My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.127. Mie ayam, paha, dan Revan {Sepuluh ribu = rp.100,000}


__ADS_3

Setelah lama Revan menunggu bagai jemuran kering...


CEKLEK


Pintu kamar akhirnya dibuka oleh dr juju, di sebelahnya Freya terlihat senang sambil tersenyum dan sesekali berbicara pada dr juju.


“Maaf jika tuan menunggu lama” ujar dr juju meminta maaf, mau bagaimana lagi? Tadinya Revan di ajak sebab pasiennya itu Freya yang notabenenya adalah isterinya sang tuan.


Tetapi semenjak bertemu Freya dan varen tingkat ke-posesifan Revan meningkat! Dr juju yang berjenis kelamin perempuan pun dilarang menyentuh perut sang bumil.


Kalau begini bagaimana caranya dr juju memastikan bahwa keadaan janin yang masih mengontrak di perut Freya itu baik-baik saja?.


Masa langsung berucap tanpa pemeriksaan? Dokter gadungan namanya! Dr juju ini bukan dokter gadungan, jika ia menjadi dr gadungan maka apa gunanya orang tuanya menyekolahkannya di kuliah khusus kedokteran?.


Untuk bermain saja? Ya jelas bukan! Biayanya saja tidak main-main.


“Hm, bagaimana keadaan mereka?” tanya Revan dingin, ia menyingkir dari kamar bukan karena dr juju yang memintanya namun karena Freya sendiri yang mengatakannya.


Ia beralasan bahwa ini keinginan sang bayi padahal ia kasihan pada dr juju, kentara sekali bahwa dokter itu sudah tertekan dengan aura-aura Revan yang posesif.


“Nyonya Freya dan bayinya sehat, namun sepertinya jadwal melahirkan secara normal harus dimajukan” ujar dr juju yang sejak awal sudah di jadwalkan untuk membantu dr Anisa melayani keluarga purnama.


“Kenapa dok?” tanya Freya mengernyit, ia belum tahu tentang ini. Rupa-rupanya dr juju sengaja langsung memberitahunya ke Revan dan Freya secara bersamaan.


“Berat bayinya sudah besar nyonya, kemungkinan anda akan melahirkan saat bulan ke delapan” jawab dr juju (Ini terjadi pada mamak author.)


“Jadi... Tinggal dua bulan lagi dok?” tanya Freya yang merasa merinding, ia akan melahirkan si waktu dekat! Kok agak-agak ngeri gitu, fikir Freya.


“Iya nyonya, kemungkinan seperti itu lebih baik anda bersiap-siap hingga sekarang” jawab dokter Juju tersenyum saat matanya menangkap raut wajah ketakutan dari Freya.


***


Revan dan Freya sekarang sudah berada di mobil kembali, mereka sudah pulang dari apartemen bak mansion milik dokter Juju.


Sejak masuk ke mobil entah kenapa Revan selalu tak tenang, apa akan ada sesuatu yang terjadi? Sebab biasanya feeling-nya itu selalu tepat sasaran.


“Wah Rev! Ada penjual mie ayam!” seru Freya melihat ke trotoar jalanan, seumur-umur ia tak pernah makan makanan yang satu ini.


Ketika ia mengamen jelas tidak pernah, lalu ketika menjadi nyonya purnama dan nona Arron juga tak pernah sebab makanan yang ia makan jelas sangat mahal sementara mie ayam itu murah sehingga keluarga Arron tak berfikir jika Freya membutuhkannya.


Freya pun agak sungkan meminta ke mama papanya, nah kebetulan nih ia sedang bersama Revan bukan?.


“Hm, lalu? Kamu mau?” tanya Revan yang bisa berfikir jernih, ia pun menepikan mobilnya saat Freya menganggukkan kepalanya singkat.


Namun saat Revan mau keluar mobil tangan Freya mencegahnya, Revan pun menoleh pada isterinya itu.


“Ada apa?” tanya Revan dengan sedikit mengernyit.


“Emm buat lauknya harus ayam yang paha kanan bukan kiri!, Aku ngga mau kalau pake paha kiri” jawab Freya tersenyum.


“Tunggu, apa bedanya? Kan sama saja?” Revan pun mendengus dingin mendengar permintaan aneh isterinya.


Darimana ia tahu kalau itu paha kanan bukan kiri? Sedangkan Revan juga pasti tahu bahwa si penjual tidak akan mengingat bagian mana yang paha kanan.


“Ih udah cepet! Jangan banyak tanya!” Freya membalas sambil mendorong Revan agar cepat keluar.


Revan akhirnya menuju ke bapak-bapak penjual si mie ayam tadi.


“Mas e pesan nopo?” tanya bapak itu, [Masnya pesan apa?], Buat yang ngga ngerti bahasa Jawa author taruh b indonya di dalam kurung ya 😉.

