Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
126. Sungguh Keajaiban.


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat nya, dua bulan telah berlalu. Keadaan Leon yang sempat memburuk pasca melakukan chemotherapy akhir nya membaik kembali seiring dengan pengobatan yang terus menerus di lakukan Almira demi kesembuhan Leon.


Sama hal nya juga dengan Zahra yang sudah sembuh dari penyakit depresi nya. Hampir dua bulan lama nya, ia menemui spikolog dan berkonsultasi, akhir nya ia bisa menghilangkan kecemasan yang selama ini mengusik nya.


Zahra saat ini menjalani kehidupan nya kembali seperti biasa walau sedikit kesedihan masih menyelimuti hati dan pikiran nya, mengingat diri nya tidak pernah bertemu Leon, dengan waktu yang cukup lama.


Namun setiap dua hari sekali, ia melakukan panggilan video dengan Almira yang memperlihat kan, kondisi Leon yang sudah mulai membaik. Bahagia, sedih dan kerinduan itu lah yang di rasa kan Zahra selama dua bulan terakhir.


"Sayang! Ayah senang melihat mu bangkit kembali. Dan sudah waktu nya kamu bertemu Leon kembali!" ucap Tuan Laks dengan tersenyum.


Zahra tampak menaikan alis nya ketika mendengar kan ucapan Ayah nya. "Maksud Ayah?" tanya Zahra binggung.


"Pergi dan temui Leon! kami tidak akan menghenti kan kamu lagi! sudah seharus nya kamu mengejar kebahagian mu sendiri." jelas Tuan Laks.


"Tapi kemana aku harus mencari nya Ayah! selama ini Almira selalu menolak ketika aku menanya kan keberadaan mereka.! " pekik nya dengan sedih.


"Hirslanden Clinique Lacolline, Jenewa. Itu lah rumah sakit Leon saat ini!" ucap Tuan Laks.


"Ayah tahu dari mana, jika saat ini Leon di rawat di rumah sakit itu." tanya Zahra.


"Al menelpon Ayah, dan menjelaskan situasi mengenai kondisi Leon, namun Al meminta Ayah untuk tidak mengatakan keberadaan mereka pada mu, karena ia tidak ingin kamu cemas hingga membuat mu jatuh sakit." jelas Tuan Laks.


"Ayah terima kasih." ucap nya sembari memeluk pria paru baya di depan nya.


Kondisi Leon saat ini tidak baik-baik saja, karena operasi pencangkokan sum-sum tulang belakang yang Leon lakukan tidak lah berhasil. Alhasil Almira maupun Ervan kembali memberanikan diri untuk meminta Zahra datang, melalui Ayah nya dan tidak mengatakan kemungkinan yang akan terjadi pada Leon.

__ADS_1


Adry dengan segala kegundahan nya memilih ikut bersama Zahra ke Swiss karena dua bulan lama nya ia tidak lagi berkomunikasi dengan Almira. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Almira namun tak kunjung mendapat kan balasan.


Sejak Leon mengalami koma, Almira melupakan Adry dan terus menerus fokus dengan penyembuhan Leon. Tampak terlihat dari raut wajah Almira yang begitu merindukan sosok Adry, saat ia membuka galeri foto kebersamaan antara ia dan Adry. "Kak, kamu harus kuat! sebentar lagi wanita mu akan datang. Kamu pasti tidak ingin melihat nya sedih kan! maka dari itu aku mohon sadar lah" ucap Almira di ikuti dengan isakan pada akhir perkataan nya.


"Aku, sangat merindukan mu, kak. Aku tidak tahu? apa aku akan hidup dengan baik lagi saat kau tidak ada di sini. Aku mohon bangun kak." ucap Almira kembali dengan lirih nya di sertai isakan tangis yang lebih kencang.


Ervan maupun dr.Gun pun tidak dapat menahan haru saat mendapati Almira yang menangis di samping Leon. "Tuhan sungguh engkau tidak adil, mengapa kau memberikan cobaan yang begitu berat kepada orang sebaik Leon. Berikan ia waktu sedikit lama untuk bahagia." membatin Ervan dengan berlinang air mata.


Almira tampak kurusan, karena dua bulan lama nya ia tidak beristirahat dengan baik. Waktu tidur nya pun hanya empat jam saja, pola makan nya pun tidak teratur dengan baik. Sesekali ia duduk dan menangis di samping Leon, mengingat Leon yang menjaga nya bagaikan sebuah intan permata yang begitu berharga, yang tidak boleh di pegang oleh orang lain.


Jenewa, Swiss.


