My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.137. Video call


__ADS_3

Di esok harinya Freya sibuk melakukan video call dengan para guru yang memiliki jadwal untuk mengajarnya.


“Jadi rumus ppxc adalah...” Freya terus mendengarkan perkataan dosennya sambil mencatat di bukunya, Freya si bumil itu terlihat sangat fokus dalam mencatat dan memperhatikan dosen-dosen yang sedang mengajarinya lewat layar hanpon, yah meskipun daring namun wanita itu masih semangat untuk sekolahnya.


terkadang saat Freya tak mengerti tentang sesuatu tentang materi yang di pelajarinya maka ia akan langsung bertanya pada dosen pembimbingnya.


Sedangkan Revan? Pria itu mengawasi Freya dari sofa sebab ia yang menyuruh agar Freya melakukan vidcall di ranjang.


Ia jelas tak ingin Freya kelelahan.


‘Aku jadi tidak sabar menunggu twinsku lahir’ batin Revan yang mengingat momentnya dengan adinda di sela-sela saat ia mengawasi Freya yang kini sedang pembelajaran dari rumah alias daring.


“Siap Bu! Saya akan mengumpulkannya di what's app japri nanti” mendengar perkataan ini Revan kembali fokus ke Freya, wanitanya itu terlihat sangat lelah namun ia masih bahagia.


“Sudah selesai?” tanya Revan datar, pria itu mendekat ke arah Freya dan mengelus perut Freya pelan. ia berharap bahwa twins yang masih mengontrak di perut isterinya itu membalasnya.


DUG


Seperti biasanya anak twinsnya ini masih aktif, Revan mengganggu mereka sebentar lalu ia mengelus perut Freya dengan lebih lembut sebab wanitanya itu sudah mengerut kesakitan.


“Aku tidak sabar melihat anak kita nanti!” meskipun takut Freya tentu masih antusias untuk menyambut anak twinsnya.


Tinggal sebulan lagi, tinggal sebulan lagi! Itu selalu tercantum di otak Freya.


“Aku juga” balas Revan singkat, pria itu menatap wajah bahagia freya.


“Kamu sudah menyiapkan alat bayinya?” Freya berharap bahwa ia dapat keluar membeli peralatan si bayi.


“Sudah, peralatanmu saat operasi juga sudah” jawab Revan tersenyum tipis. Ia tahu bahwa Freya bosan dan ingin keluar, namun sayangnya ia tak bisa melakukan itu.


Ini demi keamanan twins dan Freya sendiri.


“Huh benarkah?” tanya Freya penasaran.


“Iya, bahkan kamar para twins juga sudah siap” balas Revan dingin.


“Loh! Mana bisa twins langsung tinggal sendiri?” Freya terlihat protes pada Revan, yang dibalas kerutan oleh pria itu.

__ADS_1


“Aku membelikannya tempat tidur Frey! Tempat tidur goyang” Revan yang tak tahu namanya pun menjelaskan ciri-cirinya.


“Ahh yang itu, ku fikir kamu akan memisahkan mereka dariku” balas Freya agak konyol.


Bagaimanapun Revan pernah menjadi seorang Daddy, jelas ia tahu apa saja yang diperlukan oleh seorang anak.


“Untuk kamar.. aku sudah menyiapkannya di mansion negara I” sahut Revan mengelus kepala Freya.


“Kalau begitu.. bagaimana dengan nama mereka?” tanya Freya lagi, maklum ini pengalaman pertama Freya dan ia jelas sangat bersemangat untuk menunggu twins ini lahir.


“Aku akan memberi nama yang—” Revan ingin berucap namun Freya sudah memotong perkataannya terlebih dahulu.


“Yang laki-laki! Kamu memberi nama yang laki-laki, aku akan memberi nama yang perempuan” potong Freya.


“Baiklah, tapi jangan terlalu kecewa jika anak kita perempuan semua atau laki-laki semua” ujar Revan.


“Tentu saja, kamu juga begitu!” balas Freya tersenyum lebar.


