My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.100. Teror mengerikan


__ADS_3

Suasana tegang senantiasa di dapatkan oleh kinen.


Ia bahkan sampai tidak bisa fokus untuk mengumpulkan petunjuk tentang kakak wanitanya.


“Huaaa, siapa sih yang ngirim beginian?” tanya kinen menunjuk paket yang selalu datang setiap hari.


Mommy hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, “Orang yang mengirim ini pasti berniat untuk mengacaukan konsentrasi mu untuk mencari freya”.


“Itulah yang tidak aku mengerti mom! Kenapa dia mau mengacaukan konsentrasi ku? Apa dia mengenal kakak?” tanya kinen frustasi.


Cukup sudah, setelah kejadian dimana ia dan Revan mendengarkan suara yang menggema di seluruh mansion hari itu, kinen selalu menerima paket berupa teroran.


Bukan hanya sekali dalam sehari, namun tiga kali dalam sehari!.


Teror? Paket itu berisi sebilah pisau yang berlumuran darah kadang juga berisi boneka yang menyeramkan, walau kinen tak membukanya entah kenapa tiba-tiba paket itu selalu terbuka di hadapannya seolah-olah paket itu telah dibuka seseorang.


Padahal tak ada yang membukanya!.


“Kita bahkan belum sempat untuk menyiksa si br*ngsek itu gara-gara masalah ini” ujar kinen mengurut pelipisnya pusing.


Sebenarnya, ia maupun momnya belum puas menyiksa leo, namun yah keadaan memaksa mereka untuk menunda hal ini terlebih dahulu.


Mommy mengangguk pertanda setuju “Lebih baik kita fokus dulu untuk mencari Freya, urusan Leo belakangan saja yang lebih penting saat ini itu mengetahui keberadaan freya”.


Kinen mengangguk lalu menjejerkan petunjuk yang selama ini ia dapatkan.


“Mom, menurut saksi #1 yang merupakan pedagang kaki lima kak Freya pernah lewat di jalan C ke arah utara” ucap kinen menjelaskan.


“Lalu menurut saksi #2 kak Freya memang berjalan di jalan xxx namun ia tak tahu kemana kakak pergi” sambung kinen.


“Dan menurut cctv di jalan xxx, ada suatu mobil yang menjemput kak Freya malah kak Freya terlihat kesal dan bahagia sekaligus”, mommy mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Mommy mencoba untuk mencari kesimpulan di petunjuk-petunjuk yang di dapatkan kinen.


“Bukankah itu berarti orang yang menyetir mobil itu mengenal freya?” tanya mommy meminta persetujuan kinen.


BRAK


Kinen menggebrak meja di antara dirinya dan mommy dengan bersemangat.


“Jadi yang berhasil meretas keamanan mansion Abang saat itu adalah orang yang sama! Tapi.. dia seorang pria” balas kinen.


“Bisa jadi kan kalau dia adalah keluarga Freya? Lagipula.. memangnya kamu tahu kalau Freya itu anak kandung dari para pengemis itu?” tanya mommy mencoba berfikir positif.


Kinen membelalakkan matanya terkejut, “Mom benar! Tak aneh jika dia sangat marah pada Abang, Kita yang keluarganya saja sangat marah apalagi keluarganya kak Freya?”.


“Yang di rugikan atas semua ini itu kak Freya! Pasti keluarganya tak akan terima” sambung kinen antusias karena sudah bisa berteori positif.


Benar.. Freya yang di rugikan, sebab Freya juga sudah kehilangan mahkotanya kan? Selain itu kakak freyanya sedang hamil dan di campakkan begitu saja tanpa penjelasan apapun.


“Hmm, kalau begitu aku harus menjelajah masa lalu!”.


***


“Bukankah ini akan menarik delard?” tanya fern dingin, pria itu sedang mengawasi keluarga purnama.


Dan.. paket yang ia kirimkan itu bukan hanya sekedar teror, disana ada kamera kecil yang bisa digunakan fern untuk memantau penyelidikan kinen dan menghalaunya mendapatkan Freya.


Sekali lempar, dua burung itulah istilahnya, ia berhasil mengacaukan konsentrasi kinen dan memantau sekaligus.


Delard mengangguk membenarkan ucapan tuannya, “Benar tuan”.


BRAK

__ADS_1


“Abang! Apa abang lihat Hoodie yang Abang berikan kemarin?” tanya Freya setelah membuka pintu kerja fern brutal.


Fern menutup laptop yang ia gunakan untuk memantau dan menatap adiknya.


Yah, fern membelikan Hoodie untuk Freya sebab adiknya itu menginginkannya.


Entah, mungkin Freya sudah mulai merasakan yang namanya mengidam.


“Bukannya kamu masukkan Hoodienya ke mesin cuci kemarin? Katamu ‘Hoodie ini harus di cuci dulu agar steril’” balas fern mengernyit heran.


“Eh, iya Frey lupa.. bang! Ayo keluar dulu bentar” ajak Freya menarik lengan fern.


Fern akhirnya menuruti perkataan Freya dan memberi kode pada delard agar asistennya itu memantau selagi ia menuruti adiknya.


Ketika mendapat anggukan fern sudah hampir keluar dari ruangannya.


TAK


TAK


TAK


Suara itu muncul bersahutan dari arah atas, mama grea dan papa Hunter yang sedang berbincang pun melihat ke atas.


Disana sang Puteri sedang menarik tangan abangnya dengan tergesa-gesa.


“Sayang, pelan-pelan saja biar tidak jatuh!” peringatan itu dilayangkan fern sembari mensejajarkan kakinya dengan Freya agar jika adiknya jatuh fern bisa langsung menangkap nya.


“Tidak akan! Sudahlah ayo cepat” sahut freya.


“Astaga Frey, abangmu benar pelan-pelan saja” ujar papa Hunter berdiri begitu pula dengan mama grea yang mengangguk.

__ADS_1


Namun apa daya? Yang di nasihati malah tak menghiraukannya walau langkah kakinya mulai melambat.


______________________________


__ADS_2