Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
100. Keadaan Leon memburuk.


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak pertengkaran itu kondisi Leon memburuk dengan cepatnya, namun di saat itupun Almira tampak ketakutan karna ia tidak sanggup melihat sang kakak merintih kesakitan hingga membuat dirinya menelpon sang kekasih hati dan berkelu kesah.


"Hallo...Adri, aku tidak tau harus mengatakan apa kepadamu tapi saat ini aku takut sekali." keluh kesah Almira dengan nada yang begitu sedih kepada Adri.


"Hey sayang, Apa yang terjadi,? maafkan aku tidak mengabarimu sepekan lebih, apa terjadi sesuatu di sana,?" tanya Adri ketika mendengar suara kekasih hatinya seperti sedang menangis .


"Adri kamu di mana,? aku membutuhkanmu disini, aku tidak tau harus menceritakannya kepada siapa lagi." jawab Almira dengan sedih.


"Aku sedang berkumpul bersama Paman, Ommah dan lainnya di rumah, katakanlah apa yang terjadi." balas Adri dengan binggung.


"Adri sebenarnya hubungan kakak dan Zahra sudah berakhir sejak beberapa bulan yang lalu, dan saat ini keadaan kakak memburuk dengan cepatnya." jelas Almira dengan keraguan untuk mengatakan kebenaran mengenai penyakit sang kakak.


"Tunggu sebentar, aku ingin semua keluarga mendengar cerita itu, aku akan menggunakan pengeras suara agar mereka bisa mendengar semua perkataanmu. Ayah maaf kalian duduklah dan dengarkan perkataan Almira sebentar. Al bicaralah." jelas Adri kepada semua anggota keluarga hingga terjadi perdebatan di antara mereka.


" Paman, Bibi sebelumnya aku minta maaf atas nama kakak, sebenarnya kakak dan juga kakak ipar sudah putus sejak beberapa bulan yang lalu, mungkin saat ini kalian binggung tapi jika kalian ingin mengetahui kebenarannya, kalian datanglah ke Italya, aku sangat berharap kalian semua datang sebelum kalian berasumsi bukan-bukan mengenai kakak, hanya kalianlah yang kami punya saat ini. " jelas Almira dengan tangisannya dan memutuskan sambungan telponnya.

__ADS_1


Kini di kediaman keluarga Zahra tampak kacau, namun dengan ketegasan Tuan Laksmana ia mengikuti instruksi dari Almira dan menyuruh seluruh anggota keluarga bersiap ke Italya tanpa terkecuali.


"Kalian semua bersiaplah kita akan mengunjungi mereka di Italya agar kita tidak berfikir negatif mengenai keputusan Leon mengakhiri hubungan dengan Zahra. " jelas dan singkat perkataan Tuan Laksmana tanpa ada yang membantah perkataannya.


Seminggu berlalu kini Zahra sedang berjalan jalan di America tepatnya di salah satu tempat wisata yang cukup padat peminatnya. Zahra yang mengenakan setelan blazer berwarna pink terlihat begitu mempesona sehingga ia menjadi pusat semua mata. Namun siapa sangka ia di pertemukan dengan Reimont yang sedang terjun di lokasi proyek yang sedang ia jalankan.


"Tuan maaf mengganggu waktumu, tapi ada hal penting yang harus anda ketahui." bisik sang asisten saat Reimont sedang bercengkrama dengan beberapa koleganya.


"Apa itu,?" tanya Reimont dengan singkatnya.


"Maaf saya harus pergi saat ini, karna ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan jika ada tanya jawab Asisten saya yang akan menjawab segalanya." ucap Reimont sembari berlari meninggalkan para koleganya karna ia begitu bahagia bisa bertemu teman barunya lagi.


Awalnya Reimont ragu dengan yang di katakan Asistennya namun dengan besar hati ia mendekati kerumunan orang, dan ya ia tampak tak percaya melihat sosok yang di carinya beberapa waktu lalu ada di negaranya. Ia pun dengan senang hati menunggu Zahra di bawah terik matahari dan juga kerumunan orang yang begitu banyak.


Almira begitu marah dengan sikap Leon yang enggan ikut bersamanya ke rumah sakit.

__ADS_1


"Kakak aku mohon ikutlah denganku, aku tidak sanggup melihat kakak seperti ini dan enggan ikut bersamaku ke rumah sakit, aku lebih baik mati dari pada membiarkan kakak menjemput kematian kakak di kamar ini." teriak Almira dengan histeris kepada sang kakak.


Mendengar itu membuat Leon marah besar dan menampar Almira.


Plakkk...tampar Leon dan ini adalah kali pertamanya Leon menampar Almira atau kasar kepadanya sejak ia menjadi pengganti orang tua buat Almira.


"Dek, maafkan kakak, kakak tidak bermaksud melakukannya tapi kakak tidak ingin kau mengatakan hal seperti itu atau mengutuk dirimu atas apa yang terjadi kepada kakak." ucap Leon saat Almira hendak keluar dari kamarnya namun Almira terlanjur marah dengan sikap enggan sang kakak untuk ikut bersamanya.


"Le, tidak semestinya kau menampar Mira, apapun yang di katakannya ada benarnya juga, coba kamu pikirkan jika kamu di posisinya mungkin kamu juga akan berkata seperti itu, jadi saranku ikutlah bersama dia." ucap Ervan kepada sahabat dan juga bosnya dan berlalu meninggalkan Leon sendiri.


Waktu berlalu begitu cepat di mana Leon tak kunjung keluar dari kamar sejak perdebatannya dengan Almira semalam. Ervan begitu khawatir dan mencoba memanggilnya namun tak ada balasan dari balik pintu tersebut. Ervan pun memilih masuk ke dalam kamar itu dan ia tampak begitu terkejut melihat Leon yang sedang duduk di kursi dengan memegangi foto Zahra. Awalnya ia mengira Leon tertidur namun saat Ervan ingin membangunkannya Ervan tampak panik karna Leon tak kunjung membuka matanya.


"Le, ayo kita sarapan, sejak semalam kamu tidak makan apapun." pintah Ervan dengan pelannya di telinga Leon.


"Le bangun, ada apa denganmu tidak biasanya kamu tidur begini." ucap Ervan kembali dan tidak segaja menyentuh pergelangan tangan Leon yang begitu dingin dan dengan cepatnya ia berteriak minta pertolongan kepada seluruh penjaga keamanan yang berjaga di Mansion itu. Secepatnya semua berlari menuju kamar sang bos.

__ADS_1


"Kalian cepat siapkan mobil, kita akan mebawa Tuan ke rumah sakit. " teriak Ervan histeris karna tidak menyangka keadaan Leon akan separah ini.


__ADS_2