuk mengangkut kalian” ucap Freya gregetan.
“Ngga gitu Frey! Emangnya kamu dari dulu ngga tahu kalau yang ngalamin morning sickness yang sedang kalian bicarakan itu..” balas fern menggantung seraya melirik ke Revan yang berwajah datar.
__ADS_1
Lalu fern kembali tertawa bersama papa Hunter, yah fern dan Revan sudah damai nan akur. Hanya untuk Freya seorang.
“Siapa bang?” Freya mengernyit penasaran.
“Suamimu sendiri!.”
”Hahh?!” suara Freya dan mama grea berpacu menjadi satu, membuat suara yang sangat memekakkan telinga.
***
“Huft, bagaimana ini? Suasananya makin canggung aja” dr Anisa bergumam sambil menggigit ujung kukunya.
Eits! Jangan khawatir kuku dr Anisa udah bersih, mana mungkin seorang dokter tidak bisa menjaga kesehatan dirinya sendiri?.
“Kalau aku yang mengucap itu dulu.. ck! Mana pantas dia kan jelas merasa begitu juga tapi kenapa dia tidak berbicara padaku?!” sambung dr Anisa yang akhirnya mengacak-acak rambutnya frustasi.
“Memangnya apa sih yang dia tunggu?” dr Anisa terus mengoceh tak jelas hingga gadis muda itu tak menyadari bahwa pandu berdiri di balik pintu kamar dr Anisa yang tertutup.
‘Dokter g*la itu lucu juga’ batin pandu melirik ke arah pintu seolah-olah dr Anisa menempel di pintu itu.
“Eh, apa yang ku fikirkan ini?” gumam pandu lirih, kemudian pria itu menggelengkan kepalanya keras ia segera pergi dari sana dengan membawa bunga di kanan tangannya.
Tanpa disadari, menembak gadis lebih susah dari yang pandu duga! Padahal jelas kalau dr Anisa akan menerimanya namun pandunya aja yang terlalu gerogi.
Padahal di Medan perang ia sama sekali tidak gentar, tapi kenapa sekarang ia malah memilih mundur?.
Kek bahasa Inggrisnya bulan dan pintu aja, moon and door jika digabung menjadi moondoor.
“Aaaaaaa” ketika mendengar suara teriakan dr Anisa pandu seketika berhenti melangkah.
Ia langsung berlari menuju kamar dokter itu, di dalam hati ia berharap bahwa dr Anisa tidak berteriak karena musuh-musuhnya.
Ia itu orang berbahaya, ia itu asisten seorang bos mafia sudah jelas kalau ia punya banyak musuh! Makanya itu ia berharap agar semuanya tidak berubah menjadi sad ending.
‘Kumohon!’ batin pandu berlari secepat yang ia bisa, hingga lima detik ia langsung sampai di kamar isterinya.
Langsung, ia membuka pintu itu.
BRAK
“Ada apa?! Kenapa kau berteriak? Ada sesuatu yang terjadi?” tanya pandu beruntutan bahkan ia tak sadar kalau dirinya masih memegang buket bunga di tangannya.
“Huaa, panduu kenapa ada tikus disini?! Aku benci hewan kotor seperti ituu! Apa kau tidak pernah membersihkan apartemen mu huh?” dr Anisa bahkan sampai naik di atas meja yang ada di kamarnya.
Seketika pandu menghela nafasnya lega, ia bersyukur bahwa dr Anisa tak berhadapan dengan salah satu musuhnya, ia melirik bergantian ke dr Anisa dan tikus di bawah lantai.
“Apa yang kau takutkan? Itu hanya binatang kecil, kamu bisa langsung mengusirnya” jujur saja, pandu selalu menjaga kebersihan apartemennya.
Ia selalu menyewa cleaning servis setiap hari untuk membersihkan seluruh bagian apartemennya sebab pandu sendiri ialah orang yang g*la kebersihan.
Untuk pertama kalinya, ia melihat tikus di apartemennya. Apakah cleaning servis itu tidak bekerja dengan benar? Haruskah pandu langsung menutup matanya saja?.
__ADS_1
Brrrr.
“Iya! Dia binatang kecil but dia itu kotor! Dia membawa penyakit” sahut dr Anisa memandang jijik ke tikus itu.
Pandu lalu mengambil tisu di sebelahnya dan mengambil tikus itu lalu pria itu melirik ke dr Anisa yang masih ketakutan.
Seketika ide jahil menjalari otaknya, ia menaruh buket bunga itu di meja dan melirik ke dr Anisa.
“Apa?! Apa yang kau lihat?” tanya dr Anisa panik ketika pandu mendekatkan tikus itu padanya.
“Aaaa jauhkan binatang itu dariku!” teriak dr Anisa namun pandu tidak menggubrisnya.
“Daaa” ujar pandu bersuara nyaring lalu mendekatkan tikus itu pada dr Anisa, tepat di depan wajahnya.
“No!! Aaaaa” teriakan nyaring itu akhirnya muncul, dr Anisa lalu berlari secepat mungkin pandu pun mengikuti dokter itu sambil membawa tikus yang ia pegang dengan tisu.
Dan terjadilah aksi kejar-kejaran di dalam kamar.
“S*alan! Jauhkan tikus itu darikuu!!” dr Anisa terus berteriak frustasi namun pandu hanya terkekeh pelan ketika menyadari bahwa isterinya ini sangat lucu.
Di luar dugaan dr Anisa tersandung dan membuat buket di atas meja terbang ke atas dan tersebar.
Pandu yang melihat dr Anisa hampir terjatuh pun sontak langsung melempar tikus itu keluar lewat jendela kamar dan menangkap si isteri.
Dan.. voila.
Bunga-bunga jatuh tepat di atas kepala pandu dan dr Anisa yang kini telah berposisi bagai pasangan yang hendak berdansa.
Pandu menyangga pinggang dr Anisa sedangkan dr Anisa mengalungkan tangannya ke leher pandu.
Mereka pun saling bertatapan.
DEG DEG DEG
Bunyi detakan jantung dr Anisa dan pandu saling bersahutan, membuat suasana makin terasa dag Dig dug serr saja.
And.. cut!.
_________________________________
Wkwkwk, mood author sebenarnya udah balik kemarin pagi (berkat dukungan kalian semua 🥺) cuma kemarin author harus ikut out door learning.
Jadi yeah begitulah, author ngga boleh main hp di bis terus saat sampai di tempatnya author harus mengamati, mencatat dan banyak hal lain.
Sampai" tuh author belum sempet buka mt/nt sama sekali, nah baru tadi pagi author on.
Oke, sepertinya dr Anisa ma pandu udah mo buka perasaan satu sama lain tuhh, unboxing ga ya?.
Hahaha, seperti biasanya jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.
Thank u~
__ADS_1
-Nadira