
Fern berdecak kesal saat ia kembali ditempatkan di dalam pesawat tanpa istirahat sama sekali, mau bagaimana lagi? Kalau ia membiarkan Revan pergi maka Freya bagaimana? Twins pun masih sangat lengket pada daddynya tersebut.
Lalu kalau hanya pandu.. itu tak akan intensif jadi terpaksa ia harus pergi bersama delard dan mencincang eh maksudnya menyelesaikan masalah dengan si hackers.
Tepat seperti perhitungan Arfi yang benar-benar genius!.
“Tuan, menurut data yang kami selidiki tadi.. pelakunya dua orang, satu meretas dan satunya menutupi jejak” ujar delard yang melihat bahwa fern nyaris m*ti kebosanan di dalam pesawat.
Fern menopang dagunya seraya memandang ke luar pesawat ketika mendengar laporan delard, “Aku jadi penasaran siapa yang berani bertindak begini dengan dua perusahaan raksasa sekaligus? Berani sekali.”
Delard pun hanya diam membisu tak menyahut balasan fern, ‘Astaga.. mendadak aku jadi kasihan pada orang yang meretas sistem tuan fern dan tuan Revan, semoga dia bisa menyelamatkan diri.’
Di sisi lain..
Matahari sudah tenggelam sangat berbeda dengan suasana siang yang kini dirasakan oleh fern di pesawatnya.
“Bu! Kalau punya anak dijaga dong udah h*ram, eh nakal juga! Kenapa dia bisa-bisanya membuat anakku tertuduh menyontek?.”
Mama duo A menatap tajam pada ibu-ibu rempong yang nyatanya tetangganya itu.
“Tertuduh? Memangnya putera-puteri saya melakukan apa hingga anak anda KETAHUAN menyontek di kelas? Lagipula bukankah itu sebuah kenyataan lantas mengapa saya harus menasehati anak saya jika mereka sudah melakukan hal yang benar?.”
Belum sempat ibu-ibu rempong itu menjawab, si mama duo A berucap lagi, “Jangan sebut anak saya h*ram! Mungkin itu kenyataannya namun saya tetap tidak terima jika anda masih menghina anak saya tanpa alasan yang jelas.”
Single mom itu berucap dengan tegas, “Tunggu! Apa maksudmu mengatakan ‘ketahuan’? Apa kau fikir anakku mencontek? Dia itu pintar! Dengar saja, anakmu sengaja menyenggol kursi anakku dan membuat anakku tanpa sengaja melempar kertas yang ia gunakan.”
“Lagian nih ya buk! Anakmu kan memang h*ram?.”
Mama duo A, ayura memandang sinis pada ibu-ibu itu.
“Apa anda tidak sadar? Anak anda sendiri yang melempar kertas itu bukan? Bukankah itu artinya dia mencontek? Selain itu.. memangnya ada ibu yang membiarkan anaknya dihina?” sarkas mama ayura dengan nada sinisnya.
Kejadian beberapa tahun yang lalu membuat ayura lebih keras kepala dan tegas.
Akhirnya ibu-ibu itu kicep ketika mendengar ucapan ayura, ayura melirik pada ibu-ibu lainnya yang melirik penuh penasaran ke arah tempat ayura berdiri.
__ADS_1
Seketika ayura memijat kepalanya pusing, yang dilakukan anaknya itu benar lantas mengapa ibu si tertuduh ini malah melabrak kemari? Kenapa tidak ke sekolah langsung saja?.
“Gini ya bu, mendingan kalau anda punya keluhan lagi tentang ini silahkan pergi ke sekolah dan laporkan semuanya pada pak kepsek” putus mama ayura.
“Saya pergi dahulu!” mama ayura langsung menghentakkan kaki kedalam tempat tinggalnya sambil menghela nafasnya kasar.
“Dasar ibu-ibu rempong bisanya buat masalah doang” gumam ayura meruntuki si ibu yang menghalanginya masuk untuk menemui duo A.
Ayura yang kini sudah berada di dalam pun mengedarkan pandangannya dengan teliti, “Arfi.. aura kemari mama ingin bicara.”
Secepat kilat Arfi dan aura langsung turun ketika mendengar suara merdu mamanya. Ayura yang melihat duo A turun pun tersenyum.
Ia jelas masih terluka dengan kejadian bertahun-tahun lalu namun ia juga tak menyesal, karena itu ia bisa memiliki anak-anak yang cerdas, dan.. bagaimanapun duo A ini terlahir dari kerja kerasnya.
“Ada apa mama?” tanya duo A dengan serempak, yeah dua anak kembar ini selalu kompak.
