
Freya menggerutu di dalam kamarnya, rasanya ia masih tak rela kalau kebebasannya di belenggu seperti ini.
“Lihat saja! Aku akan mendemokan hal ini pada Abang dan Revan, mereka itu juga harus membiarkan aku hidup bebas dong! Dimana-mana setiap manusia itu memerlukan kebebasan, sebab itu adalah hak setiap manusia.”
Freya mengomel dan malah menyangkut ke pelajaran anak esde, tentang hak-hak—an.
“Tapi jika manusia dibiarkan terlalu bebas maka dia bisa menjerumus ke arah yang salah” Freya mendongak dan mendapati Revan yang baru saja masuk ke kamar.
“Siapa yang bilang ‘terlalu bebas’? Aku kan cuma bilang mau ‘kebebasan’ bukan terlalu bebas!” balas Freya ketus.
Revan hanya menatap Freya dengan tatapan malasnya, “Setidaknya fikirkan kondisi kandungan mu yang sudah hampir memasuki trimester akhir.”
Freya hanya menyingkirkan Omelan datar tanpa cengkok milik Revan yang ada di telinganya, “Masih hampir kan? Masih ada beberapa Minggu lagi! Justru nih ya di trimester akhir seperti ini aku itu harus aktif bergerak bukan terkurung bagai burung.”
“Yah, walau ada kemungkinan bahwa aku akan melahirkan sekarang. Seperti dugaan dr Juju” sambung freya menyengir kuda.
Revan hanya menatap Freya lekat, kenapa Freya sama sekali tidak panik seperti saat mereka ada di apartemen dr juju dulu?.
“Lagipula, kamu manusia bukan burung” balasan singkat nan dingin dari Revan membuat Freya memutar matanya dengan malas.
“Menyebalkan sekali! Semua orang mengurungku layaknya tahanan” akhirnya Freya mengubah kata-katanya dari ‘seperti burung’ jadi ‘layaknya tahanan’.
Lelah berdebat Revan langsung menuju Freya memaksa ( dengan tidak terlalu menyakiti) wanitanya itu mendongak menatap ke matanya.
Perlahan c**man hangat melesat di leher jenjang Freya, “R—rev!.”
‘Tolonglahh aku tidak ingin pingsan! Pria ini seperti singa yang mau memakan mangsanya’ batin freya yang menyesal, mengapa ia harus berdebat dengan suaminya tadi?.
“Aku menginginkanmu sayang.”
Suara deep voice itu menggema di telinga Freya, meskipun Freya memberontak ingin menghentikan gerakan Revan yang mampu membuatnya melayang.. Revan masih tetap kekeuh dengan tujuan awalnya.
Tangan Revan yang satunya membuat gerakan yang mana membuat Freya mengeluarkan suara-suara yang sungguh revan rindukan.
Segera, Revan meningkatkan suhu AC di ruangan dan mengaktifkan kedap suara, ia tahu bahwa AC itu tak akan bisa menandingi rasa panas dan keringat yang akan tercipta nanti namun.. setidaknya ini akan membantu sedikit.
“Lets foreplay.”
***
__ADS_1
“Jadi bagaimana?” tanya fern dengan mimik wajah datar sambil melihat ke empat pria di hadapannya.
Andra, hyura, Ali dan irland.
“Saat di luar tadi.. nona benar-benar memikirkan cara untuk kabur” Andra pun melapor mewakili tiga orang yang lain.
“Bagaimana kau bisa tahu akan hal itu?” fern menyangga dagunya.
“Karena saat di luar nona terus melihat ke arah gerbang tuan” jawab Andra singkat, Andra terbiasa menjawab dengan seperlunya ketika berhadapan dengan fern.
“Aku dan Revan sudah memperhitungkan ini.. sekarang kalian berempat carilah cara agar Freya tidak berfikir tentang Kabur-kaburan lagi” disinilah dagu Andra dan hyura serasa lepas, mulut mereka berdua terbuka lebar.
Mana bisa mereka melakukan ini? Meskipun hyura belum mengenal Freya, namun melihat sifat Freya tadi ia bisa menyimpulkan bahwa nyonyanya itu gemar bermain-main.
Pasti susah ini mah!.
