My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.144. Ketika pandu berjanji


__ADS_3

Revan hanya menatap dalam ke arah wanitanya yang sedang tertidur di pelukannya.


Lelah? Jelas! Namun nyatanya itu tidak membuat Revan tidur, sepertinya ia memiliki sebuah kekhawatiran yang teramat besar.


Apa itu? Yah.. tidak ada yang mengetahuinya bahkan fern dan freya sekalipun untuk saat ini.


Akan tetapi, ini berhubungan dengan trimester akhir isterinya, ia harus memastikan bahwa musuh-musuhnya tidak mengetahui tentang keberadaan anak kembarnya, setidaknya sampai keduanya tumbuh dewasa dan bisa melindungi diri sendiri.


Tapi pertanyaannya, bahaya selalu mengintai dirinya! Bahkan tidak pernah ada waktu seharipun Revan untuk tidak dimata-matai oleh para musuhnya, saat ini saja ia tau bahwa ada yang mengikutinya, namun tadi ia berhasil menipunya. lantas bagaimana ia bisa membuat para musuh itu berhenti?.


Melenyapkan mereka?.


Freya tidak mau ia memb*nuh lagi setelah kejadian dengan keluarga Graham saat itu, dan tentunya ia menuruti keinginan Freya, bagaimanapun kebahagiaan Freya itu prioritas dirinya.


Ck.


Huh, haruskah ia melanggar janji itu pada wanitanya? Ini bukan seperti Revan memiliki belas kasihan pada orang lain apalagi musuhnya sendiri namun.. ia hanya takut bahwa jika ia ingkar dan Freya tahu..


Wanita itu akan meninggalkannya lagi.


“Engh” mata tajam Revan kembali menelisik ke raut wajah Freya, wanitanya hanya menggeliat sedikit lalu tidur kembali.


Sungguh benar-benar jelmaan beruang yang sedang ber- hibernasi.


Setiap saat, setiap detik Revan hanya memikirkan Freya. Takut jika langkahnya membuat hati mungil wanitanya tergores.


***


“Kamu itu ya pan! Katamu bisa masak tadi, tau gini aku aja yang masak” drama perdebatan khas dua pasangan ini kembali terdengar di suatu apartemen.


“Kau lupa by? Aku kan bilang ‘mencoba memasak’!” balas pandu tak mau kalah dari dr Anisa.

__ADS_1


“Kamu bilang ‘mencoba’ bukan ‘berlatih’ aku fikir kamu mau mencoba memasak di status barumu” dr Anisa mengurut pelipisnya pusing ketika aroma gosong, memenuhi indera penciumannya.


“Lupakan! Tunggu disini, aku akan memasak” dr Anisa memutuskan untuk mengakhiri perdebatannya dengan pandu.


“Kau yakin bisa memasak? Secara kau itu anak keluarga kaya” pandu terlihat ragu pada sang isteri yang mana malah membuat dr Anisa geram.


“Mau menantang ku? Ayo! Bagaimana kalau kita taruhan? Jika aku menang maka kita harus ke mansion arron, membiarkan kau menuruti ngidamnya nyonya muda!” dr Anisa berbalik dan menantang si suami.


“Baik! Tapi kalau aku yang menang, maka kau pasti tahu apa yang akan aku minta baby” dr Anisa berpegang teguh disini.


Awas saja, ia tak akan kalah! Dua kali saja rasanya udah mau patah, sudah dipastikan bahwa ni suaminya ingin sesuatu di malam nanti.


‘Aku harus bisa menghindar dari singa kelaparan ini! Bukannya aku tidak mau melaksanakan kewajibanku, tapi aku sungguh sudah lelah’ batin dr anisa membalas tatapan menantang pandu.


“Oke! Tunggu saja aku yang akan menang” setelahnya dr Anisa memasuki area dapur.


Perdebatan kali ini membuahkan sebuah kesepakatan, huh.. agak g*la memang.


Kalau tidak aneh, bukan Freya namanya.


‘Aku benar-benar berharap bahwa dia tidak bisa memasak’ batin pandu berharap, namun harapannya seketika pupus ketika ia mencium aroma makanan yang amat enak.


‘Tamat riwayatku’ sambung pandu lagi di dalam batinannya.


Sedangkan itu..


“Huh, membuat ku muak saja!” kinen terlihat marah-marah di mobilnya, bukannya perusahaan tadi yang mengajukan proposal kerja sama dengannya? Lalu mengapa perusahaan itu berlagak sombong?.


“Tenanglah, dia pasti akan mendapat balasan yang setimpal” kinen hanya mengerutkan keningnya ketika mendengar balasan Candra.


Balasan? Apa maksudnya? Siapa yang membalas?.

__ADS_1


Namun pada akhirnya kinen tidak bertanya pada Candra, “Candra.. aku mau ke mansion Arron, berkas-berkas yang belum aku kerjakan kirim saja ke mansion purnama.”


Candra mengangguk mengerti mendengar perintah kinen, ia tau bahwa kinen merindukan kakak ipar ajaibnya itu.


“Terkadang aku bingung, bagaimana Abang bisa bertahan di dunia politik yang penuh kesengsaraan ini?” Candra hanya diam mendengar keluhan kinen.


Candra akui, dunia politik memang mengerikan dan.. sulit.


Sesekali kinen juga memijat pelipis matanya pertanda bahwa ia pusing, terlebih ia bahkan kurang tidur tadi malam, ah sudahlah! Jika dibicarakan hanya membuat kinen marah lagi.


Akhirnya kinen diam dan memandang ke luar, dimana mobil-mobil berlalu lalang, tapi pandangan kinen terfokuskan pada seorang gadis yang tengah digandeng oleh mama papanya.


Seketika, ia merindukan mommy dan daddynya. Mengapa takdir begitu kejam? Padahal Kinen tidak pernah dendam ataupun berbuat jahat pada siapapun.


Apakah ini cara dunia membuatnya kuat? Apa tidak ada cara lain selain cara menyakitkan seperti ini? Ini memang membuatnya kuat tapi..


SRET


Kinen mengusap kasar setitik air mata yang menetes di pipinya, padahal gadis dan kedua orang tuanya itu sudah tidak dalam pandangan kinen namun rasa sakit tetap bertahan di hatinya.


Candra yang memang memiliki tingkat kepekaan tinggi langsung menepikan mobil di danau sekitar.


“Hey! Mengapa kau menghentikan mobil ini disini?” ujar kinen pada Candra yang kini membukakan pintu untuk dirinya.


“Bukankah kamu harus menenangkan dan menghibur dirimu dahulu sebelum bertemu nyonya cantik kemarin?.”


Kinen hanya menatap Candra sendu, “Kau tidak boleh menyukainya dia itu kakak iparku! Alias wanita milik abangku!.”


Candra hanya terkekeh pada kinen,“Aku tahu lagipula manusia di depanku ini cantik lantas kenapa aku harus mencari kecantikan lain?.”


_________________________________

__ADS_1


__ADS_2