Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
30. Semua karna Ayah


__ADS_3

Zahra berjalan kemeja yang dia dudukki dan mengambil ponselnya. "Hallo Ayah, aku sungguh muak melihat orang-orang Ayah yang selalu mengikutiku dimana-mana." ucapnya kepada sang ayah dengan kesal.


......Ayah


"Jika Ayah tidak menyuruh mereka pergi, Aku akan segera meninggalkan Negara ini dan pergi sejauh mungkin, dan aku pastikan Ayah tidak akan pernah menemukanku, dan 1 lagi, tarik Fahreza kembali ke Jerman karena Aku tidak mau kerja kerasku disana sia-sia. Zahrapun memutuskan sambungan telponnya.


Handphone salah seorang bodiguar berbunyi.


"Hallo Tuan." sapa kepala bodyguard.


...... Tuan Laks.


"Baik tuan, kami akan segera kembali ke Indonesia." jawabnya kembali.


"Nona besar, kami akan segera kembali ke Indonesia." ucapnya kepada Zahra.


Zahra tersenyum licik kepada para suruhan Ayahnya.


"Zahra, kamu ikut denganku ke ruang kerjamu," kata Fahreza kepada Zahra.


Rany dan juga Dirgantara begitu binggung dengan apa yang terjadi setelah beberapa pria bertubuh besar sekarang datang seorang pria yang begitu tampan dan berbicara seperti menahan kemarahan.


Perdebatan antara Kakak beradik pun terjadi, terdengar suara Zahra yang sudah begitu tinggi.


Fahreza yang begitu marah akhirnya keluar dari ruangan Zahra, dan membanting pintu dengan kerasnya.


Zahra berusaha mengejar sang Kakak namun sang Kakak segera melajukan mobilnya.


Zahra kembali ke dalam dan berkata "Tuan Alziro, bisakah kita bicara sebentar." ucap Zahra.


Ricard pun berjalan bersama Zahra.


"Ricard jangan katakan apapun mengenai siapa aku sebenarnya kepada Rany maupun Dirgantara. Dan biarkan Rany ikut kembali ke kantor bersama kalian." ucap Zahra sembari memohon.


"Rany maafkan Aku, tapi aku berjanji akan menceritakan semuanya kepadamu. Aku harus pergi sekarang. Prily kamu istirahat saja di ruangan." ucapnya kembali setelah berbicara dengan Ricard.


Rany, Dirgantara dan Ricard hanya menatap ke arah Zahra yang sudah berada di luar restoran karna mereka tidak mengerti dengan yang terjadi barusan.


Zahra langsung mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menyusul sang Kakak yang sudah terlanjur emosi.


Semua ini gara-gara Ayah, akhirnya identitasku yang slama ini ku tutup, akhirnya terbuka di depan Rany dan Dirgantara. Teriaknya dalam mobil dengan seribu kekesalan.


Zahra menuju ke Apartement sang Kakak, "Kakak dengarin dulu penjelasanku." Zahra mencoba menjelaskan di balik pintu.


Fahreza membukakan pintu untuk sang Adik.


Zahra mencoba menjelaskan kepada sang Kakak dan Fahreza menerima semua penjelasan Zahra.

__ADS_1


"Namun kamu harus berjanji, setelah semua bisnismu maju Prily yang akan mengelolanya dan Kakak akan menjemputmu suatu saat nanti." dengan tegasnya Fahreza berbicara.


"Baik Kak, makasih udah menyayangiku dan menjagaku. Kak Aku harus kembali ke kantor sekarang." balas Zahra dengan kebahagian.


"Hati-hati dijalan sayang, dan ingatlah dengan janjimu barusan." teriak Fahreza ketika Zahra hendak meninggalkan Apartementnya.


Rany, Dirgantara masih tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat dan mereka dengarkan. Namun tidak dengan Ricard karna ia mengenali Fahreza tetapi ia pun sama dengan Rany maupun Dirgantara yang tidak mengerti dengan orang-orang yang selalu ada di samping Zahra.


"Rany kamu keruanganku sekarang," pinta Ricard Alziro.


toktok...


Masuk! terdengar sahutan dari dalam. "Rany kamu cari tau siapa Orang tua Zahra yang sebenarnya, dan kabari aku secepatnya." perintah Ricard kepada asistennya.


"Baik tuan." Rani pun meninggalkan ruangan atasannya dan kembali keruangannya.


Siapa Zahra, kenapa Ia menyembunyikan identitasnya? dan apa pengaruh Ayahnya? monolog Ricard yang binggung dengan pengaruh ayah Zahra yang tidak ia ketahui.


Zahra akhirnya sampai diperusahan. Ketika melihat Rany, Zahrapun menarik Rany keruangannya, tanpa mereka sadari Ricard Alziro sudah melihat mereka.


"Rany maaf Aku meninggalkanmu tadi di restoranku." ucap Zahra.


"Tidak apa-apa, Zahra." balas Rany.


"Sebenarnya Aku anak seorang pengusaha kaya raya terbesar di Indonesia dan Jerman.


"Apa, Kamu seorang CEO? dan sekarang kamu menjadi seorang bawahan disini.?" Rany begitu terkejut dan segera melontarkan banyak pertanyaan kepada Zahra.


Zahra hanya mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum.


"Dan Aku memiliki 3 orang Kakak, yang tadi adalah kakak tertuaku nama Fahreza Adiyaksa Chandra dia sekarang menjabat sebagai wakil CEO dan yang memegang perusahanku di jerman." jelas Zahra karna ia tidak ingin membuat Rany binggung dengan kejadian tadi.


