Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
104. Anak siapa ini.?


__ADS_3

"Kakak baik-baik saja, hanya merasakan sakit di bagian belakang kepala seperti ingin mual tapi gak bisa." jelas Leon.


"Ya sudah aku akan memberikan obat untuk menghilangkan rasa sakit kakak tapi setelah kakak pindah ke ruangan pasien." jelas Almira.


" Apa Aggrita datang bersama Adri,? bagaimana jika Adri tau mengenai penyakit kakak dan menceritakan semuanya kepada Zahra.!" tanya Leon memastikan.


"Kakak sebelumnya aku minta maaf, tapi di luar bukan hanya Adri saja melainkan seluruh keluarga besar kakak ipar ada di sini terkecuali kakak ipar saja. Maafkan aku kakak." jelas Almira dengan rasa bersalah.


"Kakak malu dek bertemu Ayah, Bunda dan Ommah dalam keadaan kakak saat ini, mintalah mereka untuk kembali ke Indonesia kakak tidak ingin mengecewakan mereka saat kakak pergi kelak nanti. Kakak mohon padamu untuk meminta mereka kembali, dan bawalah Aggrita kepada mereka karna saat ini kakak hanya ingin sendirian saja." pintah Leon dengan memohon untuk tidak mempertemukannya dengan keluarga besar Zahra.


"Kakak apa yang kakak katakan, sebenarnya mereka di sini sejak kemarin saat kakak hendak masuk ruangan ini, mereka sudah menunggu kakak dan begitu mengkhawatirkan kakak. Tapi apa balasan kakak terhadap mereka." bujuk Almira.


"Kalian keluarlah, biarkan aku sendiri, jangan ganggu aku lagi, dan aku mohon kepadamu untuk tidak ikut serta dalam menangani penyakitku lagi. Keluar Mira!" teriak Leon frustasi akan keadaannya yang saat ini begitu rapuh namun teriakannya kali ini dan perbincangan antara mereka bisa di dengar oleh semua keluarga besar Zahra maupun Ervan dan pegawai keamanan.


Ketika mendengar kemarahan Leon, Ervanpun segera masuk dan mencoba menenangkan Leon karna ia merasa tidak enak hati dengan keluarga Zahra.


"Leon, kamu baru sadar dari koma, tenanglah sedikit itu akan sangat berbahaya bagimu, dan mengenai perkataanmu aku tidak mendukungnya bagaimanapun Paman dan lainnya sudah rela menunggumu seharian saat operasi berlangsung, mereka pun begitu mengkhawatirkanmu." ujar Ervan sembari menenangkan Leon.


"Kamu siapa,? jangan pernah mendikteku ataupun mencoba menasihatiku karna kau adalah bawahanku. Kalian enyahlah dari hadapanku dan satu lagi jika tidak ada hal penting jangan pernah menunjukkan wajah kalian di depanku siapapun itu." marah Leon kembali walau hatinya begitu sakit saat mengatai orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


Ervan yang melihat kemarahan Leon dengan segera menggendong Aggrita dan menarik pergelangan tangan Almira dan keluar tanpa membalas perkataan Leon.


Setelah melihat kepergian ketiganya Leon mulai menangis sejadi jadinya karna ia menyesali segala perkataannya barusan dan mungkin sudah melukai perasaan mereka.


Almira begitu terkejut ini adalah kali pertamanya Leon membentaknya dan menyebutkan namanya. Hati Almira begitu sakit ketika melihat Aggrita menangis karna di usir oleh Leon.

__ADS_1


"Al biarkan Leon sendiri, mungkin ia merasa risih dengan keadaannya saat ini, dan kamu tidak perlu merasa tidak enak hati kepada kami." Ommah berbicara.


"Tapi aku gak suka cara kakak seperti itu, tidak masalah jika ia membentakku atau marah kepadaku tetapi tidak dengan Aggrita." balas Almira dan segera menarik anak itu dalam pelukannya.


