
Fahreza tampak geram melihat sepucuk surat yang di berikan Donny kepada nya, ia meremas surat itu dengan erat nya, menyadari perubahan di raut wajah Fahreza, Adry pun angkat bicara.
"Kakak, tenang lah! Zahra pasti baik-baik saja dan mungkin saat ini ia ingin sendiri dulu." ucap Adry mencoba menenang kan Fahreza.
"Reza, Aku akan tetap tinggal disini, Aku ingin menunggu Zahra disini." seru Donny dengan lirih nya.
"Donny, terima kasih Kau telah mencintai Zahra dengan tulus dan sudah menunggunya bertahun-tahun lama nya, namun Kau harus coba untuk melupa kan nya, bagaimana pun Kau harus tetap melang kah maju." balas Fahreza dengan lembut nya.
"Selama Aku masih hidup, rasa cinta ku kepada Zahra akan selalu ada, sekali pun ia telah di nodai, dan Aku berharap kamu tidak akan menyuruh ku untuk mencoba melupa kan nya. Dan jika Kau menemukan petunjuk tentang Zahra segera kabari Aku." seru Donny kembali dengan rasa frustasi nya.
"Kami akan segera mengabari mu, jika menemu kan petunjuk mengenai keberadaan Zahra." balas Fahreza dengan lembut nya.
Fahreza, Donny dan Adry tidak pernah patah semangat mencari keberadaan Zahra. Mereka mencari di berbagai Negara untuk menemu kan nya. Enam bulan lama nya, mereka tak pernah sedikit pun menyerah, segala upaya telah mereka tempu namun tak kunjung membuah kan hasil.
Hingga pada suatu ketika mereka pun kembali kepada kesibuk kan masing-masing, menjalan kan bisnis masing-masing tetap mereka lakukan. Namun keinginan menemu kan Zahra tetap mereka utama kan.
"Hallo Don! apa kau menemu kan petunjuk?" tanya Fahreza dari balik telpon nya.
"Za, aku saat ini tidak berada di Perancis, aku sudah sebulan berada di Indo, namun kamu tidak perlu khawatir, karena saat ini aku mengerah kan seluruh orang-orang ku untuk mencari keberadaan Zahra di berbagai pelosok." jelas Donny.
Di sisi lain Ricard meninggal kan perusahan nya sudah hampir tiga bulan terakhir, ia terus menerus mencari keberadaan Zahra di berbagai Negara. Setiap dua minggu ia pun berpindah pindah Negara untuk menemu kan Zahra.
Di kamar hotel nya Ricard baru saja menyelesai kan mandi nya dengan cepat saat mendengar pinsel nya yang sedari tadi mengeluar kan suara deringan tanpa henti, ia pun sesgera keluar hanya dengan balutan handuk di pinggang nya, ia pun meraih ponsel yang berada di atas ranjang, sekilas melihat id penelpon, ia pu mengangkat nya.
__ADS_1
"Hallo Anthony, bagaimana?" tanya Ricard.
"Hallo Rich, Zahra saat ini berada di Italya dan tinggal di sebuah rumah kecil di pusat perkotaan." jelas Anthony.
"Apa kamu yakin?" tanya Ricard memasti kan.
"Ya tentu, selama kurang lebih hampir enam bulan lama nya ia bekerja di perusahan milik keluarga nya, namun ia memalsukan identitas nya, ia pun menjadi salah seorang staf dengan jabatan sebagai seorang GM." jelas Anthony dengan akurat.
"Oke thanks Anthony, kabari aku apapun perkembangan yang kau temukan, maaf merepot kan mu." balas nya.
"Segera, tidak masalah, good luck, Rich!" ucap nya kembali dan telpon itu pun berakhir.
Sepuluh menit kemudian, Ricard buru-buru turun dari kamar hotel nya, masih terus menggulung kemeja nya, rambut nya sudah tertata rapi, wajah tampan dan manly pun melangkah gontai sampai ke lobby dan keluar meninggal kan hotel.
