
Kinen dan mommy kini tengah berada di sebuah ruangan yang memiliki lantai berwarna putih namun terlihat warna merah menghiasi lantai itu.
Ruangan yang cukup kumuh, dan tentunya tidak nyaman ditinggali bau bangkai begitu menyengat menandakan jika pemilik ruangan ini selalu suka mempermainkan mangsanya.
Itulah definisi dari ruangan bawah tanah pribadi yang hanya diperuntukkan untuk mangsa penting, tentunya pada markas mafia milik Revan.
Disini tempat Napoleon Bondanes diletakkan oleh pandu, mommy dan kinen kemari hanya untuk menyiksanya sebelum menyerahkan semuanya pada Revan.
CTAR
CTAR
CTAR
Terdengar suara cambuk yang begitu kentara sepertinya pandu berada disini.
“Pandu regatha almanov, bukankah aku menyuruhmu ke rumah sakit menjalani rawat inap?” tanya mommy sinis.
Memang kemarin mommy dan kinen yang mengantar pandu walau nyatanya pandu sendiri menolak.
Namun mommy dan kinen tetap mengantar pandu, mereka pun mengetahui jika luka pandu parah bahkan biasanya orang yang terluka separah itu akan meningg*l dengan cepat.
“ Suatu keajaiban saat luka tuan pandu tidak mengancam nyawanya, karena biasanya luka seperti ini akan berujung dengan kematian, tuan pandu sepertinya harus melakukan rawat inap” seperti itu ucapan dokter yang memeriksa pandu.
Tapi pandu malah menyiksa leo? Apa dendam pandu ke Leo hingga dia melakukan ini?.
“Kau punya dendam dengan orang itu?” tanya kinen menatap ke arah pandu.
“Maaf nyonya, nona muda anda benar saya memiliki dendam dengan orang ini” jawab pandu menatap tajam ke arah leo.
“Apa?” pertanyaan sederhana meluncur di bibir mommy.
“Orang ini adalah orang yang membuat ibu dan ayah saya tiada nyonya” balas pandu tegas namun lembut.
“Kau sudah cukup menyiksa biarkan kami menyiksanya dulu, setelahnya kau bisa menyiksa orang itu lagi lalu menyerahkan segalanya pada revan” terang kinen membuat pandu mengangguk mengerti.
“Pergi ke rumah sakit jalan kan rawat inap agar kau bisa menjaga Revan dan Freya nanti” ujar mommy.
“Baik nyonya, nona saya permisi dahulu” pamit pandu, mommy dan kinen hanya mengangguk singkat menanggapi ucapan pandu.
“Hello uncle, kita bertemu lagi” ucapan kinen terdengar sangat menyeramkan bagi ukuran seorang perempuan.
“Harusnya aku tidak pernah meremehkan anak Joni s*alan itu! Apalagi anak ini di didik langsung oleh tari” suara Leo tak ada gentar gentarnya, malah suara itu terdengar menantang.
“Dan harusnya kau tidak mengganggu keluarga harmonisku dulu maupun sekarang atau bahkan di masa depan” ujar mommy dingin seraya menekan seluruh perkataan yang ia lontarkan.
“Memang apa yang bisa kalian lakukan tanpa lelaki b*jingan yang menangkap ku kemarin?” tanya leo retoris menatap ke arah kinen.
Namun mommy lestari sendiri cukup tersulut emosi yang sangat mendalam di hatinya.
B*jingan? Si brengsek ini berani menyebut putera tampannya b*jingan? Bahkan lebih b*jingan dia daripada sang putera!.
“Lalu apa yang kau bisa lakukan tanpa para Mafioso mu itu huh?” tanya mommy membalikkan pertanyaan leo.
“Ahahah, kau selalu menjadi milik Rafa s*alan itu, namun kau tidak pernah menjadi milik ku” bukannya menjawab ucapan Leo malah nyeleneh dari topik yang mereka bahas.
Kinen sendiri tercengang ia mulai tahu kenapa Leo Leo ini malah menyisakan mommy lestari untuk di bantai di akhir.
