
Saat ini Freya, Revan dan beberapa Mafioso lain yang berpangkat tinggi untuk menggantikan pandu berada di sebuah kapal.
Bukan kapal ilegal melainkan kapal resmi, kapal pribadi Revan yang baru dibelinya tadi.
Para Mafioso berjaga di sudut sudut luar kapal sementara Revan dan Freya berada di dalam kapal.
“Revan, apa tidak berlebihan kalau kamu membeli kapal Segede ini?” tanya Freya kesal lantaran tadi karena Freya mau naik kapal, tiba tiba Revan membeli kapal sebesar gunung tanpa menawar lagi! Sekitar 400 juta! Dan itu tentu berlebihan bagi Freya.
“Tidak” jawaban familiar terdengar dari mulut Revan yang memang irit bicara.
Lagipula kenapa jika Revan membeli kapal ini tanpa menawar? Uangnya terlalu menumpuk di brankas.
Bahkan asistennya saja ia gaji 800 juta, lalu kenapa jika soal isterinya dia harus pelit? Tentang gaji pandu? Pekerjaan pandu memang berbahaya jadi gaji sebesar itu sudah pantas untuknya.
“Ya tapi kan tetap aja! Ini terlalu berlebihan tau!” sahut Freya bertambah kesal.
Telinga Revan menangkap suara kesal dari sang isteri, ia pun menoleh karena sedari tadi ia hanya menatap ke layar laptop itu semua karena ada pekerjaan dari perusahaan nya.
Ia mendekat lalu memegang dagu Freya pelan memaksa freya untuk melihat ke arahnya.
“Apa menurutmu ini berlebihan? Memangnya kenapa? Kamu isteri ku semua ini memang untuk mu, lagipula untuk apa aku bekerja? Hanya untukmu, jadi ini semua memang hak mu” ujar Revan panjang.
Ingin sekali Freya terharu namun wajah datar Revan membuat nafsu tertawanya hilang bak di telan bumi.
Freya melepaskan tangan revan dari dagunya lalu memandang ke arah Revan dengan posisi menggenggam tangan suaminya.
“Aku hanya tidak ingin kamu terlalu boros” balas Freya.
“Kalau itu tentang dirimu, maka tidak ada kata boros” sahut Revan tegas.
‘ Kyaa si datar ini ada sisi manisnya juga!’ batin Freya.
“Terserahmu, aku tidak mau berdebat ini sudah malam ayo kita tidur” ajak Freya menutup laptop Revan lalu menggiring Revan ke tempat tidur.
“Ngga mau olahraga dulu?” tanya Revan menaikkan alisnya menggoda.
“Olahraga apa? Lagian ini udah malem kalau olahraga besok aja!” jawab Freya mengernyit dengan cepat.
“Kenapa besok? Timingnya lebih tepat saat malam” balas Revan.
Entah dulu ia tak mengerti mengapa saat berada di dekat freya maka ia akan selalu berbicara panjang, namun sekarang ia tahu alasannya karena Freya ini telah berani mencuri hatinya.
“Mana ada sih olahraga di malam hari? Semua orang ya olahraga di pagi hari!” ujar Freya yang kembali merasa kesal.
“Ada kok yang olahraga di malam hari!” sahut Revan.
“Olahraga apa coba? Lari lari? Angkat barbel?” tanya Freya nyaris memukul Revan karena kesal yang teramat dalam.
“Mau tau olahraga apa? Ayo biar aku tunjukkin aku janji pelan pelan” jawab Revan yang malah membuat Freya semakin bingung bercampur perasaan kesal.
Revan mendorong tubuh Freya pelan lalu...
Yang terjadi maka terjadilah!.
________________________
Sedangkan itu para pengawal sedang berkeliling namun saat berada di depan kamar sang tuan..
“ ahh, shi*! Sempit!”
“pelan pelan ahh hiks”
“Tenang dulu sayang..”
“uhh gimana enak kan?”
“ahh”
Mendadak mereka menghentikan langkahnya dan saling berpandangan seolah bertanya ‘ tuannya belum pernah melakukan itu pada nyonya barunya? Lalu kenapa harus sekarang?’.
