
Keesokan harinya...
Ayura terbangun dan melirik ke jam Beker di sampingnya, ia menyetelnya pada saat jam tiga pagi. Namun kenapa si jamnya belum berbunyi?.
“Oh astaga, masih pukul 02.45 ternyata, pantas jamnya belum berbunyi” dengan santainya ayura bergumam.
Ia sudah terbiasa bangun pagi, memasak untuk duo A lalu pergi bekerja. Hmm, apa ayura masih bekerja saat ini?.
Mengingat posisi kedudukan suaminya di dunia pernovelan ini, akankah ayura masih bisa bekerja?.
Mengabaikan semua pertanyaan yang berada di kepalanya, ayura langsung bangkit dan melangkah keluar kamar.
TAK TAK TAK
Ini masih dini hari, oleh sebab itu suasana mansion masih sangat sepi. Ayura memberi senyum pada beberapa pelayan/art yang sudah bangun.
“Selamat pagi nyonya muda.”
Ayura sedikit meringis ketika mendengar ucapan tersebut, nyonya muda.. sungguh di luar dugaan, ia bisa menjadi nyonya muda saat ini.
“Pagi juga, semangat ya!.”
“Terima kasih nyonya.”
Wajah tenang para pelayan/art itu berubah ketika ayura mulai memasuki area dapur, sejenak mereka berpandangan dengan bingung.
“Hey, jangan bilang bahwa nyonya muda ini sama seperti nyonya besar? Kita bisa dimarahi tuan muda nantinya” bisik salah satu pelayan.
“Entahlah, ayo kita lihat. Ini sungguh sangat penting bagi kelangsungan hidup kita!.”
Kedua pelayan itu langsung membuntuti ayura yang sudah memakai celemek dan mencari bahan-bahan yang akan ia gunakan.
“Nyonya, anda akan memasak?” tanya salah satu pelayan itu dengan was-was.
Ayura pun menoleh dan menampilkan wajah bingungnya, “Memangnya kenapa? Apa ini terlalu pagi untuk memasak? Tidak masalah kan, kita bisa menghangatkannya.”
Bak disambar petir di siang bolong, mungkin itu ungkapan yang tepat untuk para pelayan tersebut.
“Jangan nya! Jangan masak, nanti nyonya bisa terluka” pelayan itu masih saja ingin menghentikan ayura untuk memegang peralatan dapur.
“Kenapa sih? Terluka mungkin juga sembuh dalam beberapa jam. Sudah kalian kerjain aja tugas kalian tadi, biar aku yang masak” ayura tetap keukeh untuk memasak.
Ia rasa, harusnya kemarin ia juga yang memasak sebab ini merupakan tugas seorang menantu kan?.
“Malah tuh ya, harusnya aku juga yang membersihkan mansion.. kalian pasti capek” ujar ayura menerangkan.
“Tapi kami tidak capek sama sekaki nyonya! Malah kami akan terlihat lelah kalau nyonya memasak sekarang” balas art itu masih berharap bahwa ayura akan mengubah keputusannya.
__ADS_1
“Kenapa bisa begitu?” tanya ayura tak mengerti, mengapa art ini sangat melarang ayura untuk memasak?.
‘Karena jika kami membiarkan nyonya memasak lalu nyonya terluka kami pasti akan dianggap capek hidup oleh tuan!’ batin dua art itu secara bersamaan.
Mana berani mereka mengatakan ini pada ayura? Ayura adalah orang baru yang disayangi ah lebih tepatnya sangat disayangi oleh keluarga Arron.
“Kenapa kalian tidak menjawab ku?” tanya ayura, jengah ia langsung hendak mencomot salah satu bahan.
Namun...
BRUK
Ayura terjingkat saat para art itu bersimpuh di belakangnya, ayura pun menoleh dan merasa panik dengan keadaan.
“Hey, ada apa dengan kalian? Ayo berdiri” tanya ayura meminta para art itu berdiri namun mereka tetap bersimpuh.
“Kami akan berdiri jika nyonya muda memutuskan tidak memasak lagi” ancaman yang sama, ini pernah diberikan pada mama grea dahulu, karena inilah wanita itu tak memasak.
Mama grea terlanjur berjanji pada art tersebut, lagipula ini juga salah mama grea. Karena ia yang tak sengaja terluka saat memasak beberapa koki bahkan art dipecat oleh papa hunter.
Setelah itulah, para art selalu mengawasi agar nyonya besar, nyonya muda atau bahkan nona muda keluarga Arron tak akan pernah memasak setidaknya di wilayah mansion arron.
