My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.109. Penyesalan selalu direnungkan di akhir


__ADS_3

Delard memperhatikan wajah fern yang sedikit menyeramkan, pasalnya rahang tegas milik fern malah semakin tegang.


Dan matanya pun bertambah tajam.


“Jadi dia berhasil kabur?” tanya fern dingin.


“I-iya tuan, saya dan yang lain terlalu fokus pada anda hingga membiarkan mereka kabur” jawab delard ragu-ragu, delard takut.


Setelah mendengar jawaban delard fern malah semakin menatap delard dengan aura gelapnya.


‘Alamak! Nona maafkan saya karena saya sudah mencuri es krim anda kemarin! Saya sungguh minta maaf’ batin delard, ia tak ingin berbuat dosa disaat saat terakhirnya.


Karena itulah ia mengaku meski dalam batinannya sendiri sih.


“Sudahlah, tidak papa lagipula itu juga salahku, jika aku tak pingsan mungkin kalian bisa menangkap pria itu” balas fern menutup matanya sebentar.


Delard pun menghela nafas lega, namun matanya menajam ketika melihat fern tak kunjung membuka matanya, akhirnya delard bertanya.


“Tuan, apa kepala tuan sakit? Tapi.. kenapa dokter tak mengatakan apapun tentang hal ini?” tanya delard penasaran.


Ia menebak bahwa kepala fern sakit sebab sejak tadi tuannya lebih sering memejamkan matanya, sekali lagi delard itu mengenal fern bertahun-tahun lamanya.


“Benar, dokter itu tak becus” sahut fern ketus.


“Biar saya-” ucapan delard terpotong karena lagi-lagi ada orang yang memasuki ruang rawat vvip yang tengah di tempati fern.


Para bawahan fern tak mengabarkan ini sebab mereka sudah diperintahkan fern untuk pulang.


Setelah diperiksa oleh si dokter yang tak becus itu, fern memberi perintah pada delard.


“Perintahkan mafioso-mafioso untuk kembali menjaga markas, untuk Mafioso yang terluka ringan suruh dokter markas untuk menanganinya, untuk yang terluka parah suruh dia untuk mengobati nya disini, untuk biaya biar aku yang membayar.”


Yah, memang sangat jarang bagi fern untuk berbicara panjang selain pada Freya, namun ini serius fern itu pemimpin jadi dia harus berbicara panjang jika perlu.


“Kenapa anda tidak mengetuk pintu dulu?!” bentak delard membuat suster itu terserentak kaget.


Akan tetapi fern hanya menggeleng, “Biarkan saja.”


“Baik tuan” delard akhirnya menyerah, ia ingat betul fern itu tuannya jadi delard harus menuruti perintah tuannya.


Ah ya, itu alasan kedua delard untuk menuruti fern, alasan pertamanya? Tentu karena delard takut m*ti!.


Delard melirik greget ke suster yang masuk tanpa permisi, ah bukannya itu suster yang memeriksa fern tadi?.


‘Kalau bukan karena dokter senior itu aku tak akan mau kemari lagi! Dih banget mah aku ngga mau kesini!’ batin suster itu.


Tapi yah suster itu tak rugi juga sih kan ia bisa melihat si cogan yang sudah bangun!.


Fern, dengan kulit putih berambut hitam dan mata yang berwarna coklat ini memang sangat menggairahkan.


“Permisi tuan, saya akan memeri-” ucapan suster itu terpotong saat melihat nafas fern yang tak beraturan.


“Tuan apa anggota tubuh anda ada yang sakit? Ah atau kepala anda yang sakit?” pertanyaan itu membuat fern kembali membuka matanya, sejak tadi fern tak membuka matanya sama sekali.


Fern menoleh ke seorang suster yang berhasil mengetahui ini, dia hanya seorang suster tapi kenapa pengetahuannya bahkan lebih berguna dari dokter?.


Ini rumah sakitnya yang tidak becus memilih orang yang pantas atau dokter tadi itu yang b*doh?.


“Benarkah?” fern semakin tertarik, bukan! Ini bukan ketertarikan seperti obsesi.


Fern ingat bahwa orang yang dikatakan menarik oleh delard itu suster yang ini.


Jadi, ehm mungkin fern akan menyeleksi gadis ini, delard itu sudah tua jadi fern berniat mencarikan jodoh untuk delard.


So, gadis suster ini adalah salah satu kandidat!.


***


Keesokan harinya..


“Fyuh, aku tak menyangka bahwa menjaga nona Freya sangat menyusahkan daripada melawan musuh” gumam Andra menghela nafas lega sebab Freya sudah tertidur saat ini.


Akhirnya setelah sekian lama memberi makan bahkan memandikan Sammy si nona lelah juga (kegiatan ini sudah dilakukan Freya sejak kemarin setelah mengenal Sammy namun yah karena Freya masih tidak puas jadi dia lagi-lagi melakukan itu).


Sayang sekali Andra tak langsung mengetahuinya.


