
Hampir 3 jam lama nya, setelah menyelesai kan segala nya, kini keluarga besar Zahra dan jasad Ricard pun tiba di Perancis. Tepat saat mereka keluar dari pintu keluar bandara, sudah banyak deretan mobil yang menunggu di luar.
Papah Fikry dengan kemeja berwarna hitam lengkap dengan jas sudah berdiri di depan mobil, saat melihat rombongan Zahra dan keluarga nya beserta jasad Ricard yang di dorong dengan brankar, Papah Fikry tidak dapat lagi menahan kesedihan nya.
Papah Fikry pun berlari menuju jasad Ricard, suasana di bandara sangat lah mengharu kqan dimana seluruh pengunjung bandara ikut merasa kan kesedihan dari Papah Fikry.
"Nak, Papah dan Mamah sudah mengikhlas kan kepergian mu, kamu adalah hal terindah yang pernah Tuhan berikan pada kehidupan pernikahan Papah dan Mamah, Papah berjanji akan melaksana kan amanat mu, Nak. Kau akan selalu di hati Papah dan Mamah." ucap Papah Fikry tepat di depan jasad Ricard dengan butiran bening yang terus menerus keluar dan semua pun ikut menangis meluhat kepedihan hati Papah Fikry.
"Pah, maafin Zahra, semua ini tidak akan terjadi jika Ricard tidak menghalangi tembakan itu." ucap Zahra dengan kesedihan mendalam mengingat Ricard rela mengorban kan nyawa nya demi diri nya.
"Tidak sayang, Papah tahu jika semua yang Ricard lakukan semua nya karena rasa cinta nya yang begitu besar kepada mu dan juga Aggrita. Papah bangga terhadap pengorbanan yang di lakukan Ricard untuk mu dan juga Grita. Sekarang prioritas kita adalah tumbuh kembang nya Grita. Papah harap kita akan selalu menjadi keluarga walau Ricard sudah tidak ada lagi di dunia ini." ucap Papah Fikry dengan mengerat kan pelukan nya kepada Zahra yang sudah di anggap nya sebagai anak sendiri.
"Paman ini sudah waktu nya, mari kita antar Ricard menemui Mamah Lindah." ucap Fahreza dengan pelan nya.
"Pah, yang ikhlas ya, Ayah tahu ini tidak muda untuk Papah dan Mamah Lindah, ayo kita antar Ricard sekarang." seru Ayah Laks sembari memeluk Papah Fikry dan Zahra yang masih saling berpelukan.
Papah Fikry pun menganggukan kepala dan mencoba tersenyum. "Baiklah, mari." balas Papah Fikry. Setelah nya mereka pun berjalan menuju deretan mobil yang sudah terparkir.
Menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, iring-iringan pembawa jasad Ricard pun tiba di rumah mewah Papah Fikry. Pelataran rumah sudah di penuhi para pelayat, baik dari teman-teman, mau pun rekan bisnis dan juga para pegawai perusahan Ricard pun sudah berdiri sembari memberi hormat saat jasad Ricard di angkat memasuki rumah utama.
__ADS_1
"Sayang, ayo bangun! sudah cukup kamu main-main seperti ini." teriak histeris Mamah Lindah saat peti yang berisi kan jasad Ricard memasuki inti rumah.
Melihat itu Zahra pun memeluk Mamah Lindah dan ikut menangis sejadi jadi nya. "Mah, Zahra tahu ini sulit, tapi Zahra mohon kuat kan hati Mamah dan coba lah untuk ikhlas." ucap Zahra dengan lembut nya sembari mengerat kan prlukan nya di tubuh Mamah Lindah.
Tak kuat menahan kehilangan sosok pemberi kebahagian di rumah itu, membuat Mamah Lindah berulang kali mengalami pingsan.
Zahra layak nya seorang Istri dan menantu yang baik, terus menerus berada di samping Mamah Lindah. Hampir delapan menit pingsan, Mamah Lindah pun terbangun. "Mah, Zahra mohon jangan seperti ini, bukan hanya Mamah yang merasa kehilangan tapi Zahra dan juga Grita pun merasa kehilangan, meski pernikahan Zahra dan Ricard hanya beberapa hari tapi Ricard telah membukti kan jika ia sesosok Ayah dan Suami yang rela mengorban kan nyawa nya demi Istri dan Anak nya. Berjanji lah Mah, untuk tetap tegar, bagaimana pun di sini masih ada Grita yang membutuh kan kita semua untuk menyemangati nya." ucap Zahra dengan butiran bening yang terus menerus keluar dari pelopak mata nya.
"Sayang, maafin Mamah. Tapi Ricard adalah sumber kebahagian keluarga ini, setelah Ricard pergi, rumah ini akan ikut mati juga, tidak ada canda tawa, makan malam romantis antara Mamah, Papah, Grita dan Ricard. Mamah mohon jangan bawa Grita dari sini!" balas Mamah Lindah sembari memohon agar kelak Zahra beserta keluarga nya tidak membawa Aggrita jauh dari nya.
