My Mafia Husband

My Mafia Husband
BAB.116. Perasaan hati yang nyelekit


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam, mommy dan kinen memutuskan untuk pergi sebab katanya mereka sudah membeli mansion di dekat sini.


Yang dibingungkan Freya, ia tidak melihat Revan dan pandu (padahal dia sudah melihat Revan sih).


Biasanya kan kalau ada mommy dan kinen pasti ada mereka berdua, tapi kenapa tadi ia tidak melihatnya?.


“Sayang, apa yang kamu fikirkan?” tanya seseorang dengan suara bariton.


Frey yang awalnya tiduran di kasur king sizenya pun menoleh.


“Abang? Frey ngga memikirkan apapun kok, kapan Abang masuk?” tanya Freya balik.


Fern menatap agak datar pada Freya, sejak kapan adiknya berani berbohong padanya huh? Fern itu bisa mengetahui segala tingkah laku Freya, bagaimana sikap Freya ketika adiknya marah? Bagaimana sikapnya jika adiknya berbohong?.


Fern mengetahui itu semua.


Menolak membuat keributan fern pun menjawab pertanyaan adiknya, “Abang sudah disini dua menit yang lalu.”


Freya pun membelalakkan matanya kaget, “Dua menit yang lalu? Kenapa Frey tidak mengetahui itu?.”


“Seharusnya Abang yang menanyakan itu padamu sayang” balas fern menggelengkan kepalanya tak habis fikir, mengapa adiknya malah bertanya padanya?.


“Hehehe, kenapa Abang kesini? Apa ada sesuatu?” Freya bertanya sambil bangkit menatap abangnya.


“Ini sudah malam darling, biasanya kita ngapain kalau jam enam malam-an hm?” tanya fern balik, pria itu menaikkan alisnya menggoda sang adik.


“Eh sekarang sudah jam enam p.m? Berarti sekarang waktunya makan malam!” jawab Freya lalu berjalan menuju fern.


“Benar sekali” balas fern singkat lalu berjalan ke bawah bersama adiknya.


“Wah Frey bener-bener ngga sadar” sahut Freya menggandeng tangan abangnya lalu menyeret pria itu untuk segera memasuki ruang makan.


***


Bukankah Freya tadi bertanya kemana pandu? Jawabannya pandu ada di..


DUM DUM


Suara dentuman kuat namun memabukkan menggema, disitulah seorang pria kekar tengah menghabiskan waktu bersama wine.


Dimana lagi tempat yang seperti itu? Sudah jelas hanya satu.. bar.


“Tambah lagi” nyatanya walau sudah meminum tiga botol pria itu tidak mabuk-mabuk, padahal alkoholnya cukup tinggi.


Di dada bidang pria itu terdapat tiga j*lang yang membelainya, membuka tiga kancing teratas kemejanya bahkan mengelus-elus dadanya.


Nyatanya pria itu, pandu tidak memesan wanita sama sekali. Sekali lagi pandu tidak bisa tidur dengan sembarangan orang apalagi itu j*lang yang sama sekali bukan levelnya.


Bahkan ketika salah seorang j*lang itu membuka sedikit bagian atasnya dan menggeseknya di dada bidangnya ia sama sekali tidak tergoda bahkan dia mengarahkan tangan pandu di area dada j*lang itu sambil men***** tetapi pandu tidak tergoda.


Tingkah j*lang yang satu ini sedikit normal namun tidak dengan yang lainnya, yang lain bahkan memegang erat miliknya dan menggeseknya di sela-sela paha tempat Miss * berada.


Namun sayang beribu sayang pandu lagi-lagi tidak tergoda tetapi pandu tak juga menolak ia membiarkan ketiganya melakukan apa yang mereka mau tapi pandu tidak akan melakukan apapun pada mereka.


Tujuannya kesini hanya untuk meminum wine, nyatanya pandu juga tak bisa membohongi perasaannya terus-menerus, Dia mencintai orang yang tidak seharusnya.


Padahal ia sudah berkali-kali mengaca namun rasa itu tak mudah untuk di hilangkan, ia harusnya tidak bersaing dengan tuannya sendiri.

__ADS_1


Pandu pada akhirnya menyadari bahwa perasaan yang ia pendam pada sang nyonya muda sudah berkembang menjadi sesuatu.


Sesuatu yang sangat-sangat tidak ia harapkan.


Pada akhirnya pandu tahu kalau dia mencintai sang nyonya muda yang kini tengah mengandung benih dari tuannya.


Memikirkan ini saja jantung pandu berdenyut sakit, tapi ini adalah kebenaran! Freya itu milik tuannya bukan miliknya.


‘S*alan!’ batin pandu meruntuk seraya merasakan detikan jantungnya yang mengerang sakit tetapi tidak berdarah.


Pandu sendiri bermonolog apakah jika ia menerima pengajuan perjodohan dari nyonya besar ia akan terbebas dari rasa sakit yang menohok hatinya ini?.


“Hey menyingkir!.”


Mendengar suara yang ia kenal pandu seketika menoleh dengan reflek, dr Anisa.


Mengapa dokter yang pernah menjulukinya S.G.M itu ada di tempat yang seperti ini? Apa dia juga j*lang?.