“Tentu, aku tidak memandang jenis kelamin mereka yang penting mereka sehat sudah itu saja” sahut Revan.


Revan hanya terkekeh ketika ia memahami bahwa Freya sangat antusias dengan twins mereka.


“Hmm, Carpicorn? Atau Lucifer? Atau gabungan dari keduanya saja?” tanya Revan meminta pendapat sang isteri.


“Heh! Kamu mau namain anak kita seserem itu? Carpicorn kan kalajengking? Lucifer tambah menyeramkan lagi!” omel Freya menatap tajam sang suami.


“No problem? Perusahaanku sendiri memerlukan pewaris yang dapat disegani mau itu dari segi nama atau kemampuan apalagi kalau dia laki-laki” balas Revan.


“Tapi kan ngga harus Carpicorn Ama Lucifer?” sahut freya.


“Yasudah, anggap saja bahwa Carpicorn itu zodiaknya kau tahu kan? Kamu akan melahirkan tepat di zodiak Capricorn. Carpicorn Lucifer purnama” balas Revan dingin.


“Huh oke! Kalau begitu yang perempuan... Lucky.. hmm lucky melyncya purnama? Lucky kan keberuntungan!” ujar Freya.


Revan hanya menganggukkan kepalanya, ia dengan cepat mengelus lembut kepala Freya.


“Ekhem!” fern berdehem dari depan kamar freya, sedari tadi ia melihat percakapan dua sejoli ini. Mendadak fern jadi ingin memiliki pendamping namun apa daya? Ia tak memiliki calon dan tak mungkin baginya untuk menikah tanpa melihat sikap dan sifat calon isterinya.

__ADS_1


lalu... isterinya harus perhatian dan sayang pada Freya, adakah yang seperti itu?.


“Eh Abang disini? Sejak kapan bang?” tanya Freya mencengir kuda melihat wajah abangnya yang agak kesal.


“Sejak kamu bilang ‘Baik, jadi.. apa namamu untuk bayi laki-laki kita?’ saat itu Abang udah ngelirik udah ngetik pintu kalian ngga denger sama sekali!” jawab fern memendam kekesalannya.


Sebab sebenarnya Revan jelas sadar bahwa ia ada disana, namun pria itu masih berpura-pura tidak melihatnya.


Huh, gara-gara terkena virus cinta ini mah!.


Ck, inikah peribahasa yang berucap ‘cinta merubah segalanya namun cinta juga membuat kita buta?’.


“Kok Frey ngga kedengeran ya bang?” tanya Freya heran, bumil itu benar-benar tak dengar bahwa si Abang mengetuk pintu.


“Terserah kamu mah dek, Abang ngalah aja” akhirnya fern menyerah. Pria itu tak ingin berdebat dengan adik kecilnya.


Adik kesayangannya.


“Hehehe” Freya hanya menunjukkan cengiran kuda ala-ala bumil.


Fern pun menahan diri untuk tidak memutar bola matanya 360 derajat.


***


“Kenapa Abang kesana?” tanya Revan ketika ia sudah bersama fern seorang, panggilan Revan pada fern kadang memang berubah-ubah yah tergantung moodnya.


“Ck, tadi mereka ada disini! Aku sudah dapat alamat pastinya kita nanti malam kesana, aku takut mereka akan segera melancarkan aksi untuk melukai Freya. Adik kecilku harus bahagia dan tentunya.. ia harus baik-baik saja” fern berucap, nyaris seperti sumpah.


“Kau masih ingat perkataanku kan? Aku tak ingin mengambil resiko kalau mengatakan tempat itu dengan jelas” sambung fern melirik ke belakang tempat dimana Revan berdiri.


“Tentu saja, aku sangat-sangat ingat” balas Revan sama datarnya dengan suara fern.


“Hm, kita masuk saja mereka sepertinya sudah pergi” ujar fern datar, akhirnya Revan dan fern kembali ke lingkungan rumah.


Betapa terperangahnya kedua lelaki tersebut ketika melihat sesuatu yang menggemparkan.


_________________________________

__ADS_1


__ADS_2