
Mobil yang ditumpangi Freya sudah berada di parkiran tempat yang ingin ia tuju, dengan girang Freya langsung berlari kecil dan masuk ke tempat tersebut.
Andra yang baru keluar dan melihat tingkah laku nona mudanya pun tersenyum terpaksa, “Kalau nona jatuh aku yang susah tapi nona juga tidak pernah mendengarkan nasihat ku! Jadi Apa yang harus ku lakukan?.”
Andra pun memijat kepalanya pusing, ia sangat lelah saat di suruh untuk mengawasi Freya namun jika tidak mengawasi Freya maka ia akan merasa janggal.
Duh repot ya!.
Akhirnya Andra langsung menyusul sang nona yang terlihat antusias layaknya anak kecil, yah tak heran Freya sedang mengandung.
“Nona, saya mohon sekali lagi jangan berlarian” peringat Andra untuk kesekian kalinya.
Namun Freya malah memutar matanya malas, “Sudahlah andra. Lebih baik kau membantuku mencari buku yang aku suka.”
“Apa judulnya non?” mau tak mau Andra menuruti ucapan Freya walau ia sendiri masih ingin menceramahi Freya bak emak-emak.
“Ini list-nya! Aku sudah menulisnya, aku akan mencari di sebelah sana dan kau cari di sana” jawab Freya lalu memberikan secarik kertas.
Freya sudah hafal jadi dia bisa mencarinya tak perlu memakai list.
“Baik nona” Andra mengangguk patuh lalu membaca satu persatu judul yang terletak di list tersebut.
Ada 6 buku yang ingin dibeli oleh sang nona.
Setelah menemukan buku pertama Andra baru mematung di tempat, ia baru ingat sesuatu yang penting.
“Tunggu, bukankah aku harus mengawasi nona? Harusnya aku selalu di belakangnya bukan berpencar!” lirih andra.
Andra lalu membawa satu buku itu dan berlari mencari keberadaan Freya.
“Nona, anda dimana?” saking cepatnya Andra berlari hingga ia tidak sadar bahwa list buku itu terjatuh di lantai.
List itu lalu di ambil oleh seorang pria berwajah datar, keningnya mengerut ketika membaca beberapa kata unik yang ada di list wanitanya.
Revan, pria itu membaca satu persatu judul yang tengah di cari oleh Freya sedangkan pandu hanya memandang lelah ke sang tuan.
Meskipun begitu hati pandu masih berdetak sakit walau tak sesakit kemarin, tuannya benar-benar sayang pada nyonyanya.
“Sejak kapan dia suka membaca buku-buku seperti ini?” gumaman lirih namun datar terdengar dari Revan.
Pandu yang jaraknya tak seberapa jauh dari Revan pun masih bisa mendengarnya, tentu saja meskipun hati pandu agak nyelekit tapi satu hal yang ia yakini.
Tuan dan nyonyanya memang cocok, sama-sama meresahkan para bawahannya.
“Memangnya buku apa yang dicari oleh nyonya, tuan?” karena penasaran pandu pun bertanya.
“Baca sendiri” balas Revan datar lalu memberikan secarik kertas berisi list buku yang dicari oleh Freya.
Kemudian Revan meninggalkan pandu, ia mencoba mencari beberapa buku yang di inginkan oleh Freya, ia sudah menghafalkannya jadi tak perlu risau.
“Hah? Kenapa bukunya begini semua?” pandu bergumam sambil menggelengkan kepalanya.
Apa-apaan? Mafia, ceo dan ranjang-ranjangan?.
‘Bagaimana bisa jadi begini? Tapi yah kalau di lihat dari judulnya.. novelnya menarik’ batin pandu, pandu pun ingin memberikan kertas itu pada Revan namun sang tuan sudah menghilang dari sekitarnya.
‘Aku ditinggal lagi?’ batin pandu kembali bersuara, akhirnya pandu pun mencari keberadaan Revan sang tuan datar.
Ia juga tak bisa berteriak memanggil sang tuan sebab disini juga ada Freya dan Andra, ia tak mau membuat Revan naik darah lagi.
***
“Mom, tak bisakah waktunya di undur lagi?” tanya kinen menatap pantulan dirinya yang tengah memakai gaun tanpa lengan namun dibalut dengan jas, warna jas dan gaun itu senada sama-sama hitam.
Terlihat menawan dan pas di tubuh ramping kinen.
“Yah tidak bisa kin, mau tidak mau kamu harus melakukannya kalau tidak perusahaan berzeliuz akan gulung tikar” balas sang mommy tersenyum menatap puterinya.
“Lalu siapa yang mengurus perusahaan selama lima bulan lebih ini?” tanya kinen menatap pada sang mommy.
