
Setelah selesai berdansa, Zahra membawa Ricard bertemu Fahreza.
"Zahra, kamu mau ngapain sih!" pekik Ricard saat Zahra menarik nya dengan berlari kecil.
"Ikut aja! bawel banget sih!" balas Zahra dengan ketus nya.
"Hey..." Zahra menengur ketiga Kakaknya yang sedang berbincang bersama sang sahabat.
Alfian langsung memeluk sang Adik. "Sayang, kamu sudah makan belum? kami berencana makan direstoran kamu loh.! seru Alfian.
"Aku gak makan deh, kak! jika kalian mau makan aku akan menelpon Prily untuk mereserfasi sebuah ruangan untuk kalian." balas Zahra.
"Terserah kamu aja deh!" balas Adry bersamaan dengan Alfian.
"Ricard, senang berjumpa dengan mu lagi." ucap Fahreza dengan tersenyum.
Oh iya, Rian kenalin ini partner bisnis aku.
Dengan cepat Alfian menarik Zahra.
"Apaan sih!" gerutu Zahra saat Alfian menarik nya menjauh dari Ricard dan lain nya.
"Sayang mengapa kau kesini bersama Ricard? dan kakak lihat sepertinya kau dan Ricard-" ucap Alfian dan terhenti saat Zahra menutup mulut nya dengan tangan nya dan menatap Alfian dengan tatapan tajam.
"Iya-iya, udah jangan ngambek lagi." seru Alfian dan kembali berjalan menuju Fahreza dan lain nya dengan Zahra yang berjalan di belakang nya.
Mereka yang sedang asik berbincang kaget dengan teriak kan seseorang yang berteriak.
"Zahraa Kau sungguh wanita terkejam dalam dunia bisnis! bisa-bisanya kau menghancurkan perusahan ku dalam waktu kurang lebih dari 1 jam, dan kau Tuan Alziro, kenapa anda mencintai wanita sekejam dia." pekik Sadewa dengan amarah nya.
Semua pun tampak melihat ke arah Zahra dan mulai mencibir nya, dan di sana juga jelas terdapat banyak wartawan dari berbagai stasiun berita. Ke lima pria yang bersama Zahra hendak berjalan menuju Sadewa namun dengan cepat nya, Zahra mengangkat tangan dan melihat ke arah mereka. "Aku tidak selemah itu! aku akan memperjelas semua nya di sini." pekik Zahra dan mencoba tersenyum dengan paksa karena ia akhir nya akan mempublikasi kan jadi diri nya.
Zahra pun bertepuk tangan. "Acting yang sangat sepurna Tuan Sadewa.!" pekik Zahra dan berjalan ke arah Sadewa dengan raut wajah yang tidak dapat di arti kan.
"Sudah aku katakan kepada mu berulang kali! jangan pernah mengusik ketentraman ku, namun kau selalu saja dengan sombong mencari cari kesalahan ku. Kali ini kita lihat siapa yang akan malu setelah kejadian ini." pekik Zahra kembali dan berjalan mengelilingi Sadewa.
Aula pesta itu terlihat tenang dan mulai mengeluarkan aura kemarahan yang seperti akan membakar ke seluruhan bangun tersebut, terlihat jelas raut wajah para tamu undangan yang mengeluarkan keringat dingin mengingat sosok Zahra adalah wanita yang sangat berpengaruh di industri bisnis.
"Saya adalah Zahra Humairah Chandra, dan pria pengecut itu adalah Sadewa, CEO Nirmala Group. Mungkin saat ini kalian berpikir aku adalah wanita terkejam di dunia bisnis, namun yang perlu kalian ketahui. Aku lah pemilik Nirmala Corp sejak 6 tahun yang lalu." jelas Zahra dengan raut wajah yang begitu tenang.
Kini aula itu hening seketika, semua yang ada di ruangan itu terdiam dengan keterkejutan mereka. Karena mereka tidak tahu jika perusahan itu telah menjadi bagian dari One Corp.
"Kamu orang yang tak tahu berterima kasih, saya Zahra Humairah Chandra, berdiri disini bukan karena Tuan Laksmana Chandra atau pun CEO dari One Group. Melainkan Zahra yang memiliki banyak kekurangan." ucap nya dengan tegas.
Semua tampak tak percaya jika wanita yang sedang berbicara di atas panggung itu adalah Anak dari penguasa Indonesia dan Jerman yang cukup berpengaruh terhadap perusahan-perusahan ternama.
