Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
132. Keyakinan Hati Zahra.


__ADS_3

Dalam ruangan yang terdapat banyak alat medis terdengar canda tawa dari kedua insan yang tengah saling menyuapi satu sama lain.


Zahra yang sedang duduk sambil menyuapi Leon tampak tersenyum simpul, ia tidak dapat memikir kan apapun saat ini, mengingat jika operasi itu berhasil ia akan segera meminta Reza untuk mengurus pernikahan mereka.


Ada rasa lega dalam diri nya karena sebentar lagi ia akan bersama Leon hingga beberapa bulan kemudian, ya mungkin setelah operasi itu selesai, hidup Leon masih akan bertahan pada waktu yang entah kapan, namun setidak nya ia masih bisa bahagia walau hanya sesaat.


Di luar ruangan itu, sudah berdiri Al dan yang lain nya, awal nya mereka enggan masuk ke dalam mengingat kemarahan Leon, namun mereka tidak dapat mengambil resiko untuk Leon dan memberanikan diri untuk membuka handle pintu dengan pelan nya.


"Eh, kalian sudah datang, ayo masuk." ucap Zahra dengan senyum kecut nya.


Semua pun masuk tampak dr.Gerald berdiri di depan dan di ikuti Ervan dan Adry di belangkang nya.


"Ervan, kok kamu masih di sini! bukan nya kamu akan menemui clien di Italy!" tanya Leon dengan dingin nya.


Semua tahu mengenai arah pembicaraan Leon, namun tidak dengan Zahra yang belum tahu mengenai acara pernikahan yang akan Leon langaung kan bersama nya.


"Aku memilih penerbangan pukul 19.00 malam nanti." balas Ervan tanpa melihat ke arah Leon, karena ia tahu jika saat ini Leon sedang menatap nya dengan tajam.


"Al kamu juga kenapa masih di sini, bukan nya ada beberapa pasien yang sedang menunggumu di Italya?" kini pertanyaan itu bagaikan bom atom yang jatuh tertimpa kepala Al, karena kali ini ia tidak tahu untuk mencari alasan pasti mengelabui sang kakak.


"Hehe, aku akan berangkat bersamaan dengan Ervan dan lain nya pada malam nanti." balas nya dengan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Hhmmm." balas Leon dengan deheman namun mata nya melihat ke anehan dari mereka.


"Tuan, ada kabar baik untuk anda dan kami semua." ucap Dr.Gerald dengan hati-hati.


"Apa?" tanya Leon dingin karena instingnya berkata ada yang tidak beres dengan mereka yang tiba-tiba masuk bersamaan.


"Kami sudah menemukan pendonor sum-sum tulang yang cocok dengan anda, jika anda tidak keberatan, saya sudah menyiap kan ruang operasi untuk anda hari ini." jelas nya masih dengan keresahan hati, karena takut mendapat kan tatapan tajam dari pria yang sedang duduk bersandar di ranjang tersebut.


"Operasi? mana mungkin ada orang yang ingin mendonor kan sum-sum tulang nya kepada saya!" seru Leon masih dengan seringgai dinginnya dan jangan lupa dengan mata tajam ciri khas seorang Leon.


"Untuk saat ini, aku sedang tidak ingin di operasi, ada beberapa hal yang ingin aku lakukan saat ini, tidak ada bantahan apa pun. Kalian keluar lah!" ucap nya kembali dengan kemarahan yang sudah hampir meledak karena ia tahu jika ini semua sudah mereka rencana kan sebelum masuk ke ruangan nya.


"Tapi kak, ini adalah waktu yang tepat untuk melangsungkan operasi." entah dari mana keberanian Al datang, hingga ia berucap seperti itu dengan lantang nya.


Mereka pun dengan sedih keluar dari ruangan itu. Dan kali ini tinggallah Zahra di dalam ruangan itu.


"Apa ini? kamu mengusir mereka seperti mereka telah melakukan kesalahan yang tidak dapat di maafkan, ada apa dengan mu dan ya, sejak tadi aku melihat mu seperti menatap tajam ke arah mereka, jangan bilang jika kalian sedang membohongi ku lagi!" ucap Zahra panjang lebar dengan kekesalan nya.


"Mana mungkin aku membohongi mu lagi, ak-aku hanya ingin kembali ke Italya lusa nanti, aku merasa bosan terus menerus di ruangan ini." balas Leon dengan wajah memelas nya.


"Tidak, kamu tidak akan kemana mana, sebelum kamu menyetujui operasi itu." ucap Zahra tegas dan terdengar penekanan di akhir perkataan nya.

__ADS_1


"No, sampai kapan pun aku tidak akan menyetujui operasi itu. Keluar!" balas Leon dan mengusir Zahra dari ruangan itu.


"Kau mengusirku! oke, pertahan kan keegoisanmu sampai semua orang lelah menunggu hasil baik dari kondisimu." pekik Zahra dengan marah, dan berlalu keluar dari ruangan tersebut tak lupa di ikuti dengan dentuman keras pintu ruangan tersebut.


Zahra pun kini sudah berada di luar ruangan, ia mendapati Al dan lain nya yang sedang berdiri dengan frustasi nya.


"Apa kamu berhasil membujuk nya?" tanya Adry dengan cepat.


"Kalian tahu sekeras apa Leon, bukan. Namun kali tidak perlu menghawatir kan masalah itu. Aku sudah memiliki ide." ucap Zahra di ikuti dengan senyum licik nya.


Mereka pun pergi dari depan ruangan Leon menuju ruangan Gerald. "Persiapkan segala nya dari sekarang, aku akan melakukan pemeriksaan sekali lagi dan mungkin aku tidak bisa keluar lagi menemui kalian atau pun Leon hingga selesai operasi." jelas nya dengan serius.


"Apa maksudmu?" tanya Al dengan binggung.


"Karena masalah ini, aku dan dia sedang berselisi paham, jadi ini adalah waktu yang tepat, beri dia waktu selama 2 jam setelah nya ia pasti akan menyetujui operasi ini." ucap Zahra dengan yakin, mengingat Leon tampal luluh ketika mendengar perkataan nya barusan.


"Itu tidak mungkin! dan bukan nya kamu sendiri yang bilang jika kakak adalah tipe pria keras kepala, jangan terlalu yakin karena takut nya kamu akan kecewa terhadap nya." balas Almira dengan gelengan kepala karena tidak yakin dengan ucapan Zahra.


"Optimis dong jadi orang, jangan hanya karena pelototan dan perkataannya yang kasar membuat kita patah semangat." ucap Zahra masih dengan keteguhan nya.


"Kita lihat saja." balas Al singkat.

__ADS_1


"Apa kita bisa melakukan pemeriksaan sekarang dokter?" tanya Zahra kepada Gerald.


"Baik Nyonya, mari saya antarkan keruangan anda." balas Gerald


__ADS_2