
TUK
Revan mengetuk kening Freya dengan tangan, pelan namun yah agak sakit juga.
Secara kan Revan selalu memegang samurai dan pedang untuk melakukan pertempuran oleh karenanya tangannya sangat kuat dan berotot.
“Aduh!” Freya mengusap keningnya pelan, ia kembali menatap tajam pada Revan yang tetap berada 5 cm di depan wajahnya.
“Apa yang kau pikirkan di otak kecilmu itu?” tanya Revan datar namun bibirnya membentuk smirk tipis.
“Kau fikir aku akan mencium mu?” bisik Revan seduktif di telinga Freya.
Da*n it!.
“S*alan dasar Revan!” umpat Freya tanpa sadar, mata tajamnya pun tetap ia arahkan pada Revan yang sama sekali tidak bergerak.
“Sejak kapan kau belajar mengumpat hm?” Revan membalas dengan membelai pelan wajah Freya.
Seketika Freya merinding, “Heh jangan main sentuh-sentuh!.”
Freya melepas tangan Revan pelan, “Kenapa? Kau masih isteriku yang sah bukan?.”
Skak mat.
Padahal Freya mau bermarah-marah dan ngambek-ngambekan ke orang ini tapi kenapa malah begini jadinya?.
Niat hati, Freya sudah memaafkan Revan demi janinnya dan perasaannya, ia sudah tersiksa selama enam bulan.
Dan tujuannya misi kaburnya tercapai kan? Revan juga sudah meminta maaf padanya dan.. Freya kemarin juga memposisikan dirinya menjadi Revan.
Posisinya sangat menyakitkan.
Namun karena tangan Revan masih membelai wajahnya..
Eh—
Menyadari bahwa posisi di kanan Revan kosong Freya langsung memanfaatkan keadaan ini.
“A—abang?” Freya berpura-pura bahwa abangnya ada di dekatnya sehingga Revan menoleh ke belakang.
Bagaimanapun Revan harus tetap menjaga image di hadapan fern, jika fern melihat posisinya yang terkesan memaksa freya maka pria itu pasti akan menjauhkan dirinya dari Freya lagi.
Saat Revan menoleh Freya langsung merebut ke enam bukunya dan menggeser tubuhnya ke samping.
Jika ia mendorong tubuh Revan yang nyatanya lebih kuat maka tak akan bisa oleh karena itu Freya memutuskan untuk menggeser tubuhnya dan lewat dari celah kecil disana.
Dan..
WUSH
Freya langsung menghilang dengan cepat dengan membawa ke enam buku yang dibelikan Revan untuknya.
Yah rejeki tak boleh di tolak kan!.
Revan pun terpaku ketika melihat Freya sudah menghilang dari hadapannya kemudian pria itu menatap tangan yang tadinya menenteng sebuah plastik berisi enam buku.
__ADS_1
Ia sedari tadi menenteng plastik itu.
Kemudian pria itu tertawa ringan, wanitanya sangat licik saat ini. Bagaimana bisa begini? Fern juga tidak mungkin mengajari Freya tentang hal beginian meskipun wanita itu memintanya bukan?.
Pandu akhirnya menemukan sang tuan, “Tuan anda..?” baru saja pandu ingin bertanya ‘tuan anda kemana saja?’ eh malah ia menemukan Revan yang terkekeh sendiri.
G*la! Satu kata itu terlintas secara spontan di benak pandu.
Sedangkan itu..
Freya yang sudah berlari dan sampai ke parkiran barulah ia melihat Andra yang tengah kebingungan.
“Andra, kau itu kenapa?” Pertanyaan Freya membuat Andra kembali bersemangat, entah kenapa?.
“Nonaa anda dari mana saja? Harusnya saya berada di belakang nona bukan berpencar! Saat saya mencari nona kembali nona malah tidak ada” Omelan Andra kembali menghampiri gendang telinga Freya.
“Hmm, itu.. udahlah! Sekarang ayo pulang aku sudah mendapatkan ke enam buku” sahut Freya masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan Andra yang mengerang frustasi.
Akhirnya Andra pun masuk ke dalam mobil, ia bertanya “Non saya tadi sudah membeli satu buku, bagaimana non?.”
“Yasudah, kau bawa saja baca di mansion mu kalau waktumu senggang” jawab Freya menoleh ke kiri, ia di suguhkan oleh pemandangan hijau rerumputan yang sangat indah.
Andra hanya bisa menghela nafas untuk kesekian kalinya, ia lalu mengangguk padahal ia agak menyukai genre novel ini, tetapi Andra saja tidak pernah membaca novel beginian.
“Baik non, anda sekarang ingin kemana?” tanya Andra sembari menyetir namun ia tidak menoleh pada sang nona.
“Aku mau pulang, aku rindu dengan mama” jawab Freya dengan spontan.
“Baik nona, kita ke mansion.”
Kinen yang sudah di suguhkan dengan lima dokumen yang teramat tebal pun merengut.
Namun meski begitu ia tetap menyelesaikan semuanya, setelah perkenalan di depan seluruh staff ia langsung di dudukkan di kursi CEO.
Candra? Pria itu berada di sekitarnya untuk memastikan bahwa ia tidak mengalami kesulitan.