Bagaimana Andra tahu? Sang nona tadi bilang kalau ia ingin berendam (lagi) sebab tubuhnya terasa lengket padahal dia sudah mandi sebelum bermain dengan Sammy.

__ADS_1


Akan tetapi Freya juga tak kunjung keluar setelah satu setengah jam jadi Andra yang khawatir langsung masuk ke kamar mewah milik Freya.


Nah disitu Andra baru tahu kalau Freya tidur.


Hadah! Terkadang Andra juga menangis dalam hatinya karena sang nona berhasil memperdaya seorang Mafioso terhormat sepertinya.


DRRT DRRT DRRT


Ponsel Andra bergetar pelan, pertanda bahwa ada yang menelefon dirinya.


Andra meraih ponsel yang ia saku, matanya membelalak melihat nama kontak yang ia save ‘Tuan sadis nan gila’.


Shtt, jangan beritahukan ini pada fern, atau Andra tak akan bisa lolos dari cengkraman fern.


“Tuan sudah sadar?! Wah” Andra bersorak gembira, Andra mengetahui bahwa fern koma itu dari delard, ia menelefon delard sambil mengawasi nonanya bermain dengan Sammy kemarin.


“Andra! Dasar mengangkat telefon saja lambat.”


“M-maaf tuan, anda sudah sadar ya? Bagaimana kabar tuan sekarang?.”


“Seperti yang kau dengar ini suaraku dan aku baik, bagaimana adikku?.”


“Ah, nona sudah tidur tuan nona baru saja bermain dengan sammy.”


“Apa?! Kau membiarkan adikku bermain dengan Sammy?.”


Andra menjauhkan ponselnya, suara sang tuan terlihat penuh amarah.


“I-itu nona yang memintanya tuan, tapi saya tetap mengawasi nona kok! Dan nona tidak terluka.”


“Bagus, untung kau mengawasinya jika tidak kau akan habis di tanganku.”


Terdengar ringisan lirih dari Andra, sepertinya ucapan fern itu menembus ke ulu hati si Mafioso.


“Oh iya tuan, nona menanyakan tentang anda beberapa kali hari ini.”


“Tenanglah, aku sedang berangkat kesana.”


DYAR


“Keadaan tuan sudah pulih sepenuhnya?.”


“Belum, tapi aku punya alasan tentang ini.”


“Ta-.”


TUT TUT TUT


Panggilan tertutup, kebiasaan deh si tuan seenak jidatnya saja menutup telefon padahal Andra belum selesai bicara.


Dengan langkah kaki yang cukup kesal Andra melangkah menuju para maid.


“Anda membutuhkan sesuatu tuan?” tanya salah satu maid mewakili maid yang lain, semua maid itu menunduk.


“Siapkan steak, salad dan jus jeruk masing-masing empat harus siap tiga jam setelah ini” perintah Andra turun.


Andra tahu bahwa fern dan delard bahkan Freya itu suka salad dan steak!.


Eh empat? Yah tak sopan kan kalau Andra tak ikut bergabung? Pas dong, fern, Freya, delard dan dirinya.


“Baik tuan.”


Setelah mendengar balasan dari maid tersebut Andra memilih ke ruang tamu, menonton televisi sambil menunggu kedatangan fern.


Jika perhitungan Andra tak salah maka fern dan delard akan sampai sekitar 3 jam perjalanan mengingat betapa cepatnya perjalanan dengan jet pribadi, apalagi dengan delard yang menjadi supir, wahh delard terbiasa ugal-ugalan jadi yah pasti cepat.


nah sekarang sudah pukul 05.32 am.


Maka 05.32 ditambah 03.00\= 08.32 am, apa tidak kesiangan? Tentu tidak sebab Freya akhir-akhir ini suka telat makan dapat ditinjau oleh Andra saat Freya kemarin makan sekitar pukul sembilan malam.


Sekalian juga, agar mereka semua makan malam bersama, cihuy! Jika dipikir-pikir Freya itu perempuan sendiri.


***


“Oh astaga! Abang ini kenapa sih? Kemarin sadar tapi sempat pingsan segala?” omel kinen pada abangnya.


Revan itu sudah mulai sadar kembali, uwaw hebat juga, masa iya masa pingsan Revan itu lamaaa.

__ADS_1


“Sudah temukan jejak?” bukannya membalas atau apa kek eh si Revan malah menanyakan sesuatu yang sangat...


“Jejaknya siapa?” tanya kinen mengernyit, namun mommy menyenggol lengan kinen pelan.


Kinen pun menoleh ke sang mommy dengan raut penasaran, gadis muda itu masih benar-benar tak mengerti.


Melihat hal itu mommy langsung mendelik tajam ke arah kinen, sejak kapan anak kesayangannya jadi tulalit seperti ini?.


“Oh! Jejak kak Freya?, Aku belum menemukannya.. tapi kenapa Abang bertanya?” tanya kinen membuat mommy tersenyum kecil.


