My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.135. Mafia STI, ga lucu!


__ADS_3

Revan hanya mampu menulikan pendengarannya mendengar ocehan si bumil yang tak lain dan tak bukan adalah isterinya.


“Pandu itu kemana sih? Masa iya baru nikah udah pergi aja! Kasian dong dr Anisa, emang ya lelaki itu tidak pernah berperasaan pada seorang wanita!” mendengar kalimat terakhir Revan merasa sedikit tersindir.


Bukannya apa namun ia pernah tak memperdulikan isterinya kan? Namun Revan tak mau berdebat jadi ia tak menyahut perkataan isterinya.


“Hih! Ngeselin banget sih ya? Di telpon ngga diangkat di datengin ehh ngga ada pula di apartemennya sekalian tuh mberosok (masuk) ke rawa-rawa si pandunya!” Freya terus mengomel tak berhenti.


Maklum efek hormon membuat Freya lebih sering emosi, dan tentunya kini bumil itu sangat emosional.


Kalau tidak seperti keinginan si bumil maka semua orang pasti di sembur. Revan bahkan berani menebak bahwa ini itu sifat turunannya.


Terkadang Revan berbatin ‘ternyata begini susahnya mommy ketika menghadapi ku saat aku sedang keras kepala’ yah setidaknya Revan sadar sifat siapa yang kini telah menurun di janinnya.


“Iya kan rev?” Revan menoleh dengan datar ketika ia mendengar Freya menyebut namanya.


Meskipun tak tahu apa yang diomelkan Freya hingga menyebut namanya ia tetap menganggukkan kepalanya, ia takut terkena semburan dari Freya.


Doakan saja semoga Revan tidak jadi STI (suami takut isteri) jika iya maka itu akan menjadi sinet*on lainnya disini.


Si mafia yang STI, tidak lucu!.


“Huh! Lihat saja kalau pandu ke mansion besok aku akan memarahi dia!” mendengar Omelan freya yang ini Revan pun terserentak.


‘Bukankah pandu tidak akan datang besok? Ck, pasti aku yang kena getahnya besok’ batin Revan berharap bahwa keesokan harinya wanitanya ini sudah lupa akan apa yang terjadi di apartemen asisten s*alannya itu.


“Dia akan datang besok kan Rev? Kamu belum menyuruhnya untuk cuti kan?” tanya Freya sebab wanita itu masih ingat bahwa mommy meminta pandu libur.


“Aku— huft! Aku sudah memberikan pandu libur” akhirnya Revan menjawab dengan jujur, ia enggan berbohong lagi pada isterinya.


Biarlah nanti sang isteri mengomel padanya yang penting ia tak merahasiakan apapun darinya.


“Sudah ya? Huh yasudahlah aku anggap ini sebagai hutang! Aku akan membalasnya jika aku bertemu dengan dia lagi nanti” Revan menepuk kepala Freya pelan.


Wanita ini.. meskipun terlihat kekanakan sebenarnya dia wanita dewasa dan tentunya.. berpendidikan.


“Bagaimana kuliahmu?” tanya Revan untuk mengalihkan perhatian Freya pada kekesalannya.


“Semuanya baik, sekarang papa Hunter sedang mengajukan pembelajaran secara daring untukku” jawaban Freya membuat Revan mengernyit heran.


“Kenapa begitu?” tanya Revan, ia rasa.. Freya saat di kampusnya pun di tempatkan di ruangan khusus kan? Jika khawatir karena kehamilan.. bukankah dosen-dosen disana tahu kondisi Freya? Jelasnya mereka tak akan membebani fikiran berlebihan pada isterinya.


Selain itu.. bukannya Freya juga tak akan disuruh melakukan apapun di kampusnya?.


“Katanya aku mau melahirkan padahal masih dua bulan lagi, tau deh aku udah pusing sama jalan fikirnya papa, mama dan abang” jawaban Freya membuat otak lebar Revan berfikir.


Seketika ia mencengkeram setir kemudinya saat ia memikirkan sesuatu, ia menduga sesuatu yang buruk! Ia harus segera berbicara pada mertuanya tentang hal ini.


“Kenapa tanganmu terlihat mengepal begitu?” tanya Freya kini menatap tangan revan yang masih memegang setir kemudi.


“Siapa bilang? Kamu yang salah lihat” jawab Revan singkat.


