
"Sshhtt kenapa tembakannya terasa sakit" ujar Revan percayalah ini pertama kalinya ia terkena tembakan di bagian vitalnya ! Tentu saja rasanya sakit !.
"Tuan.." panggil pandu yang dibalut perban , mereka menang tapi mereka memang terluka tapi tidak begitu parah bersyukurlah untuk hal ini !.
"Hm?" Ujar Revan yang malas menjawab pandu entah mengapa moodnya belakangan ini naik turun bahkan ia sekarang sudah 'agak' tidak berselera ketika membunuh !.
Setiap ia memejamkan juga melebarkan mata yang setiap kali ia ingat hanya wajah gadis bodoh itu..
Lebih dari segalanya ! Ini mungkin sedikit gila ! Tapi... Mungkin ia merindukan gadis itu..
Baru saja ia berfikir seperti itu dering ponselnya membuat ia menoleh tertera tulisan 'my wife' kemarin Revan mengubah nama kontak dari 'gadis bodoh' menjadi 'my wife' , jika Revan ditanya kenapa menyimpan nomor Freya dengan nama itu maka ia akan menjawab 'ntahlah ?'.
Benar benar omong kosong !
Bahkan nomor pandu saja tidak ia simpan , bagaimana gadis ini malah membuatnya tak segan menyimpan nomornya ?.
Setelah itu ia mengangkat teleponnya tanpa mengabaikan tatapan horor dari pandu , bagaimana mungkin nomor nyonya nya itu di save sedangkan ia tidak ?.
"Halo ?"
"Hm ?" Revan hanya menjawab dengan deheman walau ia merasa 'SEDIKIT' rindu dengan gadis yang menelefon nya ini.
"Aku... Aku hanya mau bilang ada yang aneh dengan kinen... Kenapa ia seperti memasang senyum yang... Palsu ?"
"Maksudmu ?"
"Apa kau masih tidak mengerti ? Senyumannya nampak sedikit.. terpaksa ? Apa ada sesuatu di kuliahnya ?"
"Aku akan menyelidikinya"
"Baguslah , umm apa kau sudah makan Revan ?"
' apa dia mengkhawatirkan ku ?' batin Revan.
"Aku belum makan"
"Oh begitu ya , baiklah aku tutup telfonnya dulu"
__ADS_1
Tut
' **** ! Sepertinya aku terlalu berharap ! Ck ! Sejak kapan aku berharap ? , Aku bahkan tidak pernah diputuskan telefonnya seperti ini !' batin Revan.
" Tuan ... Bagaimana mungkin anda menyimpan nomor nyonya sedangkan nomor saya saja tidak anda simpan ?" Tanya pandu yang sebenarnya keceplosan.
' duh mati kau pann ! Sempat sempatnya keceplosan !' batin pandu berteriak merutuki kebodohan dirinya.
" Bukan urusanmu" jawab revan begitu saja lantas memejamkan matanya tanpa mengabaikan tatapan pandu yang seperti melihat hantu.
"Ada apa dengan matamu ? Mau ku congkel ?!" Bentak Revan masih dalam mata terpejam .
mau bagaimanapun Revan adalah tipe orang yang bisa merasakan keadaan di sekitarnya meski ia sedang terpejam , mau percaya atau tidak revan bahkan hampir tidak pernah tidur...
Siapa yang bisa tidur disaat jiwanya sedang tidak tenang ? Dendam atas kematian anak semata wayangnya itu masih belum terbalas ditambah dirinya yang 'galau' karena Freya.
Ini gila ! Tapi hanya karena ia jauh dari Freya jiwanya serasa tidak tenang , benar benar gila !.
Sepertinya mafia ini sedang dilanda rasa 'rindu' yang mendalam sama seperti ketika kalian mencampurkan air dan cabai juga garam , rasanya sama sekali tidak jelas !.
Ah apa pandu benar benar punya dua kepribadian ?.
"Keluar" hanya itu kata yang dikeluarkan oleh Revan , sepertinya ia ingin sendirian sekarang.
"Baik tuan" jawab pandu lalu sesegera mungkin keluar dari ruangan tuannya itu.
"Hah mustahil .... Bagaimana gadis bodoh itu bisa membuatku..." Ucap Revan yang memang sengaja ia gantungkan.
Berharap lebih padanya ?
"Ck ! Merepotkan" ujar Revan dengan gampangnya.
Sementara itu di dimensi lain..
"Dih dasar Daddy tidak mau mengakui kalau Daddy udah mulai tertarik pada mommy ! Benar benar gengsian !" Oceh adinda dengan greget.
Siapa orang yang tidak greget jika orang terdekatnya bersikap seperti Revan tadi ? Benar benar mengesalkan bukan ?.
__ADS_1
"Huh... Sebentar lagi aku akan di jemput untuk ke alam itu... Tapi..." Ujar Dinda murung.
'Aku belum melihat mommy bahagia dengan Daddy..' batin Dinda meneruskan ucapannya.
"Huft ! Oh coming Dadd! Mana ada orang yang udah berdebar kayak Daddy tapi tidak sadar kalau dirinya tertarik pada seorang wanita ?" Ucap dinda frustasi.
Apa yang harus ia lakukan ? Mommy freyanya memang bukan wanita jahat ! Tapi darah yang mengalir di tubuhnya...
"..." Seketika Dinda terdiam ketika memikirkan itu darah yang mengalir di mommynya itu darah yang...
"Huft ! Tapi mommy tidak seperti itu ! Ku harap Daddy tidak salah anggap hanya karena ini ! Mommy Freya berbeda dari-nya!" Bantah adinda keras pada pemikirannya itu.
"Namun... Sekarang aku hanya tinggal melihat ya ?" Ucap dinda .
' tapi ... Paman yang tadi itu... Apa punya hubungan dengan mommy ya ? Tapi kan dia ... Musuhnya ...' batin Dinda bertanya tanya .
Apa dia harus menyelidiki tentang ini ? Ah tidak ada buruknya !
"Aku akan menyelidiki nya !" Putus Dinda dengan semangat.
"Tapi... Sebelum itu.. EKHEM ELECTRO !!" Panggil Dinda dengan keras tanpa tahu kalau yang ia panggil sebenarnya sudah ada di belakangnya sejak tadi.
Ya electro teman hantu adinda , pertama kali ketika adinda sampai di alam lain electro adalah orang pertama yang ia kenal, electro hantu laki laki yang hampir seusia dengan adinda , kira kira usia electro lebih tua 2 tahun dari adinda.
Saat adinda meminta untuk lebih lama di alam manusia electro tanpa 'sengaja' tidak menyadari bahwa ia sudah dijemput hingga akhirnya ia memilih bersama adinda ! Itulah menurut adinda , walau sebenarnya electro sengaja melakukan itu agar ia bisa bersama dengan adinda.
Ia selalu mengikuti adinda.. karena ia khawatir pada temannya itu.
Ah entahlah apa lebih dari teman iya ?
________________________
Yuhuu hello readers ! Kita bertemu lagi ! , Menurut kalian bagaimana kalau yang terjadi memang demikian ?
Baik sampai bertemu lagi saat chapter selanjutnya !.
- Nadira
__ADS_1