“Aku jadi bertanya-tanya, kenapa kalian begitu bersikeras agar aku tidak memasak?” ayura bertanya seraya memijat pelipisnya pusing.
“Kami tak bisa mengatakannya nya, namun kami ingin agar nyonya tidak memasak dan cukup kembali beristirahat saja” para art itu tetap saja memohon.
Akhirnya ayura tak memiliki pilihan lain, art itu hanya memberi ayura satu pilihan!.
Di depan cermin ayura memilih pakaian yang akan ia gunakan, pilihannya pun jatuh pada gaun berwarna cream yang sederhana namun terkesan elegan.
Tetapi, saat ayura hendak memoleskan make up netral matanya menajam.
“Kenapa bibirku bertambah besar?” lirih ayura, ia rasa bibirnya tak begini kemarin.
“Atau ini hanya perasaanku saja?” sambung ayura lagi, nyonya muda arron itu masih menatap bibirnya yang terpantul melalui cermin, seolah-olah bertanya. Mengapa bisa jadi seperti ini?.
***
Fern menatap ke arah berkas yang berada di tangannya, pemikirannya terbagi dengan ayura yang tengah berada di mansion Arron.
Matanya melirik kearah jam tangan yang melingkar di tangannya, pukul 03.25 dini hari.
“Apa yang harus kutindak terlebih dahulu? Berkas ini atau Jessi?” gumam fern, namun mengingat dokumen ini yang sangat penting pun membuat fern memutuskan untuk menyelesaikan dokumen ini terlebih dahulu, baru ia bisa mengurus Jessi sepuasnya.
Dikira Jessi, popularitasnya bisa dibandingkan dengan kekuasaan fern. Padahal nyatanya tidak, fern bahkan bisa membuat karir Jessi berakhir dengan mudah.
Hanya saja, fern masih membiarkan Jessi menikmati hari-harinya sebelum Jessi tinggal di dalam neraka buatan dirinya.
__ADS_1
Jangan panggil dia fernandez Arron putra jika dia tak bisa membuat Jessi menderita.
Mengabaikan pemikiran psikopatnya yang mendarah daging fern langsung meletakkan satu berkas lagi di tumpukan berkas yang sudah selesai.
Benar, fern sudah berhasil menyelesaikan dua berkas.
Ketika tangan fern hendak meraih berkas lain, sebuah dering telefon mengalihkan perhatiannya. Senyum tipis fern terbit ketika melihat nickname yang muncul di layar teleponnya.
‘My lovely sister.’
“Halo Abang!.”
“Halo? Kenapa kamu menelepon Abang Frey? Apa Revan membuatmu menangis lagi?.”
“Bukan bang.”
“Lalu kenapa?.”
“Frey hanya ingin mengabari Abang bahwa kami akan pulang hari ini, aku mendengar bahwa Abang, mama dan papa berada di negara I kemarin.”
“Benar, kamu mau bertemu kami? Segitu kangennya?.”
“Apa sih bang? Pede banget orang Frey mau nemuin mama sama papa bukan abang! Eh tunggu.. Abang sudah tidak dingin seperti curhatan delard?.”
Mendengar pertanyaan sang adik fern reflek menatap jengkel pada delard, bagaimana bisa asistennya itu menceritakan hal seperti ini pada Freya?.
Sesungguhnya, fern hanya bersikap dingin jika ada sesuatu yang mengusik moodnya, tetapi tak urung akibat mood fern yang selalu rusak, dingin pun sudah jadi kebiasaan.
Terkecuali untuk Freya, mama grea, AYURA dan duo A yang kini mendapat posisi penting di hati fern. Eak.
Sedangkan itu, di sisi lain...
Kinen menatap takjub pada claire, hal ini dikarenakan kejadian yang terjadi kemarin malam para mereka berdua.
Flashback on
Kinen yang saat itu tidak sengaja melihat senyum smirk ala Claire pun merinding seketika, bahunya bergidik ketika membayangkan bahwa orang itu akan menjadi vampire juga.
“ꦠꦏꦫꦕꦲꦚꦠꦿꦀꦧꦛ” kinen mengernyit ketika mendengar suatu rafalan asing.
N:Tak usah dicari artinya, sebab ini hanya karangan author yaa 😉.
Akhirnya kinen kembali melihat ke arah Claire dan pria itu, pria itu terlihat membeku dengan tatapan mata yang kosong.
Kinen pun mendongak untuk menatap cctv yang berada di atas mereka, seketika kernyitan heran hadir kembali di dahinya.
Kenapa seolah-olah cctv itu tertutupi oleh kabut?.
__ADS_1
G*la kah weh?.
TBC