“Itu anak lelaki yang dulu pernah di tolong oleh quqi dan Joni, sekarang dia sudah dewasa. Dulu dia menjadi asistennya leo yah walau saat mom lihat dia tidak ikhlas bekerja dengan b*jingan itu.”
Mommy menjelaskan dengan lancar dan juga menatap balik pada kinen.
__ADS_1
Yah sekali mendengar kinen pun tahu bahwa pria itu ingin mempertahankan perusahaan yang sudah dijaga oleh sang Daddy sejak lama, meskipun nyatanya pria itu tak ingin menjadi bawahan Leo yang notabenenya adalah orang yang memb*nuh tuan dan nyonya berzeliuz.
“Lalu kenapa dia tidak meneruskannya? Kenapa memerlukan aku?” tanya kinen gusar, ia mengerti soal bisnis tapi ia khawatir jika dia akan berbuat sesuatu yang salah.
“Karena dia hanya pemimpin sementara sedangkan kamu itu pewarisnya, jangan khawatir dia tumbuh menjadi lelaki yang bertanggung jawab dan tampan” jawab mommy memeluk kinen untuk menghilangkan kekhwatiran anak gadisnya.
Kinen pun membalas pelukan mommy lalu melepaskannya, kinen dan mommy pun pergi ke halaman depan untuk menyambut lelaki itu.
“Dia tidak dingin kan?” tanya kinen yang agak tidak suka orang dingin seperti abangnya.
“Tidak, dia tumbuh menjadi anak yang ramah dan murah senyum namun jika dia serius maka auranya akan sangat mematikan” jawaban mommy membuat kinen lega di awal namun serasa tercekik di akhir.
Kepribadian ganda? Seperti kakaknya yang tengah mengandung saat ini?.
Tapi kan masih mending Freya begitu karena dia mengandung sedangkan pria yang akan jadi asistennya ini? Memangnya pria bisa mengandung?.
“Itu dia datang” mendengar ucapan mommy kinen pun memandang pada pria tiang yang sedang menuju ke arah mereka.
Tinggi kinen hanya sebatas bahu pria itu padahal Kinen sudah cukup tinggi.
“Selamat pagi nona berzeliuz, nyonya purnama” pria itu menunduk dan menampilkan senyum hangatnya.
“Selamat pagi juga” balas mommy dan kinen walau kinen menjawab dengan suara kecil.
“Biar saya memperkenalkan diri, nama saya candra viendra nona” ujar pria itu, candra memperkenalkan dirinya.
“Shtt mom, dia punya marga?” bisikan itu datang dari kinen.
Walau kinen berbisik dengan se-pelan mungkin namun Candra masih bisa mendengarnya dengan baik.
Entahlah, akankah Candra ini bukan manusia?.
“Saya baru ingat marga saya beberapa tahun yang lalu nona” Candra memilih untuk menjawab pertanyaan sang nona berzeliuz yang mana malah membuat kinen terjingkat kaget.
“Kau bisa mendengarnya?” tanya kinen menunjuk candra.
“Pendengaran saya cukup tajam nona” jawab Candra dengan terkekeh pelan.
“Sudahlah, kalian harus segera berangkat kalian itu harus memberi contoh untuk para bawahan kalian!” ucap mommy mendorong kinen dan Candra hingga keduanya masuk ke dalam mobil.
“Bye mom” kinen menjulurkan kepalanya dari jendela dan menatap pada mom tarinya seraya menampilkan senyum manis terbaiknya.
“Bye sayang” balas mommy tersenyum, mommy baru masuk rumah saat mobil yang di tumpangi kinen dan Candra menghilang dari pandangannya.
***
Freya menatap pada pria yang menyeretnya ke halaman belakang di gedung yang ia datangi tadi, tanpa di duga pria itu membelikan buku yang ingin ia beli.
“K—kenapa kau ada disini?” tanya Freya pada akhirnya.
“Mengikuti mu” jawaban singkat terdengar dari pria di hadapannya.
Mendengar jawaban yang relatif singkat Freya jadi ingin menggeplak kepala pria itu namun tak jadi.
“Kenapa kau mengikuti ku?” tanya Freya lagi berusaha sabar menanggapi pria beku di hadapannya.
“Aku hanya ingin bertanya satu hal” jawab pria itu, revan lagi-lagi menjawab dengan kata yang singkat.
Freya membalasnya dengan kernyitan di area dahinya, bukan! Ia begitu bukan karena perkataan Revan namun karena tendangan dari si janin yang teramat aktif.
Revan yang memang tidak peka tentu tidak tahu namun sebagai seorang mafia ia tahu wajah Freya seperti menahan sakit, selain itu Freya juga mencoba mengelus lembut perutnya.