__ADS_1


“Mie ayam satu, tapi ayamnya pakai paha kanan” mendengar jawaban Revan si penjual pun mengernyit heran.


“Mas e yok nopo toh? Moso isok aku niteni?” [Masnya gimana sih? Mana bisa aku mengingatnya?] Si bapak penjual terlihat protes dengan adat jawanya. Revan pun memijat kepalanya pusing tuh kan benar apa yang ia duga?.


“Terserah! Pokoknya pakai ayam bagian paha” balas Revan dingin, ia diam-diam mendengus kesal.


Si bapak penjual itu mengamati ekspresi kesal Revan ia pun melihat ke mobil yang di kendarai oleh Revan, “Oalah. Gawe bini e toh, bini e ngidam nggeh mas? Nggeh pun Kulo gawekaken disek” [Owalah, untuk isterinya ternyata, isterinya ngidam ya mas? Yasudah tak buatkan dulu].


Revan hanya mengangguk pasrah, agak tak mengerti bahasa Jawa membuatnya merana, ia seketika ingin kabur ketika berbicara dengan penjual itu.


Revan mengerti bahasa negara luar sebab ia akan selalu melakukan penerbangan tetapi ia tak begitu mengerti (bukan berarti sama sekali tidak tahu) tentang bahasa Jawa.


Ia pun jadi pusing tujuh keliling, benarkan feeling-nya tadi? Ck Revan hanya bisa berdecak di dalam hatinya.


Setelahnya ia pun menerima bungkus mie ayam yang disodorkan padanya, “Niki mas e pun dadi. Regane sedoso nggeh.”


[Ini mas sudah jadi. Harganya sepuluh ribu.]


Revan yang tidak mengerti pun membayar dengan selembar uang berwarna merah, yup benar! Rp.100,000.


“Loh mas e Niki sek akeh susuk e” Revan makin tak mengerti ketika mendengar kata ‘susuk’ sejak kapan dirinya memakai susuk?.


Padahal aslinya bapak itu berucap [Loh mas ini masih banyak kembaliannya.]


Tak mau ambil pusing Revan langsung pergi dan masuk ke mobilnya membawa mobilnya menjauh dari sana.


Sungguh! Revan sudah tak kuat.


“Loh loh mas e! Nggeh pun matur nuwun” di belakangnya bapak penjual itu berteriak.


‘Bukannya matur nuwun itu terima kasih ya? Dia tadi mengira aku memakai susuk kan? Tapi kenapa ia langsung berterima kasih?’ batin Revan mulai bertanya-tanya.


“Tidak tahu, tadi dia juga menuduhku memakai susuk padahal aku ini pria” cibir Revan dengan datar.


“Susuk?” ulang Freya dengan mengernyit, ia merasa.. janggal?.


“Coba bilang bagaimana kata-katanya tadi?” Freya terus bertanya.


Revan yang fokus menyetir pun tanpa menoleh menjawab, “Dia bilang ‘loh mas e Niki sek akeh susuk e’ yah kira-kira begitu.”


Freya pun tersenyum agak masam, “Kamu tidak mengerti bahasa Jawa ya? Dia itu bicara kalau kembalianmu masih banyak! Susuk dalam bahasa Jawa jika digunakan di dalam perdagangan itu kembalian.”


Revan hanya mengedikkan bahunya, saat di belajari bahasa Jawa dulu ia tak pernah memperhatikannya, ia lebih fokus ke mata pelajaran seperti.. matematika, ipa, ips, juga bahasa luar termasuk bahasa Inggris, Italia, jepang, Korea dan masih banyak lagi.


“Huh, memangnya berapa harga mie ini? Dan.. berapa uang yang kau keluarkan?” Freya pun membuka bungkus mienya.


“Kata bapak itu tadi sedoso tapi aku tidak mengerti, jadi aku memberinya selembar uang 100 ribu” Revan menyahut tanpa memperhatikan ekspresi Freya yang berubah menjadi horor.


Seratus ribu?! Seratus ribu hanya untuk mie ayam?.


“Duh, sedoso itu sepuluh Rev! Dasar mentang-mentang kaya jadi boros” ujar Freya membuang nafasnya kasar mencari kesabaran.


“Aku tidak menyebutnya boros jika itu untukmu, bukankah aku sudah pernah bilang begitu padamu?, Aku memang tidak tahu tetapi kalau kelebihan ya sudah biarkan hitung-hitung berbagi” balas Revan.


^^^(Kalau ngga salah Revan bilang begitu saat mereka turun dari alat transportasi laut serah melawan Leo dan bertempur dengan Freya di malam hari.)^^^


Lagipula untuk apa tumpukan uang miliknya itu jika tidak di belanjakan? Dibiarkan menjamur di brankasnya? Penghasilannya itu banyak! Kira-kira rp.1,000,000,000 per-hari.