Ia pun merilekskan tangannya yang tadinya langsung mengeras tanpa disuruh, “Ah iya kayaknya sih begitu.”


Namun setelahnya wanita muda itu kembali mengomel tak memperhatikan suaminya yang menatap tajam ke arah depan.


Terlihat sekali, bos mafia itu.. sedang agak tidak bermood saat ini.


***


“Mama, papa, Abang Frey pulang!” Freya berteriak dengan riang tanpa beban, fern yang nyaris jatuh ketika mendengar teriakan Freya pun hanya bisa bersabar.


‘Ingat fern ingat! Dia adikmu’ batin fern mencoba menetralkan jiwa psikonya yang sudah dendam mati-matian dengan Freya.

__ADS_1


“Sudah pulang sayang?” pertanyaan mama grea membuat fern melihat intens ke arah dua wanita berbeda generasi itu.


Ia menarik senyum namun giginya menggertak tak karuan.


“Abang? Abang kenapa sih? Kok kaya marah gitu?” Freya bertanya sambil menuju ke arah fern.


“Siapa yang marah darling?” balas fern terkekeh pelan ia menyambut Freya yang datang ke arahnya, sedangkan Revan yang melihat kekehan fern pun bergidik pelan.


Psikopat! Fern itu psikopat, bagi Freya mungkin abangnya itu manis ketika terkekeh namun itu menghasilkan efek lain bagi Revan, andra, dan tuan Arron yang sudah tahu identitas fern.


“Abang tahu ngga sih? Tadi Frey ke apartemennya pandu! Tapi dia ngga ada dr Anisa juga ngga ada, nyebelin banget kan?” fern hanya mengelus pelan rambut pirang Freya.


Sejujurnya ia agak membenci warna rambut Freya dan dirinya yang sama seperti si tuan Graham, but yah yang namanya hubungan darah mau diapakan lagi?.


“Hmm, terus kamu mau ngapain sayang? Kamu mau mereka Dateng kesini?” tanya fern menatap adik bumilnya ini.


“Yah rencananya sih gitu bang tapi pandu kan lagi libur, mo buat dedek bayi katanya” Revan pun membelalakkan matanya terkejut, siapa yang bilang begitu?.


“Siapa yang bilang?” tanya fern yang agak tak suka kalau adiknya tahu hal semacam ini, yah walau dedeknya itu sudah pernah mengalaminya.


Namun.. yang namanya fern, Abang posesif mau gimana lagi?.


“Revan yang bilang” jawaban Freya membuat Revan langsung menatap ke fern.


Ingin membela tapi ia juga butuh bicara dengan Abang Freya itu, alhasil ia diam tak membela dan tak mengiyakan tuduhan Freya.


Entah apa maksud bumil itu, ia seolah membuka jalan mudah bagi Revan untuk berbicara ke fern dan keluarga Arron.


Lalu isterinya itu membicarakan kalau ia mau daring? Yah walau Revan yang bertanya tentang kuliahnya, namun wanitanya itu bisa mengatakan ‘Kuliahku baik-baik saja’ begitu saja kan? Lalu kenapa malah ditambah-tambahi?.


Aneh? Yeah itulah yang membuat batin Revan terasa janggal.


“Revann! Kamu bicara apa aja sama anaknya mama?” tanya mama grea dengan wajah garangnya.


Sepertinya pria itu sudah mengenal dirinya secara baik.


“Biarkan aku yang mengurusnya pa, ma” ujar fern, papa Hunter pun mengangguk.


Setelahnya fern menunduk dan mengecup kening Freya, nah disinilah Revan baru menatap datar pada fern.


Untung Abang kalo ngga bakal ada perang buchen ni.


“Ayo ikuti aku.”


***


“Kira-kira rencana kamu berhasil ngga jeng?” mommy tari bertanya dengan wajah penasaran, ia sudah mendengar cerita mama Dewi.


“Harus berhasil dong jeng! Kalau ngga malam ini kita Dateng kesana ngasih obat pe******ng” jawab mama Dewi enteng.


“Heh ngadi-ngadi, obat haram itu!” balas mommy tari menggelengkan kepalanya pusing, ia jelas mengingat bagaimana saat ia harus menghadapi Rafa jika prianya itu sudah terkena obat haram seperti itu.