"Nirmala Group adalah perusahan yang saya beli dengan hasil kerja keras saya, dan gedung yang kalian tempati sekarang adalah bagian dari One Corp. Saya tidak suka berkompromi dengan orang - orang yang melakukan kesalahan." ucap nya kembali seraya menekan segala sesuatu yang ia lontar kan.
"Selama ini saya tidak pernah ingin ada orang yang tahu tentang indentitas ku, tapi manusia ini, terlalu sombong dengan jabatannya sebagai seorang CEO dan ingin mempermalukan saya ketika saya hendak masuk ke sini." pekik nya kembali.
Tiba-tiba pencahayaan di aula itu menjadi sangat gelap, semua pun tampak panik namun tiba-tiba sorot lampu mengarah pada sosok pria paru baya dengan setelan jas berwarna ke abu-abu an sehingga menampak kan ketampanan tersendiri di umur nya yang berkepala lima tersebut.
"Ayaah!" ucap Zahra dengan pelan nya.
"Paman Laks." ucap ketiga Kakak adik yang sama terkejut nya dengan Zahra.
Tuan Laks pun menghampiri Zahra, ia begitu bangga dengan anak perempuan nya, yang dengan berani nya melawan orang yang mengusik dirinya tanpa bantuan dari ketiga keponakan nya.
__ADS_1
"Selamat malam semuanya!" sapa Tuan Laks pada para tamu undangan. Setelah selesai menyapa para tamu, kini Tuan Laks pun memeluk erat Zahra sebelum ia kembali berbicara.
"Dia adalah kehidupan keluarga Chandra dan ketiga pria tampan yang ada di sana adalah anak-anak saya juga. Yang di katakan oleh nya adalah kebenaran seutunya karena semua kesuksesan yang kalian ketahui adalah jeri payah nya sendiri." ucap Tuan Laks kembali.
Ke tiga Kakak beradik itu pun naik ke atas panggung dan bergabung bersama Tuan Laks dan Zahra.
"Bos! ini laporan keuangan dari Nirmala Corp selama beberapa tahun terakhir." ucap Prily yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Zahra.
"Terima kasih Prily!" balas nya sembari mengambil dokument tersebut dari tangan Prily.
"Sadewa, selama ini saya memberimu kesempatan dan membiarkan mu tetap menjabat sebagai CEO namun kamu tidak pernah berubah, ketamakan dan kesombongan mu lah yang menjadikan kamu begitu rakus akan kekuasaan." pekik Zahra kembali saat melihat isi dari dokument yang ada di tangan nya.
"Apa anda Tuan Sadewa? Anda kami tahan, atas tuduhan pencucian uang di Nirmala Corp." ucap seorang pria berseragam hitam.
"Ya, saya Sadewa. Tapi saya tidak melakukan apapun dan di sini saya telah di fitnah olehnya." pekik Sadewa dan menunjuk ke arah Zahra.
"Sungguh kau tidak melakukan nya! namun sayang nya sudah hampir empat bulan aku menggumpulkan bukti-bukti mengenai kejahatan mu dan kau tahu dokument apa yang ada di tanganku Ini? ini adalah semua bukti kejahatanmu, Sadewa." ucap Zahra kembali dengan senyum kemenangan.
"Prily, kau bawa bukti ini ke kantor polisi, bersama pengecut itu." ucap nya kembali ke arah Prily.
"Baik Bos.!" balas Prily dan segera turun dan berlalu menghampiri Sadewa yang berdiri bersama beberapa polisi.
"Jujur kepada diri sendiri adalah kunci dari kesuksesan. Dan jika kalian merasa sudah jujur terhadap diri sendiri, maka kalian akan menjadi panutan semua orang dan akan terlihat baik di mata semua orang." Ucap Tuan Laks.
Semua pun tampak bertepuk tangan, karena ini kali pertama mereka bisa melihat langsung sosok yang sangat berpengaruh di dunia bisnis, ada di depan mereka bersama anak gadisnya yang tak kalah sukses dari mentor mereka.
Ketika mereka turun dari panggung, tiba-tiba ada yang menabrak Tuan Laks dengan segaja, kejadian itu tidak membuat Tuan Laks marah.
"Apa anda baik-baik saja?" tanya Tuan Laks kepada orang yang menabraknya barusan.