“Pergilah cari yang kami suruh, oh ya.. jika kami yang ada di mansion dan tidak sibuk maka kami yang akan mengawasinya” ujar fern menatap datar ke keempat-empatnya.
“Baik tuan” akhirnya Andra, hyura, Ali maupun irland hanya bisa mengangguk pasrah pada perintah tuan-tuannya yang sama sekali tidak adil.
Heleh! Gini ya rasanya jadi pengawal nona muda + nyonya muda tersayang?.
Lalu Andra, irland, Ali dan hyura segera pergi dari dalam ruangan fern, sejenak Andra berhenti dan menatap hyura.
“Haruskah kita melakukannya?.”
Sedangkan itu..
“Kin, kita memiliki jadwal untuk meeting bersama perusahaan G” Candra melapor dengan bahasa santainya pada kinen.
Ingatkah? Kinen memintanya untuk berbicara lebih santai sebab Candra itu lebih tua dari kinen, nah mau tak mau Candra menurutinya namun dengan syarat.
Kalau mereka sedang berdua maka ia akan memanggil dengan sebutan santai, tapi kalau mereka sedang ada di depan umum, ia akan memanggil dengan bahasa formalnya.
Kinen yang awalnya sibuk memeriksa dokumen langsung menatap Candra, “Baiklah candra. Kapan kita harus pergi ke sana?.”
Rasanya kinen sangat merindukan Freya, namun kinen kini memiliki kesibukannya sendiri hingga waktunya untuk berkumpul bersama Freya pun makin menipis.
“Pukul sembilan, yah sekitar satu jam lagi kin” kinen langsung bangkit ketika mendengar ucapan Candra.
__ADS_1
“Bukankah itu berarti kita harus berangkat sekarang?” kinen menoleh pada Candra, lokasi perusahaan G agak jauh juga jangan lupakan lalu lintas yang amat padat ini, mungkin membutuhkan waktu sekitar 50 menit.
Kinen sekarang masih berada di negara C, ini itu anak perusahaannya. Nanti kalau keluarganya ingin kembali, kinen akan ikut bersama mereka dan bekerja di kantor pusat.
Kinen tau, di kantor pusat pasti banyak yang menduga-duga tentang dirinya, nah karena inilah kinen selalu bekerja dengan kompeten.
“Benar kin” Candra membalas seraya mengikuti langkah kaki kinen.
“Bagaimana dengan dokumennya? Biar aku periksa di mobil saja” tanya kinen tetap berjalan.
“Dokumennya sudah ada di mobil nona” Candra kembali ke bahasa formalnya, yah Candra tahu bahwa kinen itu suka memeriksa dokumen di mobil.
Jadi ia sudah menyiapkan segalanya.
“Baguslah” kinen lalu masuk ke mobilnya setelah Candra membuka pintu.
Kemudian Candra juga masuk ke bagian kemudi, memakai sabuk pengaman dan melirik ke kinen.
“Kin apakah seat belt nya sudah terpasang?” tanya Candra, kinen lalu menganggukkan kepalanya mantap.
Candra pun menancapkan gas dan melakukan mobil itu sedangkan kinen memeriksa dokumentasi yang sebenarnya sudah ia periksa kemarin.
Hanya saja.. apa salahnya memastikan segalanya dua kali? Tak ada salahnya kan?.
Kinen langsung tersenyum puas, saat ia selesai memeriksa dokumen tersebut, ini kerja keras tim B bukan tim A.
Namun.. sepertinya tim B memang lebih kompeten.
Dan mungkin kinen akan memberi tim tersebut kenaikan gaji atau jabatan, sebenarnya ini sepadan dengan kerja keras tim B sejak bertahun-tahun lalu, tapi yah kan yang memegang perusahaan ini dulu itu si br*ngsek itu.
“Oh ya can, aku mau kau menceritakan tentang para anggota tim B setelah kita selesai meeting di perusahaan G” kinen berucap dengan memandang Candra.
“Baik kin” Candra pun membalas dengan patuh, pria ini sepertinya tahu mengapa nonanya ingin data dari tim B.
Setelahnya mereka berdua terlarut dengan keheningan, Candra sibuk menyetir sedangkan kinen sibuk menahan kantuknya.
Sesungguhnya, ia kurang tidur kemarin malam.
_________________________________
__ADS_1