
Kinen sekarang sudah duduk di kamarnya lebih tepatnya di meja belajarnya.
Tangan kirinya menyangga dagu sementara tangan kanannya mulai mencoret-coret sebuah kertas.
“Kakak pergi karena ada seorang wanita yang menjadi selingkuhannya abang” gumam kinen berbicara lirih, ia tahu sebab ia memeriksa rekaman cctv.
“Kakak pergi lewat jendela kamar menggunakan beberapa baju yang ia rakit menjadi tali, teknik yang cukup cerdas” puji kinen sambil terus mencoret kertasnya.
‘ hmm, melihat dari arah lari kakak yang menuju ke Utara, pasti arahnya ke jalan xxx!’ batin kinen.
“Bukankah ini berarti kita harus memeriksa cctv di jalan itu?” simpul kinen singkat.
“Ah, kenapa aku tak terpikirkan ini dari tadi?” tanya kinen sebal pada dirinya sendiri.
Haruskah ia menganalisa secara terperinci huh?.
“Wah, Puteri mommy sudah seperti detektif swasta ya?” ucap mommy membuka pintu kamar kinen.
Kinen yang mendengar suara momnya segera menoleh ke arah pintu, “Mom kita harus memeriksa cctv di jalan xxx, arah lari kak Freya kesana!”.
Mommy menggelengkan kepalanya pelan “Sayang.. darling.., sekarang sudah waktunya makan malam, sudahi dulu penyelidikan mu kita akan memeriksa cctv itu besok”.
Kinen melihat ke luar jendela kamarnya, sore sudah berganti menjadi malam..
Pada akhirnya kinen mengangguk mengiyakan ucapan sang mommy, keduanya lalu turun secara perlahan.
Di meja makan mansion mommy kinen mendadak melihat ke samping tempat duduknya.
Itu.. kursinya Freya.
Lagi-lagi kinen merasa tak becus menjadi seorang adik ipar.
Mommy yang tak sengaja melihat arah pandang kinen pun menghela nafasnya kasar, bagaimanapun mommy tahu akan apa yang berada di fikiran puterinya.
“Kinen.. sudahlah, kau juga harus memperhatikan kesehatanmu jika kamu masih ingin mencari freya” nasihat mommy membuat kinen langsung melahap makanannya.
__ADS_1
***
“Ayo sayang, makan yang banyak!” ujar mama grea menyuapi Freya seolah-olah Freya itu seorang anak kecil berusia lima tahun.
“Ma, mama makan aja Frey bisa kok makan sendiri” balas Freya dengan mulut penuh makanan.
“Tidak apa-apa sayang, biar mama yang menyuapi kamu makan” sahut mama grea keras kepala.
Fern? Pria itu hanya mendengus iri pada Freya, ia saja sudah tak pernah di suapi mama grea.
Namun fern kemudian menghela nafasnya dan melirik pemandangan indah di hadapannya.
Dimana kedua orang yang ia amat sayangi tengah berbincang bersama dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.
Papa Hunter yang diam-diam melirik ke arah fern pun tersenyum tipis.
Ia jelas juga memikirkan hal yang sama, bukankah pemandangan ini benar-benar indah?.
“Ma, kalau mama nyuapin aku.. terus kapan mama makannya?” seru Freya cemberut, namun ia tetap membuka mulutnya.
Akan tetapi.. ia juga khawatir dengan mama angkatnya.
“Aduh sayang, ngga papa kok! Tidak perlu memikirkan itu, lagipula setelah mama nyuapin kamu mama pasti makan kok” sahut mom grea menyuapi Freya lembut.
Freya pun mengangkat kedua tangannya, isyarat kalau dirinya menyerah menghadapi sang mama yang amat keras kepala.
Sikap mamanya ini membuat Freya teringat pada seseorang.
‘ Aku jadi merindukan mommy, apa mommy dan kinen baik-baik saja sekarang? Ah sifat mama dan mommy ternyata sama persis ya!’ batin Freya tersenyum lebar.
Ini tak sinkron dengan hatinya yang tiba-tiba berdenyut sakit ketika mengingat alasannya meninggalkan mansion.
‘ Tidak! Aku tidak akan lemah begini, aku akan membuktikan pada Revan bahwa tipe wanita macam diriku tak bisa di injak-injak begitu saja!’ batin Freya memperbulat tekadnya.
“Frey? Kenapa kamu melamun? Apa kamu memikirkan sesuatu?” tanya fern ketika melihat sang adik melamun.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan fern papa Hunter langsung melihat Freya sebab mama grea sudah melihat Freya sedari tadi.
“Apa ada sesuatu yang mengganjal di fikiran mu freya?” tanya papa Hunter khawatir.
Freya pun menggelengkan kepalanya, “Aku baik-baik saja bang, ma, pa.. tidak usah khawatir”.
Freya lalu melirik tajam ke abangnya, kenapa abangnya harus teliti begini sih?.
Sedangkan itu..
“Nyonya.. dimana anda?” gumam pandu lirih namun gadis di sebelahnya masih bisa mendengarnya.
“Jangan bergumam tidak jelas begini! Tidak akan ada gunanya kalau diam saja!” balas si gados cerewet.
Pandu pun mendengus ”Kapan aku menanyakan pendapatmu, dokter g*la?”.
“Ck! Kalau aku g*la lalu kau apa? Ah aku tau kau kan S.G.M” balas si wanita, dokter Anisa.
Yah pandu dan dokter Anisa terpaksa menuruti perintah tuannya agar mereka mencari Freya bersama.
Sebab pandu adalah asisten Revan sedangkan dr Anisa adalah orang yang mengirim tes DNA menyebalkan itu.
Dengan kata lain, meski Revan yang meminta tes dnanya dr Anisa tetap bersalah.
Setidaknya itulah yang berada di pandangan Revan, tau deh terserah saja!.
“S.G.M?” ulang pandu mengernyit.
“S**ting, G**deng, Miring!” sahut dokter Anisa, ingin sekali pandu memb*nuh dr Anisa namun.. ia hanya bisa menahannya.
Ia tak ingin membuat tuannya makin pusing dengan berita pemb*nuhan yang ia lakukan.
Apalagi Revan juga sudah bingung tentang keputusannya, tapi.. melihat perintah Revan sepertinya pria itu sudah mengambil keputusan.
______________________________
__ADS_1