Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
113. Jangan pernah meninggalkannya


__ADS_3

Rudolf pun berjalan menuju Zahra dan berkata.


"Ketua maafkan saya, seharusnya sejak tadi saya sudah menembaknya sehingga kejadian ini tidak akan menimpah anda. Tapi saya takut jika saya melewati batasanku dan membuat Ketua marah. Tapi jangan khawatirkan masalah ini, semua yang terjadi di tempat ini akan menjadi tanggung jawabku dan saya pastikan anda akan aman." ucap Rudolf.


"Terima kasih Rudolf, tapi biarkan ini berjalan sesuai hukum, jika aku di beri kesempatan untuk hidup aku akan bertanggung jawab untuk segala perbuatanku dan tidak perlu menjadikan kamu ataupun orang lain kambing hitam atas tindakanku." balasnya dan setelahnya ia tak sadarkan diri


"Zahra bangun! Zahraaa." teriak Leon dengan tangisnya.


Almira dengan susah payah mencoba mengeluarkan peluru di perut Zahra namun ia kesulitan karna alat peraga operasinya tertinggal di markas mereka.


"Cepat bawa dia ke markas! kita harus segera mengeluarkan pelurunya jika tidak nyawanya tidak bisa di selamatkan akibat darah yang di keluarkan terlalu banyak." ucap Almira dengan khawatir.


Mendengar itu Leon pun segera menggendong Zahra dan membawanya ke mobil. "Kita harus ke rumah sakit! aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya!" ucap Leon dengan sedih.


"Tidak kakak, kita tidak bisa membiarkan Zahra ke rumah sakit karna ini akan menarik perhatian orang dengan luka tembak pasti semua orang akan curiga terhadap kita! aku akan menjamin keselamatannya." bantah Almira.

__ADS_1


Setelahnya mereka pun menuju markas dengan pengawalan dari Rudolf dan sebagian anak buahnya. Sesampainya di sana Leon segera membaringkan Zahra di meja operasi yang berada di markas tersebut. Hampir 3 jam lamanya Almira memberi pertolongan untuk Zahra namun sungguh di sayangkan Zahra banyak mengeluarkan darah dan saat ini ia sangat membutuhkan donor darah namun di antara mereka tak satu pun dari mereka yang memiliki kesamaan darah dengan Zahra melainkan hanya Leon namun Almira tidak mengizinkan Leon untuk mendonorkan darahnya kepada Zahra dengan kondisinya yang semakin melemah.


"Apa di antara kalian ada yang memiliki golongan darah AB+ yang sama dengan Zahra? Karna saat ini aku harus mentransfusi darah buatnya. Tembakan itu membuat Zahra kekurangan darah dan harus segera tranfusi darah." Jelas Almira dengan gugup karna ia tau betul jika kakaknya memiliki golongan darah yang sama dengan Zahra dan pastinya akan menjadi pendonor.


"Di antara kami tidak memiliki kesamaan itu Al" balas Fahreza.


"Aku akan mendonorkan darahku kepadanya, bagaimana pun semua ini terjadi karna diriku. Jika saja saat itu aku tidak pergi kalian pasti tidak akan mendapati masalah seperti ini.!" Ucap Leon dengan penyesalan.


"Tidak bisa kak, kondisimu yang sedang sakit tidak bisa menjadi seorang pendonor apapun alasannya." balas Almira dengan tidak setuju.


"Kakak, aku tidak bisa mengambil darah darimu karna itu akan sangat berbahaya untuk kesehatanmu dan juga kemungkinan besar darahmu tidak akan cukup untuknya." balas Almira dengan hati-hati.


"Kamu tidak perlu melakukan itu Le, jika saja ia tau kamu mendonorkan darahmu kepadanya pasti ia akan sangat marah kepada kamu dan juga kami yang memyetujui permintaanmu." ucap Fahreza.


"Kita masih memiliki seseorang yang memiliki kecocokan darah dengan Zahra tapi mungkin kamu tidak akan setuju." ucap Fahreza kembali.

__ADS_1


"Siapa? Apapun akan aku lakukan untuk orang yang memberikan darahnya kepada Zahra!" balas Leon bersemangat.


"Ricard, ia memiliki kecocokan darah dengan Zahra, tapi jika kamu tidak menyetujuinya kita bisa mencari pendonor lain untuknya." ucap Fahreza kembali dengan besar hati.


" Mana mungkin ia bisa memiliki kesamaan darah dengan Zahra? dan bagaimana kalian bisa mengetahui jika mereka memiliki kesamaan darah?" balas Leon dengan raut wajah kekesalan karna ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk wanitanya yang sedang kritis.


"Kejadiannya bermula saat Zahra mengalami kontraksi dan membutuhkan beberapa kantong darah namun saat itu rumah sakit Ambruzo tidak memiliki setok darah lagi dan hingga pada akhirnya setelah melakukan pemeriksaan Ricardlah yang memberikan darahnya kepada Zahra hingga sampai saat ini Zahra tidak tau jika Ricardlah yang mendonorkan darah untuknya." jelas Fahreza dengan hati-hati karna ia pun tidak ingin menyinggung perasaan Leon.


"Tapi maaf, aku tidak ingin darah bajingan itu mengalir di tubuh Zahra untuk kedua kalinya. Keputusanku sudah bulat dan kamu Mira segera persiapkan alat-alat untuk transfusi darah sekarang dan jangan mencoba menghentikanku lagi.!" tegasnya ia berbicara hingga membuat semuanya terdiam tanpa berkata sekata patah pun untuk menghentikannya.


Almira pun dengan tenangnya menerima perintah Leon tanpa menatapnya dan segera berjalan masuk ke ruang beda.


"Masuklah! aku akan melakukannya dengan cepat agar kakak secepatnya kembali ke Italya dan menjalani cemotherapy dan kali ini aku berharap tidak akan ada penolakan lagi, okey!" ucap Almira dengan kekesalannya.


"Baiklah kakak berjanji akan menuruti semua perintahmu tapi kamu harus berjanji untuk menyelamatkannya apapun yang terjadi dan jika terjadi sesuatu kepada kakak kamu jangan pernah meninggalkan Zahra sendiri." balas Leon sembari memegang kedua tangan Almira.

__ADS_1


"Baiklah kakak, aku janji akan selalu ada untuknya." ucap Almira sembari memeluk erat sang kakak.


__ADS_2