My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.85. Hukuman


__ADS_3

Tak lama setelah perbincangan mereka Revan dan pandu kembali.


Freya tersenyum manis pada Revan yang malah membuat pria itu merinding, namun setelahnya Freya melempar pandangan pada mommy dan kinen.


“Mommy, kinen tunggu disini ya! Jangan kemana mana” ujar Freya seraya memberi isyarat agar Revan mengikuti langkah kaki dirinya.


Revan pun hanya mampu menurut, setelahnya.. Revan dibawa Freya ke kamarnya, oh bukan! Lebih tepatnya kamar masa lalu Revan.


Revan tak perlu repot-repot bertanya pada Freya, pria itu tau bahwa ini berkenaan dengan hal yang ia ucapkan saat di rumah sakit tadi.


Freya menatapnya lalu berbicara “Kamu masih ingat kan dengan janji yang kau ucapkan?”.


Revan pun mengangguk tanpa mengucapkan banyak kata.


Freya lalu membuka almari yang berisi.. pakaian Freya?.


Seketika kening Revan berkerut sebagai reflek, untuk apa isterinya membuka almari? Apa ini berkaitan dengan permintaan Freya?.


Dan lagi lagi Revan menghela nafasnya saat ia mengerti tentang rencana freyanya ini.


“Tidak bisakah kau memutuskan permintaan yang lebih normal?” tanya Revan dingin namun wanitanya itu sama sekali tidak menggubris dirinya.


Bagaimanapun Revan tau bahwa ia tak bisa meralat ucapannya sendiri.


________________________


Kinen, mommy dan pandu kini tengah berbincang seraya menyesap kopi yang telah dicampur susu.


“Bagaimana dengan kejadian di rumah sakit tadi?” tanya mommy penasaran.


“Bagaimana nasib fern dan asistennya setelah kami pergi?” kali ini giliran kinen yang bertanya dengan amat penasaran.


“Saya dan tuan sudah membereskan semuanya, nona nyonya” jawab pandu sekaligus tanpa berniat menceritakan lebih dalam.

__ADS_1


“Apa mereka mati?” tanya kinen yang tak puas dengan jawaban singkat pandu.


“Tidak nona, mereka berhasil meloloskan diri” jawab pandu, yah.. pandu juga cukup kesal dengan cara pelarian musuh musuh tuannya itu.


Setelah mengangguk akan pernyataan pandu, kinen memilih untuk meminum kopinya.


TAK


TAK


TAK


Terdengar langkah kaki heels dari kejauhan, namun.. kenapa suara itu terdengar bersahut-sahutan?.


Seperti.. ada langkah kaki lain yang menggunakan heels juga?.


Kinen melihat ke arah suara dengan mulut yang mengembung karena ia belum menelan kopinya dengan baik.


BYUR


Mata gadis itu, mommy dan pandu melotot ke arah pemandangan yang berada di depannya.


Haruskah mereka tertawa? Atau.. haruskah mereka mengasihani nasib Revan yang tak beruntung?.


Revan tengah memakai pakaian si wanita yang berada di sampingnya.


Bukan hanya pakaian, make up, sepatu juga tengah dipakai oleh pria itu.. sedangkan wanita yang berstatus sebagai isterinya malah tertawa cekikikan melihat reaksi kinen, mommy dan pandu.


“Apa.. pria yang ini benar benar abangku?” tanya kinen nyaris tersedak akibat tawanya sendiri.


Mommy tidak mengatakan apapun karena wanita paruh baya itu sedang tertawa seraya berguling guling di lantai dengan tangan yang menyentuh perutnya.


Pandu? Pria itu hanya mampu mengangkat tangannya ke bibir, tangan pria itu terlihat bergetar pelan sebab pandu tengah menahan tawanya sendiri.

__ADS_1


“Yup! Aku tak menyangka suami ku ini cantik!”.


Jawaban Freya membuat mommy dan kinen tertawa lebih keras meskipun Revan sudah menatap dingin ke arah keduanya.


Namun Revan tak bisa membela apa apa, bagaimanapun ia yang bilang jika dirinya akan menuruti perkataan Freya.


Oke! Untuk pertama kalinya bos mafia sinting itu sedang tak berdaya.


“Jangan tertawa!”.


Suara Revan nyaris seperti nyamuk bagi mommy maupun kinen, keduanya masih tertawa terbahak bahak karena keusilan Freya.


Bahkan Freya sendiri sudah tertawa kencang bersama keduanya.


HAHAHAHAHA


Tawa kencang itu bahkan terdengar dari luar mansion, mansion yang dulunya menjadi saksi akan kematian Daddy rafa, uncle Joni dan mommy quqi itu sudah meriah seperti sedia kala.


Lagi lagi, mansion itu adalah tempat yang menyimpan kenangan kenangan mereka.


“Hahah, ini uhuk bisa dibuat judul ‘abangku yang tak bisa berkutik!’ ” ucap kinen sesekali tersedak karena tawanya sendiri.


Mendengar hal itu Freya dan mommy makin tertawa kencang, kebahagiaan menyelimuti keluarga purnama dan pewaris keluarga berzeliuz hari ini.


Pandu mencoba menetralkan humor yang berada di dalam dirinya, ingin sekali ia bergabung dengan nyonya muda, nyonya besar dan nona mudanya.


Namun pandu masih ingin hidup! Ia tak ingin hidupnya berakhir hanya karena hal sepele seperti ini.


Walau ternyata hal itu gagal apalagi ketika ia mendengar argumentasi sang nona muda, tawa kecilnya kembali muncul di balik tangan kekarnya.


“Ulululu, kasiannya putera ku ini!”


Lagi lagi ucapan mommy membuat tawa yang sempat reda di antara ketiga orang itu muncul kembali.

__ADS_1


“Dasar Abang! Bucin kelas kakap!”


________________________


__ADS_2