Hati Leo ini.. terpaut pada mommy lestari, Leo mencintai musuhnya sendiri dan itu akan menjadi Boomerang baginya hari ini.
Jika kinen saja tercengang bagaimana dengan mommy? Mommy bahkan nyaris pingsan ketika mendengar hal itu, mommy bukan tipe orang yang tidak peka! Ia jelas tahu ungkapan seperti apa itu.
“Dan Olander lestari Angelina tidak pernah menjadi milikku” sambung leo, mukanya datar namun suaranya terdengar sendu.
Ia bahkan menatap pada mommy yang masih berdiri kaku layaknya patung.
“Lalu jika kau menyayangi atau bahkan mencintai mommy kenapa kau menghancurkan kehidupan bahagia mommy ku? Tidak bisakah kau melihat mommy bahagia huh?” ujar kinen murka.
“Kau itu terobsesi atau cinta pada mommy ku?” sambung kinen dengan bibir bergetar ketika mengingat perbuatan sekaligus perpisahannya dengan kedua orang tuanya dan uncle rafanya.
“Apa yang bisa aku lakukan jika orang yang berani mencuri hatiku ternyata menjadi milik musuhku?” tanya leo.
Benar.. Rafa dan Joni itu musuhnya dan lestari itu isteri rafa.. lalu kenapa bisa bisanya hati ini terpaut pada lestari?.
Tidak bisakah sekali saja hati ini berpihak padanya? Namun hati bukan permainan!.
“Bagaimana bisa...” ujar mommy lestari gantung, ia terlihat terguncang sepertinya mommy baru mengingat sesuatu.
“Hal itu yang harus aku tanyakan padamu, aku dan kau hanya bersama selama dua hari tapi kenapa kau bisa membuat rasa ini muncul di hatiku? Apa kau penyihir?” tanya leo yang membuat kinen bungkam.
Cinta itu tidak terduga! Dua hari.. orang itu jatuh hati pada mom tari dalam dua hari, apalagi mom nya ini isteri uncle Rafa alias musuh dari leo!.
Jika kalian masih tidak mengerti perasaan Leo maka mari kita bertukar posisi, bagaimana jika crush kalian malah menjadi milik musuh kalian?.
__ADS_1
Hancur kan?
“Aku rasa di hari itu kau bahkan tidak mengenalku.. aku tahu sebabnya, itu karena aku sama sekali tidak pernah terselip di dalam hatimu” sambung leo.
Hati kinen sendiri sakit saat mendengar ucapan itu, bagaimanapun kinen itu seseorang yang hatinya lembut namun.. kesalahan tetaplah kesalahan Leo harus di siksa bahkan di b*nuh!.
________________________
“Fern! Bagaimana kamu bisa bisanya tidak memberitahu mommy jika adikmu sudah ketemu?” sembur mom grea pada anak tertuanya.
Yah fern bukan menjadi anak tunggal lagi, Freya sudah dianggap grea sebagai anak bungsunya.
“Maaf mom, tapi aku tidak bermaksud begitu hanya saja..” ucapan fern terpotong.
“Hanya saja apa huh?! Dan kau Hunter kenapa kau juga ikut menyembunyikan kabar ini?” tanya grea menatap tajam ke dad Hunter yang ada di depannya.
Posisi saat ini grea sedang menceramahi Hunter dan fern yang tengah berlutut di hadapannya sambil menjewer telinga mereka dengan tangan mereka sendiri.
“Maaf mom, kami hanya perlu waktu untuk menjelaskannya..” jawab dad Hunter sedikit nelangsa, dad Hunter ini suami takut isteri!.
Dan fern itu anak yang kejam namun tetap saja takut pada mommynya, mom grea.
“Waktu apa hah?! Sekarang kemana puteriku? Kalian menyembunyikan dirinya?!” oceh mom grea tetap menatap tajam ke suami dan anaknya.
“Kami bukannya menyembunyikan Freya darimu sayang, tapi..” dad Hunter mencoba menjelaskan namun mom grea keburu memotongnya lagi.
“Tapi apa?! bukankah kalian sudah terlalu banyak membuat alasan huh?” tanya mom grea dengan wajah garangnya.
