Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
37. Tidak ada penolakan


__ADS_3

Setelah Ricard selesai mengolesi salep di pinggang Zahra. Ricard pun menyuruh Zahra keluar. "Keluarlah!" tanpa melihat ke arah Zahra.


Namun Zahra yang melihat luka sobek di tangan Ricard pun mengurungkan niat nya untuk pergi. Zahra pun menarik Ricard masuk ke kamar mandi dan dan hendak membersihkan luka tersebut. Namun Ricard dengan datar nya berkata.


"Keluar!" ucap nya datar.


Zahra tak sekali pun mendengar kan perkataan Ricard yang menyuruh nya untuk keluar. "Aku akan membersih kan luka mu, setelah nya baru aku pergi!" balas Zahra ketus.


"Sekali lagi aku katakan, Keluar, Zahra!" ucap nya dengan mata menyalah.


"Aku tidak akan pernah keluar dari sini!" balas Zahra dengan berani.


Melihat ke gigihan Zahra yang tidak memperdulikan perkataan membuat Ricard tergoda. Ricard pun maju selangkah demi selangkah ke arah Zahra. Zahra pun mundur selangkah demi selangkah ketika melihat Ricard yang terus menerus maju ke hadapan nya. Dan kali ini Zahra tak dapat menghelak lagi karena ia sudah terkunci dengan tembok kamar mandi.


Ricard pun menatap dalam-dalam wajah wanita di depan nya. Gejolak dalam hati nya sudah memburuh, nafas nya terputus putus karena bibir Zahra sudah menjadi favorit bagi nya.


Detak jantung Zahra berdegub kencang ketika pandangan mereka sudah sangat dekat hanya menyisahkan sejengkal. Zahra tampak malu dan grogi, ia pun menunduk kan kepala nya namun Ricard dengan lembut nya menangkup pipi Zahra dan mulai mencium Zahra.


Ricard perlahan lahan menyusup dan menyapu bersih bibir Zahra, Zahra pun tidak dapat menahan gejolak di hati nya karena ia pun mengingin kan hal tersebut.


Ricard terus menerus menyesap bibir Zahra dengan lembut nya, begitu pun dengan Zahra yang sudah terhanyut dalam ciuman itu. Ricard tidak mampu menahan nya lagi dan mulai turun menjelajah di leher Zahra. Zahra tak menolak ia pun merasakan sentuhan bibir Ricard yang sudah menelusuri leher nya.


"Ricard hentikan!" ucap Zahra dengan pelan nya.


Ricard tak menghiraukan perkataan Zahra ia terus menerus menelusuri leher Zahra dan kembali menyesap bibir kecil milik Zahra kembali dengan ganas nya, ia pun membawa Zahra ke ranjang tanpa melepaskan ciuman tersebut.


Namun seketika ia teringat jika ia tidak bisa melakukan hal lebih kepada Zahra terlebih hubungan mereka yang belum jelas. "Zahra, aku mencintai mu!" bisik nya di telinga Zahra.


Seketika Zahra pun tersadar jika ia telah terlena dengan kecupan lembut yang Ricard berikan kepada nya. " Ricard, aku belum tahu pasti dengan hati ku! aku memang merasa kehangatan saat bersama mu tapi beri aku waktu beberapa saat lagi untuk memikir kan semua ini." balas Zahra dengan lembut.


"Aku akan menunggu hingga kau benar-benar siap menerima ku!" ucap Ricard.


"Dan maaf, aku sudah lancang mencium mu.!" ucap Ricard kembali.


Zahra tak menjawab karena saat ini ia benar-benar sangat malu mengingat ia yang begitu agresif saat menerima sentuhan bibir dari Ricard.


"Aku akan membersih kan luka mu!" ucap Zahra dengan cepat dan membawa Ricard kembali ke kamar mandi.


"Kenapa kau lakukan ini!" tanya Zahra dan tidak di jawab oleh Ricard.


Zahra dengan hati-hati membersihkan tangan Ricard. Zahra pun memecah keheningan. "Besok awal proyek Rumah tak terbatas. Aku akan menyelesaikannya dalam waktu 3 bulan dan secepat mungkin, agar kontrak kerja sama kita cepat berakhir.!" ucap Zahra dengan hati-hati.

__ADS_1


Ricard menatap Zahra begitu dalamnya tanpa berkata apapun. Zahra yang sudah selesai membersihkan luka Ricard pun berjalan keluar namun Ricard dengan cepat berkata.


"Maafkan Aku Zahra, telah memperlakukanmu begitu kasar hingga menyebabkan pinggangmu lebam seperti itu." ucap Ricard dengan rasa bersalah nya.


"Maafkan aku juga Ricard." Zahra pun berlalu meninggalkan Ricard dan kembali keruangannya.


Zahra melihat ruangan Rany sudah di tempati orang lain dan bertanya. "Anda siapa, kenapa ada di sini,? Rany mana." tanya Zahra.


"Saya Nancy, asisten baru baru Ibu, dan Nona Rany sudah keluar dari perusahan." jelas wanita tersebut.


"Apaaaa?." teriak Zahra dengan terkejut.


Zahra pun kembali masuk ke ruangan Ricard dengan banyak pertanyaan. "Kemana Rany, kenapa kau memecatnya, Apa karena Rany tau keberadaanku dan identitas diriku, dan tidak mengatakan nya kepadamu, sehingga kau memecatnya. Ricard Alziro jawab Aku. Apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kau seperti ini." gerutu Zahra dengan kesal nya.