Rany pun bertanya. "Bukannya katamu kamu anak tunggal, kenapa kamu memiliki 3 orang Kakak, Zahra?"


"Mereka adalah ponakan Ayahku ketika mereka kecil ke 2 orang tua mereka meninggal akibat kecelakaan pesawat." jelas Zahra kembali dan terdiam beberapa saat setelahnya ia berbicara kembali.


"Ayahku mengambil hak asuh untuk mereka, tapi mereka memanggil Ayahku dengan sebutan Paman, namun dengan Bundaku mereka memanggil dengan sebutan Bunda."


"Tapi pleace Kamu jangan ceritakan kepada siapapun mengenai identitasku dan jati diriku, karna aku tidak ingin hidup dalam bayang-bayang keluargaku." pinta Zahra.


"Tapi kenapa kamu lebih memilih kerja di perusahan lain di bandingkan perusahanmu sendiri," tanya Rany yang binggung dengan pemikiran Zahra.


"Aku adalah seorang Arsitek dan seorang pelukis lukisan Abstrak, dengan begitu semua yang Aku dapatkan saat ini, akan Aku coba kembangkan diperusahanku.


Sebenarnya Aku membuka beberapa diskotik, galeri lukisan dan restoran, uang yang kuhasilkan tidak untukku sendiri melainkan Aku bagikan ke orang-orang yang tidak mampu, dan Ku donasikan untuk panti Jompo sekaligus panti Asuhan." jelasnya untuk terakhir kalinya sebelum mereka menyudahi pembicaraan panjang mereka.


Ricard Alziro sudah mendengar segala yang Zahra katakan kepada Rany, kepalanya begitu sakit mendengar identitas Zahra sebenarnya.

__ADS_1


Setelah Zahra selesai menjelaskan, Rany pun keluar dari ruangan Zahra.


Zahra segera duduk dan mempersiapkan beberapa skema gambar untuk metting sore nanti.


Ketika mereka sedang melakukan metting. Seorang kepala keamanan masuk dan memberitahukan jika ada yang sedang meretas semua komputer yang ada di perusahan.


Zahra Humairah langsung menyuruh Rany untuk mengambilkan labtopnya. "Rany tolong ambilkan labtop saya." pintanya.


Rany kembali dengan membawakan labtop Zahra Humairah.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Ricard dengan dingin kepada Zahra karna ia mulai marah ketika Zahra yang sudah selama sebulan mengenalnya, tak sekalipun menceritan identitasnya.


"Aku akan mencari tau dimana alamat IP itu berada. Tetapi Aku baru bisa menghancurkan peretas itu saat menemukan alamat IPnya." Jelasnya dengan santai.


Semua tercengang mendegarkan Zahra yang berkata.


Semuapun berdiri di belakang Zahra namun tidak dengan Ricard Alziro, dia hanya duduk dan melihat Zahra dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Sungguh wanita yang sempurna," gumam seorang direksi


"Alamat IP nya berasal dari Zone Group." Zahra berkata.


"Apa,?? bisa-bisanya mereka bermain dengan ku." sambil menepuk meja didepannya.


Ruangan itu tiba-tiba menjadi begitu dingin. Ketika Ricard Alziro murka semua yang ada diruangan itu hanya mengeluarkan keringan didahi mereka, tanpa mengatakan sepatah katapun. Karna dewan direksi dan para staf tahu Apa yang bisa Ricard Alziro lakukan bagi yang menantangnya.


Namun berbeda dengan Zahra dengan santainya berkata "Aku bisa meretas semua alat electronik mereka."


"Lakukan sekarang juga." ucap Ricard. Zahra memberi isyarat kepada Ricard Alziro, Ricard pun mengerti dengan isyarat yang Zahra berikan kepadanya.


"Kalian semua keluarlah sekarang," tanpa berkata apapun semua dewan dan para staf keluar dari ruang metting dan tersisa mereka berdua di dalamnya.


"Apa syaratnya??" tanya Ricard dengan dinginnya.


Zahra langsung menjawabnya. "Aku hanya ingin mengundurkan diri dari proyek ini, dan alasannya Aku hanya ingin bebas dari Ayahku dan juga masalah kerja sama kita." ucap Zahra dengan spontan.


Ricard Alziro seperti di sambar petir di siang hari. Ricard dengan tatapan dingin mendekat kearah Zahra dan berbisik "Kau tak akan pernah Ku lepaskan, Zahra!" balas Ricard dengan dingin dan terdengar begitu tegas.


Zahra Humairah dengan cepat mendorong tubuh Ricard Alziro, namun Ricard Alziro menahan kedua tangan Zahra dan berkata "Jangan pernah berharap keluar dari sini secepat yang kau inginkan." Ricard menghempas kedua rangan Zahra dengan kasar dan berlalu meninggalkan Zahra di ruangan itu.


Zahra Humairah yang melihat Ricard berjalan keluar, menhentakkan ke dua kakinya dan berteriak "Dasar CEO gila." teriaknya kepada Ricard.


Sejak perdebatan keduanya, hubungan mereka pun yang semula baik-baik saja kini terdapat banyak kesalah pahaman antar keduanya.


Ricard Alziro tidak bisa membayangkan Zahra ingin secepatnya pergi dari Alziro Group.


Zahra kembali ke ruangannya, Ricard Alziro yang melihat raut wajah Zahra yang begitu cemberut merasa gemes dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2