Tanpa pikir panjang Revan mencoba untuk mengelus perut yang sudah lama tidak ia sentuh, terakhir itu.. saat ia belum menerima surat laporan dna dari dr Anisa.
Namun rasanya sangat berbeda dengan elusan yang saat ini sebab sekarang sudah ada yang membalas elusannya.
DUG DUG
“Dia bergerak” Revan berucap dengan tersenyum tipis.
Freya yang awalnya ingin bertanya pun terdiam, Revan terlihat bahagia selain itu.. janin itu juga anaknya.
Anak dari hasil perbuatan mereka berdua.
__ADS_1
Beberapa detik setelah Revan mengelus perut Freya wanita itu terperangah sendiri, bagaimana bisa janin itu langsung diam?.
Hey! Anak pun bisa pilih-pilih!.
Karena janin itu sudah tidak membalas elusannya, akhirnya Revan berdiri tegak kembali menatap wanitanya yang sedang membuka mulutnya.
Wanitanya ini masih saja sama seperti dulu.
Tangan Revan pun menyentuh dagu Freya lalu mengarahkan dagu itu ke atas “Tutup mulutmu, Kau sudah akan menjadi seorang ibu.”
Freya pun mengerucutkan bibirnya lalu wanita itu bertanya, “Apa yang ingin kau tanyakan padaku?.”
“Bagaimana perasaanmu tentang diriku? Masih sama atau berbeda?” pertanyaan dingin itu membuat tubuh Freya menegang.
Kenapa Abang dan suaminya ini bertanya hal yang sama sih? Walau rentang waktunya cukup lama.
“A—apa maksud pertanyaan mu itu?” tanya Freya agak gugup.
Melihat reaksi Freya Revan tersenyum tipis, ia bisa menduga sebab reaksi Freya ini seperti bahwa wanita miliknya itu terkejut.
Jika Freya memang tidak suka padanya dia bisa langsung melakukan penolakan dengan tegas namun.. Freya terkejut.
Mungkin benar Freya kabur karena tak bisa diperlakukan seperti itu namun perasaan tak akan mudah di hapus.
Ia harus tetap berusaha lagi untuk meyakinkan Freya bahwa.. ia juga masih menyayanginya.
Freya bahkan sampai kabur segala ini membuktikan bahwa wanitanya tak mau di tindas dan tidak mudah mengubah fikirannya.
“Apa aku harus mengulanginya lagi darling?.”
DEG
Seketika jantung Freya berdetak dengan sangat kencang, darling?!.
“A—apa? Darling? Hey!” balas Freya menatap tajam kearah Revan.
Lihat, tebakan Revan benar Freya tak ingin di tindas lagi dan wanita itu tak akan mudah untuk berbalik setir alias berubah fikiran.
Teguh sekali.
Revan mendekatkan wajahnya ke wajah Freya menatap wanita itu lama, saat Revan mendekat freya langsung mundur ke belakang.
Hingga wanita muda itu sudah tidak bisa mundur lagi akibat ada tembok yang membatasi pergerakannya.
Saat Freya bingung dan ingin kabur ke kanan sebuah tangan kekar mencegahnya, Freya menatap ke Revan yang nyatanya sudah berada di hadapannya.
Ketika Freya ingin berlari ke arah kiri lagi-lagi tangan Revan mencegahnya untuk bergerak.
Hingga wajahnya dan wajah Revan hanya berjarak 5 cm lalu...
_______________________________
Untuk kenapa keberadaan Candra tidak dituliskan dalam novel tentang kinen? Yah jawabannya karena mom quqi and dad Joni ‘mengambil’ Candra (Candra kecil) saat masih sekolah dan karena Joni itu kaya maka dia menyekolahkan candra.
Karena jarak sekolah Candra dan mansion berzeliuz jauh maka Candra memutuskan untuk mengontrak.
Lalu Candra mendapat kesempatan untuk kuliah di luar negeri jadi dia tak tahu tentang berita Joni dan quqi, lagipula para media tak mau meliput berita yang akan membahayakan posisi mereka.
Dan tahu-tahunya saat Candra kembali ia baru tahu dan memutuskan untuk mempertahankan perusahaan yang telah di jaga Joni bertahun-tahun dengan susah payah.
And..
Sekali-sekali author mau nggantung 🤣 but ya sepertinya author bisa up double seperti saat ini kalau jadwal author kosong, ide author lancar dan yah kalau kuota masih ada tentunya.
Kalau author memang double up maka kemungkinan jadwal author.. Satu eps di saat pagi sampai siang dan eps lain di saat malam.
Alias author double up.
Tapi kalau author memang lagi padat maka ya hanya satu eps satu hari.
Ya semoga begitu.
Seperti biasanya jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.
__ADS_1
Thank u~
-Nadira