Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
69. Sosok Leon di mata semua Orang


__ADS_3

Saat Ayah dan Anak hendak bergabung dengan yang lainnya sosok Ricard tiba-tiba berada tepat di depan mereka, suasa menjadi tenang seketika dan Ricard melangkah maju untuk menarik Zahra dalam pelukannya.


Namun tiba-tiba sosok pria yang cukup tampan dan memiliki kaki yang jenjang masuk dan semua mengalihkan pandangan mereka ke sosok pria yang sedang berjalan masuk bersama seorang gadis yang tidak kalah cantiknya dengan Zahra.


Bukankah di seorang Billionaire muda yang cukup terkenal selama ini. Mengapa dia ada di sini dan mungkinkah wanita itu adalah kekasihnya?


Terdengar pujian dari orang-orang, Zahra pun mengedarkan pandangan kepada sosok yang di puji oleh orang-orang. Kaget dan juga bahagia terpancar di wajahnya sosok yang kemarin membuatnya sedih ada tepat di depannya.


Almira yang melihat kecantikan Zahra pun sontak berteriak.


Wooooww Kakak Ipar kau sungguh terlihat sangat cantik dan juga begitu dewasa mengenakan gaun itu.


Semua mata terbelalak mendengar Almira menyebut Zahra dengan sebutan Kakak Ipar.


Zahra pun mendekati Almira dan keduanya saling mengeratkan pelukan satu sama lain.


"Kakak Ipar maafkan aku yang baru bisa kesini, awalnya aku ingin berangkat bersama kamu dan Kakak kesini, namun pagi tadi ada beberapa pasien yang harus di operasi, salah satu pasien itu adalah tanggung jawab ku, jadi aku baru terbang kesini selang 3 jam dari keberangkatan kalian."


Zahra tampak terkejut mendengar Leon berangkat bersamanya. "Apa maksudmu Al? aku kesini sendirian dan Kakakmu berangkat ke Malaka bersama Ervan. Kau tahu akan hal itu."

__ADS_1


Hahaha "Kamu percaya aja, mana berani kakak ngebiarin kamu kesini, bukan kah itu membuka peluang untuk seseorang mendekati mu. Kalian satu pesawat ke sini namun Kakakku ingin membuat kejutan untukmu, makanya dia memesan kursi paling depan dan kamu 3 kursi di belakangnya dan soal di ke Malaka itu hanya buat kamu kesal aja dan merindukan nya."


Zahra menatap tajam ke arah Leon, namun dengan cepatnya Leon menarik wanitanya ke dalam pelukannya. Leon pun melepas pelukannya dan berjongkok di depan Zahra.


"Will you marry me,"


Sambil membuka sebuah kotak berwarna pink yang isinya sebuah cincin berlian. "Sejak bertemu denganmu aku merasakan kehangatan yang tidak pernah aku rasakan selama hidup ku, dan berkat dirimu, aku yang dulunya tidak suka berada di dekat orang asing kini bisa membaur dengan sendirinya."


"Kaulah wanita yang ku cintai, dan ini adalah kali pertamanya aku melamar seorang."


Zahra merasa bahagia dan lagi-lagi butiran bening sudah membasahi pipinya. Zahra pun menganggukan kepalanya seraya mengiyakan lamaran Leon. "Leon berdirilah." pintah Zahra. Leon pun segera memasang cincin di jari manis Zahra. Semua yang melihat keromantisan kedua insan itu bersorak bahagia.


Keluarga besar Zahra sangat terharu dan juga bahagia melihat pancaran kebahagian dari wajah Zahra.


"Ayah kenalin ini Leon, Leon ini Ayahku." Leon menyalami Ayah Zahra seraya meminta izin untuk meminang Zahra.


"Om, tante niatku kesini untuk melamar Zahra, jika om mengijinkan nya aku bersedia memberikan semua kebahagianku untuk Zahra."


"Om dan tante setuju saja jika Zahra menyetujui nya, karena semua keputusan om serah kan kepada Zahra. Tapi saran om, lebih baik kita bicarakan itu di rumah saja nak Leon setelah pesta ini selesai."

__ADS_1


Zahra yang sedang berbincang bersama Almira pun melupakan sosok yang di carinya sedari tiba disana, saat ia ingin berpamitan terdengar teriakan.


"Bunda, Grita sangat merindu kan Bunda."


Zahra pun berbalik dan melihat sosok kecil yang berdiri di depannya. Sontak membuat semua kaget karena si kecil bisa mengenali Zahra sebagai Ibu nya karena setahu mereka ini adalah kali pertama Zahra bertemu Aggrita setelah kelahiran nya.


Zahra pun memeluk erat Aggrita dan berulang kali mencium nya. "Sayang, Bunda juga sangat merindukan Grita, tapi kali ini Bunda berjanji akan selalu bersama Aggrita."


Fahreza yang baru saja tiba pun kaget bukan main, begitu pun dengan dua pria di belakang nya, mereka tidak percaya jika yang di lihat mereka saat ini adalah Zahra.


Zahra yang menyadari beberapa pasang mata sedang menatap ke arah nya pun, akhirnya melepaskan pelukan nya bersama sang anak dan berjalan menghampiri pria-pria yang sangat di sayangi dan di rindukan nya.


"Tidak mungkin! kamu sudah lama meninggal, siapa kamu sebenar nya dan apa tujuanmu kesini." tanya Reza


"Kakak, maafkan aku yang telah memalsukan kematianku."


"Mengapa kau kembali, setelah kau menaburkan luka yang teramat dalam di keluarga ini. Seharus nya kau tak perlu kembali lagi." Fahreza pun berlari meninggal kan pesta dengan isakan tangis nya. Ia tidak menyangka jika adik yang sangat ia sayangi telah membohongi mereka.


Alfian dan Adriansyah pun tampak terkejut namun mereka bahagia melihat Adik perempuan mereka masih hidup, namun kekecewaan mereka terhadap Zahra sangat lah besar.

__ADS_1


Keduanya pun berjalan melewati Zahra tanpa menyapanya dan menggendong keponakan kesayangan mereka.


"Selamat ulang tahun kesayangan Paman. Ini hadiah untukmu, jika kelak kau menjadi dewasa jadilah wanita yang anti dengan kebohongan." sindir kedua pria itu, setelah mencium pipi sang keponakan, keduanya pun segera berpamitan kepada Paman dan keluarga besar mereka.


__ADS_2