
Setelah pertengkaran nya dengan Zahra, Leon tampak berdiam diri di ruangan nya, ia berpikir jika ia sudah membuat Zahra sedih dengan cara ia berkata dengan kasar nya dan menyuruh Zahra keluar dari ruangan nya.
Setelah menyendiri dan memikirkan secara matang, ia pun memilih untuk menyetujui operasi yang di katakan oleh dr.Geral.
"Ervan, katakan kepada Gerald untuk menyiapkan segala nya sekarang, 15 menit dari sekarang aku menunggu kedatangan nya." isi pesan persetujuan Leon kepada Ervan.
Di ruangan Gerald, tampak Al dan lain nya sedang duduk dalam pikiran masing-masing. Namun di ruangan lain nya, Zahra, dr.Gerald beserta beberapa perawat terlihat sedang sibuk mengurus segala kebutuhan untuk operasi kedua Leon. Zahra sudah berbaring di ruang operasi dengan perasaan yang tidak dapat di artikan, ia sangat berharap jika Leon mau menyetujui operasi itu, walau nyawa nya menjadi taruhan.
"Nyonya, apa anda yakin Tuan akan menyetujui operasi ini?" tanya Dr.Gerald dengan hati-hati.
"10 menit dari sekarang, pasti Al akan kesini." balas Zahra dengan yakin.
"Baiklah, saya percaya dengan keyakinan dari diri anda." ucap Gerald dengan jujur, karena bagaimana pun ia menggagumi sosok Zahra yang memiliki keyakinan dalam memegang prinsip perkataan nya.
Ponsel Ervan tiba-tiba berdering, di mana telah masuk sebuah notifikasi pesan, awal nya Ervan enggan melihat notifikasi tersebut namun dengan besar hati ia pun mengambil ponselnya dari dalam saku.
Ia tampak terbelalak ketika membuka pesan tersebut, yang tertera di mana Leon menyetujui operasi tersebut.
"Al, aku tidak sedang bermimpikan!" pekik Ervan dengan keras nya.
Al, Adry dan Gun tampak binggung melihat ekspresi Ervan yang kaget ketika menerima pesan di ponsel nya, ketiga nya pun segera berjalan ke arah nya. Adry mengambil alih ponsel Ervan saat ponsel tersebut hampir jatuh.
__ADS_1
"A-al, Zahra berhasil membujuk nya." teriak Adry bersemangat sembari mengguncang pelan tubuh Al karena ia tidak menyangka jika Leon akan secepat itu menyetujui operasi tersebut.
"Syukurlah!" timpal Dr.Gun.
"Ta-tapi kita hanya memerlukan waktu 15 menit dari sekarang." ucap Adry dengan tergagap.
"Gun, ayo kita temui Geral sekarang, sebelum dewa kematian mengamuk." ucap Al dengan ejekan.
Mereka pun segera berjalan menuju ruang operasi.
"Dok, di luar ada Dr.Mira yang sedang menunggu anda." ucap salah seorang perawat.
"Baiklah, terima kasih." balas Gerald dan tersenyum ke arah Zahra sebelum ia melangkah keluar ruang operasi menemui Al.
"Apa persiapan nya sudah selesai? jika sudah mari laksana kan operasi karena waktu yang di berikan Leon hanya 10 menit dari sekarang." jelas Almira dengan senyum mengembang.
"Ok, semoga operasi ini berjalan lancar walau pelung keberhasilan nya hanya 30%, tapi kalian tidak perlu khawatir karena aku akan bekerja semaksimal mungkin untuk sukses dalam operasi Tuan." balas nya dan segera meninggalkan Al dan lain nya.
Setelah Leon berganti pakaian, ia pun di dorong masuk ke ruang operasi namun ruangan tersebut di beri pembatas kain besar berwarna hijau, untuk menutupi keberadaan Zahra di samping Leon.
Geral menatap Zahra dari atasnya, yang sudah mengenakan maskernya. "Apakah anda sudah siap." tanya nya kepada Zahra saat akan di bius.
__ADS_1
Zahra menarik nafas gugup. " Ya, aku siap, walau sebenar nya aku merasa sedikit gugup." balas nya.
"Mari kita mulai operasi nya." Gerald mengangguk dan memerintahkan perawat lain sambil mengenakan sepasang sarung taangan. "Berikan anestesi!" ucap nya.
Perlahan lahan Zahra pun merasa lemas dan pandangan nya mulai kabur. Zahra pun menutup mata nya perlahan lahan dan kemudian ia tidak sadarkan diri.
Hampir 5 jam lama nya operasi berjalan, dan akhirnya operasi selesai, namun Zahra tak kunjung sadarkan diri, Zahra kini sudah di dorong menuju ruang pasien.
Hari pun berlalu dengan cepat nya, Leon yang sudah sadarkan diri kini di temani Ervan di ruangan nya.
"Le, kamu jangan terlalu banyak bergerak." ucap Ervan yang sudah berjalan menghampiri Leon yang hendak bangun.
"Dimana Zahra, apa sejak aku di operasi dia tidak di sini." tanya Leon dengan datar nya.
"Kakak ipar baru saja pulang, karena sejak kamu keluar dari ruang operasi, ia tidak beristirahat dengan baik." ucap Ervan berbohong, ia tidak bisa mengatakan jika Zahra lah mendonor kan sum-sum tulang nya, hingga membuat dia tidak sadar kan diri hingga sekarang.
"Hhhmm." balas Leon dengan sedih, mengingat diri nya yang membentak Zahra kemarin dan sebalik nya wanita yang di cintai nya malah tidak terusik dan menunggu nya bangun hingga seharian.
"Aku dan Adry akan kembali ke Italya pada besok hari, namun Al beserta dr.Gun akan berada di sini hingga kamu pulih sepenuh nya dan kembali bersama mereka ke Italya." jelas Ervan dengan tersenyum.
"Kali ini jangan menundah nya lagi, aku ingin segera menikah dengan Zahra, aku tidak ingin menyia nyiakan kesempatan yang Allah berikan kepada ku kali ini." balas Leon dengan mata berbinar binar di ikuti dengan senyuman yang mengembang di wajah nya.
__ADS_1
Melihat itu Ervan tampak tersenyum karena pasal nya sudah sangat lama ia tidak melihat senyum kebahagian dari sang sahabat, dan mungkin terakhir kali ia melihat nya tersenyum saat mereka bertemu keluarga besar Zahra untuk pertama kali nya.
"Berbahagialah kalian, terima kasih ya Allah. Engkau telah mengembalikan kebahagian untuk mereka." membathin Ervan.