Toktok..


"Masuklah.!" sahut Leon dari dalam.


"Selamat siang Dirut, maaf mengganggu, kami akan memeriksa kondisimu agar secepatnya anda bisa pindah di ruangan pasien VIP." jelas sang Dokter pengganti.


"Baiklah, dan tolong jangan libatkan adikku dalam pengobatanku. Apa kalian paham.!" kata-kata Leon membuat seluruh staf rumah sakit seperti sedang di introgasi.


"Baik Dirut, kami akan menghapus nama Ketua Mira dalam penanganan atas dirimu." jawab sang dokter.


Setelah selesai pemeriksaan, Leon pun di pindahkan ke ruang pasien namun ia tampak ragu ketika hendak didorong keluar dari ICCU karna ia begitu malu ketika kondisinya saat ini di lihat keluarga besar Zahra.


"Tolong, minta mereka untuk pergi, aku tidak ingin dari mereka melihatku saat aku keluar dari sini" pinta Leon kepada salah satu Dokter.


Mendengar itu Dokterpun segera keluar dan meminta maag kepada Almira.


"Ketua Mira maafkan saya yang begitu lancang, tapi ini adalah permintaan Dirut. Dirut ingin anda beserta yang lain untuk tidak melihatnya saat ia hendak keluar nanti. Saya mohon maaf." ujar Dokter tersebut seraya minta maaf.


"Tidak masalah, kami akan pergi dari sini sebelum Leon keluar." balas Adri.


Dokter pun segera kembali keruangan ICCU dan segera menyuruh para Dokter yang lainnya mendorong Leon keluar.

__ADS_1


Almira dan lainnya hanya bisa melihat Leon dari kejauhan tapi tidak dengan si kecil saat melihat tempat tidur elektrik itu keluar ia segera berlari ke arah Leon. Melihat itu Almira hendak lari namun ia di tahan oleh Tuan Laksmana.


"Mira biarkan Aggrita pergi, Leon tidak akan tega membiarkan Aggrita menangis." ucap Tuan Laksmana.


"Tapi Paman, kalian sudah mendengarnya, kakak pasti akan marah kepadanya." balas Almira khawatir.


"Kita lihat saja, menurut Paman, Leon tidak akan melakukannya karna kami sudah mendengar pembicaraan mereka berdua sebelum kamu tiba tadi." balas Tuan Laksmana kembali.


"Dokter berhenti, kalian akan membawa Deddyku kemana, jangan bawa Deddy lagi, aku akan memukul kalian jika membawanya pergi dari sini." ucapnya dengan polos sehingga membuat seluruh anggota Dokter melonggo.


"Adik kecil mungkin kamu salah mengenali keluargamu, ini adalah pasien VVIP dan sebaiknya kamu pergi dari sini jangan mengganggu pasien yang lain." Marah salah satu Dokter.


"Itu adalah Deddy ku kamu tidak berhak atas dirinya karna Deddy punyaku bukan punya orang lain." teriak Aggrita.


"Hey, anak siapa sih yang di biarkan berkeliaran di sini, pergi jangan membuat keributan di sini." marah sang perawat.


"Hentikan, dia adalah putriku! Sayang maafkan Deddy yang sudah membentakmu tadi, Deddy sungguh menyesal telah membentakmu dan juga Aunty beserta Paman Ervan tadi. Maafkan Deddy sayang." ucap Leon sembari menarik Aggrita duduk di sampingnya.


"Dirut maafkan kami yang sudah lancang marah kepada Nona besar." ucap sang Dokter.


"Tidak masalah, antarkan kami ke ruangan sekarang juga." pintah Leon.


"Baik Dirut, sekali lagi kami mohon maaf." ujar sang Dokter.


Leon menganggukan kepala seraya tersenyum kepada para Dokter. Namun para Dokter keheranan karna yang mereka ketahui jika pemilik rumah sakit itu masih lanjang.

__ADS_1


__ADS_2