“S*alan! Apa tuan lupa jika kamar kapal ini tidak kedap suara?” bisik salah satu nya lalu menarik temannya untuk pergi.
“Entahlah satu yang pasti, n*fs* ku meningkat drastis” balas temannya dengan berbisik juga.
“Tahan dulu, besok kau bisa mencari wanita j*lang manapun tapi jangan sekarang kita harus memastikan keamanan tuan dan nyonya”.
“Yah kau benar”
“Bagaimana bisa tuan kita menjadi seperti ini...”
________________________
“Oh kau anak itu ya?” tanya Leo pada pandu, mereka masih berada di helikopter yah mereka masih belum mendarat.
__ADS_1
“Cih, kau berani mengingatku?” tanya balik pandu, matanya menatap tajam pada leo yang tengah ia tahan.
“Tidak kuduga anak ingusan sepertimu bisa menjadi sebesar ini tapi masih tetap lemah” ejek Leo yang tidak mengaca, bukankah ia sendiri lebih mengenaskan dari pandu?.
“Oh.. kemana si j*lang itu? Sudah mati?” tanya leo retoris seolah olah ia ingin membuat pandu marah lagi.
“Dia ibuku! Jangan berani memanggilnya begitu” jawab pandu semakin menekan tubuh leo ke bawah.
“Bukankah dia memang j*lang? Hahaha dia mau mau saja di gilir” balas leo dengan menyunggingkan senyum mengejek.
“Kau yang mengancamnya, jika ibuku menolak maka kau akan memb*nuh ku! Lihat seberapa besar kekuatan anak ingusan ini sekarang!” sahut pandu tajam.
Ia jelas tak akan melupakan setiap detik dari perjuangannya untuk membalaskan dendam, dari menjadi gelandangan belajar menyerang dari para preman, menggali informan tentang orang-orang yang pernah disakiti oleh leo dan bekerja sama dengan tuannya.
Bahkan pandu masih ingat bagaimana darah pertama nya menetes saat ia sedang ada di pelatihan para preman.
Pertama kali pandu merasakannya memang sakit namun terlalu sering merasakan membuat rasa sakit seperti itu sudah biasa bagi pandu.
“Wah.. tapi aku lihat kau biasa biasa saja” Leo malah semakin mengejek pandu membuat darah pandu semakin mendidih.
“S*al! Kapan kita sampai?” teriak pandu, pandu bukan orang b*doh Leo ingin memprovokasi dirinya agar ia membuat kesalahan.
Menurut Leo dengan membuat pandu marah pandu akan lengah dan membuat penjagaan dirinya semakin longgar.
Itulah sebab kenapa leo sedari tadi selalu mengejek dirinya.
“Kau cukup pintar dalam mengetahui strategi musuh” ujar leo, entah itu bermaksud ejekan atau pujian.
“Benar, itu karena aku sudah berpengalaman dalam mengurus b*jingan kecil seperti dirimu” balas pandu.
“Tapi bukan kau yang mengalahkan ku” Sahut Leo memandang remeh ke arah pandu.
Yah walau pandu, anak ini sudah menggoreskan beberapa luka yang dalam padanya.
“Lalu? Kenapa? Yang penting aku sudah membalas perbuatan mu yang menyiksa dan mengakhiri hidup ibu dan ayahku” ujar pandu yang suara semakin dingin dan datar.
Cukup menyeramkan untuk dilihat apalagi di dengar!.
“Bukankah aku baik pada mereka berdua? Aku membebaskan mereka dari dunia yang fana dan kejam ini” ujar Leo yang terdengar bangga di telinga pandu.
“Siapa yang menyuruhmu membebaskan mereka? Lalu kenapa kau tidak membebaskan dirimu sendiri dari dunia yang berlabel kejam ini?” tanya pandu datar.
“Karena aku masih bermanfaat sedangkan mereka sudah tidak bermanfaat disini” jawab Leo makin menyebalkan di telinga pandu, asisten putera keluarga purnama.