Adry maupun Zahra sudah tiba di bandara Internasional Zurick, kedua nya pun di jemput Ervan. Ervan dengan tegar nya menyambut Zahra maupun Adry dengan senyum yang hampir tidak terlihat karena ia tidak tahu jika setelah Zahra mengetahui kemungkinan yang terjadi pada Leon apa Zahra akan ikhlas menerima semua kenyataan ini.


Melihat Ervan tampak kurusan, Zahra pun angkat bicara. " Ervan, terima kasih untuk segala kebaikan mu! dan maaf karena penyakit Leon, kamu dan Prety menunda pernikahan kalian!" seru Zahra.


Dan dengan cepat nya Ervan membersihkan butiran bening itu namun tanpa Ervan sadari sejak ia berbicara, Adry menatap ke arah nya dan Adry pun dapat merasakan kesedihan yang Ervan rasa kan saat ini. Saat melihat Zahra yang sedang melihat ke arah luar jendela, Adry pun menepuk pundak Ervan. Ervan pun terkejut dan melihat Adry dari balik kaca berukuran kecil dan tersenyum.


Almira yang sejak tadi menangis akhir nya tertidur di samping Leon dan tidak menyadari kedatangan Zahra maupun Adry. Ervan yang melihat pun hendak membangunkan Almira namun Zahra memberikan isyarat kepada Ervan untuk tidak membangunkan nya.


Zahra tampak bahagia, dua bulan lama nya ia tidak bertemu Leon dan kali ini mereka di pertemukan kembali dalam kondisi Leon yang masih saja tidak sadarkan diri.


"Sayang, aku datang menjenguk mu! betapa bahagianya aku ketika melihat mu namun aku sedih karena Tuhan mempertemukan kita di saat kondisi mu masih sama seperti dua bulan yang lalu." bisik Zahra di telinga Leon di ikuti butiran bening yang jatuh di telinga Leon.


Setelah ucapan yang di utarakan Zahra, Leon tampak bereaksi, terlihat jelas Leon seperti menitihkan butiran bening. Melihat itu Zahra tampak bahagia, ia pun kembali membisik kan sesuatu.

__ADS_1


"Sayang, bangun lah! aku datang untuk menangih janji mu! sudah sebulan lebih dari hari pernikahan kita yang tertunda. Aku tahu kamu pasti bisa mendengarkan segala sesuatu yang aku katakan. Aku ingin kita menikah saat ini juga! jika kamu bersedia, beri aku beberapa tanda sekali lagi." bisik Zahra dengan lembut dan terus mengusap wajah tampan di depan nya yang terlihat begitu pucat.


Leon tampak menggerak gerak kan jemari nya. Almira yang sadar saat jemari yang di pegangnya bergerak perlahan pun segera bangkit. "Kakak! terima kasih sudah memberi beberapa tanda, semoga secepat nya kamu bangun dari koma." ucap Almira dengan terkejut ketika mendapati sosok Zahra yang sedang berbisik di telinga Leon.


"Kakak Ipar!" seru Almira dengan terkejut.


"Al, kamu sudah bangun! maaf kan aku, karena suara bisik ku, jadi mengganggu tidur mu." balas Zahra.


"Tidak! Maafkan aku, aku seharus nya berdiskusi dengan mu sebelum membawa Kakak kesini." ucap Almira dengan menunduk.


"Tidak ada yang perlu di maafkan atau pun meminta maaf, karena semua keputusan yang kau ambil hanya untuk penyembuhan Leon saja." balas Zahra dan segera berjalan memeluk Almira dengan erat nya di ikuti isakan antara kedua nya.


"Leon!" teriak Ervan seketika dan membuat Zahra dan Almira segera melepas pelukan mereka.


"Kakak!" ucap Almira dengan mata yang berkaca kaca.


"Sayang, aku merindukan mu!" seru Zahra dan langsung berhamburan di tubuh Leon di ikuti dengan isakan kebahagian.


"Aku akan memanggil dr.Gerald!" ucap Almira dan segera berlari keluar menemui dr.Gerald yang sedang berbincang ringan dengan dr.Gun.


"Sayang, maafkan aku, sudah membuat mu sedih." ucap Leon dengan suara yang begitu lemah.


"Sayang kamu jangan banyak berbicara dulu!" balas Zahra yang masih pada posisi nya.


Dr.Gerald beserta beberapa perawat pun masuk di ikuti Almira dan dr.Gun di belakang mereka. Dr.Gerald pun mulai memeriksa kondisi Leon hingga beberapa kali mengedarkan pandangan nya ke arah monitor yang memperlihat kan kestabilan jantung, hati.

__ADS_1


"It really is a miracle." said Dr. Gerald.


__ADS_2