Ricard hanya diam tanpa bahasa. "Zahra kamu keluar lah! aku sedang sibuk." ucap Ricard lembut.


Zahra menghentakkan tangannya kemeja Ricard dan berkata kembali. "Jika Rany tidak kembali kesini dalam seminggu, jangan pernah berharap Aku akan bekerja sama dengan Alziro Group, sekalipun aku harus membayar biaya finalty karena telah memutuskan kontrak kerja sama kita." ucap Zahra dengan ancaman.


Zahra pun keluar dari ruangan Ricard dan berjalan memasuki ruangannya. Zahra duduk dan melihat beberapa file yang telah ada di mejanya. Zahra pun membuka satu per satu file tersebut dan membacanya. "Keruanganku sekarang!" ucap Zahra.


"Baik Bu Zahra." balas Nancy.


Toktok..


"Besok kita akan mensurvei lokasi pembangunan. Jadi besok kita bertemu disana saja, dan tolong bawakan file ini keruangan Tuan Ricard dan minta persetujuannya. Jika beliau setuju suruh tanda tangan di pojok kiri." jelas Zahra dengan melayang kan senyum.


"Baik Bu." balas Nancy, assisten Zahra yang baru.


Zahra begitu sibuk menyelesaikan pekerjaannya, sampai jam makan siang lewat pun ia masih bergelut dengan tumpukan file-file di atas meja nya.


Ricard yang melihat Zahra tak sekali pun keluar dari ruangan nya berpikir jika ia pasti belum makan siang, dengan segera ia pun menyuruh Dirgantara untuk membelikan 2 kotak makanan direstoran Zahra.


Dirgantara kembali membawa 2 kotak makanan. "Ini Bos, pesanan anda!" seru Dirga.


"Taruh disitu saja." balas Ricard. Dirgantara pun kembali keruangannya. Ricard menelpon ke ruangan Zahra, belum sempat Zahra menyapa, terdengar suara yang begitu dingin menerobos di telinga nya.


"Zahra, kamu keruanganku sekarang!" pintah Ricard.


"Oh Lord..apa lagi yang ia ingin kan!" gerutu Zahra namun ia tetap berjalan menuju ruangan Ricard.


Toktok

__ADS_1


"Masuk! dan kunci pintunya." ucap Ricard tegas.


Zahra menatap heran namun tidak membantah Zahrapun berbalik dan mengunci pintu tersebut.


"Kamu duduk lah disana, tunggu aku selesaikan pekerjaanku sebentar." ucap Ricard tanpa menoleh ke arah Zahra.


Zahra menuruti permintaan Ricard dan duduk. Tapi sesekali Zahra menatap ke arah Ricard.


"Pria ini sungguh tampan, tapi begitu temprament, kadang baik, kadang kasar." gerutu Zahra dengan pelan nya. Namun Zahra tersenyum mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu di man Ricard yang menciumnya berulang-ulang kali.


Ricard tersenyum saat melihat Zahra duduk dengan memanyunkan mulut nya, dan ia pun menyadari Zahra yang menatapnya sedari tadi pun tersenyum.


Ricard yang sudah selesai mengerjakan pekerjaannya berjalan menghampiri Zahra yang sudah duduk menunggunya. Ricard duduk di depan Zahra dan langsung membuka kotak makanannya.


"Jadi sedari tadi kau menyuruhku kesini, hanya untuk menemanimu makan, dasar gila! aku masih ada kerjaan yang harus di selesaikan." kesal Zahra. Zahra pun berdiri dan hendak berjalan namun Ricard menahan pergelangan tangannya. "Zahra duduklah dan makan makananmu." ucap Ricard dengan melempar kan senyum.


"Aku tidak lapar!" ketus Zahra.


"Zahraaa sungguh kau menguji kesabaran ku lagi." dengan tatapan dinginnya, Zahra sungguh keras kepala dan tetap pada pendiriannya.


Ricard berdiri, dengan pelan berbisik di telinga Zahra. "Jika kau tidak makan aku akan menciummu." bisik nya. Seketika tubuh Zahra membeku. Zahra pun mendorong Ricard dan duduk kembali.


Ricard tersenyum melihat tingkah Zahra.


"Habiskan makananmu." ucap Ricard dan duduk kembali. Mereka makan dalam diam, sesekali Ricard mencuri pandang melihat Zahra sambil tersenyum.


"Aku akan menjemputmu pukul 19.00 malam." ucap Ricard tiba-tiba.


"Uhukuhuk." Zahra tersendak.


Ricard berdiri menepuk pundak Zahra, sembari memberi segelas air. "Kamu kenapa? maka nya kalau makan itu pelan-pelan." seru Ricard.


"Ricard ngapain sih kamu ngomong saat makan." Zahra yang sudah kesal.


"Emang ada yang salah dengan omongan aku, gak kan." balas Ricard.


"Aku capek, mau tidur!" ketus Zahra.


"Aku tidak mau penolakan, apapun alasannya." jawab Ricard.


"Ricarddd.." Zahra menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan Ricard.

__ADS_1


Ricard pun tertawa. "Ini adalah kesempatan untuk aku bisa dekat dengannya lagi." gumamnya dalam hati. Awalnya Ricard ingin mengajak Zahra untuk membeli sebuah gaun namun kali ini Ricard memilih untuk membelinya sendiri.


__ADS_2