Pandu memilih melempar pandangan dirinya ke helikopter lain dimana nyonya besar dan nona mudanya terlihat berbicara dengan begitu serius.
Entah apa yang dibincangkan oleh mereka namun sedetik kemudian nona muda kinen terlihat tertawa ringan, pandu hanya menyimpulkan jika mereka tengah bercanda tanpa tahu apa yang dibicarakan keduanya.
Seandainya pandu tau ia akan menyampaikan hal itu kepada tuannya.
Walau saat ini sudah malam kenyataannya mereka masih berada di udara belum sampai di tanah.
________________________
Meski sudah lama berada di helikopter kinen dan mommy tetap membicarakan topik yang sama.
“Bagaimana jika cerita cerita kak Freya dan bang Revan akan seperti drama sinetron mom?” tanya kinen malah bertambah khawatir bukan tambah tenang.
“Mommy tidak tahu kin! Mommy mana tau tentang masa depan? Kita hanya bisa berdoa kalau semuanya akan berjalan baik baik saja sekarang maupun di masa depan” jawab mommy berusaha memberi pengertian.
Kinen dari tadi selalu cemas kepada hubungan antara Revan dan Freya di masa depan.
Entah apa yang mendasari pemikiran kinen, mommy hanya bisa mengatakan jika ‘Semuanya mungkin akan baik baik saja’.
________________________
Esok paginya Revan yang terlebih dahulu terbangun, ia dan Freya tertidur pulas setelah selesai dengan urusan mereka.
Yah cukup larut sekitar jam tiga pagi.
Jangan salahkan Revan! Lagipula dia sudah lama tidak menikmati tubuh seorang gadis ah Freya sekarang sudah berlabel wanita, wanitanya Revan.
Namun Revan malah terbangun saat jam lima pagi, sejujurnya Revan memang terbiasa bangun pagi walau kali ini kepalanya berdenyut sakit.
Itu semua karena ia kurang tidur, namun bukannya tidur kembali ia malah bangkit lalu pergi ke kamar mandi yang berada di pojok kamar itu.
Itulah ciri khas seorang revan ia tak akan tidur lagi hanya karena masih mengantuk menurut Revan dia adalah bos dan bos harus bangun pagi agar bawahannya juga mengikuti sikap sang bos.
Baru saja Revan selesai mandi pandangan matanya tertuju pada seseorang wanita yang tetap tertidur pulas, Revan mengerti wanita ini baru pertama kali melakukan urusan persis seperti kemarin malam.
Ia menghampiri Freya lalu membelai wajah yang sekarang adalah miliknya seutuhnya.
Freya menggeliat pelan namun ia tidak terbangun kakinya meringkuk seperti seorang bayi, hingga jejak merah di bawah sana terlihat.
__ADS_1
Gerakan Freya jelas terekam begitu indah Dimata Revan, hingga ia memandangi wajah itu dengan waktu yang lama.
Mungkin dia harus membantu Freya berjalan, bisa ia duga Freya pasti kesusahan berjalan setelah hal kemarin.
Tidak ingin mengganggu tidur orang yang telah melewatkan malam bersamanya ia memilih untuk keluar melihat kinerja para bawahannya.
Kedua pengawal yang ditugaskan untuk berjaga di depan kamar Revan diam diam tersenyum malu-malu ketika mengingat percakapan yang mereka dengar.
Revan yang tak mau ambil pusing memilih untuk menatap tajam keduanya hingga keduanya kembali berwajah tanpa ekspresi.
“Bagaimana?” tanya Revan singkat.
“Kemarin tidak ada serangan susulan, kami sudah memeriksa dan berjaga di seluruh tempat saat ini para pelayan sedang menyiapkan sarapan untuk tuan dan nyonya” jawab orang yang dipilih Revan untuk memimpin kinerja para bawahannya sementara menggantikan pandu.
“Bagus, omelette, salad buah, saribuah dan nasi” ujar Revan tiba tiba.
Karena orang yang di tunjuk cukup peka maka ia langsung berucap “Baik tuan, akan saya sampaikan kepada koki”.