“Tapi mom.. freya, suaminya dan keluarga mertuanya hilang tiba tiba secara serentak” jawab fern dengan menundukkan kepalanya menatap ke lantai.
“Serentak? kapan?!” mom grea terdengar heboh ketika mendengar kabar baru ini.
“Kemarin mom.. aku dan Daddy sudah mencoba melacaknya namun tidak ada pencerahan” fern mencoba menjelaskan dengan perlahan.
“Lalu kemana perginya puteriku?” tanya mom grea khawatir.
“Kami tidak tahu mom” kali ini dad Hunter yang menjawab pertanyaan mom grea.
“Apa maksud kalian dengan kata ‘tidak tahu’? bukankah kalian bilang sudah melacaknya?” tanya mom grea lagi.
“Tapi kan pelacakan itu tidak ada hasilnya” jawab fern dengan suara yang sangat lirih.
“Apaaa!!! apa kalian sudah b*doh hingga tak bisa melacak satu orang saja? bahkan menemukan Freya saja butuh waktu bertahun tahun, dia pasti sudah besar” balas mommy yang kemarahannya makin memuncak dengan pesat.
“Apa yang kalian bicarakan? sempat sempatnya berbicara dengan santai di saat kita tidak tahu apa Puteri kita Baik Baik saja di luar sana!” ujar mom grea.
Pada akhirnya fern dan dad Hunter hanya bisa diam membisu membiarkan mom grea melampiaskan semua rasa kesal sekaligus marahnya pada suami dan putera tertuanya itu.
‘ Ngomong ngomong tentang hal ini.. dimana Freya dan apa kabar dirinya ya?’ batin fern yang malah tak fokus pada amarah sang mommy.
“Apa kau mendengar mommy fern?!”
Disaat telinga fern menangkap ucapan itu lagi lagi fern menghela nafasnya, entah apa yang difikirkan delard jika asistennya itu melihat dirinya dalam keadaan seperti ini.
Tunggu.. asisten?
“Mom, maaf tapi aku dan delard mempunyai rapat penting aku baru ingat!” ujar fern tiba tiba berdiri.
“Lalu?” balas mommy grea dengan intonasi tanya namun matanya tetap tajam tidak berubah.
“A-aku harus pergi, tidak mungkin kan aku membiarkan delard mengurusnya sendiri apalagi ini rapat penting” sahut fern mencoba lolos dari seleksi mommy grea.
lalu ucapannya disambut tatapan tajam dari daddynya, yah fern tidak peduli yang penting dia harus lolos dari amarah mommy grea lagipula mom grea tidak akan membunuh Daddy Hunter selaku suaminya kan?.
“Pergi lalu nanti mommy akan menghukum mu sendiri” ujar mom grea mengizinkan.
fern pun pergi dari pandangan mom grea tanpa diminta dua kali, fern pergi secepat yang ia bisa.
“Dan kamu Hunter! aku tahu kalau hukuman biasa yang aku beri padamu tidak mempan” ucap mom grea ke arah dad Hunter.
sekarang fern sudah tidak ada di antara mereka berdua makanya mereka memanggil nama bukan sebutan dad maupun mom.
“Iya dong! berarti aku tidak akan di hukum kan honey?” tanya dad Hunter semangat lalu bangkit dari lantai menghadap mom grea.
“Aku tidak bilang kalau aku tidak akan menghukum mu” jawab mom grea tersenyum dengan sangat menakutkan.
________________________
Freya dan Revan sudah mendarat di pelabuhan G setelah sarapan pagi di kapal.
para Mafioso dan pelayan pun sudah turun satu persatu, tentang barang yang ada di kapal itu? Revan menyuruh agar barang itu tetap berada di kapal agar sewaktu waktu jika ia dan Freya berniat menaiki kapal, mereka tak perlu menyiapkan segalanya.
“Hahh, aku merindukan aroma angin! segar sekali” ujar Freya merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
namun..
GREP
tubuh Freya di peluk dari belakang tanpa memeriksa pun Freya tau siapa yang berani memeluknya seperti ini.
“Kamu sepertinya senang?” tanya Revan datar.