Uang itu asalnya dari keuntungan saat bekerja sama dengan para koleganya, jadi ia tak akan takut miskin.

__ADS_1


“Huft, ya sudahlah lagian bapak tadi kelihatan sangat bahagia padahal jika dipandang dari sudut pandang mu dan aku yang sekarang sudah menjadi nyonya, maka uang itu hanya secuil” mendengar sahutan Freya yang tiba-tiba sendu Revan pun menggamit tangan wanitanya itu.


Memberi Freya kekuatan untuk melupakan masa lalunya, namun yah Revan sendiri tahu melupakan itu bukanlah sesuatu yang mudah.


***


Dr Anisa dan pandu sama-sama menggerutu di dalam hati ketika mereka sudah sampai di suatu bangunan.


“Ma, mama yakin mau meninggalkan aku disini dengan orang yang agak ngeh ini?” tanya dr Anisa yang entah itu pertanyaan ke berapa sebab dr Anisa sedari tadi terus mengulang pertanyaannya.


“Aduh sayang, udah berapa kali sih mama sama papa bilang? Kamu itu harus sama suami kamu!, Mama sama papa juga pasti sering kesini. Iya kan jeng?” mama Dewi melirik ke mom tari yang juga di sekitarnya.


“Iya menantu, anggap aku seperti ibu mertuamu atau bahkan mommy mu sendiri ya, jangan sungkan jika mau meminta bantuan atau jika ada yang kamu inginkan” balas mom tari membuat dr Anisa dan pandu terserentak.


‘Satu-satunya yang ku inginkan hanyalah perceraian!’ batin pandu dan dr Anisa bersamaan.


Sama-sama menginginkan perceraian, yah pasangan suami isteri yang edan!.


“Sudah ya, kami pergi dulu. Pandu kamu jaga anisa! Babay” ujar mommy tari dan mama Dewi.


Papa lyan hanya mengangguk pertanda bahwa ia menyampaikan hal yang sama lewat isyarat saja.


Mau tak mau pandu akhirnya mengangguk mengerti, benar sekali! Sekarang dr Anisa dan pandu harus tinggal seatap!.


Dan parahnya itu bukan di mansion purnama yang masih terdapat mommy, kinen dan Revan tidak juga mansion anfadil yang masih ada papa lyan dan mama Dewi.


Kini dr Anisa harus rela tinggal di apartemen sementara pandu, sebab pandu dan keluarga yang lain kan orang asli negara I nah disanalah tempat mansion pribadi pandu berdiri.


Ah ya, jangan lupa pandu dan dr Anisa harus tetap tinggal bersama di negara I dan di negara manapun.


“Kita sama-sama tidak menginginkan ini, kita hanya menuruti permintaan orang yang kita sayangi. Jadi bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?” tanya dr Anisa menawar.


Pandu pun melirik singkat, “Kesepakatan apa yang kau tawarkan?.”


“Jangan menyentuhku! Dan yah ku harap kau tidak lupa pada janji kita sebelum memulai akad nikah” sahut dr anisa memandang tajam pada pandu.


“Tentu saja, aku ingat.. pernikahan ini hanya sampai tiga bulan, anggap saja ini pernikahan kontrak dan setelah tiga bulan kontraknya habis!” balas pandu balik menatap tajam pada dr Anisa.


“Kita juga harus pisah ranjang!” putus dr Anisa lalu melangkah ke dalam meninggalkan pandu yang notabenenya adalah pemilik apartemen itu.


_______________________________


Cihuy, halo readers! Ekhem lagi-lagi author butuh saran nihh enaknya ceritanya pandu dibuat disini buat selang-seling (bergantian) sama Freya plus Revan tapi pemeran utamanya tetap freya-revan, atau dibuat kan novel sendiri? Kalau dibuat novel sendiri maka ya nunggu ni novel tamat.


Author sadar, author ngga bisa menjalankan tiga novel on going sekaligus, cukup dua novel on going.


Author usahakan kalau memang ceritanya pandu and dr Anisa beda novel sebelum terbit di platform author bakal sertakan sedikit disini.


Nah ceritanya buat dr Anisa sama pandu nih, author usahain biar ngga nyangkut sama Mak pela*or and bapak pe**nor.


Yah sekedar pernikahan kontrak, benci, and.. kecemburuan yang pastinya hanya khayalan para pasangannya saja.


Beneran nih, ciusan author benar-benar butuh saran, tuliskan saran kalian di kolom komentar ya kakak-kakak yang cantik 😉.


Author selalu bersyukur masih ada readers yang selalu setia memberi dukungan pada author. Author ucapkan terima kasih banyak terutama buat kakak-kakak yang udah memberi saran ke author , author ucapin makasih banyak 🤗 author tidak akan pernah bosan mengucapkan terima kasih pada kalian semua-!.


Ah, seperti biasanya, jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.


-Nadira

__ADS_1


__ADS_2