Revan hanya mengangguk singkat lalu memutuskan untuk berkeliling sendirian memastikan apakah laporan yang baru ia dapat tadi benar?.
Namun ketika ia sudah memeriksa semua sudut dan melewati kamarnya..
“ Aduh, kok sakit ya..”
Revan tercengang sendiri, jadi.. kamar yang di tempatinya kemarin tidak kedap suara seperti kamarnya di rumah?.
Ia kembali mengingat perkataan anak buahnya, anak buahnya tadi mengatakan semua sudut, itu berarti salah satu dari mereka pasti ada yang bertugas untuk melewati kamar Revan dan Freya kemarin.
Tanpa berfikir lebih jauh pun Revan sudah tahu siapa yang melewati kamarnya, pasti dua anak buahnya yang tadi cengar cengir tidak jelas.
Revan akan mengurus perhitungannya nanti, bagaimana mereka bisa mendengar suara keluhan manja Freya kemarin? Suara itu hanya boleh di dengar Revan titik tidak pakai koma.
“ Huaaa”
Suara tangisan lirih dari dalam kamar membuat Revan sadar dan langsung membuka pintu dengan sangat kasar.
“Kau baik baik saja? Tidak bisakah kamu memanggilku jika kamu sudah bangun?” tanya Revan dengan sigap menghampiri Freya yang tengah menangis di tengah jalan menuju kamar mandi.
“Hiks, ini sakit! Tapi kamu malah memarahiku!” jawab Freya yang ingin menghapus air matanya secara kasar.
Namun sebelum Freya menghapus kasar air matanya Revan meraih tangan Freya dengan satu tangannya.
“Jangan mengusap nya dengan kasar, nanti matanya akan bertambah merah” balas Revan datar namun tangan satunya menghapus lembut air mata freya.
Satu hal yang Freya yakini, orang di depannya ini tidak pandai membuat aura romantis! Masa ucapannya membuat Freya bisa melayang namun nada datar Revan membuat Freya terjatuh dari khayalan dirinya.
SRET
Revan mengangkat tubuh Freya ala bridal style menuju kamar mandi, yah bukankah ia tadi memang berniat demikian?.
“Kamu bisa mandi sendiri?” tanya Revan sebenarnya Revan tidak menggoda namun ia hanya khawatir lagipula Revan cukup sadar diri Freya kesusahan karena dirinya kemarin.
“Apa maksudmu? Aku bukan wanita manja! Aku bisa sendiri” Freya menjawab dengan mendelik kan matanya pada Revan.
Revan yang memang sedikit peka langsung menepuk jidat Freya menggunakan telapak tangannya dengan lembut.
“Jaga fikiran kotormu, aku hanya khawatir” ujar Revan dingin lalu keluar dari kamar mandi.
“Kalau sudah panggil aku, jangan memaksakan diri untuk berjalan” suara dingin itu terdengar dari luar pintu kamar mandi yang jelas itu suara bariton milik Revan.
“Iya!”
Mau tak mau Freya menjawab dengan berteriak takutnya Revan tidak mendengar balasan darinya.
‘ Ternyata.. Revan perhatian juga ya? aku fikir dia hanyalah kutub Utara yang sama sekali tidak peduli dengan apapun di dunia ini’ batin Freya.
yah harusnya Freya tahu jika yang membuat Revan dingin dan beku seperti itu..
Dibicarakan pun akan menimbulkan luka! lebih baik jika hal ini tidak pernah dibicarakan hingga kapanpun.
“Apa kamu sudah selesai?”
teriakan itu terdengar dari luar saat itulah Freya baru sadar jika ia melamun dalam kurun waktu yang cukup lama.
“Belum!” balas Freya lalu mulai melakukan ritual mandi besarnya.
“Kenapa kamu lama sekali? kau menjahit di dalam?” tanya Revan dingin dari luar.
lihatkan? sifatnya sama sekali tidak berubah! doakan saja jika Freya akan betah dengan sifat Revan ini.
“Ya sabar dong! namanya aku perempuan jadi pasti lama!” jawab Freya menggertakkan giginya kesal.
________________________
__ADS_1