Pria tersebut tak membalas pertanyaan dari Tuan Laks dan malah menertawai Tuan Laks. Menyadari itu para pengawal Tuan Laks pun seketika maju dan menghadang pria tersebut untuk mendekati Tuan Laks.
Pria itu pun secepatnya melepaskan kaca mata yang ia kenakan. "Laks, kau sungguh benar-benar orang baik." ucap pria tersebut.
Tuan Laks tampak terkejut mendapati sosok sahabat yang sangat ia rindukan, kedua nya pun segera berpelukan.
"Bagaimana kabar mu, Fikry,? Aku sungguh tak menyangka kita bisa bertemu disini." sapa Tuan Laks.
Zahra pun berjalan menuju Ricard yang sedang asik berbincang dengan Rian. "Lagi ngomongin apa sih! serius amat." seru Zahra dengan raut wajah kebahagiaan.
"Lagi ngomongin kerjaan!" jawab Ryan.
"Oh iya, Ryan gimana kabar Livi, Apa dia udah sembuh." tanya Zahra khawatir.
"Livi udah beberapa kali kemo, namun hasilnya begitu aja." balas nya dengan lemas.
"Aku sama Anita sangat merindukan kalian, beberapa bulan yang lalu kami mencari keberadaan kalian namun kami tidak mendapat kan hasil, tapi aku bersyukur Tuhan mempertemu kan kita pada saat ini." ucap Zahra dengan berlinang air mata sebelum ia melanjutkan cerita nya.
"Jadi gini, kan setahun lalu aku ke California dan bertemu Dr.Bimo dan dia adalah sahabat aku, ia seorang dr.spesialis Kanker Darah. Aku sempet nanya ke Bimo, trus katanya di sana fasilitas nya cukup memadai dan pengobatan nya pun sudah ada yang sembuh loh, walau hanya untuk memperlambat penyebaran virus nya" jelas Zahra bersemangat.
"Kamu bawa Livi kesana, Aku gak mau terjadi sesuatu sama Livi imbasnya ke Fikar nantinya." ucap Zahra kembali dengan memohon.
"Tapi Zahra." bantah Rian.
"Kamu bisa bawa Fikar juga. Ada seseorang yang akan menunggu kalian di sana. Tiket pesawat nya udah aku krim ke email mu barusan. Dan soal biaya hidup kalian selama di sana gak usah khawatir, biaya rumah sakit juga nanti ada orang ku yang akan membayarnya dan 1 lagi kamu kerja di perusahan Kak Adri sebagai GM di sana." jelas Zahra kembali.
"Zahra, kamu sahabat kami yang sangat baik, kami tak tahu harus membalasmu dengan cara apa." Mereka pun saling berpelukan.
__ADS_1
"Zahra, Ricard. Aku pamit pulang dulu, Aku ingin membagi kabar bahagia ini ke Livi." seru Rian dengan bersemangat.
"Zahra, Aku berhutang nyawa kepadamu." ucap Rian Salim saat hendak pergi.
"Apaan sih, kalu ngomong itu di cerna dulu! kalian adalah sahabat ku dan ini sudah menjadi kewajiban dari seorang sahabat untuk saling membantu. Aku tidak ingin mendengar perkataan mu barusan untuk kedua kali nya!" pekik Zahra yang kesal dengan omongan Ryan.
"Maaf, trimah kasih ya, Zahra!" ucap Rian kembali dan setelah nya ia pergi meninggalkan Zahra bersama Ricard.
"Sampein salam ku buat Livi, bilang sama Livi jika aku dan Anita sangat merindukan nya. Sebelum keberangkatan kalian jangan lupa mengabari ku, agar aku bisa ikut mengantar kalian." teriak Zahra saat Rian telah berlalu keluar dari aula pesta tersebut.
"Baik lah! sekali lagi terima kasih." bapas Rian dan perlahan ia menghilang dari arah pintu keluar hotel.
Zahra tampak bahagia bisa bertemu Rian kembali sejak beberapa tahun lama nya mereka tidak berkomunikasi atau pun bertemu secara langsung. Melihat itu Ricard pun merasa Zahra adalah sosok wanita yang begitu lembut dan juga mencintai persahabatan.
"Kamu sama Rian berteman udah berapa tahunan?" tanya Ricard.
