Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
136. Menghilang nya Zahra.


__ADS_3

Dua hari berlalu begitu cepat nya, setelah pasca operasi transpalasi yang di lakukan Leon maupun Zahra, kini membawa kebahagian bagi banyak orang, ketika mengetahui kondisi Leon yang perlahan lahan menunjuk kan kesembuhan. Membuat semua nya tampak antusias mempersiap kan pesta pernikahan yang begitu megah nan istimewah untuk kedua nya.


Almira, Adry, Ervan dan juga Dr.Gun sudah kembali ke Italia terlebih dulu, karena mereka lah yang akan menyiap kan segala keperluan pernikahan kedua nya dengan bantuan keluarga besar Zahra beserta teman-teman terdekat kedua nya.


Dan kini tinggal lah Leon beserta Zahra di rumah sakit Jenewa untuk proses akhir pemeriksaan kondisi bagi kedua nya sebelum kembali ke Italia.


Aksi Leon yang terus menerus mendiami Zahra, membuat sosok wanita cantik itu sedih, bagaimana tidak setelah kepergian Al dan lain nya, Leon tidak sekali pun berbicara kepada nya ataupun menyapa nya.


Hal itu cukup menarik perhatian Dr.Gerald karena sejak masuk ke ruangan nya, Leon maupun Zahra memilih bungkam. Dr.Gerald di buat pusing oleh kedua pasangan tersebut.


"Tuan,berbaring lah di sana, saya akan memeriksa luka nya, jika tidak ada yang mengkhawatir kan, kalian bisa kembali ke Italia hari ini juga." jelas Dr.Gerald dengan ramah nya.


Leon tidak menanggapi segala perkataan Dr.Gerald, ia masih saja duduk dengan ekspresi yang tidak dapat di artikan. Dr.Gerald pun menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal dan kembali fokus menatap ke arah Zahra.


"Nyonya, berbaring lah di sana, saya akan memeriksa luka Nyonya terlebih dahulu." pintah Dr.Gerald dengan helaan nafas kasar karena ucapan nya kembali tidak di gubris oleh Zahra.


"Ya Tuhan, cobaan apalagi ini! mengapa mereka pergi meninggalkan saya dalam perang dingin dua orang di depan saya!" gumam nya pelan di ikuti deruh nafas yang berat namun perkataan nya dapat di dengar oleh kedua insan di depan nya.


"Dokter, jika tidak ada yang penting lagi saya pamit." ucap Leon sembari bangkit dari kursi nya.


"Saya juga." timpal Zahra tiba-tiba dan berjalan mendahului Leon. Namun saat kedua nya hendak berjalan ke arah pintu, Dr.Gerald pun memberanikan diri untuk angkat bicara.

__ADS_1


"Kalian tidak akan pergi kemana pun! karena hak kebebasan kalian ada di tangan saya." seru Dr.Gerald dengan berat hati karena di pikiran nya saat ini hanyalah kondisi kedua insan di depan nya.


Zahra maupun Leon membalikkan tubuh mereka bersamaan dan menatap tajam ke arah Dr.Gerald. Menyadari jika kedua petinggi itu menatap nya dengan tajam, Dr.Gerald pun tersenyum kecut.


"Maaf, maksud saya kalian bisa pergi dari sini, jika saya sudah memeriksa kondisi kalian terlebih dulu." jelas nya dengan gugup.


"Baiklah!" balas Leon singkat dan padat. Dan segera berbaring di brankar. Setelah memastikan Leon dan Dr.Geral sibuk di salah satu ruangan yang tertutup sebuah tirai kain, ia pun dengan pelan nya keluar dari ruangan itu.


Hampir dua puluh menit berlalu, Leon maupun Dr.Geral keluar dari ruangan yang bertutup kan tirai tersebut, mereka belum juga menyadari ketidak beradaan Zahra, setelah kedua nya duduk mereka masih saja berbincang mengenai apa saja yang harus di lakukan Leon setelah meninggalkan rumah sakit, hingga tiba di mana giliran Zahra mereka tampak celingak celinguk mencari nya.


Tanpa membuang waktu Leon pun beranjak dan segera mencari keberadaan zahra di luar namun hampir satu jam berlalu ia tidak juga menemukan Zahra di mana pun.


Dr.Gerald pun tidak tinggal diam, dengan bantuan para suster ia pun mencari di setiap koridor rumah sakit, namun tidak menemukan nya.


Mereka pun segera berlari menuju ruang kontrol. Sesampai nya di sana, tanpa permisi Leon segera mengambil alih layar monitor dan mulai membuka satu-satu rekaman namun nihil ia tidak juga menemukan petunjuk.


"Di mana kamu, Ra!" monolog Leon dengan menjambak rambut nya dengan kasar. Melihat itu Dr.Gerald dan para suster merasa kasihan namun mereka salut dengan kepribadian Leon yang dingin namun memiliki cinta yang cukup besar untuk orang-orang yang di sayanginya.


"Kalian pergilah! lanjutkan pekerjaan kalian, saya akan mencari nya sendiri." ucap nya tanpa ekspresi.


Setelah mendengar perintah dari Leon, semua pun segera pergi meninggalkan Leon sendiri di ruangan itu termasuk Dr.Gerald.

__ADS_1


"Jika memerlukan bantuan kami, jangan sungkan mengatakan nya." ucap Dr.Gerald dan segera pergi dari ruangan tersebut.


"Hhmm" balas nya dengan deheman tanpa mengalihkan fokus nya pada layar monitor CCTV.


Flashback on


"Maaf kan aku Le, aku tau jika aku salah, namun aku tidak bisa melihat mu merintih kesakitan." membatin Zahra sembari menunggu Leon melakukan pemeriksaan.


Sedang bergelut dengan pikiran nya Zahra tiba-tiba menerima sebuah pesan, ia pun begitu syok ketika mendapati sebuah pesan ancaman yang membahaya kan sang anak.


Kepergian Zahra bukan karena Leon yang mendiami nya melainkan ia baru saja menerima sebuah pesan dari seseorang.


Jika dalam 1x24 jam, kamu belum juga tiba di sini, bersiap siap lah untuk merasakan sakit yang teramat pedih dengan kematian putri kecil mu ini. Datanglah ke Val d' Orcia dan ikuti arahan yang ada di sana, datang lah sendiri dan jangan coba-coba bermain dengan ku jika kamu ingin putri kecil mu hidup.


Setelah menerima pesan itu Zahra segera berlari menuju kamar nya, ia pun berganti pakaian. Setelah mempersiap kan segalanya Zahra pun hendak meraih handle pintu namun langkah nya terhenti saat sebuah pesan masuk kembali.


Tinggal kan rumah sakit sekarang juga, dan sebuah helicopter telah menunggumu di rooftop, pergilah. Jangan berharap meminta bantuan siapapun karena setiap gerak gerik mu di awasi oleh orang ku.


Setelah membaca pesan kedua yang di kirim kan, Zahra pun berjalan menuju rooftop melalui pintu darurat karena ia tau jika Leon pasti akan mencari nya melalui rekaman CCTV.


Sesampai nya di sana, ia sudah di tunggu oleh seorang wanita yang memiliki postur tubuh tinggi dengan rambut yang di kuncir kuda. Ia pun di dorong masuk ke dalam helicopter.

__ADS_1


Tiga jam berlalu.


Zahra pun kini tiba di Val d'Orcia, ia segera di bawah menuju suatu pulau terpencil menggunakan sebuah jetsky. Setiba nya di sana, ia tidak menemukan seorang pun di sana.


__ADS_2