Siapa yang mengasihnya? Ya musuh! Sapa lagi?.


“Ya ngga dong, kan mereka udah sah!.”


Waduh, mama Dewi nih kalau malemnya beneran dikasih wah.. tamat tuh riwayatnya dr Anisa alamat ngga bisa jalan seminggu ntar.


“Jangan jeng! Biarkan mereka, takutnya mereka malah berselisih karena hal itu” sahut mom tari yang masih tidak setuju dengan ide mama Dewi.


“Yasudah deh, yang penting kita udah usaha” ucap mama Dewi menyerah, sebab perkataan mom tari memang benar.


“Iya.”

__ADS_1


Sedangkan itu...


“H—ha—hatchim!” dr Anisa yang enak-enaknya tidur malah bersin, pandu yang standby di sampingnya pun ikut terjaga.


“Ada apa? Kamu sakit?” tanya pandu memegang dahi dr Anisa dengan khawatir.


“Ngga kok mas” jawab dr Anisa seraya menggelengkan kepalanya pelan.


“Tapi... Kamu tadi bersin loh sayang! Ayo pakai pakaian kita, aku akan membawamu ke dokter” balas pandu ingin beranjak dari ranjangnya.


“No! Aku baik-baik saja mas, suer deh” sahut dr Anisa memegang tangan pandu agar pria itu tak benar-benar melaksanakan ucapannya.


“Kamu takut?” pandu yang sudah terbiasa dengan ekspresi takut pun merasa familiar dengan ekspresi dr anisa.


‘Masa iya dokter takut di suntik?’ batin pandu bersuara.


“S—siapa yang bilang begitu mas?” tanya dr Anisa agak tersendat-sendat.


“Kamu gugup?” pandu malah makin curiga, bagaimana kalau dugaannya benar? Ngga etis loh!.


“Mmm.. iya! Aku takut, aku takut kalau berjalan sekarang!” dr Anisa memejamkan matanya.


Pandu pun terkekeh dengan pelan, tawa pandu membuat dr Anisa membuka matanya lagi.


“Kamu takut berjalan karena sakit kan?” tanya pandu menatap teduh pada ga— oh bukan maksudnya wanita MILIKNYA.


Dr Anisa menggigit bibir bawahnya, ia lalu mengangguk mengiyakan.


“Kenapa kamu lucu sekali? Masa dokter takut sakit?” pandu langsung tertawa setelah mengatakan hal tersebut.


“Ya kan aku manusia!” jawab dr Anisa memalingkan wajahnya kesal.


“Tau deh!” sambung dr Anisa lalu langsung turun dan ingin melangkah seketika..


NYUT


“S*alan!” dokter itu mengumpat kesal, ia tak menduga bahwa rasanya akan sesakit ini.


Dengan sigap pandu menarik dokter itu ke ranjang lagi, dengan perlahan tentunya.


“Aduh sayang! Kalau sakit tuh jangan di paksa. Rencananya tadi aku mau nggendong kamu ke rs bukan kamu yang jalan, aku tidak setega itu padamu.”


Mendengar ucapan sang suami pipi dr Anisa bersemu merah, lagi-lagi pandu terpaku. Ia sungguh suka ketika ia melihat semu merah di wanitanya ini.


_________________________________


SERASA DUNIA MILIK BERDUA YA MBAK MAS? IYA DEH IYA YANG LAIN CUMA NGONTRAK :) — kata-kata keramat temen author kalau ketemu orang lagi pacaran.


Maklum sih, kami udah tua ngga punya pasangan alias masih mengjomblo gapapa deh yang penting jopy (jomblo happy). Lah pas ntu kami malah lihat yg mesra-mesraan masih kecil pula.


Jaman edan dah.


Sudahlah, point pentingnya jangan membiarkan anak-anak terkena hal-hal negatip.


Pacaran sih boleh-boleh aja, tapi kalo udah besar! Jangan Ampe masih kecil udah pawang-pawangan.


Eh kok malah melenceng 😁.


Hayo tuh freyanya kayak ngerencanain sesuatu. Apa itu? Clue-nya udah author kasih disini ya!.


Okeh-okeh author bakal nepatin janji hari ini.


Kemarin dah 1 eps, yang ini eps kedua nah tinggal 1 lagi.

__ADS_1


-Nadira


__ADS_2