
Setelah memastikan semua masalah yang menjerat Zahra selesai Leon dan lainnya segera meninggalkan Malaka dan kembali ke Italy. Zahra maupun Leon duduk bersebelahan namun rasa canggung di antara hubungan mereka terlihat jelas oleh Almira dan lainnya.
"Sayang, kamu setelah sampai mau ngapain?" Tanya Adri dengan bahagia karena ia berpikir untuk mengajak Almira jalan-jalan setelah melihat Zahra dan Leon kembali bersama.
"Aku sudah terlalu lama meninggalkan rumah sakit. Dan kemarin aku di telpon, jika besok ada pengangkatan tumor di salah satu pasienku. Dan itu pastinya mengharuskan aku turun tangan." Jawab Almira dengan jelas.
Adri terdiam dengan raut wajah cemberut karena planning yang sudah ia susun sejak beberapa bulan lalu akhirnya tidak dapat terpenuhi karena pekerjaan mendesak yang di terima Almira.
Almira pun tau jika Adri marah kepadanya karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga melupakan waktu mereka untuk bersama, namun Almira berpikir jika ia akan secepatnya menyelesaikan segala pekerjaannya agar bisa memberikan waktu untuk dirinya dan juga Adri.
"Kamu marah, ya!" Ucap Almira dengan raut wajah bersalah.
"Gak, itukan udah tanggung jawab kamu." Jawab Adri sekenan dan kembali memejamkan matanya.
"Maafkan aku, ya, acara jalan-jalan kita tertunda karena beberapa tuntutan dari pekerjaan aku." Ucap Almira kembali namun tak mendapatkan respon dari Adri yang sudah memejamkan matanya.
Almira tau betul jika kali ini Adri kecewa kepadanya, namun ia tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya terhadap beberapa pasien yang sudah menunggunya di rumah sakit. Almira yang tidak mendapatkan respon dari Adripun mengurungkan niatnya untuk berbicara terlalu banyak karena ia takut jika saja ia salah berbicara pasti mereka akan bertengkar dan pastinya Adri akan mendiaminya.
Zahra yang sedang memejamkan mata akhirnya terbangun karena merasakan sakit di bagian luka operasinya. Ia pun menekan luka itu hingga membuat sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
Leon yang baru saja kembali dari toilet kaget ketika mendapati Zahra yang sedang merintih kesakitan dengan pakaian yang sudah sangat basah dengan keringat.
"Sayang, kamu kenapa,? Apa ada yang sakit." Tanya Leon sembari duduk di samping Zahra.
__ADS_1
Zahra tak menjawab pertanyaan Leon karena ia merasakan sakit yang tidak dapat di tahanan. Leon yang melihat itu segera berdiri dan berjalan menuju tempat duduk Almira dan memberitahukan kondisi Zahra saat ini.
"Dek, maaf kakak mengganggu waktu istirahatmu. Tapi saat ini Zahra sedang merintih kesakitan dan kakak tidak tau harus berbuat apa." Jelas Leon dan di tanggapi Almira dengan raut wajah serius. Dan segera berjalan menuju kursi depan di mana Zahra dan Leon tempati.
"Kakak, aku akan memberikanmu obat pereda sakit sebelum kita tiba nanti. Dan aku harap kakak tetap tenang jangan membuat gerakan lebih atau nantinya luka itu akan berdarah kembali." Jelas Almira seraya mengusap keringat di dahi Zahra.
Balas Zahra dengan deheman yang terdengar seperti menahan sakit.
Setelah melihat Zahra meminum obatnya dan tertidur, Almira pun segera beranjak kembali karena dia tidak ingin membuat Fahreza dan lainnya khawatir dengan kondisi Zahra. Ia pun berjalan namun langkahnya terhenti.
"Dek, kenapa ia meradang kesakitan seperti itu?" Tanya Leon khawatir.
"Kakak, aku tidak bisa menjelaskannya saat ini, tapi gejala ini memang biasa terjadi kepada pasien luka tembak. Tapi tidak ada yang perlu di khawatirkan." Balas Almira menenangkan Leon yang terlihat gelisa.
Perjalanan panjang mereka pun berakhir. Namun Zahra tampak begitu pucat saat hendak berjalan keluar pesawat spontan membuat Leon dan lainnya khawatir.
"Dek, kamu kenapa? wajahmu terlihat sangat pucat." Ucap Fahreza sembari berjalan menuju Zahra yang berada di samping Leon.
"Aku baik-baik saja, kak, hanya sedikit capek saja karena duduk terlalu lama dalam pesawat." Balas Zahra dengan lemah.
"Setelah ini, kita ke rumah sakit untuk memeriksa kondisimu dulu, Ra." Timpal Alfian yang terlihat diam namun begitu khawatir.
"Terserah, kakak." Balasnya dan segera mempercepat jalannya karena ia sudah tidak sanggup berjalan terlalu lama.
__ADS_1
Setelah melakukan pemeriksaan dan mendapatkan hasilnya, Zahra meminta Leon untuk mengantarnya kembali ke Apartementnya karena ia ingin beristirahat tanpa ada banyak orang.
"Kamu kenapa, kamu masih marah ya sama aku." Tanya Leon ketika Zahra memintanya untuk mengantarnya kembali ke Apartement bukan ikut bersama dengannya ke rumah pribadi milik Leon.
"Gak, aku hanya ingin istirahat di sana." Jawab Zahra singkat.
"Di rumahku kan juga bisa, kenapa harus ke apartementmu!" Leon tampak kesal karena Zahra mencoba menjaga jarak dengannya kali ini.
"Le, aku gak ingin berdebat saat ini. Jika kamu gak mau ngantar aku, aku bisa memanggil taksi sendiri." Zahra tampak marah dengan perkataan Leon.
"Okey, aku tidak akan bicara lagi, ya sudah aku akan mengantarmu kembali ke apartement." Balas Leon dan segera membukakan pintu untuk Zahra.
Zahra tau jika Leon marah kepadanya karena tidak pulang ke rumahnya namun semua itu Zahra lakukan agar ia bisa menghabiskan waktu yang terbuang antara dirinya dan juga Leon.
Tepat pukul 02.00 dini hari keduanya tiba di apartement. Leon pun mengantar Zahra masuk ke kamar dan setelahnya ia memilih untuk kembali ke rumahnya karena di pikirannya saat ini Zahra tidak ingin melihatnya namun saat hendak menutup pintu kamar Zahra kegiatannya terhenti.
"Le, kamu mau kemana?" Panggil Zahra dengan suara serak.
Leon yang mendengar Zahra memanggilnya pun kembali membuka pintu kamar itu dan masuk. Ia pun duduk di tepi ranjang dan mengelus puncak kepala Zahra.
"Kamu tidurlah. Aku akan kembali setelah kamu mau berbicara denganku." Ucap Leon dengan tangan yang terus menerus mengelus puncak kepala Zahra.
"Maafkan aku yang sudah membuatmu tersinggung, tapi sebenarnya aku hanya ingin menghabiskan malam ini bersamamu berdua di apartementku tanpa ada kakak dan juga Al." Jelas Zahra seraya duduk dan mengelus pipi Leon yang sangat ia rindukan.
__ADS_1
Leon pun menarik Zahra dalam pelukannya, ia terlihat sangat bahagia mendengar Zahra ingin berdua dengannya tanpa ada orang lain.