"Mah, apa yang Mamah katakan, Zahra maupun Grita tidak akan meninggal kan rumah ini sampai kapan pun, Mamah, Zahra dan Papah akan membesar kan Grita bersama sama di rumah ini, Zahra janji akan hal itu Mah." jelas Zahra dengan yakin mengingat ia tidak mungkin menjauh kan sang anak dari orang tua Ricard.
"Terima kasih sayang." balas Mamah Lindah sembari memeluk Zahra dengan erat nya.
"Baik, sayang. Ayo!" balas Mamah Lindah dan kedua nya pun bersiap siap beberapa saat. Zahra mengenakan gamis berwarna putih panjang beserta jilbab yang melingkar di kepala nya, dan itu semua membuat Zahra tampak cantik, begitu pun dengan Mamah Lindah yang mengenakan gamis serupa dengan Zahra. Setelah merasa cukup, kedua nya pun keluar dari kamar.
Melihat kedua nya keluar dari kamar, seluruh keluarga merasa lega, pasal nya sesi pengantaran Ricard ke peristirahan terakhir tertunda di karena kan menunggu kehadiran kedua nya.
"Pah apa Mamah boleh melihat Ricard untuk terakhir kali nya." mohon Mamah Lindah dengan wajah sembam nya.
__ADS_1
Papah Fikry terdiam, pasal nya ia takut jika Mamah Lindah akan merasa terpukul ketika melihat jasad Ricard kembali. Seperti mengerti dengan diam nya sang suami, Mamah Lindah pun berkata. " Mamah janji akan kuat dan tabah Pah." seru Mamah Lindah.
"Baiklah." balas Papah Fikry dan penutup peti pun di buka kembali.
"Sayang, kau terlihat tampan meski tubuh mu berbalut kain kafan ini. Hal terindah yang Tuhan berikan kepada kehidupan Mamah dan Papah adalah kehadiran mu, sejak kau lahir dan menghadir kan seorang cucu untuk kami, kau tetap lah Ricard kecil Mamah. Jika Tuhan mengijin kan jiwa dan raga ini terus hidup, Mamah akan merawat dan membesar kan anak mu dengan kedua tangan Mamah. Tidurlah dengan bahagia." ucap Mamah Lindah setegar mungkin, hingga tak dapat di pungkiri jika semua pelayat maupun keluarga besar menitih kan butiran bening, seperti ikut masuk ke dalam dunia kesedihan yang amat mendalam.
Tepat setelah penutup peti di tutup, terdengar teriakan dari gerbang utama rumah tersebut "Ricard!" teriak seorang pria yang sedang berlari dari arah gerbang.
"Di-dirga!" gumam Papah Fikry yang tidak percaya jika Dirgantara ada di sini. Pasal nya Dirgantara sudah setahun lebih menjalan kan bisnis Ricard di America.
"Paman, boleh kah aku melihat jasad Ricard untuk terakhir kali nya?" tanya Dirgantara yang sudah berada tepat di depan peti Ricard.
Tak kuat menahan kesedihan Papah Fikry pun berjalan maju menghampiri Dirgantara dan memeluk nya. "Dir, Ricard telah pergi meninggal kan kita selama nya." ucap Papah Fikry dengan kesedihan yang mendalam.
"Paman, apapun yang terjadi Ricard akan selalu ada di sini." balas Dirgantara sembari menunjuk ke salah satu inti tubuh nya.
Papah Fikry pun meminta untuk membuka kembali peti tersebut.
"Hey bro, kau ingkar janji kali ini. Dan aku akan mendiami mu. Bisa-bisa nya kau meninggal kan ku. Kau sudah berjanji untuk menjadi wali di hari pernikahan ku. Ayo bangun jangan berpura pura lagi." marah Ricard saat berada tepat di depan jasad Ricard.
__ADS_1
"Kenapa? kenapa kau meninggal kan aku, Card. Proyek yang kau impi-impikan selama ini, aku memenang kan nya, aku berencana menemui mu pekan depan, dan kau sudah berjanji mentraktir ku minum, namun kau membalas ku dengan berita kematian mu!" segala unek-unek itu pun keluar bagaikan air yang mengalir dari dalam mulut Dirgantara, pasal nya mereka bagaikan perangko yang selalu menempel kapan pun dan di mana pun.
"Aku janji akan menerus kan impian mu di America, dan aku berjanji akan membuat taman yang di dalam nya terdapat air mancur cinta yang bertulis kan nama gadis yang telah mencuri hati mu sejak 7 tahun lama nya. Sekarang kau tidak perlu merasa malu lagi mengungkap kan cinta dan sayang mu kepada gadis itu, karena itu semua akan terwujud saat kau tidak lagi di dunia ini." celoteh Dirgantara panjang lebar dan butiran bening itu pun tak henti-henti nya keluar dari mata nya.