My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.62. Cukup melelahkan


__ADS_3

Mom grea sekarang sedang mencoba untuk meredakan amarah fern, pasalnya anaknya tadi tidak berbicara apapun.


Tiba tiba datang mendobrak pintu sampai sampai suaminya bicara "son! Apa Daddy harus mengingatkan mu kalau yang kau dobrak itu pintu?".


Namun fern tak seperti biasanya, fern memilih untuk diam lalu duduk tanpa membalas ucapan daddynya.


Pada akhirnya mau tak mau mom grea harus meredakan amarah puteranya, dalam sehari dirinya memulihkan temperamen dua orang!.


Dan itu.. cukup melelahkan!.


Setelah dirasa jika fern sudah tenang daddynya pun bertanya "ada apa son? Kenapa kau datang datang sudah penuh amarah?".


"Dad.. aku mau minta tolong" alih alih menjawab fern malah mengatakan hal lain.


"Fern? Setidaknya jawab pertanyaan Daddy! Sudahlah, bantuan apa yang kau perlukan?" Tanya daddynya ke arah fern yang menatap dirinya dengan dingin.


Mengerti dengan topik yang akan dibahas puteranya dad Hunter pun menatap mommy grea.


"Mom, buatin jus lemon sama makanan kesukaan fern" usul dad Hunter pada mom grea.


"Baikl- eh.. kenapa tiba tiba kau menyuruhku seperti itu? Jangan jangan kalian tidak mau mommy mendengar sesuatu? Atau kau mengusir mommy?" Balas mom grea yang mulai curiga.


"Apa sih mom? Daddy tidak mengusir mommy, sudah sana fern pulang setelah sekian lama , emang mommy tidak mau memasak untuk fern?" Sahut daddy Hunter tanpa gugup sekalipun.


Daddynya ahli dalam hal seperti ini, apalagi ia dan dadnya jelas tahu bagaimana otak mom grea bekerja.


"Baiklah , mommy buat makanan dulu buat putera mommy" ucap mom grea mengusap lembut rambut fern lalu pergi meninggalkan anak dan Daddy itu berdua.


"Jadi son? Ada apa?" Tanya dad Hunter singkat, tak ada nada bicara hangat dan tak ada tatapan teduh, hanya ada nada dingin dan tatapan tajam.


"Dad.. aku sudah menemukan Freya" jawab fern dingin juga, sudah biasa jika menyangkut hal serius maka sang mommy akan di usir terlebih dahulu.

__ADS_1


Mereka tidak mau mom grea memikirkan hal yang berat, dan.. suasana pun dirubah menjadi seserius mungkin inilah sisi kedua dari sang Daddy.. Daddy Hunter Arron.


"Lalu, kenapa kamu tidak membawanya? Dan Bantuan apa yang kau inginkan?" Tanya dad Hunter datar.


"Dad.. status adik sekarang ini bukan orang biasa" jawab fern menatap tajam pada daddynya.


Sejenak dad Hunter mengernyit bingung akan jawaban dari fern yang membuatnya harus memutar otaknya, tak mungkin puteranya akan menjelaskan semuanya.


Perkataan fern pada dadnya selalu singkat jika tak terlalu penting, apalagi jika soal menjelaskan? Mana mau fern? Bisa bisa daddynya akan terkena serangan jantung karena puteranya berbicara panjang.


Puteranya sedang berada dalam mode dingin, inilah yang membuat Daddy makin ragu jika fern akan menjelaskan semuanya.


Tiba tiba fern memberikan sebuah flashdisk pada dad Hunter, ia pun segera mencolokkan flashdisk ke laptopnya.


Seketika ia mengerti apa yang terjadi akhir akhir ini hingga fern sering keluar ke suatu tempat.


________________________


"Tuan.." panggil pandu pada Revan yang sedang berada dalam bar pribadinya.


Pemandangan seperti ini sudah seperti santapan setiap hari bagi pandu, namun akhir akhir ini lebih tepatnya setelah tuannya mengantar nyonya muda ia sudah tak sering seperti ini.


Pandu bisa memahaminya karena tuan Revan ini tertarik dengan nyonya muda yang mendadak menjadi barang baru, dan.. tertarik tertarik lama lamanya jadi cinta iya kan?.


Namun kali ini? Apa ada yang terjadi?.


"Tidak, lalu kenapa tuan memanggil saya kemari?" Tanya pandu heran, kalau ini urusannya dengan anak bos maka tuan revannya akan menelefon bukan pembicaraan secara face to face.


"Selidiki" satu kata singkat untuk pertanyaan pandu, dan pandu lagi lagi harus bersabar dengan sikap tuannya yang tidak pernah berubah.


"Selidiki apa tuan? Saya tidak mengerti" tanya pandu lagi, disini ia yang harus mengambil pertanyaan lebih banyak agar ia mengerti.

__ADS_1


"Gadis itu... iya gadis b*doh itu, dia b*doh sekali pan" jawaban tuannya mulai melantur.


Namun akhirnya pandu mengerti kalau tuannya ingin ia menyelidiki tentang nyonya muda, namun.. ada apa dengan nyonya manisnya itu?.


"Tuan, memang ada apa dengan nyonya muda?" Tanya pandu sebelum Revan kehilangan kesadarannya.


"Dia , iya dia.. cafe.." bukannya menjawab Revan malah mengatakan hal yang tidak di mengerti.


"Tuan.. anda mabuk!" Keluh pandu menggelengkan kepalanya sambil memijat keningnya yang terasa pening.


"Dia bertindak macam macam padaku, dia.." ucapan Revan terpotong.


BRAK


Kepala Revan terjatuh di meja bar pribadi tuannya, meja yang penuh dengan wine level tinggi, haruskah pandu melaporkan ini kepada nyonya muda?.


"Tuan.. anda terobsesi dengan nyonya, namun rasa obsesi bisa berubah menjadi cinta" lirih pandu lantaran ia tak ingin tuannya mendengar ucapannya.


Seketika pandu menepuk pipinya "sadar pan sadar! Selesaikan perintah jangan mengurusi hal yang seperti ini , kau bahkan lebih tidak berpengalaman dari tuan!".


Runtuk pandu, ia hanya mengerti jika ada dua kata kunci di ucapan melantur tuannya, yang pertama nyonya mudanya dan cafe.


Sayangnya, cafe di kota ini banyak! Mau mencari dimana? Dikira cafe disini hanya satu?.


"Cafe.. cafe yang mana ya?" Tanya pandu pada dirinya sendiri, harusnya tuannya menyebutkan nama dan letak cafenya agar pandu tidak kerepotan!.


Namun apa daya? Tuannya sudah tepar terlebih dahulu di depan pandu.


Pandu menghela nafas setelahnya membopong tuannya menuju kamarnya sendiri, kamar berlika liku yang pernah di datangi oleh ia, Revan ,kepala pelayan, dan tentunya nyonya mudanya.


Bahkan kepala pelayan bisa melihat kamar itu karena ia yang ditugaskan untuk memandu nyonya.

__ADS_1


Tunggu.. mungkin pandu harus menyelidiki kemana saja tuannya pergi hari ini, mungkin itu bisa jadi petunjuk bagi dirinya.


________________________


__ADS_2