"Sekitar 12 tahunan deh, kami bersahabat sejak duduk di bangku SMP. Rian adalah sahabat satu-satunya Aku waktu duduk di bangku SMP. Ayah nya seorang pengusaha namun suatu ketika Ayah nya mengalami serangan jantung dan meninggal dunia kejadian nya ketika kami kelas 2 SMP. Setelah kematian Paman Max, timbul banyak fitnah, banyak yang mengatakan jika Paman Max melakukan korup, namun dengan bantuan Ayah ku akhir nya segala gunjingan para orang terhenti ketika kebenaran terungkap dengan sendiri nya, tahun berikutnya Rian pindah ke Jerman, kami pun bertemu di Jerman, saat Aku menjabat sebagai CEO. Namun Livi dan Ryan melakukan pernikahan, tanpa restu dari orang tua Livi dan akhir nya mereka melakukan menikah di Jerman." jelas Zahra sembari mengingat kejadian jahil antara diri nya dan juga kedua sahabat nya.
Ketika Zahra dan Ricard sedang asik berbincang Tuan Laks pun berjalan menghampiri mereka. Zahra tampak terkejut ketika Ricard memanggil seseorang yang sedang berdiri bersebelahan dengan Ayah nya dengan sebutan.
"Papah! kok Papah disini sih?" tanya Ricard bingung.
Tuan Laks yang awal sudah tahu jika Ricard adalah anak sahabatnya hanya tersenyum kepada Ricard.
"Ricard, ini Paman Laks." ucap Tuan Fikry memperkenal kan sahabat nya.
Ricard pun tersenyum dan menyalami Ayah Zahra. "Paman, apa kabar.?" tanya Ricard dengan tersenyum.
"Paman baik, oh iya ada salam dari Bunda dan juga Ommah untuk mu!" balas Tuan Laks.
Tuan Fikry tampak terkejut. "Kalian sudah saling kenal?" tanya Fikry dengan keheranan.
"Iya, kami sudah saling kenal, Ricard adalah rekan bisnis Zahra dan hubungan kedua nya pun tampak baik." jelas Tuan Laks dengan tersenyum. Kini giliran Tuan Laks memperkenalkan anaknya. "Fikry ini Zahra!" ucap nya sambil memegang bahu sahabat nya.
"Zahra ini Paman Fikry, sahabat Ayah sama Bunda mu!" ucap Tuan Laks. Zahra pun menyalami Ayah Ricard dan berkata "Om, Om kenal Ayah.?" tanya Zahra dengan bingung.
Kini giliran Tuan Laks yang kebingungan. "Kalian sudah saling kenal." tanya Tuan Laks.
"Waktu ulang tahun Linda, Zahra datang ke rumah, dan ternyata mereka berdua berpacaran." jelas Tuan Fikry di ikuti dengan gelak tawa saat bertatapan dengan Tuan Laks.
"Mengapa Ayah tidak tahu ya, jika anak gadis Ayah sudah berpacaran dan pergi menjumpai calon besan Ayah." ucap Tuan Laks dan mereka pun tertawa.
Zahra maupun Ricard tampak terkejut. Tapi tak membantah perkata Orang tua mereka dan hanya diam karena binggung akan menjawab apa jika mereka di tanya.
"Ya udah kalian berbincang lah, Ayah sama Paman Fikry ada yang ingin di bicarakan." ucap Tuan Laks kembali dan berjalan beriringan bersama Tuan Fikry.
Zahra tampak memikir kan sesuatu, ketika mendengar kan perkataan Ayah nya, ia tiba-tiba kehabisan kata-kata dan kali ini ia benar-benar masuk dalam jebakan Ricard.
"Hey! ada apa?" tanya Ricard saat melihat Zahra tampak sedang melamun.
"I-tu aku mau pulang!" ucap Zahra terbata karena saat ini ia sangat malu menatap ke arah Ricard atas perkataan Ayah nya barusan.
"Baik lah, tapi kita harus berpamitan dulu." balas Ricard dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal karena ia pun merasa malu dengan perkataan Ayah nya baru saja. Kedua nya pun berjalan menghampiri dua pria paruh baya yang sedang berbincang dengan asik nya.
"Ayah, Zahra pulang dulu, besok ada beberapa meeting." ucap Zahra dengan lembut nya.
"Iya sayang, tapi kamu pulangnya sama siapa?" tanya Tuan Laks sembari menggenggam tangan Zahra.
__ADS_1
"Biar Ricard saja yang mengantar Zahra kembali." selah Tuan Fikry.
"Baiklah kalian berdua hati-hati dijalan." ucap dua pria paru baya itu bersamaan.