Freya pun cemberut karena suara Revan menghancurkan moment musim semi yang ia khayalkan.
“Setidaknya begitu, namun.. tidak terlalu!” jawab Freya ketus.
“Kenapa?” tanya Revan singkat tetap pada posisi yang sama walau nyatanya wanitanya memberontak namun ia lebih kuat dari isterinya.
“Karena aku jelas masih merasa sakit” jawab Freya asal, ia jelas tak bisa mengatakan kalau Revan mengganggu dirinya atau ia akan menjadi janda sekarang juga.
Tanpa permisi atau tanpa berbicara apapun Revan menggendong Freya ala bayi.
“Eh! kenapa kau menggendong ku seperti ini?” tanya Freya memukul pelan bahu Revan berharap Revan akan melepaskannya walau Revan sendiri terlalu angkuh hingga dia tidak akan menurunkan Freya.
“Bukankah kamu bilang sakit?” tanya Revan enteng.
“Apa maksudmu?! bukan begini maksud dari ku!” jawab Freya makin merengek.
lagi lagi Freya ingin memukul Revan secara brutal namun tidak jadi! ia tidak ingin menjadi isteri yang durhaka.
‘ Bagaimana nanti jika tiba tiba akan ada scene tentang azab seorang isteri yang durhaka?’ batin Freya.
ia jelas tidak mau jika di jalur kehidupannya akan ada azab seperti itu, jadi ia hanya bisa menurut pada Revan.
“Berhenti merengek” ujar Revan, memang Freya akhir akhir ini sangat suka merengek, mungkin itu karena Freya merasa jika ia menemukan tempat yang siap memanjakan dan menyayangi dirinya kapanpun itu.
“Apa sih?! aku tidak merengek! seperti anak kecil saja” balas Freya memukul dada Revan.
mendadak pria itu berhenti lalu menangkap dua tangan Freya dengan satu tangannya, jari jemari Freya itu kecil dan itu di sadari Revan saat ia tengah bertempur kemarin.
Ia mendekatkan wajahnya pada Freya yang terlihat memucat bahkan memundurkan wajahnya secara perlahan.
CUP
Nyatanya Revan hanya mengecup pelan bibir Freya.
“Aku tau disana masih sakit, jadi jangan memancingku apalagi di tempat yang seperti ini” jelas Revan datarm
namun Freya masa mengerti perkataan Revan yang terlalu vulgar baginya? akan ada saat dimana Freya akan tahu semua itu.
“Apaan maksud kamu? kapan aku memancing mu? memang kamu ikan yang bisa aku pancing ya?” tanya Freya kesal.
melihat kekesalan Freya membuat Revan tersenyum tipis, senyum yang jarang ia tampilkan pada semua orang bahkan adik, dan mommynya sangat jarang melihat senyumnya.
“Sepertinya aku harus benar benar mendidik mu dalam hal ini” bukannya menjawab seperti orang normal Revan malah mengajukan topik baru padahal mereka tak kehabisan stok topik untuk di bicarakan.
“Aku semakin tidak mengerti tentang ucapan mu Rev” sahut Freya mengerutkan keningnya
bahasa vulgar Revan itu tidak pantas untuk di dengar Freya yang telinganya masih suci.
“Maka kamu akan mengerti suatu hari nanti” balas Revan dengan begitu mudahnya
“Kenaoa nanti bukan sekarang saja?” tanya Freya tak sabaran.
“Otakmu terlalu kecil untuk hal seperti ini” jawab Revan dingin.
walau berbicara dengan nada dingin hal itu tidak membuat Freya takut malah ia senang kalau suaminya normal dan bisa tersenyum.
“Aku jadi semakin tidak faham dengan fikiran dari otakmu Revan!” balas Freya makin heran dan heran semakin harinya.
_________________________
huaa maaf soalnya author telat up! tapi author tetap nepatin janji! walau up malam ya..
usah ya.. udah dua ribu kata besok author lanjut up lagi seperti biasanya satu bab satu hari namun tidak sepanjang ini.
terima kasih buat kalian semua yang udah support author ya.. author bener bener berterima kasih sama kalian!.
sekali lagi thank u-!
- Nadira
__ADS_1