Walau kinen masih pemula, alias baru belajar bisnis kinen bisa menyelesaikan segalanya, masalah kuliah? Tidak perlu di khawatirkan empat bulan yang lalu kinen sudah resmi lulus!.
“Nona benar tidak kesulitan?” tanya Candra dengan mengerut khawatir.
“Aku tidak apa-apa! Ah ya bukankah umurmu lebih tua dariku?” tanya kinen menatap pada Candra.
“Benar nona, umur saya tujuh tahun lebih tua” jawab Candra heran, mengapa kinen menanyakan ini padanya?.
“Nah, makanya panggil nama saja ya kamu kan lebih tua dariku lagipula mommy dan Daddy juga menganggap mu sebagai anaknya kan?” tanya kinen tersenyum.
Candra termangu sendiri, benar saat itu Joni dan quqi mengangkatnya sebagai anak karena ia tidak memiliki orang tua selain itu Joni dan quqi pun sudah terjerat asmara, mereka berencana menikah dalam dua tahun setelah menemukan dirinya.
“Namun saya tidak bisa, nona itu anak kandung dari mo— ah maksud saya dari mendiang tuan dan nyonya berzeliuz” Candra berusaha membantah.
“Kalau aku yang memintanya bagaimana?” ujar kinen bersikeras.
Saat Candra ingin menolak lagi binar mata kinen membuatnya tak tega untuk membantah kinen.
“Baiklah” balas Candra yang akhirnya menyerah juga.
__ADS_1
Ia jadi teringat pertemuan pertama dengan mom quqinya, quqi juga sama ramahnya dengan kinen. Tak heran mereka anak dan ibu kandung.
“Nah bagus begitu dong, kalau begitu.. aku akan memanggil mu ab— eh tidak! Aku sudah ada Abang Revan, kalau begitu..” kinen pun kebingungan sendiri.
Candra yang melihat pun tertawa melihat tingkah kinen, “Panggil nama saja, lagipula umur kita tidak jauh berbeda kan? (Tidak sampai sepuluh tahun).”
“Ah iya benar juga!.”
“Hahah, eh candra dokumen ini gimana sih? Aku sudah membacanya berulang-ulang tapi tidak mengerti” tanya kinen yang sedari tadi membaca dokumen urutan 1 itu.
Sebenarnya dokumen itu di blinjat oleh kinen sebab gadis itu tak mengerti (terlalu gengsi untuk bertanya), ia pun mengerjakan dokumen yang lain dulu hingga semua dokumen sudah selesai dan tersisa dokumen yang itu saja.
Candra mengambil dokumen itu lalu membacanya, alisnya sedikit mengerut lalu ia menjelaskan segalanya pada kinen, tentang isi dokumen tersebut dan apa yang harus di lakukan kinen.
Di tempat lain...
Delard menatap jengah pada sang tuan yang tengah mengamuk tak jelas di ruangannya.
“Tuan, anda itu kenapa?” tanya delard menatap pada fern yang kini telah menatap dirinya tajam.
“Kau bilang kenapa?! Adikku bersama Revan!” jawab fern seolah-olah Revan itu orang lain.
Delard memutar matanya malas (tanpa diketahui oleh fern tentunya), tak heran dong? Revan kan suaminya si nona muda!.
Heleh, ini memang tuannya yang agak ngeh atau si revannya yang salah ya?.
“Bagaimana kalau...” akhirnya suara Omelan fern lebur di dalam pendengaran delard, hari ini delard harus merelakan telinganya untuk mendengar omongan-omongan tak bermutu dari sang tuan muda.
Di saat yang bersamaan...
“Mama” panggil Freya, bumil itu kini sudah memeluk mama grea erat.
“Sayang, kau ini seperti baru trimester pertama saja! Perutmu sudah sangat besar loh, nanti kalau anakmu kegencet bagaimana?” tanya mama grea mengendurkan pelukan Freya padanya.
“Hehehe maaf ma, Frey hanya rindu pada mama” jawab Freya akhirnya melepaskan pelukannya pada sang mama.
“Rindu untuk mengerjai mama?” balas mama grea yang masih sedikit kesal dengan gurauan Freya tadi pagi.
Dan hanya dibalas cengiran kuda di wajah Freya, tadi pagi ia hanya iseng benar-benar iseng untuk mengerjai mama dan papanya.
“Sudahlah, jangan bertengkar seperti anak kecil” papa Hunter mau tak mau melerai kegaduhan yang akan terjadi di antara Freya dan mama grea.
“Anak kamu tuh pa, iseng banget tadi” adu mama grea menunjuk Freya.
“Sorry ma, Frey cuman iseng kok! Lain kali Frey ngga gitu lagi deh janji!” Freya mengajukan jari kelingkingnya.
Jari kelingking mama grea pun menggamit jari Freya, “Mama ingat janji kamu! Jadi bumil kok ya isengnya kelewatan.”
Mama grea pun cemberut, membuat tawa tercipta di antara Freya dan papa Hunter.
Sedangkan Revan yang sedari tadi melihat dari mobilnya tersenyum tipis lalu menoleh ke arah pandu.
“Ayo kita ke perusahaan.”
_______________________________
__ADS_1