“Pak! Kenapa anda kabur ke tempat seperti ini?” meskipun tak mendengar dengan jelas pandu masih bisa membaca gerak bibir si dokter muda.


“Hah?” yang di tunjuk dr Anisa malah seolah-olah tak mengerti.


Satu hal yang pandu tahu, dr Anisa itu nekat sekali! Padahal dia tahu ini bar, B-A-R BAR! Tempat dimana orang-orang yang sebagian besar agak sinting berkumpul sebab pandu bukan orang sinting.


Pandu melirik singkat ke segerombolan pemuda yang sedari tadi menatap penuh hasrat pada dr Anisa.


Bukannya pandu peduli namun ia masih memiliki rasa kemanusiaan tidak seperti sang tuan.


Pandu mendorong ketiga j*lang yang ada di pangkuannya dan membayar wine itu, ia bahkan tidak menghiraukan ketika sang bartender berteriak karena uangnya lebih banyak.


Ketika mereka sudah berada di luar..


“Hey! Dasar kenapa kau membawaku keluar hah?” omel dokter Anisa akan tetapi pandu hanya memandangnya datar.


“Itu bar b*doh” balas pandu singkat seraya memutar matanya malas.


“Iya memangnya kenapa kalau itu ba— eh apa?! Bar?!” dr anisa menoleh kesana-kemari memastikan bahwa tempat itu memang bar.


Ketika melihat salah seorang kupu-kupu malam di dorong ke kamar padahal tubuh kupu-kupu itu sudah hampir te******g dr Anisa menolehkan kepalanya ke arah lain.


“Sudah? Itu bar, memangnya kau sehina itu?” mendengar pertanyaan yang menyinggung harga dirinya dr Anisa menoleh tajam ke arah pandu tepat di matanya.


“Aku mengejar pasienku, dan lagi camkan ini! Aku bukan kupu-kupu malam seperti mereka” balas dr Anisa sengit.


“Mengejar pasien juga tak harus senekat itu? Kecuali jika kau memang ingin merasakan bagaimana sentuhan pria-pria bejat di dalam sana” sahut pandu memandang datar ke dr Anisa.


Dr Anisa menggertakkan giginya kesal, “Jika kau memang tuli maka aku akan mengucapkan ini sekali lagi! Aku bukan kupu-kupu malam.”


Setelahnya dr Anisa langsung pergi menuju mobilnya dan menyalakan mobil itu, dr Anisa mulai menjauh bersama mobil yang ia tumpangi.


“Ck” pandu mendengus ketika si dokter tidak mengucapkan terima kasih sama sekali.


Padahal ia sudah menyelamatkan dr itu.


DRRT DRRT DRRT


Ponsel pandu bergetar pelan, pandu pun meraih ponselnya dan melihat nama yang ia sematkan di nomor yang meneleponnya itu.

__ADS_1


“Ada apa tuan?.”


“Kau ada dimana sekarang?.”


“Saya ke bar sebentar tuan sebab saya butuh ketenangan saat ini.”


‘Ketenangan agar bisa melepaskan diri dari pesona nyonya muda’ batin pandu menggema namun ia tak berani mengungkapkannya pada sang tuan.


“Cepatlah kesini.”


TUT TUT TUT


Panggilan di tutup secara sepihak, pandu hanya bisa bertabah mungkin dengan dirinya yang selalu sibuk ia bisa melupakan sang nyonya berhubung rasa cintanya ini belum sebegitu mendalam, ia juga harus menerima perjodohan dari nyonya besar.


Lupakan sebelum terlambat!.


***


“Freya!.”


“Nona muda!.”


teriakan itu berasal dari mama grea, papa Hunter, fern bahkan Andra dan delard.


Mengapa? Sebab bumil itu menghilang tiba-tiba setelah makan malam! Bahkan tidak satupun pengawal yang melihat Freya pergi.


“Hiks pa, fern kemana Freya? Apa dia ke mansion purnama?” tanya mama grea sedikit terisak.


“Tapi ma! Dia tidak tahu lokasi mansion purnama yang baru” balas papa hunter, tak dapat dipungkiri otaknya terasa munyet saat ia memikirkan kemana Freya pergi.


Hadeuh! Kenapa bumil itu meresahkan sih?.


“Tuan, Sammy juga menghilang” lapor delard yang memiliki dugaan tentang sang nona muda.


“Ini bukan saatnya memikirkan sam— apa? Menghilang? Jangan bilang kalau Freya...” fern mengerti sekarang.


Beberapa detik setelah fern berpikir..


“Mama, papa tunggu disini saja. Andra, delard kalian ikut aku ke halaman belakang!” fern berucap lalu berlari secepat kilat di ikuti oleh Andra dan delard.


Fern mungkin harus memborgol Freya agar adiknya itu tidak berkeliaran sembarangan apalagi dia sedang mengandung!.


Setidaknya Freya harus memikirkan janin yang masih mengontrak di perutnya itu!.


_______________________________


Hahaha, Freya sudah lama tidak membuat ulah jadi dia iseng lagi!.


Ayo babang fern! Tangkap terus borgol tuh si freyanya!.


Maju pantang mundur!.


Hahaha, ah ya jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang tentunya bersifat membangun ya!.


Thank u~


-Nadira

__ADS_1


__ADS_2