Ia pun segera meninggal kan California, setelah menerima email yang di kirim kan sahabat nya, dalam perjalanan menuju Italya, ia sangat berharap bisa bertemu Zahra kembali. Raut wajah yang hampir enam bulan lama nya terlihat begitu kusut, akhir nya memancar kan raut kebahagian.
Menempuh perjalanan belasan jam akhir nya ia tiba di Italya, Ricard yang cukup tahu mengenai Italya pun segera menuju lokasi yang ia dapat dari sahabat nya. Ricard tampak tak percaya dengan apa yang di lihat nya kali ini. Bagaimana bisa seorang wanita berpengaruh seperti Zahra bisa bertahan hidup di sebuah rumah yang begitu kecil. Melihat sebuah rumah yang cukup kecil namun terdapat banyak tanaman membuat Ricard tersenyum, rumah yang begitu sederhana di sebuah perkotaan di tata begitu rapih nya, ia pun dengan yakin memasuki pekarangan rumah tersebut.
Rumah itu tampak kosong, seperti tidak ada aktifitas sama sekali, berulang kali mengetuk pintu itu namun tak kunjung mendapat kan balasan.
Ricard pun memilih duduk di seberang jalan, di mana rumah kontrakan Zahra tepat berhadapan dengan sebuah Cafe, sudah seharian penuh ia menunggu di Cafe tersebut. Selang beberapa menit sebuah taksi be4henti tepat di depan rumah tersebut, terlihat sosok wanita berambut sebahu memasuki pelataran rumah tersebut.
Wanita yang di lihat Ricard kali ini sangat lah berbeda, kali ini pandangan nya jatuh pada perut wanita tersebut
__ADS_1
Melihat sosok yang hendak masuk ke dalam rumah tersebut, Ricard pun segera berlari ke arah rumah itu.
"Zahra.." panggil nya dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Wanita itu pun sedikit menoleh dan begitu terkejut, tapi dia mencoba menetral kan diri nya. "Sorry..?" ucap nya dengan menatap ke arah Ricard.
Ricard semakin mendekat dan sedikit ragu. "Zahra.." panggil Ricard kembali dan mencoba menyentuh tangan wanita di depan nya.
Wanita itu menghempas tangan Ricard. "Saya Aggrita, siapa Zahra?" ucap wanita itu dan perlahan mundur menjauh dari Ricard.
Manik wanita itu tidak bisa berbohong mata nya sudah di penuhi dengan kubangan bening, Ricard tidak peduli dengan penolakan nya, ia pun menarik pergelangan tangan wanita itu kembali.
"Kau pasti Zahra.. aku tahu kau Zahra, kau hanya menghindari ku kan."seru Ricard menatap mata Zahra lamat-lamat.
Zahra tampak gugup dan kali ini tubuh nya bergetar hebat mengingat ia tidak ingin berhubungan dengan siapa pun dari masa lalu nya.
"Lepas kan saya tuan, anda mungkin salah mengenali orang!" ucap wanita itu dengan dingin nya dan segera berjalan masuk ke rumah itu dengan cepat nya meninggal kan Ricard dengan seribu pertanyaan di kepala nya.
"Zahra pleace jangan lakukan ini padaku, aku tahu aku bersalah padamu, sejak saat itu aku menyesali apa yang ku lakukan terhadapmu, beri aku satu kesempatan. Agar aku bisa menebus kesalahanku dan sungguh aku tidak ingin berpisah denganmu." teriak Ricard dari balik pintu rumah itu.
Zahra berlari masuk ke dalam kamar, ia menangis dengan kencang nya, ia tidak menyangka jika Ricard bisa hadir di depan nya saat ini, takut, benci dan frustasi itu lah yang di rasa kan Zahra saat ini. "Ricard maafkan aku, aku tidak bisa bersama mu, aku sudah cukup nyaman saat ini, hati ku pun tidak dapat menolak kehadiran mu saat ini namun aku sungguh tidak ingin berhubungan lagi dengan mu atau pun keluarga ku lagi." monolog Zahra dalam kamar yang pencahayaan nya remang-remang.
Ricard pun memilih meninggal kan rumah Zahra karena ia berpikir jika Zahra pasti memerlu kan waktu setelah pertemuan mereka kembali.
__ADS_1