“Apakah ada masalah di sekolah kalian tadi?” mama ayura mencoba bertanya dengan lembut.
Duo A pun melirik satu sama lain, aura berucap “Iya ma, tadi teman sekelas aura dan Abang ketahuan mencontek tapi dia menuduh kami bahwa Kamilah yang menyebak dia.”
Mama ayura beralih pada Arfi meminta persetujuan pada anak sulungnya dan Arfi mengangguk membenarkan ucapan aura.
Duo A kesayangannya ini dituduh!.
“Begitu rupanya.. aura, Arfi mama harap kalian tidak sama seperti dia ya” ayura memberi pengertian dengan lembut.
Duo A pun mengangguk mendengar nasihat mamanya.
“Baiklah kalian pergilah dulu ke kamar, mama akan memasak lalu memanggil kalian” baru saja ayura melangkah menuju dapur namun Arfi terlebih dahulu mencegat tangannya.
“Mama tidak usah memasak, mama kan capek! Kami sudah memesan g* food untuk itu. Kami menggunakan uang penghargaan olimpiade matematika tingkat kabupaten yang kami dapatkan berhari-hari yang lalu ma.”
Mama ayura pun memandang riang pada Arfi, “Wah anak-anak mama sangat pengertian ya?.”
Ayura dan duo A pun tertawa secara bersamaan, namun tiba-tiba tawa ayura berhenti ketika mengingat kata ‘lomba.’
__ADS_1
Duo A yang menyadari bahwa mamanya diam pun bertanya, “Ma.. mama kenapa?.”
Ayura memandang duo A lalu berucap, “Apakah mama harus memisahkan kelas kalian? Kalian sama-sama memiliki kegeniusan yang tinggi, mama takutnya berkah ini menjadi akar permusuhan di antara kalian nantinya.”
Aura dan Arfi pun saling memandang, memang benar.. ini bisa menyebabkan perselisihan namun...
“Mama tadi sudah meminta pada kepala sekolah untuk memberikan ujian lompat kelas pada Arfi, guru-guru menguji Arfi kan tadi?.”
Arfi mengangguk mengiyakan, Arfi sih setuju-setuju saja sebab ia juga tak ingin berselisih dengan sang adik.
“Nah katanya nanti Arfi akan naik dan aura akan tetap di kelas 5, mumpung ini masih semester baru jadi Arfi bisa menyesuaikan diri dengan mudah, ya walau mama juga yakin bahwa kalian lebih pandai dari yang mana fikirkan. bagaimana? Apakah kalian setuju dengan keputusan mama? Atau maka harus membatalkannya?.”
Ayura tak melebih-lebihkan sebab pelajaran lomba yang kini diikuti anaknya itu sudah sampai di pelajaran tentang aljabar, gradien, akar kuadrat kebalikan, rumus sn dan un, dan beberapa pelajaran rumit lainnya. Namun nyatanya Arfi dan aura masih bisa menghadapinya.
Sejenak duo A berpandangan lalu memandang mamanya dengan mantap, “Kami setuju ma. Lagian ini buat kebaikan kami sendiri.”
***
“Tuan, sepertinya nona Jess mengikuti anda” delard berucap dengan lirih ketika melihat seorang wanita bertubuh se*y seperti biola menggunakan pakaian yang membuat area dad*nya sedikit menyembul keluar turun dari pesawat umum sedangkan fern tadi menaiki pesawat pribadinya.
“Biarkan saja, cukup suruh para bodyguard untuk mencegahnya menghambat ku disini, kau tahu bukan? Aku ingin secepatnya kembali ke negara C.”
Delard mengangguk singkat ketika mendengar ucapan dingin sang tuan, delard lalu membuka pintu mobil dan membiarkan fern pergi bersama supir pribadi mereka (Bekas anggota Mafia fern yang sekarang sudah memiliki keluarga.)
‘Aku harus membereskan nona Jess sebelum tuan marah!’ batin delard menatap tajam pada nona Jess yang terus saja mengejar tuannya.
Murahan sekali. Pantas fern sama sekali tak melirik Jessi sebab Jessi memang menjijikkan, delard bahkan sebenarnya tidak Sudi berurusan dengan dia. Hanya saja tuannya memerintahkan begini.
_________________________________
Selamat hari raya idul Fitri bagi yang merayakan 🥳.
Minal aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin 🙏. Author minta maaf apabila author memiliki salah pada kalian semua, mohon dimaafkan ya.
Author juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para readers yang terus mendukung author hingga saat ini.
__ADS_1
See u in next chapter~.
-Nadira