
Keduanya kini sedang menghabiskan waktu bersama di Roma, Zahra begitu bahagia bisa pergi berdua dengan Leon. Mengelilingi Roma bersama pria yang sangat di cintainya sudah menjadi harapan Zahra selama ini.
Leon yang mengenakan pakaian hangat mencurahkan perhatiannya kepada Zahra dan rela menahan dinginnya kota Roma untuk memberikan kebahagian pada Zahra. Menemani Zahra kemana pun ia inginkan adalah tujuan hidup Leon karena baginya Zahra adalah segalanya begitupun dengan Almira.
Mengunjungi berbagai tempat yang indah membuat kedua seperti sedang melakukan honeymoon pasca setelah menikah. Hampir 3 pekan lamanya mereka berada di Roma, akhirnya mereka bergegas kembali untuk menyiapkan segala keperluan pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
Sesampainya di Italya, Zahra maupun Leon melakukan feating pakaian pengantin. Leon tampak antusias menemani Zahra mengukur gaun pengantin. Ada beberapa yang di pakai oleh Zahra namun Leon tidak terlalu suka dengan model gaun-gaun tersebut, dan memilih untuk merancang pakaian Zahra dengan bantuan Desainer ternama di Italya.
Segala keperluan pernikahan sudah terselesaikan satu persatu namun pada saat Leon hendak mengantar beberapa model undangan kepada Zahra, ia tiba-tiba jatuh pingsan. Melihat itu Zahra tampak syok dan ketakutan. Segera mungkin ia meminta bantuan beberapa bodyguard untuk membawa Leon ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, para Dokter dan perawat sudah menunggu mereka di depan pintu masuk.
"Dokter, selamatkan Suamiku!" ucap Zahra di selingi tangis.
"Nyonya, anda jangan khawatir kami akan melakukan yang terbaik untuk Dirut." balas Dokter Gunawan dan segera mendorong Leon masuk ke dalam ruang operasi.
Zahra begitu ketakutan, ia sungguh tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Leon. Ervan yang baru saja tiba segera menghampiri Zahra.
__ADS_1
"Kakak Ipar, apa yang terjadi?" tanya Ervan kepada Zahra.
"Sebelumnya ia baik-baik saja, aku takut Van, terjadi sesuatu kepada Leon." tampak terlihat raut kecemasan di wajah Zahra.
"Leon pasti baik-baik saja! ia tidak mungkin selemah itu dan menyerah begitu saja!" ucap Ervan sembari untuk menenangkan Zahra.
Tak lama kemudian Dokter Gunawan keluar dari balik pintu operasi. "Nyonya, Dirut ingin bertemu dengan anda! tapi sebelum Nyonya menemui Dirut, saya mohon untuk tidak membuatnya khawatir karena kondisi Dirut saat ini sangatlah lemah." jelas Dokter Gunawan dengan raut wajah yang tidak dapat di artikan.
"Apa maksud Dokter Gunawan?" tanya Zahea dengan gugup.
"Kakak Ipar, masuklah!" timpal Ervan untuk mengalihkan pikiran Zahra.
"Tuan Ervan, saya mohon maaf. Tapi kami sudah mengupayakan segalanya, tapi Tuhan berkata lain, saat ini keadaan Dirut memburuk kembali dan untuk sembuh pun tinggal beberapa persen saja." penjelasan Dokter Gunawan membuat Ervan terpukul, ia tidak menyangka jika keadaan Leon yang awalnya baik-baik saja tiba-tiba menjadi buruk seperti saat ini.
"Tidak mungkin! Leon tidak selemah itu untuk menyerah. Lakukan yang terbaik, apapun imbalannya akan saya penuhi." balas Ervan dengan tidak terima.
"Saya ingin berdiskusi dengan Dokter Mira, jika tidak keberatan tolong hubungi beliau dan suruh secepatnya menemui saya." ucap Dokter Gunawan kembali dan berjalan meninggalkan Ervan dengan keterkejutannya.
__ADS_1
Sungguh perih hati Zahra ketika melihat pria yang sangat di cintainya terbujur kaku di meja operasi dengan banyak alat medis yang terpasang di tubuhnya.
"Le, kamu harus kuat, pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi. Kamu sudah janji untuk hidup bersamaku hingga menua nanti." ucap Zahra dengan lirih.
Tak henti-hentinya Zahra mengecuk pucuk kepala Leon, ia tampak begitu rapuh. "Tuhan apa ini, mengapa kau memberikan coba kepada ku seberat ini! Aku tidak sanggup jika harus berpisah dengan nya." membatin Zahra dengan butiran bening yang terus menerus jatuh.
Sejak Zahra masuk di ruangan itu, Leon tak lagi membuka kedua matanya. "Le, bangun. Kamu jangan seperti ini, jika saja kita tidak pergi ke Roma, mungkin saat ini kamu tidak akan berada di ruangan ini. Semua ini salah ku! Le, bangun." ucap Zahra dengan isakan tangis.
Hari pun mulai beranjak malam, Keluarga besar Zahra sudah bergabung dengan Ervan di depan pintu masuk ICCU. "Al, sejak Leon di pindahkan sore tadi Kakak Ipar tidak keluar dari ruangan itu, aku takut terjadi sesuatu kepada Kakak Ipar. Kamu masuk, dan bujuk Kakak Ipar untuk makan karena sejak pagi ia belum makan atau pun minum apapun, dan terus menerus menangis di dalam sana." jelas Ervan dengan khawatir.
"Aku tidak sanggup untuk masuk kesana, aku tidak bisa melihat Kakak dalam keadaan seperti saat ini. Jangan paksa aku, Van." balas Almira dengan menekuk kepalanya seraya menitihkan butiran bening tanda ia sedang tidak baik-baik saja.
"Hanya kamu Al yang bisa membujuknya, kuat kan hatimu. Percayalah Leon pasti baik-baik saja." timpal Fahreza untuk menguatkan hati Almira.
Almira berpikir sejenak sebelum mengindahkan perkata Fahreza. Dengan besar hati pun dia mengangguk dan segera masuk ke ruangan ICCU.
Almira pun masuk, dan menatap lekat ke arah Zahra yang sedang melamun. Ia begitu sakit mendapati Zahra dalam keadaan yang begitu rapuh. Kali ini ia tidak dapat membendung tangis nya. "Kakak Ipar, aku mohon jangan seperti ini, Kakak pasti baik-baik saja. Jangan menghukum dirimu, karena semua ini sudah menjadi takdir dari Illahi. Kuat kan hati mu! Saat ini yang Kakak butuhkan adalah Do'a dari kita semua." ucapnya dengan isakan tangis.
__ADS_1
Zahra belum sepenuhnya menyadari keberadaan Almira di sampingnya karena ia sedang dalam lamunannya.