Entahlah, mommy merasa bahwa kinen sengaja menggoda Revan.


“Hm” hanya deheman yang di dapatkan oleh Revan, Revan sendiri malah teringat mimpi yang ia baru saja lihat.


Adinda lagi-lagi mendatangi mimpinya, ia pingsan karena jiwanya sedang bersama mendiang puterinya itu.


Mendiang puteri tersayangnya terlihat sangat kecewa padanya, dia juga mengatakan hal yang hampir sama dengan kinen.


“Daddy, dad ngga bisa kayak gini! Mommy itu tidak salah yang salah kan cuma mantan mommynya Dinda, Daddy ngga bisa gini! Adiknya Dinda gimana? Itu darah daging Daddy sendiri!.”


Ucapan itu selalu terngiang-ngiang di dalam kepalanya, sejak awal ia harusnya mengikuti kata hatinya yang selalu berteriak untuk bertemu wanita miliknya itu.


Dan benarkan ia.. berbuat salah, sejak dahulu harusnya Revan mencari Freya bagaimanapun Freya itu isterinya, ibu dari calon anaknya.


“Aku akan mencarinya bersamamu, aku punya dugaan bahwa dia dibawa ke Negera S, negara P, negara L, negara T, negara K dan negara C” jelas Revan panjang.


“Lah kok Abang banting setir (Berbeda fikiran)? Lagipula kenapa harus ke 6 negara itu? Luas Negera itu sangat mencengangkan loh bang! Mustahil jika mencari satu persatu” balas kinen.


“Itu karena mansion besar Arron tersebar disana, meskipun mansion utama Arron memang berada disini” sahut Revan datar.


“Tapi bang sekali lagi luas keenam negara itu..” kinen pun berdiskusi.


“Aku tahu, tapi kita harus memeriksanya lagipula setelah ini kau akan berurusan dengan perusahaan uncle Joni kan? Jadi kau harus terbiasa menjelajah negara seperti ini” pertanyaan itu membuat kinen meneguk ludahnya susah.


Memang benar selaku pewaris tunggal darah biru, ia yang harus memimpin perusahaan berzeliuz.


“Ya.. tapi aku akan mencari kakak dahulu lagipula masih 5 bulan 23 hari lagi aku akan memimpin perusahaannya daddy” sahut kinen.


Revan mengedikkan bahunya acuh, “Terserah.”


“Bang, apa Abang tidak menempatkan mata-mata untuk kak Freya?” tanya kinen menatap penasaran pada sang Abang.


Tak mungkin jika bos mafia seperti Revan tak menempatkan mata-mata untuk mengawasi Freya yang tak lain adalah isterinya sendiri.


Yah walau memang mereka bertengkar namun setidaknya saat Freya dan revan sedang ada di dalam asmara, Revan harusnya menempatkan mata-mata seperti dirinya yang selalu di awasi oleh mata-mata abangnya.


Bukannya kinen tak merasa namun ia membiarkan mata-mata itu sebab mereka bergerak di bawah perintah abangnya.


“Ada, tapi dia kehilangan jejak Freya ketika bawahan abangnya membawa Freya lewat helikopter” jawab Revan.


Kinen pun mengerutkan keningnya, “Abangnya? Emang kak Freya punya Abang?.”


Revan menatap pandu, seolah-olah Revan menyuruh agar pandu yang menjelaskan segalanya sebab suaranya sudah digunakan terlalu banyak.


Apalagi jiwanya juga sudah lelah, namun setidaknya Revan menemukan titik terang, ia tak lagi terjepit di antara dua jalur, jika dipikir-pikir lagi adinda dan kinen benar.


Yang salah Rina, bukan Freya tapi Revan tidak menyadarinya, hal ini lumrah sebab Revan sudah membenci Rina sejiwa raganya.


Jadi tak heran jika saat dia tahu bahwa Freya itu saudara kandung Rina maka dirinya akan bimbang antara menghabisi Freya atau.. mengabaikan hubungan darah antara Freya dan Rina?.


“Keluarga Graham memiliki tiga keturunan, Graham Fernandez putra, Rina Amelia Graham dan Freya gladhis Graham ah maksud saya nyonya Freya gladhis purnama” mau tak mau pandu menjelaskan.


“Tunggu! Graham Fernandez putra? Kok namanya mirip sama tuan muda arron? Namanya kan Arron Fernandez putra? Beda marganya doang, eh- Jangan bilang kalau...” kinen bertanya sepanjang kereta namun di akhir kalimat ia menggantung dugaannya.


“Benar nona, tuan muda arron itu Abang kandungnya nyonya freya” jawab pandu tanpa ekspresi.


Tik


Tik


Tik


Ruangan rawat vvip yang ditempati Revan tiba-tiba hening bahkan detikan jam sampai terdengar begitu nyaring.


“Apa kau bilang?!” entah itu suara mommy atau kinen sebab suara dua wanita berbeda generasi itu menyatu.


_______________________________

__ADS_1


__ADS_2